Saya prihatin sekali melihat menteri perekonomian Aburizal Bakrie hanya mampu melihat 2 alternatif pemecahan krisis BBM: Perbesar Subsidi atau Naikkan Harga BBM.
Aburizal gagal melihat alternatif ke 3, yaitu memperbaiki perekonomian Indonesia sehingga rupiah menguat dan "subsidi" karena hancurnya nilai rupiah bisa dihilangkan. Sebagai contoh, ketika zaman Habibie, rupiah menguat hingga Rp 6.700 per dollar. Zaman Gus Dur dan Mega menjadi 8000-an sementara zaman SBY jadi 9.700. Nah jika Aburizal sanggup membuat rupiah menguat menjadi Rp 7000 per dollar, tentu tidak akan ada lagi subsidi. Tapi, sanggupkah Aburizal melakukan itu? Kalau mencabut subsidi, Aburizal telah melakukan itu. Hasilnya, jutaan rakyat kena busung lapar. Mau melakukan itu lagi? Berikut berita dari Kompas: Dua Alternatif Pemecahan, Perbesar Subsidi atau Naikkan Harga BBM Jakarta, Kompas - Pemerintah tengah mengkaji dua kebijakan untuk keluar dari masalah bahan bakar minyak, yakni meningkatkan dana subsidi atau menaikkan harga BBM untuk kedua kalinya dalam tahun ini. Sedang dipikirkan mekanisme pemberian subsidi secara langsung kepada rakyat miskin dengan memberikan dana pembelian bahan bakar jika kebijakan kenaikan harga jadi ditempuh. Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie seusai melantik pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (11/7), mengatakan, pemerintah sedang mempelajari cara agar dana subsidi itu tidak digunakan oleh orang kaya yang tidak berhak. Ini seperti bejana berhubungan. Jika subsidi tinggi, maka harga akan rendah. Kalau harga tinggi, maka subsidi rendah. Jadi, hanya ada dua alternatif, menambah subsidi atau menaikkan harga dengan memberikan uang kepada orang miskin. Tapi ini memang masih wacana, kata Aburizal menjelaskan. Menurut dia, subsidi BBM hingga Rp 150 triliun sangat mungkin terjadi jika Indonesia gagal melakukan upaya penghematan BBM hingga 10 persen dari kuota 59,6 juta kiloliter, dan harga minyak tetap tinggi pada level 60 dollar AS per barrel. Subsidi BBM hingga Rp 150 triliun itu setara dengan 30 persen APBN Perubahan 2005. Jika konsumsi bisa ditekan hingga 10 persen, lanjut Aburizal, subsidi dapat ditekan menjadi Rp 138 triliun dan defisit menjadi Rp 22 triliun. Ia menambahkan, dana subsidi tersebut akan lebih bermanfaat jika disalurkan secara langsung kepada masyarakat miskin sebagai dana pembelian minyak tanah, sekitar Rp 2,5 juta per keluarga. Saat ini terdapat 36 juta orang miskin atau 12,5 juta keluarga miskin yang menjadi sasaran pembagian dana itu. Untuk ini hanya dibutuhkan sekitar Rp 25 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan subsidi Rp 150 triliun, katanya. Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Chatib Basri mengatakan, gerakan konservasi energi yang dijalankan pemerintah saat ini belum cukup untuk mengatasi lonjakan harga minyak mentah. Pemerintah masih harus menyesuaikan harga BBM dengan tingginya harga pasar. Wakil Presiden Jusuf Kalla menjawab pers, seusai rapat dengan menteri mengenai pemantauan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, menyatakan, Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang penghematan energi secara khusus tidak mengatur sanksi jika instruksi itu tak dilaksanakan. Namun, bagi pegawai negeri sipil, TNI, dan Polri, sanksinya sudah diatur dalam ketentuan kepegawaian. Mulai dari teguran sampai penurunan pangkat. Itu jelas, ujarnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, masalah kelangkaan BBM di sejumlah daerah merupakan tanggung jawabnya secara penuh. Untuk memimpin, mengendalikan, memantau, dan mengecek di lapangan guna mengatasi masalah kelangkaan BBM, Presiden menunda rencana kunjungannya ke China, Thailand, dan Brunei Darussalam. (boy/inu/har/oin/anv) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/12/utama/1889848.htm Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

