http://www.indomedia.com/bpost/072005/11/opini/opini1.htm


Di Balik Fatwa Operasi Selaput Dara
Oleh: Pribakti B
Bicara tentang keperawanan diikuti pemulihan selaput dara sebetulnya tidak 
begitu menarik, bukan cuma kurang seru tapi masih banyak orang enggan untuk 
membicarakannya. Tapi karena yang namanya kehidupan tidak bisa diterka, artinya 
semua dari kita tidak tahu skenario dari Atas, maka topik operasi selaput dara 
pun sah-sah saja menjadi bahan diskusi.

Hal seperti itu yang dilakukan sekitar 100 kiai Nahdatul Ulama di halaman 
pondok Pesantren Darussalam Jember, Jawa Timur dengan topik Selaput Dara Di 
'Mata Kiai'. Singkatnya, setelah berdebat selama tiga jam sembari 
membolak-balik sejumlah kitab kuning, akhirnya mereka sepakat mengeluarkan 
fatwa mengharamkan operasi selaput dara. (Majalah Tempo, 26 Juni 2005)

Alasannya, menurut para kiai tersebut, hal pertama adalah terlihatnya aurat 
oleh pandangan orang lain, dalam hal ini dokter, jelas haram. Jadi wajib 
hukumnya menutup aurat. Sedangkan operasi pemulihan selaput dara bukan perkara 
sunah, apalagi wajib. Tidak ada alasan yang membolehkan orang membuka aurat 
saat operasi selaput dara yang bukan sunah itu. Hal kedua yang mengharamkan 
permak selaput dara ialah unsur penipuan terhadap calon suami yang akan 
menikahi si perempuan.

Masalahnya menjadi ruwet. Timbul pertanyaan: Bagaimana jika operasi selaput 
dara sebagai pertobatan bagi mereka yang pernah menjalani seks bebas. Atau, 
bagaimana jika operasi itu untuk mengurangi penderitaan batin korban 
pemerkosaan? Lalu, bukankah korban pemerkosaan akan semakin 'pe de' dengan 
operasi pemulihan selaput daranya?

Sandungan

Menjalani kehidupan memang tidak seperti mengemudikan kendaraan di jalan tol, 
tanpa hambatan dan mulus sampai tujuan tepat waktu. Peristiwa demi peristiwa 
yang terbayangkan sebelumnya, atau sama sekali tidak pernah terlintas dalam 
benak akan menimpa kita, datang silih berganti. Sandungan demi sandungan itu 
justru akan membuat hidup berwarna, dinamis, kaya pengalaman dan dewasa.

Dua pekan lalu, batu sandungan kehidupan berupa ditinggal pacar yang tidak 
bertanggung jawab dialami oleh pasien saya. Dia seorang perempuan muda, cantik, 
smart, karir bagus dan tinggi layaknya seorang peragawati top. Dia datang ke 
praktik saya dengan niat spa vagina (cuci vagina), dan anehnya dia tidak merasa 
perlu untuk mempermak selaput daranya. Malah dengan enteng dan tanpa beban dia 
bicara kepada saya: "Dok, bagi saya keperawanan bukanlah segalanya. Saya tidak 
mau frustasi dan penuh penyesalan sepanjang hidup hanya gara-gara kehilangan 
selaput dara yang diambil pacar saya. Apa yang sudah terjadi, biarlah saya 
ambil hikmahnya saja. Yang penting, bagaimana saya menjalani hari-hari 
selanjutnya dengan positif dan penuh prestasi. Soal calon suamiku tidak mau 
menerima keberadaanku yang seperti ini, ya sudah. Berarti, cintanya kepada saya 
tidak utuh. Cari saja laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. Beres kan dok?"

Saya pun manggut-manggut. Dalam pikiran saya, andai saja semua gadis yang 
kehilangan keperawanannya mempunyai pikiran atau cara pandang seperti itu, 
barangkali tidak akan pernah ada cerita 'gadis-gadis' yang bunuh diri minum 
racun obat serangga, terjun dari kamar hotel atau memutus urat nadinya lantaran 
frustrasi ditinggal pacar yang sudah merenggut keperawanannya.

Tapi sayang, apa yang ada di benak pasien saya itu, tidak selalu mengisi benak 
para gadis muda yang mengalami nasib menyedihkan seperti itu. Ada yang langsung 
berpikiran, bahwa kehilangan keperawanan sama halnya dengan kiamat. Apalagi 
kalau si laki-laki tidak mau bertanggung jawab, mati pasti merupakan jalan 
penyelesaian.

Fatwa

Begitulah bunyi fatwa 100 kiai Jember tentang operasi selaput dara yang saya 
kutip. Terlepas setuju atau tidak, tinggal bagaimana kita. Untungnya dengan 
jiwa yang besar, yang kata orang Jawa biso dadi segoro yakni jiwa yang bisa 
menjadi lautan, akhirnya dengan lapang dada pasien saya ini siap menanggung 
risiko atas keputusan salah yang pernah dia ambil. Harus diakui, jiwa 
sekualitas ini baru bisa terbangun bila sudah mengalami serangkaian peristiwa 
kehidupan.

Bukankah tidak ada ceritanya orang yang selalu menyendiri di rumah, hanya 
tiduran di tempat tidur, tidak pernah keluar kamar, akan bisa berbicara banyak 
tentang suka duka kekalahan dan kemenangan dalam pergulatan kehidupan, 
kemunafikan manusia, sakitnya penindasan, ketidakadilan dan sebagainya? Semua 
pengalaman itu hanya bisa diperoleh dengan terjun langsung dalam pergulatan 
kehidupan yang penuh warna.

Tidak bisa tidak. Sebab, sebuah pergulatan tidak bisa diterjuni begitu saja 
secara telanjang. Artinya, dalam pergulatan kehidupan dibutuhkan strategi, 
jurus, modal (apa saja, termasuk keimanan, kepandaian, kecantikan, ketampanan, 
uang, koneksi, mungkin juga mantra dukun, kebohongan dan sebagainya), 
perputaran nasib dan ketentuan takdir.

Kata orang bijak, belajar hidup itu sepanjang kehidupan. Hikmah yang bisa 
diambil dari semua peristiwa, menyenangkan maupun menyedihkan, pada akhirnya 
akan menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan kehidupan selanjutnya. Semua 
orang memiliki sejarah kehidupan masing-masing. Namun, apa pun lembaran sejarah 
itu, tentu bukan sebuah cerita monoton yang hanya berisi cerita bahagia atau 
cerita duka semata. Kita tahu, setiap orang memiliki lembaran cerita duka dan 
bahagia. Bagian mana yang lebih banyak, adalah warna kehidupan kita 
masing-masing. Apakah suka dan apakah duka, pada akhirnya memang bergantung 
pada cara kita memandang dan merasakan peristiwa dalam kehidupan kita.

Terus terang, pola pikir pasien saya yang tampaknya meremehkan nilai 
keperawanan itu, sebetulnya cukup mengganggu saya yang dibesarkan dalam budaya 
timur dan (konon) taat beragama ini.

Tetapi, bila dipikir-pikir lebih jauh, bukankah sikap yang meremehkan nilai 
keperawanan itu terpaksa diambilnya untuk perisai, bagi langkah kehidupan 
selanjutnya, menghindari frustasi akut dan pijakan untuk membangun kehidupan 
yang lebih baik?

Mungkinkah kita bisa menyetujuinya, daripada (misalnya) sikap yang menilai amat 
tinggi keperawanan, tapi toh sudah hilang (entah dengan cara apa), yang pada 
akhirnya hanya akan mendorong terbangunnya persoalan seumur hidup tidak 
berguna? Apalagi malah mengantarkan untuk minum racun serangga.

Memang kaki yang tersandung pasti sakit. Tetapi bukankah orang tidak baik sehat 
terus (dan juga tidak mungkin), meski orang itu berprofesi dokter sekalipun. 
Sebab pada kenyataannya, penyakit pun mempunyai fungsi untuk menguji seberapa 
jauh kekebalan tubuh kita. Dan setelah diketahui ternyata kekebalan tubuh tidak 
prima menghadapi serangan penyakit, kita pun butuh obat untuk membangun kembali 
kekebalan tubuh, agar prima dan penyakit terusir.

Dan, pergulatan kehidupan kian bertambah menjadi seru, karena setiap orang 
ingin menjadi pemenang di semua bidang. Ada yang lewat jalan lurus, prosedural 
sesuai garis agama, hukum, kesopanan dan susila, serta percaya kepada proses. 
Ada pula yang tidak lewat jalan lurus, menjadi bajingan, koruptor, tak peduli 
norma apa pun, tidak peduli proses. Serunya, yang menggunakan jalan lurus harus 
berbaur tiap hari dan bersama-sama dalam pergulatan kehidupan dengan yang 
berjalan tidak lurus. Kadang karena keadaan yang berjalan lurus pun harus 
bergaul dan berinteraksi dengan orang yang biasa berjalan menceng.

Mau tidak mau, yang percaya jalan lurus pun harus pula senantiasa siaga, penuh 
kontrol dan kehati-hatian agar tidak menjadi korban. Batu sandungan tersebar di 
mana-mana. Seperti yang juga dialami oleh pasien saya itu. Dengan demikian, 
kita pun bisa mengalami dan berusaha untuk mengatasinya. Begitulah seterusnya, 
berulang-ulang. Pendeknya, kita harus terus belajar hidup sepanjang kehidupan 
ini.

Dokter Spesialis Kandungan RSUD Ulin,
tinggal di Banjarmasin


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke