Sebetulnya dgn sistem informasi kependudukan yang
memuat data penduduk beserta penghasilannya hal itu
bisa diatasi.

--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=203899&kat_id=23
> Sabtu, 02 Juli 2005  21:15:00
> 
> 
> Sri Mulyani: Indikator Kemiskinan Harus Segera
> Disepakati Secara Nasional
> 
> 
> Jakarta-RoL-- Menteri Perencanaan Pembangunan
> Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan
> Nasional (BAPPENAS), Sri Mulyani menyatakan,
> indikator kemiskinan yang digunakan pemerintah untuk
> mengetahui jumlah penduduk miskin di Indonesia harus
> segara disepakati secara nasional.
> 
> "Masalah indikator  yang menunjukkan kemiskinan ini
> penting, tetapi belum ada kesepakatan tentang mana
> yang harus dipakai. Setiap kali kita meluncurkan
> program baru pasti harus diawali dengan perdebatan
> data mana yang harus digunakan," ujar Mulyani saat
> menjadi pembicara dalam seminar "Pemberdayaan
> Perempuan dan Keluarga Berencana Dalam Mencapai
> Sasaran MDGs" di Jakarta, Sabtu.     
> 
> Ia mengakui angka kemiskinan yang dikeluarkan Biro
> Pusat Statistik (BPS) memang lebih rendah dari yang
> seharusnya ada di lapangan karena indikator yang
> digunakan BPS berbeda dengan yang dirujuk secara
> internasional.
> 
> BPS menggunakan indikator uang yang dikeluarkan
> setiap orang untuk memenuhi kebutuhan pangan
> sebanyak 2.100 kalori per harinya sebagai batas
> minimum pendapatan keluarga yang dianggap miskin.
> Sedangkan secara internasional seperti yang
> terdefinisi dalam kategori  miskin dalam MDGs adalah
> orang yang berpendapatan di bawah satu dolar AS
> setiap harinya.
> 
> "Jika dihitung menggunakan indikator BPS maka
> kategori miskin adalah orang yang berpenghasilan di
> bawah sekitar Rp180.000 per bulan, sedangkan jika
> menggunakan indikator internasional maka yang
> termasuk miskin adalah orang yang berpenghasilan di
> bawah Rp300.000 per bulan. Wajar saja jika data BPS
> jadi jauh lebih rendah. Jika kita menganut indikator
> internasional maka angka itu pasti akan melonjak,"
> jelas Mulyani.
> 
> Menurut dia, data kemiskinan BPS pun memiliki
> keterbatasan karena menggunakan metode sampling
> untuk menentukan jumlah penduduk miskin di setiap
> kabupaten.
> 
> "Secara ilmiah, data itu bisa dipercaya. Namun,
> kesulitan yang timbul adalah kita tidak dapat tahu
> di mana letak penduduk yang miskin itu karena BPS
> menggunakan metode sampling," ujarnya.
> 
> Sebaliknya, lembaga lain seperti Badan Koordinasi
> Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki angka
> kemiskinan yang lebih tinggi dari BPS dan mereka
> mengetahui letak penduduk miskin per kabupaten di
> Indonesia karena petugasnya turun langsung ke
> lapangan.
> 
> Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2004
> menurut BPS adalah 16,6 persen dari jumlah penduduk
> sedangkan menurut BKKBN adalah 30 persen dari jumlah
> penduduk. 
> 
> "Namun, angka yang diperoleh BKKBN melalui
> kader-kadernya di lapangan tidak dapat dipergunakan
> untuk keperluan lain karena data tersebut spesifik
> untuk kebutuhan mereka. Hanya bisa digunakan untuk
> 'cross-check'," ujar Mulyani.
> 
> Untuk melaksanakan program penanggulangan kemiskinan
> yang telah dianggarkan pemerintah pusat, Mulyani
> meminta kepada para bupati di Indonesia untuk
> bersedia turun langsung ke lapangan guna mengetahui
> secara pasti jumlah serta lokasi penduduk miskin
> yang berada di masing-masing kabupaten yang
> dipimpinnya.
> 
> "Jika masing-masing bupati memiliki angka kemiskinan
> yang akurat, akan berguna sekali untuk menentukkan
> anggaran program penganggulangan kemiskinan yang
> harus dikucurkan pemerintah pusat kepada daerah,"
> ujarnya.
> 
> Untuk mendapatkan angka kemiskinan yang lebih riil
> dan bisa disepakati secara nasional, Mulyani telah
> berbicara kepada Kepala BPS.
> 
> "Saya sudah menanyakan masalah ini kepada Kepala BPS
> dan telah meminta agar segera dilakukan sensus
> kemiskinan berdasar indikator kemiskinan yang lebih
> jelas. Saya minta berapa angka riilnya dan untuk
> alasan apa mereka dikatakan miskin. Saat ini yang
> datanya bagus hanya Jawa Timur," katanya.
> 
> Meski telah mengetahui angka kemiskinan dari BPS
> lebih rendah dari kondisi riil, Mulyani mengatakan
> pemerintah tetap menyusun kebijakan berdasarkan
> angka tersebut, karena saat berkampanye presiden
> menggunakan angka BPS dalam visi dan misinya untuk
> mengurangi kemiskinan.
> 
> "Ini masalah tanggungjawab dan konsistensi. Kalau
> angka kemiskinan dengan indikator internasional yang
> kita gunakan, nanti presiden kaget karena jumlah
> orang miskin akan melonjak. Kalau janji menggunakan
> mangga, harus dipenuhi dengan mangga, jangan diganti
> dengan apel," ujar Mulyani. ant/abi
> 
> ++++
> 
>
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=203898&kat_id=23
> 
>                         Sabtu, 02 Juli 2005 
> 21:10:00
>                         Indonesia Berusaha Kurangi
> Setengah Penduduk Miskin
> 
> 
>                         Jakarta-RoL-- Untuk memenuhi
> target Millenium Development Goals (MDGs)
> berkuranganya setengah jumlah penduduk miskin pada
> 2015, Indonesia berupaya mengurangi angka kemiskinan
> dari 16,6 persen dari jumlah penduduk pada 2004
> menjadi hanya 8,2 persen pada 2009.
> 
>                         Menteri Perencanaan
> Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan
> Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Sri Mulyani yang
> berbicara pada seminar "Pemberdayaan Perempuan dan
> Keluarga Berencana Dalam Mencapai Sasaran MDGs" di
> Jakarta, Sabtu, mengatakan, Indonesia berambisi
> mencapai target MDGs dalam jangka waktu empat tahun
> padahal waktu yang disepakati secara internasional
> untuk mengurangi setengah jumlah penduduk miskin
> adalah sepuluh tahun.
> 
>                         MDGs adalah sasaran
> pembangunan global yang disepakati oleh
> negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
> (PBB).
> 
>                         "Untuk itu, semua target
> MDGs tercakup dalam rencana pembangunan jangka
> menengah pemerintah untuk periode 2004-2009. Yang
> menjadi prioritas pemerintah untuk mengurangi
> kemiskinan adalah peningkatan pelayanan penididikan,
> kesehatan serta pembangunan infrastruktur yang
> mendukung terciptanya produktivitas masyarakat,"
> ujarnya.
> 
>                         Selain mengurangi angka
> kemiskinan, pemerintah juga menargetkan berkurangnya
> kesenjangan pembangunan dan pendapatan antar daerah.
> 
>                         Dalam Rencana Pembangunan
> Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009, kata Mulyani,
> pemerintah menyiapkan program-program penanggulangan
> kemiskinan seperti peningkatan kecukupan pangan,
> pemberian pelayanan kesehatan dan pendidikan serta
> pemenuhan hak atas pekerjaan dan berusaha.
> 
>                         Program-program tersebut,
> lanjutnya, dilaksanakan secara bertahap dengan
> mengupayakan terjadinya koordinasi antar sektor
> serta antara pemerintah pusat dan daerah agar
> terwujud sinkronisasi dan keterpaduan tujuan
> pembangunan secara nasional.
> 
>                         Ia juga menekankan
> pentingnya  iklim keseimbangan peran antara
> pemerintah, masyarakat serta harmonisasi peran donor
> dan lembaga internasional. "Selain itu, juga
> dilakukan monitoring dan evaluasi melalui mekanisme
> yang konsisten antara input-proses-output, serta
> outcome dan dampaknya," ujarnya.
> 
>                         Mulyani yang baru tiba Sabtu
> siang di Jakarta seusai mengikuti pertemuan tingkat
> menteri di New York untuk membahas lima tahun
> pelaksanaan MDGs, mengatakan bahwa secara
> internasional disepakati pelaksanaan MDGs menekankan
> kemampuan lokal masing-masing negara dalam mengelola
> dan menyusun kebijakan.
> 
>                         "Telah disepakati bahwa
> pemenuhan target MDGs dilakukan berdasarkan
> kemampuan dan penyusunan kebijakan yang dilakukan
> sendiri oleh masing-masing negara. Hanya negara yang
> benar-benar miskin dan menanggung beban hutang besar
> yang akan mendapatkan bantuan internasional,"
> jelasnya.
> 
>                         Bagi negara seperti
> Indonesia 
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke