http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/14/opini/1887404.htm


  
Ujian Nasional dan Ketimpangan Pendidikan 

Oleh: Mochtar Buchori 



Berita tentang keterpurukan kebanyakan SMP dan SMA kita dalam ujian nasional 
baru-baru ini menimbulkan reaksi yang campur aduk dalam hati saya.

Pada satu pihak saya merasa lega bahwa pada akhirnya birokrasi pendidikan 
mempunyai keberanian untuk melihat kenyataan yang ada secara jujur. Tidak ada 
lagi usaha-usaha untuk menutup-nutupi ketimpangan-ketimpangan (discrepancies) 
yang ada melalui berbagai permainan konversi angka.

Pada lain pihak ada dua hal yang membuat saya merasa kecewa.

Pertama, tidak adanya usaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah dicapai 
oleh mereka yang gagal dalam ujian nasional (UN). Gagal dalam UN tidak berarti 
bahwa tidak ada satu hal pun yang berhasil diketahui atau dikuasai. Apa yang 
berhasil diketahui dan dikuasai oleh mereka yang gagal dalam UN? Adanya 
informasi seperti ini saya kira akan mempunyai dampak terapeutik terhadap siswa 
yang gagal dalam UN.

Kedua, tampaknya tidak ada usaha untuk menganalisis sebab-sebab kegagalan pada 
diri para siswa. Idealnya ada guru yang memberitahukan kepada mereka yang 
gagal, apa saja yang telah menyebabkan kegagalan mereka tadi. Idealnya para 
siswa yang gagal tadi diberi tahu, apa yang harus mereka lakukan untuk 
memperbaiki kemampuan akademik mereka. Keputusan untuk memberikan kesempatan 
ujian ulangan bagi mereka yang gagal belum memberikan jaminan bahwa mereka akan 
menempuh ujian ulangan dengan kesiapan diri yang lebih baik.

Ketidakadilan

Kemudian, kalau berita tentang kegagalan kebanyakan siswa SMP dan SMA ini saya 
letakkan berdampingan denganâ?"saya juxtaposisi-kanâ?"dengan berita tentang 
keberhasilan siswa-siswa Indonesia dalam olimpiade internasional di bidang 
matematika dan fisika tiga tahun terakhir ini, dalam pikiran saya lalu 
tergambarkan suatu keadaan yang cukup menyedihkan: pada satu pihak kita jumpai 
sekolah-sekolah Indonesia yang keadaannya serba menyedihkan, sedangkan pada 
pihak yang lain kita dapati gambaran tentang sekolah-sekolah Indonesia yang 
cukup menimbulkan harapan.

Di sisi yang gelap kita saksikan sekolah-sekolah dengan kondisi bangunan yang 
menyedihkan, peralatan sekolah yang serba minimal, dan guru-guru yang 
kemampuannya tidak cukup meyakinkan. Dari sekolah-sekolah jenis inilah 
datangnya kebanyakan siswa yang gagal dalam UN atau mencapai hasil-hasil yang 
sifatnya serba pas-pasan, tidak cukup memuaskan. Lulus dengan angka 4,26 atau 
bahkan 5,4 dalam skala 1-10 bukanlah suatu prestasi yang dapat terlalu 
dibanggakan.

Di sisi yang terang terlihat kehadiran sekolah-sekolah yang paling tidak 
bangunannya tidak bocor dan cukup terawat, peralatan sekolah tersedia secara 
memadai, dan guru-gurunya mampu melaksanakan tugas mereka secara cukup baik. 
Dari sekolah-sekolah jenis inilah datang para siswa yang mampu meraih hasil 
yang cukup memuaskan dalam UN baru-baru ini. Dan dari sekolah-sekolah jenis ini 
pula datangnya siswa-siswa yang berhasil meraih kejuaraan dan penghargaan dalam 
berbagai olimpiade matematika dan fisika internasional.

Inilah gambaran tentang ketimpangan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Di 
tengah-tengah keterpurukan dalam UN, terpampang keberhasilan akademis yang 
cemerlang. Di tengah-tengah panorama tentang sekolah dengan bangunan yang 
membuat hati merasa pilu, terdapat sekolah-sekolah dengan bangunan yang serba 
megah, lengkap dengan perpustakaan, laboratorium, pusat komputer, bahkan ada 
pula yang dilengkapi dengan lapangan sepak bola, lapangan tenis, dan kolam 
renang.

Di tengah-tengah sekolah dengan guru-guru yang kebanyakan tidak memenuhi syarat 
minimal keguruan yang ditentukan oleh birokrasi pendidikan, terdapat 
sekolah-sekolah dengan guru-guru yang berijazah master luar negeri, atau 
diploma-diploma spesialisasi keguruan yang lain. Ini sungguh suatu ketimpangan, 
suatu situasi yang ditandai oleh adanya ketidakseimbangan di antara pihak-pihak 
yang terkait. Ketimpangan ini mencerminkan ketidakadilan.

Kelemahan mengajar

Ini merupakan suatu fenomena yang cukup wajar. Dalam keadaan seperti ini, saya 
rasa kurang tepat untuk melimpahkan seluruh sebab mengenai rendahnya tingkat 
keberhasilan siswa-siswa SMP dan SMA dalam UN baru-baru ini kepada pihak guru 
semata-mata. Guru hanya merupakan suatu mata rantai dalam rangkaian sebab-sebab 
yang menimbulkan prestasi siswa yang mengecewakan ini.

Kalau kita betul-betul ingin meningkatkan kualitas SMP dan SMA kita dibutuhkan 
perencanaan yang lebih mantap dan lebih rinci daripada apa yang telah 
disampaikan kepada masyarakat sampai sekarang ini. Bahwa guru-guru perlu 
ditingkatkan keterampilannya, ya! Tetapi guru-guru yang mana yang perlu 
mendapatkan pelatihan tambahan, dan guru-guru yang mana pula yang tidak perlu 
dilatih kembali. Lalu, apa program pelatihan tambahan ini? Pertanyaan ini tidak 
akan dapat dijawab dengan baik tanpa menganalisis kelemahan-kelemahan umum yang 
terdapat pada guru-guru kita dewasa ini. Ini memerlukan studi empirik.

Menurut berita, kebanyakan siswa SMP dan SMA yang gagal dalam UN baru-baru ini 
tersandung pada tiga mata pelajaran: Matematika, Bahasa Inggris, dan Ekonomi. 
Apakah mungkin untuk segera memulai program pelatihan tambahan untuk guru-guru 
yang mengajarkan tiga mata pelajaran ini? Baru setelah itu program pelatihan 
tambahan ini diperluas untuk mencakup pula guru-guru yang mengampu mata 
pelajaran lain-lainnya. Tetapi sebaiknya, setiap program pelatihan tambahan 
baru dimulai kalau birokrasi pendidikan telah mempunyai gambaran yang cukup 
jelas mengenai kelemahan-kelemahan yang ada pada para guru yang mengampu mata 
pelajaran tadi.

Menurut pengakuan seorang guru yang mengajar ekonomi, �kesalahan� yang 
dilakukannya ialah bahwa dia terlampau menekankan teori-teori ekonomi dalam 
kegiatan mengajarnya, sedangkan yang ditanyakan dalam UN kebanyakan adalah 
hal-hal dari applied economics. Ini sudah merupakan suatu permulaan yang baik.

Soalnya sekarang, bagaimana melanjutkan diagnosis dari kesalahan/kekurangan 
mengajar yang terjadi secara umum. Kelemahan apa yang pada umumnya dilakukan 
oleh guru-guru Matematika kita? Kekurangan apa yang pada umumnya dilakukan oleh 
guru-guru kita yang mengajar Bahasa Inggris dan Ekonomi?

Diagnosis kelemahan mengajar ini sebaiknya dilakukan dengan mengikutsertakan 
para guru di lapangan. Ini dapat dilakukan dengan murah dan cepat melalui 
kuesioner yang diperdalam dengan wawancara mendalam (in-depth interviews) 
dengan sejumlah guru yang dipilih.

Segenap usaha untuk meningkatkan kualitas SMP dan SMA kita hendaknya 
dilaksanakan dalam rangka suatu kebijakan untuk secara berangsur-angsur 
mengurangi ketimpangan yang terdapat dalam sistem pendidikan kita sekarang ini. 
Membiarkan ketimpangan ini tetap berlangsung dan membiarkan jurang yang 
terdapat antara �sekolah-sekolah unggulan� dan �sekolah-sekolah rakyat 
biasa� menjadi makin lama makin lebar merupakan suatu sikap politis yang 
tidak dapat dibenarkan dan sikap moral yang pada dasarnya bersifat imoral.

Mochtar Buchori Pendidik


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke