Bagi anda bung boni memang nggak adil...
bagaimana dengan keluarga besar saya yang harus kehilangan orang yang
kami sayangi (salah satu kakek saya gugur di Jogja dibunuh PKI tahun
1965)?
Pemberontakan PKI suatu 'politisasi'? Saya rasa tidak, kalaupun mereka
menikam dari belakang karena terpancing ulah 'Amerika' (kata sebagian
pihak) atau terpancing oleh manuver sejumlah jendral tetap saja pada
tahun itu mereka membunuh sejumlah orang termasuk kakek saya yang di
jogja itu...
'History' memang bisa menjadi 'His Story' tergantung pada siapa yang
memegang 'pena' untuk menulisnya...
Perlu arif untuk menyikapinya...
bagaimana kalau PKI yang tahun 1965 menang? Atau bagaimana kalau tahun
1965 menjadi perang saudara yang berkelanjutan....
DG

On 7/1/05, Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Numpang nimbrung ya,
> 
> Saya bingung dengan pernyataan "mereka mengubah buku kurikulum 2004 mata 
> pelajaran Sejarah SMP/SMA sesuai versinya; PKI tidak terlibat dalam 
> pemberontakan tahun 1948 dan 1965."
> 
> Saya pikir harus dijelaskan siapa yang dimaksud dengan "mereka" itu. Mengubah 
> kurikulum adalah kewenangan pemerintah, dalam hal ini Depdiknas. Dan tentu 
> melalui proses yang panjang.
> 
> Kemudian, apa yang ditulis oleh eramuslim.com itu sangat ahistoris, dan saya 
> yakin mereka tidak membaca terlebih dahulu isi kurikulum 2004. Tidak ada 
> penghapusan atau penghilangan tentang sebuah peristiwa sejarah tertentu dalam 
> kurikulum 2004. Yang ada hanyalah cara pandang lain terhadap seluruh 
> peristiwa pemberontakan yang terjadi di Indonesia pada kurun tahun 1945-1965. 
> Tentu tidak hanya menyangkut PKI, tapi juga menyangkut pemberontakan Kahar 
> Muzakar, DI/TII dsb...
> 
> Lalu mengapa dalam buku sejarah sekolah tidak ada penulisan tentang peristiwa 
> 65? Itu terjadi karena selepas reformasi begitu banyak versi yang beredar. 
> Dan hal ini sangat membingungan guru dan siswa di banyak sekolahan.Sehingga - 
> kalau saya tidak salah ingat - Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) dan 
> Depdiknas berkeputusan untuk tidak dulu memasukan peristwa G.30.S 1965 ke 
> dalam buku sejarah. Dan saat ini MSI dengan Depdiknas (dipimpin oleh Prof 
> Taufik Abdullah) sedang menyusun sebuah buku tentang peristiwa tersebut 
> secara holistik.
> 
> Lalu pada tahun 2002 lampau, di Semarang, saya pernah menyelenggarakan sebuah 
> diskusi tentang sejarah tahun 1965 yang dihadiri para guru dan siswa SMU 
> se-Semarang. Pada kesempatan itu mereka mengutarakan kebingungannya atas 
> peristiwa G.30.S 1965 (tidak pake PKI, karena G.30.S/PKI itu penamaan 
> "politis" bukan sejarah). Mereka bertanya: "mana sih yang bener?"
> 
> Tentu Fadli Zon mahfum kalau selama 32 tahun sejarah versi Orba merupakan 
> alat legitimasi yang diberikan secara doktriner kepada semua rakyat 
> Indonesia.Dan mungkin dia sadar kalau tujuan pemutaran film "Penghianatan 
> G.30.S/PKI" karya Arifin C.Noor setiap tanggal 1 Oktober adalah bagian dari 
> propaganda Orba untuk menanamkan trauma pada komunis. Sehingga, ada semacam 
> pengertian bahwa Orba dan Soeharto datang menyelamatkan Indonesia.
> 
> Lalu, sebenarnya yang dihapus itu apa? Justru menurut saya pribadi yang 
> dihapus itu adalah ingatan bahwa sepanjang tahun 1965-1966 (bahkan 
> berdasarkan penelitian saya di Purwodadi, pembantaian berlangsung hingga 
> tahun 1969. Dan eksesnya bukan pada orang kiri saja, juga kepada Muslim) 
> telah terjadi pembantaian besar-besaran. Dan ini tentu harus diajarkan juga 
> kepada siswa-siswi sekolah sebagai upaya mengenalkan kepada mereka tentang 
> sejarah Bangsa Indonesia, hitam atau putih!
> 
> Saya tidak menyangkal jika pada kurun 1950an-1960an PKI melakukan intimidasi 
> kepada lawan-lawan politiknya. Saya juga tidak menyangkal jika terjadi 
> pembunuhan yang dilakukan oleh PKI di Madiun pada 1948.
> Tapi alangkah bijaknya jika semua peristiwa itu ditulis secara seimbang: PKI 
> pernah salah juga pernah dipersalahkan!
> 
> Nah, sekarang tentang tahun 1965. Bagaimana bisa peristiwa itu dikatakan 
> sebagai kudeta sedangkan orang yang mau dikudeta (Bung Karno) berada di dekat 
> aktor-aktor gerakan dalam keadaan aman2 saja. Lalu, apakah pantas jika 
> kesalahan beberapa gelintir oknum dalam tubuh PKI dipersalahkan kepada semua 
> orang yang menjadi anggota dan simpatisan PKI?
> 
> Saya punya ilustrasi: Taruh semisal, Akbar Tanjung terbukti bersalah 
> melakukan korupsi. Kemudian SBY menyatakan Golkar terlarang karena Ketuanya 
> korupsi. Dan semua anggota dan simpatisan Golkar dari tingkat desa sampai 
> propinsi ditangkapi bahkan dibunuh. Adilkah ini?
> 
> Begitu juga dengan kasus PKI di tahun 1965. Saya melihat ada keterlibatan 
> beberapa oknum pimpinan PKI seperti Aidit dan Syam, dibantu beberapa 
> jaringannya dalam AD. Pertanyaannya, kenapa Aidit dibunuh di Boyolali tanpa 
> terlebih dahulu dimintai keterangan? Bagaimana dengan Syam?
> 
> Lalu, kenapa harus orang-orang kecil yang tak tahu apa-apa juga ditangkapi 
> bahkan dibunuh? Kenapa? Apakah Bung Fadli Zon bisa menjawab ini?
> 
> Tak ada perandaian dalam sejarah. Jadi tak pantas rasanya jika kita ngomong 
> "seandainya" ketika membicarakan sejarah. Komunis melakukan kekejaman di 
> Kamboja, Cina dan Sovyet. Tapi adalah salah besar jika melihat hal itu 
> sebagai perbandingan "seandainya" PKI berkuasa, begitupula kira-kira yang 
> akan terjadi di Indonesia. Dalam sejarah ini disebut sebagai kesalahan 
> generalisasi.
> 
> Kemudian Fadli Zon dalam wawancara itu mengatakan bahwa ada kelompok yang 
> sekarang menebar kesan bahwa peristiwa 1965 disebabkan oleh konflik internal 
> AD.
> 
> Sebagai sebuah peristiwa yang kontroversial, pernyataan bahwa PKI adalah 
> aktor utama dari peristiwa 1965 belum menjadi sebuah fakta yang keras (hard 
> fact) atau tidak bisa diperdebatkan lagi. Ada banyak teori tentang peristiwa 
> ini. Saya yakin Fadli Zon membaca Harold Crouch , Ben Anderson, dan Geofrey 
> Robinson.
> 
> Menurut saya, jangan pahami sejarah secara linear! Karena dengan cara ini 
> kita telah memonopoli kebenaran, sepertihalnya Orde Baru melakukannya pada 
> peristiwa tahun 1965 ini.
> 
> Ada kesan yang timbul bahwa Soeharto dan serdadu-serdadunya menyelamatkan 
> bangsa Indonesia dari si kafir atheis PKI. Dengan kata lain juga, mereka 
> telah menyelamatkan kelompok Muslim dari tindakan kejam kaum kiri. But look, 
> tahun 1980-an, Muslim malah dibantai habis oleh Soeharto via perpanjangan 
> tangannya: Beni Moerdani.
> 
> Apakah pasca pembantaian massal PKI Indonesia menjadi sebuah negara yang 
> menegakkan syariat Islam? Tidak juga, toh!
> 
> Jadi mana yang bener? Yang jelas kita diboongin sama Orba selama 30 tahun 
> lebih. Dan ini yang harus dibereskan. Bukan menabuh genderang perang terhadap 
> komunisme yang jelas-jelas diakui oleh Bung Fadli sebagai ideologi basi. Juga 
> bukan mencak-mencak gara-gara tak ada penulisan peristiwa 48 dan 65 dalam 
> buku sejarah (karena ini sedang dalam proses penulisan ulang). Terlebih lagi 
> mencurigai pembentukan KKR sebagai motor orang-orang kiri untuk mencuci 
> dosa-dosanya. Pikiran seperti ini terlalu kerdil!
> 
> Bangsa ini jelas amnesia. Sampe-sampe intelektualnya juga ikutan amnesia. Dan 
> musuh terbesar bagi bangsa ini adalah kuasa ingat atas lupa. Benar kata Milan 
> Kundera: "Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan 
> lupa."
> 
> Sekian saja dari aku, seorang rakyat kecil.
> 
> 
> Bonnie Triyana
> 
> Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> MBak, Indo ini sudah selalu ber-konsiliasi ria.
> 
> Coba ingat saja, orang orang yang pro Belanda sebelum 45, waktu kiblik ini 
> berdiri langsung jadi elite kita juga. Orang orang yang dulu genjot 
> pemerentah bung Karno waktu orba langsung jadi elite. Orang yang dulu gembong 
> zaman bung Harto kini jadi elite.  Sekarang elite kita juga campuraduk, orang 
> yang jilat bung K yang jilat bung H, yang jilat siapa lagi, jadi elite. Apa 
> ini bukan rekonsilisasi yang excellent? Yang anti US dan yang pro US sekarang 
> juga gandengan, bingung gak?
> 
> Salam
> 
> DH
> 
> Carla Annamarie <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> 
> idealisme rekonsiliasi nya Afrika selatan klo mo diapplied di indo,
> kayaknya masih susah..pak, krn sedikit or mungkin gak da orang2 yang punya
> great heart or compassion heart spt nelson mandela and Pastor Desmond
> Tutu..., inti dari rekonsiliasi is forgiveness and compassion...
> bgs indo, especially orang2 yang selama ini punya konflik antar suku, antar
> ideology, antar religion, antar partai, antar pejabat neg, mestinya blajar
> banyak or at least bercermin deh..
> 
> 
> 
> "Ambon"
> 
> Sent by: To
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> ups.com cc
> 
> Subject
> 06/30/2005 12:33 Re: [ppiindia] Mereka Ingin
> PM Mendapatkan Justifikasi Bahwa PKI
> Itu Tidak Bersalah
> 
> Please respond to
> [EMAIL PROTECTED]
> ups.com
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Betul di Afrika Selatan ada Mandela, bukan saja satu mandela yang nama
> mukanya adalah Nelson. Disana ada ribuan malahan jutaan Nelson Mandela. Di
> Indonesia tidak ada yang bernama Nelson Mandela tetapi penderitaan yang di
> derita orang di Indonesia pun sama.
> 
> Perbedaan antara Afrika Selatan dengan Indonesia ialah di Afrika Selatan
> para Nelson Mandela yang menang dan sebagai pemenang mereka melakukan
> politik rekonsiliasi dengan kaum minoritas [Apartheid] yang dulunya adalah
> penindas mereka. Disna ada Biskop Desmond Tutu, di Indonesia tidak ada
> hanya
> ada koruptor, begitu hebatnya kaum koruptor sehingga departemen yang
> mengurus hubungan dengan Alloh diperkosa.. Dalam sistem politik koruptor
> tidak ada kejujuran intelektual!
> 
> ----- Original Message -----
> From: "trúlÿsøúl"
> To:
> 
> Sent: Thursday, June 30, 2005 6:51 AM
> Subject: [ppiindia] Mereka Ingin Mendapatkan Justifikasi Bahwa PKI Itu
> Tidak
> Bersalah
> 
> 
> > Fadli Zon: Mereka Ingin Mendapatkan Justifikasi Bahwa PKI Itu Tidak
> > Bersalah Publikasi:
> > 30/06/2005 08:15 WIB
> >
> > *eramuslim -* Setelah angin reformasi berhembus di Indonesia, maka
> secepat
> > angin pula bergulir berbagai wacana ideologi dengan di tengah-tengah
> kita.
> > Banyak kalangan mengekspresikan kekesalannya di masa Orde Baru dengan
> > beragam cara. Demikian pula kalangan eks komunis.
> >
> > Pemeluk komunisme dulu lama 'tertidur', kini mereka kembali menunjukkan
> > keberadaannya. Berbagai macam buku sastra, budaya, sejarah, ekonomi dan
> > sebagainya mereka terbitkan untuk dijajakan di kampus-kampus. Tidak
> > sia-sia usaha mereka. Sebagian mahasiswa/i di perguruan-perguruan tinggi
> > Indonesia-yang mengalami *culture shock* - telah menjadi pengikut dan
> > pengagum pemikiran-pemikiran Marxisme, Leninisme, dan sebagainya.
> >
> > Berhasil menanamkan ide-ide anti Ketuhanan itu, mereka seolah tak puas.
> > Karena itu mereka berharap cerita kekejaman, kebiadaban, dan kebengisan
> > Partai Komunis Indonesia hilang dari ingatan bangsa Indonesia. Upaya itu
> > hampir berhasil. Mereka mengubah buku kurikulum 2004 mata pelajaran
> > Sejarah SMP/SMA sesuai versinya; PKI tidak terlibat dalam pemberontakan
> > tahun 1948 dan 1965.
> >
> > Syukur Alhamdulillah sejumlah tokoh Islam menggagalkan usaha mereka itu.
> > Direktur Institute for Policy Studies (IPS) *Fadli Zon* adalah salah satu
> 
> > di antaranya. Fadli, selain intens mengkaji masalah komunisme
> > internasional, alumnus London School of Economics and Political Science,
> > juga mendalami masalah ekonomi pembangunan. Kepada eramuslim.com
> > ia menuturkan berbagai hal tentang gerakan komunis
> 
> > di Indonesia. Berikut petikannya:
> >
> > *Beberapa hari yang lalu, Anda bersama Kelompok Kerja Mewaspadai Aliran
> > Sesat (Pokja MAS) mendatangi Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
> > perihal buku Sejarah SMP/SMA kurikulum 2004 yang menghilangkan peran
> > Partai Komunis Indonesia (PKI). Bagaimana duduk perkaranya?*
> >
> > Mereka berusaha untuk membuat bahwa hal yang terjadi pada tahun 1948 dan
> > 1965 itu bukan ulah Partai Komunis Indonesia (PKI). Jadi mereka mau
> > mementahkan selama ini tentang keterlibatan PKI. Mereka tidak mau memakai
> 
> > lagi istilah PKI, tapi cukup G-30 S. Tapi tidak G-30 S PKI. Dan mereka
> > juga berusaha memuat bahwa tentang sejarah PKI menurut versinya sendiri.
> >
> > Menurut saya, ini sebenarnya sesuatu yang *misleading*. Mungkin,
> maksudnya
> > ingin menyeimbangkan antara versi sejarah yang satu dengan yang lain.
> Tapi
> > begitulah sejarah PKI dari dulu. Mereka berusaha menghapus jejak sejarah
> > hitam mereka. Tahun 1948 mereka mengatakan, (pemberontakan 1948) itu
> teror
> > putih Bung Hatta. Lalu pemberontakan) tahun 1965 mereka menuduh karena
> > adanya konflik internal TNI AD. Jadi mereka tidak mau meletakkan masalah
> > itu pada konteks zaman saat itu.
> >
> > Lalu ke depan ada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). KKR ini juga
> > akan dimanfaatkan untuk kepentingan itu. Awal-awalnya nanti (penghapusan)
> 
> > kasus-kasus yang baru, dan pada akhirnya juga pada kasus 1948 dan 1965.
> > Mereka mengatakan orang-orang komunis dibantai, tapi mereka tidak akan
> mau
> > mengakui umat Islam yang dibantai. Tahun 1948 yang dibantai banyak dari
> > kalangan nahdliyin. Ribuan orang dari tokoh-tokoh kiyai dan pesatren
> > dibantai. Lalu tahun 1965, kita bisa lihat sendiri kekejaman mereka
> > terhadap para jenderal. Mereka berusaha melakukan intervensi dan kudeta.
> > Tapi mereka gagal.
> >
> > Untuk melihat kekejaman orang komunis itu mudah saja. Lihat saja
> kekejaman
> > mereka di negara lain. Misal, negara tetangga kita, Kamboja. Pol Pot itu
> > membantai 2.000 orang. Dia itu pimpinan rejim Khmer Merah itu. Di Cina
> > juga begitu. Korban kegaganasan rejim komunis itu selama 70 tahun itu
> > sampai 90-100 juta manusia. Jadi jelas ideologi itu melakukan kekejaman.
> >
> > Jadi, saya kira ini (buku mata pelajaran Sejarah Kurikulum 2004) sangat
> > berbahaya bila dibiarkan. Karena akan menimbulkan perdebatan dan bisa
> > mengarah pada konflik horizontal.
> >
> > *Lalu kenapa buku yang dibuat itu untuk kalangan SMP/SMA? Dan kenapa
> > Departemen Pendidikan Nasional bisa kecolongan?*
> >
> > Ya itu memang salahnya pemerintah. Apakah pemerintah saat ini tidak lagi
> > mengontrol kurikulum. Dan harus dicari siapa otak dari pembuatan
> kurikulum
> > itu. Seharusnya Mendikans mencari tahu. Karena itu di bawah tanggungjawab
> 
> > dia. Masak menteri tidak tahu apa-apa. Menteri apa itu.
> >
> > *Bukankah buku itu disusun pada masa Megawati?*
> >
> > Saya tidak tahu itu.
> >
> > *Buku Sejarah Kurikulum 2004 itu, menurut Mendiknas Bambang Soedibyo
> tidak
> > jadi dipakai di SMP/SMA?*
> >
> > Itu karena adanya lobi-lobi yang dilakukan tokoh-tokoh Islam yang
> berusaha
> > menemui menteri-menteri, ketemu dengan Jaksa Agung dan beberapa kalangan
> > lain, dan kemudian berhasil.
> >
> > *Artinya jika tidak ada desakan dan lobi-lobi dari kalangan umat Islam
> > Buku Sejarah 2004 bisa lolos ya?*
> >
> > Iya pasti. Tanpa ada desakan itu pasti *taken for granted*. Karena
> > sebagian orang tidak mau mengamati hal-hal yang seperti ini. Ingatan
> > (mengenai kekejaman PKI) kita pendek sekali.
> >
> > *Dengan upaya menghapus kekejaman PKI pada kurikulum sekolah berarti ada
> > usaha sistematis terselubung? *
> >
> > Betul. Karena ini bisa menjadi justifikasi bagi mereka. Misalnya untuk
> > menggugat perkara di pengadilan dan KKR. Mereka akan mengatakan
> > ini*lho*sejarah yang benar. Padahal masalah sejarah adalah masalah yang
> > sensitif.
> >
> > Seperti masalah Cina dan Jepang. Baru-baru ini terjadi ketegangan antara
> > dua negara itu karena soal sejarah Perang Dunia kedua. Sampai terjadi
> > demonstrasi yang melibatkan puluhan ribu orang. Saya kira kalau di
> > Indonesia terjadi juga akan melibatkan kekuatan massa. Karena itu
> > pemerintah sebagai pihak yang sebetulnya, yaitu sebagai *decision maker*
> > jangan terombang-ambing.
> >
> > *Kenapa yang dibidik justru buku SMP/SMA?*
> >
> > Justru untuk yang paling bagus menanamkan ide komunis itu lewat buku
> > pelajaran. Karena buku pelajaran itu dianggap yang resmi. Itu nanti yang
> > tertanam. Itu nanti kemudian menjadi justifikasi dan legitimasi. Untuk
> > membenarkan suatu sejarah, buku-buku SMP/SMA itu yang dijadikan sasaran.
> > Ini bisa dinilai menyalahai Tap MPR No. XXV Tahun 1966.
> >
> > Lalu buku-buku tentang Marxisme, Lenin dan semacamnya, kalau untuk
> > kepentingan akademik, sebenarnya tidak ada masalah. Saya sendiri membaca
> > buku-buku tersebut.
> >
> > *Tapi kalau untuk kurikulum lain ceritanya, ya?*
> >
> > Iya. Lain cerita. Menurut saya itu perlu proses lain.
> >
> > *Kalau demikian, aparat penegak hukum harus mencari pembuat ide dan
> > penyusun buku itu?*
> >
> > Saya kira itu tergantung pada persoalannya. Saya kira yang penting
> > menterinya harus mengambil alih tanggung jawab. Dia juga harus tahu apa
> > yang dikerjakan anak buah.
> >
> > *Akhir-akhir ini pembicaraan komunisme nampak luntur. Padahal mereka
> > melakukan gerakan bawah tanah. Sebenarnya bagaimana perkembangan dan
> > pertumbuhan komunisme itu?*
> >
> > Kalau di dunia, ideologi ini sudah bangkrut. Ideologi ini sulit jadi
> > alternatif. Karena tidak satu negara pun yang menganut ideologi ini
> > berhasil memajukan negaranya. Italia, Cina misalnya. Cina itu sekarang
> > sudah membuka diri, walaupun tetap menggunkan kontrol. Yang membuat Cina
> > stabil, saya kira otoritarianismenya. Sementara ideologi komunismenya
> > sudah ia lepaskan.
> > Sekjen Partai Komunis itu adalah pengendali politik dan ekonomi negara.
> > Yang lain sudah kita lihat, seperti Uni Soviet hancur.
> >
> > Di Indonesia itu karena romantisme masa lalu. Ditambah situasi nasional
> > negara kita yang sedang mengalami banyak kemunduran di bidang ekonomi,
> > terutama di lapisan masyarakat bawah. Jadi kemiskinan tetap tinggi,
> jurang
> > antara si kaya dan si miskin semakin besar, tidak ada pemerataan.
> Sehingga
> > hal ini membuat komunisme bisa tumbuh dalam bentuk yang baru. Kalau
> > seperti wajah yang dulu saya kira sulit.
> >
> > Tapi yang perlu diwaspadai adalah eks komunis yang masih punya dendam
> > sejarah. Misalnya mereka melaporkan empat presiden RI ke aparat penegak
> > hukum, mengumpulkan data-data berapa banyak orang komunis yang dibunuh
> > umat Islam kala itu. Ini yang perlu diwaspadai.
> >
> > *Bentuk atau wajah baru komunisme saat ini seperti apa?*
> >
> > Ya macam-macam. Saya tidak ingin terjebak mengatakan apa. Tapi mereka
> > ingin tampil. Di beberapa negara Barat, partai komunis tetap ada, tapi
> > sepi peminat. Di Inggris ada, di negara-negara Timur Tengah juga ada. Di
> > sini (Indonesia) kalau dibiarkan juga pasti ada.
> >
> > *Apa mereka berani mendirikan partai lagi?*
> >
> > Kalau kayak partai mereka tidak berani. Biasanya mereka berlindung di
> > ideologi lain, misalnya nasionalis. Kalau kita kaji ideologi ini tidak
> > bisa menjadi alternatif.
> >
> > *Lalu langkah apa yang harus ditempuh pemerintah agar masalah ini tidak
> > kumat lagi?*
> >
> > Masa lalu harus dituntaskan. Kita sebagai bangsa jangan hanya bergulat
> > pada masalah masa lalu. Dan melupakan masa depan. Padahal masa depan itu
> > lebih penting. Karena itu masalah masa lalu harus tuntas semua. Jangan
> > korek-korek lagi dan jangan memberi angin segar lagi. Kalau memang tidak
> > benar, PKI harus dikatakan demikian. Lalu kemudian eks PKI membuat
> > entertaint bahwa, PKI bukan pelakunya itu bisa membuat keributan.
> >
> > *Apakah KKR bisa membuat adanya peluang keributan?*
> >
> > Bisa jadi. Karena KKR harus bebas dari kepentingan-kepentingan partai
> > politik (parpol) yang justru ditunggangi LSM. Karena LSM-LSM di Indonesia
> 
> > ini tidak murni LSM. Sebagian besar, mungkin adalah lembaga swadaya
> asing.
> > Mereka ini yang meneriam proyek dari luar.
> >
> > *KKR ini rawan. Apakah tidak sebaiknya dihentikan?*
> >
> > KKR itu bentuknya macam-macam. Ada ala Mozambik, Liberia, Chile, ala
> > Afrika Selatan (Afsel) dan lainnya. Saya kira KKR ini untuk apa. Menurut
> > saya, sudahlah kita tutup buku pada masa lalu. Jadi rekonsiliasi total.
> > Tidak perlu dibongkar-bongkar. Di Afsel ada kemenangannya karena ada
> > seorang Nelson Mandella. Dia orang teraniaya, dipenjara selama 27 tahun,
> > tapi sikapnya betul-betul mulia mau memaafkan lawan-lawannya. Di
> Indonesia
> > tidak
> > ada yang namanya Nelson Mandella. (sd)
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Sports
> > Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> ***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> >
> ***************************************************************************
> >
> __________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Kita menjalani kehidupan dengan apa yang
> kita peroleh, tetapi kita menciptakan
> kehidupan dengan apa yang kita berikan.
> 
> (Winston Churchill)
> 
> 
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
> 
> 
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
> 
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
> 
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke