kata orang, semakin dekat dengan kabah, ketika
melakukan ibadah haji, tak terasa perbedaan diantara
orang-orang islam.... apakah dia suni, syiah atau
ahmadiyah.... berkulit hitam, coklat, kuning atau putih....
semua beribadah bersama-sama dengan khusuk....

sayang, setelah pulang haji dan menjauh dari kabah,
perbedaan itu kembali dimuncul-munculkan....

tapi mungkin penyebabnya bukan semata pemahaman
agama.... barangkali ada juga faktor kebodohan,
kemiskinan dan pengangguran...

salam,


At 11:32 PM 7/11/05 +0700, you wrote:
>Dalam hidup kita sering terpaksa melihat yang sangat tidak ingin kita
>lihat atau mendengar yang sangat tidak ingin kita dengar atau mengetahui
>bahwa apa yang dikhawatirkan terjadi kemudian terjadi, yang menyebabkan
>kita menjadi sangat sedih dan gusar.
>
>Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan berita seputar serangan bom
>teroris di London yang menewaskan banyak orang tidak bersalah pekan
>lalu, dan kemudian sebuah peristiwa yang diberitakan Liputan 6 SCTV pagi
>dan Nuansa Pagi hari Minggu yang lalu, yaitu ketika segerombolan orang
>yang mengaku dari Lembaga Penelitian dan Pengkajian (LPPI) dan Front
>Pembela Islam (FPI), sebagian masih belia menyerang, merusak dan
>berusaha membubarkan ‘Jalsah Salanah’ (pertemuan tahunan) ke 46 Jemaah
>Ahmadiah Indonesia di kampus gerakan tersebut di Parung, Bogor, hari
>Jumat lalu, dengan alasan “bertentangan dengan ajaran Islam”. Terdengar
>jelas ada yang berpekik: “Bakar…….bakar!”
>
>“Mereka tidak mengakui Nabi Muhammad dan tidak berkitabkan Al-Quran,”
>demikian kurang lebih ucapan salah seorang penyerang seperti dikutip SCTV.
>
>Memang seperti itu anggapan mayoritas kaum muslimin tentang Jemaah
>Ahmadiah. Dan seperti itu pula anggapan saya dulu, ketika ikut
>mengusulkan untuk “mengusir” Nadri Saadudin alias Wan Nadri, seorang
>mubalih Jemaah Ahmadiah---yang rajin mendakwahkan doktrin-doktrin mereka
>di sejumlah milis---dari milis orang kampung saya RantauNet sekitar 5
>tahun yang lalu.
>
>Dan setelah itu saya masih sempat “menyerang” Wan Nadri dan Ahmadiah di
>Milis FID. Namun setelah masuk ke Prol dan menyaksikan kegigihan dan
>ketangguhan intelektual Ahmadiah MA Suryawan dan Febrina dalam menangkis
>distorsi terhadap Islam dan serangan kepada pribadi Nabi, saya secara
>brangsur menyadari kekeliruan pandangan saya kepada Jemaah Ahmadiah
>selama ini.
>
>Sekitar satu setengah tahun yang lalu Wan Nadri yang rupanya tidak
>dendam kepada saya, menjapri saya memberi tahu bahwa beliau dan
>isterinya merencanakan untuk menunaikan ibadah haji pada musim haji
>2004, dan minta dikirimi catatan lengkap perjalanan haji yang saya
>kirimkan secara bersambung ke sejumlah milis beberapa bulan sebelumnya,
>karena catatan yang dikoleksinya tidak lengkap. Permintaannya tersebut
>segera saya penuhi disertai catatan, semoga Wan Nadri dan isteri
>mendapat haji mabrur.
>
>Tadinya saya akan mengucapkan selamat di milis-milis Wan Nadri biasa
>mangkal, tetapi saya urungkan. Kenapa? Karena saya khawatir Wan Nadri
>nanti kenapa-kenapa di Tanah Suci, karena saya tahu para Ulama dan
>Pemerintah KSA, tidak membenarkan Jemaah Ahmadiah Qadiani untuk
>menunaikan ibadah haji, dengan kata lain, memasuki teritori KSA [1]
>
>Memang, kebanyakan ulama, termasuk ulama-ulama besar, termasuk Dr Yusuf
>Qaradhawi yang sangat berpengaruh dan dihormati kaum muslimin
>‘mainstream’ termasuk saya, berpendapat bahwa Jemaah Ahmadiah Qadiani
>sudah menyimpang dari ajaran Islam, karena mereka mengimani Mirza Gulam
>Ahmad (MGA) sebagai Nabi, walaupun menurut Jemaah Ahmadiah sendiri Nabi
>yang tidak membawa syariat sendiri tetapi meneruskan syariat Nabi
>Muhammad SAW, dan ini berdasarkan penfasiran mereka terhadap Al-Quran
>bahwa Nabi yang tidak membawa syariat sendiri tidak berakhir sesudah
>Nabi Muhammad SAW.
>
>Sebagian lain---nampaknya waktu ini minoritas---termasuk saya, tidak
>berpendapat mereka bukan Islam, karena pada kenyataannya mereka salat,
>berpuasa, berzakat dan berhaji tidak berbeda berbeda dengan kaum
>muslimin lainnya, yang secara eksplisit menyatakan bahwa mereka
>menjalankan syariat---dengan kata lain mengakui dan mencintai---Nabi
>Muhammad SAW, tidak berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Demikian pula
>Al-Quran yang mereka gunakan sebagai sumber keimanan dan amalan mereka,
>juga tidak berbeda dengan Al-Quran kaum muslimin lainnya, yaitu Al-Quran
>Rashm Usmani. Soal apakah paham mereka yang mengimani MGA itu seorang
>Nabi itu diterima Allah SWT atau tidak, tentunya hanya Allah Yang Maha
>Bijaksana sendiri yang mengetahuinya.
>
>Selain itu itu Jemaah Ahmadiah juga dikenal antikekerasan dan sangat
>giat melakukan dakwah Islam ke segenap penjuru dunia. Baitul Futuh,
>masjid megah yang terletak di jantung Kota London berkapsitas 10 ribu
>jemaah, terbesar di Eropah, yang diresmikan tahun 2003 lalu, dibangun
>oleh Jemaah Ahmadiah. Tentu saja kiblatnya menghadap ke arah Ka’bah di
>Makkah Al-Mukarramah. Dengan kapsitas sebesar itu, mustahil kalau yang
>salat berjamaah di sana, termasuk Salat Jumat, terbatas hanya dari
>kalangan kaum muslimin Jemaah Ahmadiah saja.
>
>Persoalannya sebenarnya sederhana saja. Kelompok pertama cenderung
>mengemukakan perbedaan, sedangkan kelompok kedua cenderung melihat
>persamaannya. Namun seperti saya kemukakan di atas, di kalangan kelompok
>pertama jelas tidak sedikit memiliki pandangan yang terdistorsi terhadap
>Ahmadiah.
>
>Dengan demikian bagi kelompok pertama yang tetap berpendapat bahwa
>Jemaah Ahmadiah menyimpang tentunya sah-sah saja. Apalagi pendapat ini
>didukung jumhur ulama termasuk MUI, walaupun boleh ikut bangga bahwa ada
>orang Islam yang memperoleh hadiah Nobel untuk fisika, yaitu Prof
>Abusalam yang notabene seorang muslim Ahmadiah. Kalau mau disanggah,
>seyogyanya sanggah saja penfasirannya.
>
>Persoalannya, mengapa harus melakukan serangan fisik, merusak dan
>berusaha membubarkan acara yang telah mendapat izin aparat keamanan?
>Tindakan premanisme dan main hakim sendiri ini tidak saja harus dikutuk,
>tetapi harus ditindak tegas dan tuntas oleh aparat penegak hukum, dan
>para pelaku, utamanya mereka-mereka yang bertanggung jawab harus dihukum
>sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sekali ini dibiarkan, maka jangan
>terkejut nanti akan ada korban-korban tindakan anarkis berikutnya dengan
>dalih yang mereka ditetapkan sendiri.
>
>Karena itu sikap Jemaah Ahmadiah Indonesia untuk tidak menyerah dan
>melakukan perlawanan hukum terhadap tindakan main hakim sendiri ini
>sangat tepat dan patut didukung. Apalagi penzaliman terhadap Jemaah
>Ahmadiah di Republik tercinta ini bukan yang pertama kalinya.
>
>Namun yang lebih gawat, tindakan-tindakan seperti ini hanya akan semakin
>mencoreng wajah Islam dari sudut pandang orang-orang di luar Islam
>sebagai agama yang cuma mengemukakan violent, ketidakrukunan dan
>kebencian, bahkan sesama muslim sendiri. Belum kering rasanya tinta
>Koran menulis konflik berdarah antara kelompok Sunni dan Syiah di
>Pakistan muncul pula hal seperti di atas di Indonesia. Sepertinya
>bencana tsunami dan berbegai kemelut dan derita tak tertahankan yang
>dihadapi bangsa ini masih dianggap kurang apa?
>
>Karena itu tidak mengherankan, ketika terjadi tragedi pemboman di
>London, banyak orang---termasuk saya---yang secara otomatis berfikir,
>ini pasti ulah jaringan Al-Qaidah.
>
>Lalu akbibatnya tidak sulit diduga. Walaupun tudingan keterlibatan
>Al-Qaidah masih harus diuji kebenarannya, mayoritas kaum muslimin di
>Inggris atau di negara-negara barat lainnya yang tidak tidak punya
>sangkut paut dengan terorisme dan berusaha untuk hidup damai sesuai
>dengan tuntunan Islam yang bersumber dari---meminjam seorang netter di
>milis Apakabar---‘authentic teaching of the Alquran’ akan kena getahnya.
>Dan memang ternyata demikian seperti pemebakaran masjid di Inggris dan
>serangan terhadap pusat-pusat Islam di Selandia Baru. Belum tahu lagi
>serangan seperti apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya.
>
>Dan ini hendaknya menjadi perhatian sungguh-sungguh dari seluruh umat
>Islam utamanya para ulama dan tokoh-tokoh umat, terutama Bapak-Bapak di
>MUI agar lebih mengemukakan kebersamaan serta bersikap tegas terhadap
>tindakan-tindakan premanisme atas nama Islam yang justru mencemongi Islam.
>
>Akhirnya saya berharap pendapat saya di atas tidak dijadikan polemik
>---dan kalau ada nilainya---menjadi refleksi kita bersama.
>
>Ya, apalah awak ini.
>
>Wassalam, Darwin
>
>
>
>***************************************************************************
>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
>yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
>***************************************************************************
>__________________________________________________________________________
>Mohon Perhatian:
>
>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
>3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi
>4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>Yahoo! Groups Links
>
>
>
>



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke