Kapital itu kan gampang diperoleh jika memang kita
memiliki sumber daya gas yang besar.
Misalkan dgn cadangan gas terbesar kedua di dunia
Bolivia bisa menghasilkan Rp 170 trilyun per tahun,
sedang dana yang dibutuhkan untuk mengelola gas Rp 17
trilyun per tahun, dengan obligasi atau membangun
secara bertahap, maka kapital tsb bisa dikembalikan
dalam waktu 2-3 tahun lewat hasil penjualan gas.
Sederhana bukan? Atau hal seperti itu terlalu sulit
dipahami oleh "ekonom" pro AS?

Tapi kalau diporotin terus lewat MNC negara Barat, ya
akan terjerat hutang terus menerus dan miskin serta
rusuh.

--- ANDREAS MIHARDJA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Negara Bolivia - memang memiliki gas alam - tetapi
> untuk mengelola gas ini diperlukan kapital - yg
> tidak dimiliki oleh negara tsb. Karena itu harus
> tergantung multinational.
>  
>  Keributan yg berada dinegara Bolivia bukan karena
> penghasilan gas alam ini atau business dari gas alam
> ini. Persoalan ini hanya salah satu peristiwa yg
> meluberkan kemarahan rakyat terhadap pemerintah. 
> Yang betul2 membikin kerusuhan social adalah
> discriminasi terhadap mereka yg keturunan pribumi
> america dan campuran dari mereka dgn bangsa2 lain.
> Negara2 America selatan didominansi oleh mereka yg
> berkulit putih. Ini kita lihat di Venzuela, Equador
> dan di Bolivia , Peru etc. Mereka yg keturunan
> pribumi setempat tidak mempunyai suara didalam
> pemerintahan dan tidak ada satu pribumi yg menguasai
> dunia ekonomie. Mereka yg keturunan pribumi ini
> mungkin rata2 diseluruh america selatan ini adalah
> 80 -85% dari penduduk - tetapi keuangan dan
> kepemerintahan berada dalam tangan kulit putih
> keturunan spanish dari jaman contistadore yg mungkin
> berjumlah hanya <1 % dari penduduk setempat. Dengan
> kemenangannya president Hugo Chavez seorang dari
> group mixed blood, mata rakyat jelata agak terbuka.
>  Pres Chavez menjalankan politik social reform dan
> karena itu tetap disenangi majority penduduk. Waktu
> jaman Fujimori diPeru keadaan juga demikian tetapi
> achirnya kaum "elite" keturunan kulit putih dapat
> mengambil alih kekuasaan kembali. 
> Bolivia masih memakai system feodal dan reformasi
> social tidak dijalankan. Penduduk pegunungan yg
> merupakan majority pribumi america selatan keturunan
> kerajaan inca hidup dalam kemiskinan. Communicasi
> jalan kedaerah mereka tidak ada dan kalau ada
> urbanisasi mereka sama seperti diIndoneisa merupakan
> tenaga budak dari kaum kulit putih. 
>  
> Karena itu sebelum mengambil kesimpulan kita harus
> belajar dari keributan social di Bolivia kita harus
> mengerti susunan masyarakat mereka. Memang corupsi
> mungkin juga merajalela sama dengan diIndonesia
> tetapi yg penting adalah bukan korrupsi ini tetapi
> kemiskinan rakyat jelata yg hidup dislump dan yg
> sekarang dgn kemenangannya Chavez dan dulu Fujimoro
> mendapat harapan. Mereka mengharapkan semacam hero
> untuk Bolivia. Politik kaum kommunis diPeru memang
> dimata kita sangat fanatik tetapi untuk mereka kaum
> pribumi ini merupakan pelita kehidupan baru.
> Pelajaran untuk Indonesia  - korupsi di top
> kepemerintahan dan ketidak adilan social terhadap
> rakyat keturunan pribumi.  Soal kontrak2 dgn
> multinational = kalau tidak punya kapital apakah
> kalian dapat mengelola penghasilan alam. Lagi jangan
> salah paham - yg mendapat konsessie bukan hanya
> multinational Shell dan BP tetapi juga yg berasal
> dari Latin America sendiri. Ini bukan soal yg
> mencegah kemajuan negara ini hanya alst utk
> mencapainya 
> Sebelum menjerit tidak adil etc silahkan berpikir
> dgn logic - bagaimana mereka sebagai negara tanpa
> kapital dan technology minyak sanggup mengelola
> bahan alam ini tanpa bantuan technik dan kapital
> dari luar. Kalau kalian yg berteriak memberikan
> solution yg logic yg lebih baik dari yg sekarang
> dipakai silahkan berteriak kalau belum tahu silahkan
> belajar dahulu dn jangan memakai emosi yg salah.
> Pengetahuan technik minyak tidak mudah - lihatlah
> sendiri Indonesia tidak bisa bikin benzin atau
> minyak tanah sendiri harus import 100% dari negara
> arab. Indonesia kan negara minyak - kenapa kaga bisa
> bikin sendiri - Jawabannya  karena ketidak stabilan
> keadaan social diIndonesia Longterm investment tidak
> datang dn ahli2 setempat pengetahuannya tidak ada.
> Seharusnya kalau indonesia bekerja sama dgn Shell
> dan tidak membikin Pertamina yg korrup [oleh
> perasaan nasional] keadaan tidak seperti sekarang.
> Shell adalah perusahaan belanda dan negara ini
> adalah satu2nya negara yg menyumbang pengetahuan dan
>  kapital kepada bekas jajahannya sampai beratusan
> juta dollar setahun. {Belanda sendiri negara gas
> alam] Yg sulitnya utk pemerintah Indonesia Negara
> Belanda anti korrupsi dn segala pengeluaran
> diperiksa sampai mendalam dn rupanya tidak lukratip
> utk Suharto cs..
> Andreas
>  .
> 
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Semoga kasus Bolivia jadi pelajaran bagi kita.
> Negara
> tersebut punya gas alam terbesar ke 2, tapi
> rakyatnya
> tetap miskin. Ini karena yang menikmati kekayaan
> alam
> tersebut adalah Multi National Company asing.
> 
> Rakyat mereka ibarat ayam yang kelaparan di lumbung
> beras.
> 
> Jangan sampai negara kita seperti itu. Kita
> mengekspor
> gas alam. Tapi pabrik pupuk Iskandar Muda nyaris
> mati
> kekurangan gas. Kita mengekspor minyak (walau juga
> impor). Tapi rakyat kita sampai berkelahi berebut
> BBM.
> 
> Mudah-mudahan kita bisa mengelola kekayaan alam
> sendiri. Hidup mandiri. Sehingga seluruh kekayaan
> alam
> bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan
> oleh MNC asing.
> 
> --- KPP PRD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>     
> Pergolakan Bolivia, Pelajaran akibat Privatisasi 
> 
> Bulan Oktober 2003, Presiden Gonzalo Sanchez de
> Lozada, tokoh liberal Bolivia pemenang Pemilu,
> diturunkan oleh demonstrasi rakyat dan digantikan
> oleh
> Carlos Mesa. Peristiwa itu dikenal sebagai Hantu
> Oktober. Dan dua puluh bulan kemudian, hantu itu
> datang lagi lewat rangkaian demonstrasi yang terjadi
> sejak Januari 2005, dan dilanjutkan dengan pemogokan
> umum setelah Presiden Carlos Mesa menandatangani UU
> perminyakan (Hydocarbon) 17 Mei 2005 . Pada 26 Mei
> 2005, pemogokan dihentikan untuk memperingati
> festival
> umat Katolik Corpus Christi, dan segera berlanjut
> keesokan harinya. Ratusan ribu rakyat Bolivia turun
> ke
> jalan-jalan menuju istana kepresidenan La Paz,
> bahkan
> memblokade perbatasan menuju Chile dan Peru. Hingga
> tanggal 6 Juni 2005, ahirnya Presiden Carlos Mesa
> mengundurkan diri.
> 
> Dalam Agenda Oktober 2003 Carlos Mesa menjanjikan
> rakyat untuk menasionalisasi minyak dan gas;
> penjatuhan hukuman terhadap politisi yang
> bertanggungjawab atas kematian 67 orang dalam
> pergolakan Oktober 2003; dan sidang konstituante
> untuk
> merevisi konstitusi dengan melibatkan masyarakat
> adat
> setempat (Indian). Tak main-main, rakyat Bolivia
> menuntut balik janji itu, khususnya warga pekerja
> dan
> masyarakat Indian dari El Alto, ketika dalam 20
> bulan
> kekuasaan Mesa tak satupun janji tersebut dipenuhi.
> 
> Negeri yang berpenduduk tak lebih dari 9 juta ini
> adalah negeri paling miskin di Amerika Selatan,
> padahal memiliki kekayaan gas alam terbesar kedua
> setelah Venezuela. Sebesar 18% pajak pendapatan
> penjualan (royalti) terhadap kontrak production
> sharing minyak ditetapkan Presiden Lozada. Berjudi
> dengan kekuatan modal asing, Carlos Mesa malah
> berani
> menaikkannya menjadi 32% dalam UU Hidrokarbon yang
> baru disahkannya 17 Mei lalu. Namun, kebijakan
> tersebut tampaknya sudah sulit mengambil hati
> rakyat.
> Seperti bola salju tuntutan bergulir menjadi
> nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak dan gas
> Bolivia. 
> 
> Sebanyak 76 kontrak minyak yang sudah ditandatangani
> dimasa kekuasaan Jorge Quiroga dan Lozada, hanya
> menguntungkan 12 perusahaan transnasional; termasuk
> Enron, Shell, Repsol – YPF, Petrobas, dan British
> Petroleum. Mereka dimudahkan untuk membeli langsung
> minyak mentah di sumur-sumur minyak Santa Cruz
> dibawah
> nilai pasar, dan menjualnya kembali pada rakyat
> Bolivia 12 kali dari harga aslinya. Rakyat Bolivia
> tampaknya mengerti bahwa inilah salah satu penyebab
> naiknya harga bahan bakar minyak diesel, petrol dan
> kerosene, selain karena kesepakatan Presiden Carlos
> Mesa dengan IMF tentang privatisasi pada bulan
> Desember 2004. Inilah yang memicu rangkaian
> demonstrasi Januari 2005.
> 
> Kerap kali pertanyaannya yang muncul kemudian adalah
> siapa dan apa kepentingan dibalik pergolakan rakyat
> di
> Bolivia. Menakjubkan, karena setelah penetapan 32%
> royalti minyak oleh parlemen dan Presiden Mesa, maka
> dua kepentingan pun bertemu; kelompok masyarakat
> miskin dan elit-elit pemegang lisensi minyak. 
> 
> Kepentingan pertama menginginkan royalty yang lebih
> banyak—termasuk hasil referendum minyak Juni 2004
> yang
> memutuskan 50% royalti minyak untuk negara—hingga
> nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak.
> Kepentingan kedua menolak angka sebesar itu, karena
> takut akan menghambat investasi asing. Kepentingan
> 
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke