SUARA KARYA
Strategi Mengangkat Kembali Citra Polri
Oleh Bambang Pujiyono
Jumat, 1 Juli 2005
Citra polisi di mata masyarakat mengalami pasang surut. Pencitraan positif yang
dibangun sebagai komitmen menuju profesionalisme polisi, ternyata sering
'dikotori' oleh ulah oknumnya sendiri sehingga polisi didera vonis yang
negatif. Fenomena ini tampaknya menjadi siklus yang abadi dalam tubuh Polri
(Kepolisian Republik Indonesia).
Beberapa kasus yang menjadi 'langganan' dan menentukan fluktuasi citra Polri,
di antaranya kasus penyalahgunaan wewenang, penganiayaan, pelecehan seksual,
perbuatan tidak menyenangkan, dan penyalahgunaan senjata api. Berbagai kasus
tersebut seolah tidah pernah lepas dari tubuh Polri.
Meskipun pimpinan Polri selalu berkomitmen untuk menindak anggotanya yang
melakukan pelanggaran, namun tampaknya imbauan tersebut tidak mempan.
Pelanggaran demi pelanggaran silih berganti mengemuka. Jenis pelanggaran yang
dilakukan oleh oknum Polri pun tidak berubah. Dalam kondisi demikian, maka
citra polisi pun semakin buruk di mata publik.
Dalam kondisi internal yang demikian, publik pun meragukan kemampuan polisi
dalam menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Selama
ini publik (masih) mengandalkan kekuatan polisi sebagai pilar utama dalam
masalah keamanan dan ketertiban masyarakat. Sementara unsur sipil dalam
kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) hanya sebatas pendukung saja.
Realitas kehidupan bangsa Indonesia melahirkan fenomena yang menarik berkait
dengan tugas Polri. Fenomena tersebut adalah komitmen mewujudkan kehidupan yang
demokratis dan interaksi global dengan segala 'atribut'nya.
Kedua fenomena tersebut tentunya memaksa institusi Polri untuk meninjau kembali
strategi dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak dilakukan, maka cara kerja
Polri masih terkungkung dengan pola lama (militeristik) yang sangat
bertentangan dengan suasana kehidupan demokrasi, baik dalam tataran lokal,
nasional, maupun global.
Tantangan
Di masa mendatang, setidaknya lima tahun ke depan, peran polisi sangat berat.
Hal ini berkaitan dengan komitmen pemerintah untuk segera menyelesaikan
persoalan-persoalan penegakan hukum, seperti pembasmian terorisme, penangkapan
para koruptor, serta keamanan masyarakat merupakan bagian penting dari platform
politik. Kondisi tersebut dapat terwujud bergantung pada profesionalitas polisi
sebagai pilar utama perlindungan dan pengayoman masyarakat.
Sebenarnya persoalan di atas bukan merupakan hal baru bagi polisi, karena
selama ini polisi pun sudah berusaha menjalankan fungsinya. Namun perlu diakui,
tiga hal penting yang masih menjadi isu nasional tersebut belum secara optimal
diwujudkan. Pada kasus ini, prestasi polisi masih diragukan oleh publik.
Meskipun kita juga tidak boleh tutup mata terhadap prestasi besar yang telah
diraih oleh polisi.
Terorisme diyakini masih marak di tengah masyarakat. Sebab, selama ini 'biang'
teroris masih berkeliaran di Indonesia. Selain itu, masyarakat pun sudah mulai
terbiasa dengan cara teroris untuk memperjuangkan kepentingan politiknya.
Adanya terorisme dengan segala bentuk dan jenis aktivitasnya tentu saja
memengaruhi keamanan dan kenyamanan kehidupan masyarakat. Selama ini tampaknya
intelijen Polri kurang melakukan koordinasi sehingga sering "kecolongan"
kesiap-siagaanya. Akibatnya, beberapa kali wilayah kita diserang oleh teroris
lokal dan internasional.
Sementara itu, upaya penangkapan dan penindakan bagi koruptor juga menjadi
focus of interest publik. Polisi menjadi salah satu ujung tombak dalam rangka
mewujudkan pemerintahan yang bersih dari para koruptor. Koruptor di berbagai
tingkatan bidang kehidupan, baik yang kelas kakap maupun kelas teri merupakan
musuh bersama. Dengan demikian, polisi akan berhadapan dengan koruptor yang
jumlahnya cukup banyak dengan kualitas korupsi yang bervariasi.
Selain itu, tingkat kriminalitas di tengah masyarakat yang masih tinggi sebagai
efek domino dari krisis ekonomi merupakan sebuah fakta. Berbagai bentuk
kejahatan setiap hari selalu mewarnai kehidupan masyarakat. Masyarakat pun
dibuat tidak nyaman dalam menjalani kehidupannya. Setiap langkah kita selalu
terbayang oleh ancaman tindak kriminal dalam persentase yang cukup tinggi.
Ketiga tantangan tersebut merupakan in put dalam sistem perlindungan dan
pengayoman yang dilakukan oleh polisi. Bagaimana strategi yang harus dilakukan
oleh polisi, sehingga out put berupa tindakan-tindakan polisi nantinya mengarah
pada perlindungan dan pengayoman yang merupakan impian hakiki masyarakat?
Strategi
Kondisi institusi yang kurang menguntungkan tersebut harus segera ditata
kembali dengan harapan terjadi pencitraan polisi yang lebih positif dari
masyarakat. Kondisi internal yang mencakup kesejahteraan harus menjadi
perhatian utama pimpinan polisi. Perbaikan kualitas kesejahteraan hidup yang
merata merupakan modal utama untuk membentuk karakter mentalitas dan etos kerja
yang baik.
Perbaikan karakter polisi tersebut harus dimulai sejak awal perekrutan sampai
dengan menjelang berakhir masa baktinya. Metode, prosedur, dan proses pembinaan
personal polisi harus jelas sehingga dapat menghasilkan polisi yang berkarakter
profesional. Karakter profesional ini akan dilihat dan dirasakan oleh
masyarakat, baik dari segi hasil kerja maupun proses kerja yang berkaitan
dengan perlindungan dan pengayoman pada masyarakat.
Strategi selanjutnya, polisi harus lebih mengoptimalkan pendekatan kepada
masyarakat berkaitan dengan tugasnya. Musuh polisi sebenarnya merupakan musuh
masyarakat. Untuk itu, kerja sama antara polisi dengan masyarakat untuk
menumpas musuh bersama tersebut diharapkan dapat lebih optimal.
Polisi harus dapat menampilkan figur yang memasyarakat sehingga masyarakat
tidak memandang polisi sebagai lembaga militer yang otoriter dan menakutkan.
Selama ini seolah masih ada jarak sosial antara polisi dan masyarakat.
Akibatnya, banyak pekerjaan polisi yang semestinya bisa diselesaikan dengan
melibatkan partisipasi masyarakat, namun masyarakat kurang memberikan informasi
secara lengkap.
Untuk itu, polisi harus mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap menangani
persoalan kamtibmas. Sikap angkuh dan anarkis yang sering ditampilkan dalam
menyelesaikan persoalan harus segera dihentikan. Sebagai gantinya, penyelesaian
persoalan kamtibmas dengan pedoman menghargai hak asasi manusia (HAM) perlu
dikedepankan. Melalui cara demikian, otomatis kedekatan Polri dan masyarakat
dapat tercipta. Selanjutnya, citra Polri di mata publik pun akan dapat terwujud
dengan sendirinya.
Pada tataran global, polisi juga harus melakukan kerja sama dengan lembaga
kepolisian internasional. Kerja sama ini sangat penting dalam rangka pertukaran
informasi serta kemungkinan terlaksananya pelatihan untuk meningkatkan
keterampilan dan keahlian dalam bekerja. Hal ini perlu dilakukan karena
kejahatan transnasional yang menggunakan kecanggihan teknologi sudah sampai
pada titik yang sangat mengganggu stabilitas keamanan dan kenyamanan kehidupan
masyarakat. Dalam beberapa kasus kejahatan transnasional, Polri ternyata
mengalami kendala untuk menangkap penjahat yang kabur ke luar negeri atau
sebaliknya. Alasannya, institusi polisi belum melakukan kerja sama dengan
negara lain.
Keterampilan dan keahlian yang berstandar internasional dapat digunakan untuk
melindungi dan mengayomi masyarakat secara universal. Masyarakat asing yang
berdomisili di Indonesia untuk berbagai kepentingan sebagai konsekuensi
globalisasi tidak bisa dihindarkan. Dengan demikian, kekeliruan-kekeliruan
dalam penanganan kasus yang melibatkan warga asing tidak akan terjadi.
Akhirnya menyambut Hari Bhayangkara 2005, beberapa hal di atas diharapkan dapat
dijadikan sebagai bahan renungan oleh institusi polisi dalam rangka
meningkatkan profesionalismenya. Polisi harus segera berbenah untuk menghadapi
kultur demokratisasi masyarakat, serta dalam rangka mendukung terciptanya
pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Dirgahayu Polri! ***
(Penulis dosen Akademi Sekretari Budi Luhur
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/