http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/14/opini/1889411.htm
Aktualisasi Politik Minyak Nasional
Oleh: ERROS DJAROT
Kenaikan harga per barrel minyak mentah dunia mencapai 60 dollar AS.
Belum ada tanda-tanda akan menurun karena secara aksiomatik, setiap menjelang
musim dingin, harga minyak di pasar dunia cenderung naik ketimbang turun.
Pasar tidak peduli apakah dengan harga demikian, pemerintah dan rakyat
Indonesia menjerit.
Semula APBN mematok harga minyak 35 dollar AS per barrel, lalu merevisi
menjadi 45 dollar AS per barrel. Itu pun masih tertinggal. Selisih angka
membuat pemerintah ketar-ketir. Pasalnya, dulu Indonesia eksportir minyak, kini
pengimpor. Suntikan dana Rp 120 triliun harus dialokasikan agar bangsa bisa
hidup â?wajarâ? menikmati kebutuhan energi, BBM.
Musibah nasional
Kenaikan harga minyak dunia merupakan musibah nasional. Sementara
masyarakat masih percaya, Indonesia kaya minyak. Padahal, menurut data, kita
hanya memiliki 4 persen dari seluruh cadangan minyak bumi dunia. Pertamina yang
dulu mampu menghasilkan produksi 120.000 barrel per hari, belakangan hanya
60.000 barrel.
Dalam adu kuat membeli minyak di pasar dunia, kita yang minim dana
dihadapkan pada agresivitas China dan India. Sebagai negara industri raksasa
baru, mereka potensial melakukan ekspansi pembelian besar-besaran. Belum lagi
para pemain klasik seperti Amerika, Jepang, dan Eropa yang intens â?menyapu
bersihâ? stok minyak dunia. Strategi ini bisa dimengerti mengingat hingga hari
ini, 70 persen energi dunia dihasilkan dari minyak. Maka negara mana pun yang
menguasai minyak dunia menjadi negara pengontrol energi dunia.
Pertamina
Bagaimana politik minyak dalam kaitan ketahanan negara? Hal inilah yang
bertahun-tahun menjadi keprihatinan pengamat. Sebagai perusahaan milik negara,
Pertamina masih jauh dari kata layak sebagai perusahaan minyak yang genuine.
Lemahnya dana, sumber daya manusia, dan efisiensi kerja serta kebijakan
pemerintah menjadi belenggu yang membuat Pertamina sebagai perusahaan minyak
yang mandul.
Masalah kemandulan ini merupakan warisan sejarah kebijakan nasional.
Menengok ke belakang, saat Pertamina di bawah Ibnu Sutowo yang terindikasi
terjadi megakorupsi, sebagai reaksi, terbit peraturan-perundangan pemerintah
tahun 1978, yang melarang Pertamina melakukan eksplorasi. Alasannya, pemborosan
uang negara. Kebijakan ini berbuntut panjang. Meski saat itu dana tersedia,
Pertamina hanya boleh melakukan kinerja di wilayah eksploitasi. Kinerja
eksplorasi dilakukan perusahaan swasta asing (hingga kini). Padahal, kinerja
eksplorasi adalah kata kunci pencarian sumber minyak. Pada sisi lain, pemasukan
keuangan dari hasil perusahaan tidak sepenuhnya masuk Pertamina, tetapi negara
(Departemen Keuangan).
Coba bandingkan dengan Malaysia. Kita tercengang melihat kemandirian
Petronas (perusahaan minyak negara Malaysia) dapat berkembang pesat. Menyadari
diri sebagai negara bukan produsen minyak, strategi investasi di wilayah
eksplorasi-eksploitasi ke negara lain (Afrika, Timur Tengah, dan lainnya)
mereka canangkan ditunjang kebijakan negara. Itu sebabnya sumber pasokan minyak
yang berkelanjutan dan berketahanan membuat negaranya aman dan terjamin. Daya
beli rakyat yang memadai, sebagai bukti pertumbuhan ekonomi, juga menunjang.
Pertanyaan bagi kita; sampai kapan kebijakan subsidi ala krisis BBM ini
berlanjut? Bila berlanjut, kebangkrutan negara pasti mengancam. Menaikkan harga
BBM, jelas berisiko sosial-politik; kecuali daya beli rakyat dapat ditingkatkan
drastis. Sementara mengimbau masyarakat agar efisien menggunakan BBM hanyalah
sebuah solusi antara.
Maka, melakukan redefinisi, reposisi, dan aktualisasi Indonesia sebagai
negara pengimpor minyak yang lengkap dengan blue print strategi minyak nasional
merupakan keharusan.
ERROS DJAROT, Politikus
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/