nampaknya soal prostitusi merupakan salah satu
penyakit masyarakat yang kompleks. benar, bahwa
faktor tekanan ekonomi & (rendahnya) pendidikan
menjadi salah satu faktor yang penting; tetapi
rasanya hal itu bukan satu-satunya faktor.
saya rasa sudah bukan rahasia lagi - sudah cukup
sering diliput media massa - adanya praktek
prostitusi "kelas menengah ke atas" yang melibatkan
wanita yang tidak bisa dikatakan "kelas bawah",
seperti ABG (pelajar-2 SMU), mahasiswi, dan
(konon) 'profesi' lainnya seperti sekretaris
dan model/peragawati. Yang ini jelas motifnya
bukan karena "tekanan ekonomi" atau faktor
(rendahnya) pendidikan, apalagi ditipu atau
dijebak ...
saya tidak melihat logisnya argumen yang mengatakan
bahwa jika nanti tingkat kemakmuran masyarakat
di berbagai negara sudah melewati suatu tingkat
minimum garis kemiskinan, maka praktek prostitusi
akan berkurang drastis ...
di mana ada demand, di situ akan ada supply ...
o.k.i upaya regulasi dengan hukum tetap perlu,
upaya ini akan memberikan tekanan pada kedua sisi,
sisi demand maupun sisi supply. Tujuan regulasi
adalah mengurangi potensi terjadinya perzinaan,
jadi tidak terbatas pada prostitusi saja ...
mengurangi kelima penyakit masyarakat/"mo-limo"
(Maling, Madat, Minum, Main, Madon) rasanya
memang memerlukan berbagai pendakatan, termasuk
campaign lewat berbagai media "dakwah", termasuk
website dan "iklan layanan masyarakat" dan
juga pendekatan hukum.
= ihm =
--- "W. Kusumo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Selamatkan Putri Cantik Kita
>
>
> Mencegah anak-anak jadi pelacur tak cukup hanya dengan segepok
> peranti hukum. Kemiskinan mesti diperangi.
>
>
> Jalan pintas dan cenderung mengabaikan moralitas telah menjadi
> kebiasaan sehari-hari sebagian masyarakat. Kalangan terpelajar
> melakukan korupsi, dan sebagian penduduk pedesaan berusaha hidup
> makmur dengan segala cara, kalau perlu dengan menjual anak gadisnya.
>
> Dari Kuala Lumpur, Malaysia, berita itu tersiar. Dua pekan lalu, 40
> perempuan muda Indonesia ---sebagian berusia dibawah 18 tahun---
> digerebek polisi Malaysia karena menjadi pelacur. Kini mereka
> ditampung di Kedutaan Besar RI, menanti proses pemulangan. Sebagian
> mengaku, mereka semula dijanjikan bekerja di restoran dengan gaji
> besar, tapi ternyata disekap di hotel dan dipaksa memuaskan nafsu
> lelaki. Diperkirakan, ratusan atau bahkan ribuan wanita asal
> Indonesia lainnya sampai kini masih terjebak dalam praktek
> pelacuran di Malaysia. Setiap tahun polisi di sana menangkap
> sedikitnya 2.000 wanita Indonesia yang jadi pelacur.
>
> Tak hanya ke Malaysia, "anak baru gede" yang berasal dari berbagai
> daerah di Indonesia juga dikirim menjadi "duta budaya" ke Jepang.
> Jangan bayangkan mereka akan menari serimpi atau jaipong,
> gadis-gadis cantik itu berubah menjadi "duta seks" setelah
> tiba di klub-klub malam disana. Bayarannya cukup menggiurkan.
> Mereka bisa mengirim uang ke orang tuanya di kampung Rp 50
> juta hingga Rp 200 juta setiap enam bulan.
>
> Gambaran bahwa mereka telah ditipu atau dijebak TIDAK
> selalu benar.
.................
>
> Majalah TEMPO Edisi 4-10 Juli 2005. Halaman 24-25.
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/