http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/29/opi01.html



Televisi, Spiritualitas dan Mistisisme Religius
Oleh: 
Syaifulah Amin

Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna memiliki kemampuan untuk 
menganalisa, memahami dan memasuki, bahkan mengintervensi dunia di luar sisi 
kemanusiaannya. Manusia mampu merekayasa genetika tumbuhan dan hewan dengan 
kecanggihan teknologinya. Manusia juga dapat "melihat" alam lainnya melalui 
kekuatan spiritualnya. Kemampuannya yang pertama sering dikategorikan ilmiah, 
sedang yang terakhir kerap disebut mistik dan cenderung dikait-kaitkan dengan 
agama.
 
Di Indonesia, orang-orang yang memiliki kemampuan spiritual atau mistik 
dianggap lebih dekat dengan Tuhan daripada yang tidak memilikinya. Mistik telah 
diyakini oleh sebagian kalangan sebagai bagian integral dalam agama dan 
merupakan ruh yang menjiwai agama itu sendiri. Sebagaimana dalam banyak cerita, 
Islam datang ke Nusantara juga melalui mistisisme. 
Tersebutlah kemudian banyak sekali pedagang dari Gujarat yang berhasil 
menyembuhkan "penyakit" para puteri raja sehingga kemudian mereka diperkenankan 
tinggal dan mendapat hadiah lahan sebagai titik tolak penyebaran Islam yang 
pada gilirannya lahan-lahan tersebut kemudian disebut pesantren. Ada beberapa 
penyebar agama Islam di Nusantara yang dapat dikatakan tiada bebas dari dunia 
mistik, Bukan hal aneh bila berabad-abad kemudian mistis tidak pernah hilang 
dari sini.
Pada saat kecanggihan ilmiah menjadi identitas dan merupakan bagian dari 
peradaban dunia maju, kehidupan modern memosisikan mistisisme sebagai produk 
dari tradisionalisme dan keterbelakangan. Akan tetapi kenyataannya mistisisme 
tidak kemudian serta merta hilang dari kehidupan masyarakat modern. Masyarakat 
yang menganggap dirinya pemilik modernisasi justru sering terjebak dalam 
"suguhan kenikmatan" mistik, meski sekadar sebagai hiburan. 

Tayangan Televisi 
Mereka yang kesehariannya selalu disibukkan dengan hal-hal teknis pragmatis, 
tanpa roh dan nalar spiritual, kemudian menumpahkan segala kejenuhannya dengan 
dunia mistik. Entah sebagai hiburan atau sekadar mengisi kehampaan nurani 
maupun demi menyegarkan kembali sisi-sisi kemanusiaannya. Sekadar mengingatkan 
kembali bahwa manusia, meskipun disibukkan oleh sistem-sistem digital dunia 
modern, tetap merupakan bagian dari alam ciptaan Tuhan bersanding dengan 
kegaiban-kegaiban yang tidak rasional. Dan mereka mendapatkannya melalui 
tayangan-tayangan televisi.

Setiap hari, televisi kita menyajikan seabrek acara mistik untuk menemani siapa 
saja yang rela meluangkan waktunya. Mulai dari acara-acara yang bersimbol agama 
atau bahkan tanpa nafas agama sama sekali hingga yang dipaksakan untuk 
di-"agama-agama"-kan. Akibatnya kebutuhan akan mistik bagi masyarakat perkotaan 
bukan lagi merupakan persoalan yang lucu dan memalukan. 

Di tengah kerumitan macam apapun, mistisisme senantiasa mendapat porsinya. 
Mistik telah sedemikian rupa menjelma menjadi sebuah kebutuhan yang tak 
terelakkan, sejajar dengan kebutuhan berpacaran bagi para remaja. Bersanding 
sederajat dalam merenggut kejernihan nurani masyarakat karena dikampanyekan 
dengan cara dan porsi yang sama oleh media elektronik kita. 

Kecenderungan orang-orang modern di kota-kota metropolitan kepada agama 
akhirnya harus melewati fase yang sama dengan orang-orang tradisional dan kuno 
di pedalaman. Para pegawai kantor pada kenyataannya juga menyukai segala bentuk 
dunia metafisika sebagaimana masyarakat terbelakang. Ketika tersudut dalam 
aneka problem kehidupannya, seharusnya ia secara rasional meminta bantuan 
psikiater atau konsultan berijazah formal untuk menyelesaikan masalahnya. 

Akan tetapi dalam banyak kasus mereka justru melarikan persoalan-persoalan 
tersebut secara tidak proporsional, bahkan tidak rasional. Memang agama 
kemudian menjadi alternatif, akan tetapi bukan pada tempatnya, agama kemudian 
menawarkan penyelesaian mistik. 

Menjajah Umat Sendiri 
Pada gilirannya agama yang seharusnya berperan aktif dalam mendorong 
rasionalitas justru berbalik mengusung kejumudan (kebekuan) berpikir dengan 
menyodorkan aspek mistik yang irrasional. Agama kemudian dikemas untuk 
mengkampanyekan mistisisme secara berlebihan, bahwa agama adalah mistis, 
karenanya ia dapat menyelesaikan persoalan secara gaib dengan bermodal 
mantera-mantera sakti, tak perlu dirasionalkan. Atau sebaliknya bahwa mistik 
merupakan bagian dari agama, karenanya tak perlu ditentang, apalagi 
dihilangkan. 
Segala sesuatu yang mendasari kerugian dan kesialan adalah karena campur tangan 
mahluk gaib yang jahat di luar dunia rasional manusia, Bila ada seorang anak 
yang gila maka sebenarnya anak tersebut bukan gila, hanya ia telah kerasukan 
roh dari alam selain manusia, yang hanya dapat diusir dengan membacakan 
ayat-ayat sakti. Akhirnya mistik benar-benar menjadi berhala bagi masyarakat, 
baik tradisional maupun modern. Dan akan semakin kacau manakala kecenderungan 
mistik dileburkan dengan penalaran ilmiah. 

Mistisisme, kendati merupakan bagian dari agama manapun, namun seharusnya ia 
tidak meracuni. Bahwa ada hal lain yang harus dikedepankan dari agama, terutama 
Islam yakni rasionalitas dan nalar kritis. 
Pemberhalaan mistik sangat dikecam dalam Islam, di mana akal sebagai karunia 
terunggul yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk membedakan dirinya dengan 
mahluk lain harus ditempatkan pada posisi tertinggi dalam setiap persoalan 
keduniawian manusia. Karena akal dan pikiranlah yang mampu mencerna kebenaran, 
bukan mistik.
 
Mistisisme merupakan bagian integral dari peradaban masyarakat terjajah. Bila 
agama dijadikan satu tarikan nafas dengan mistik maka agama akan berubah 
menjadi penjajah umatnya sendiri, padahal seharusnya agama adalah pembebas 
manusia dari segala bentuk tirani dan penindasan, termasuk keterjajahan akibat 
"mendewakan" mahluk dan alam lain. Mistisisme religius yang oleh televisi telah 
dikemas sedemikian rupa, akan semakin membelenggu kejumudan pola pikir 
masyarakat modern dalam menemukan Tuhannya. 

Berhala akan kembali bersemayam di sudut-sudut kota sebagaimana ditemukan oleh 
masyarakat terbelakang di bawah pohon-pohon besar. Pada akhirnuya orang-orang 
kota yang seharusnya "memuja" kabel-kabel elektronik yang rumit dan kalkulasi 
perdagangan yang teoritis, harus kembali memuji kehebatan batu-batu berkhasiat 
dan mantera-mantera mujarab untuk mendatangkan keuntungan ekonomi yang 
berlimpah. 


Penulis adalah Peneliti Cultural and Religius Studies, Pesantren Ciganjur
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke