Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
 
"...mohon pencerahan tentang gereja koptik dan nestorian....
----------
 
DH:Ada sebuah bacaan yang menarik: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke 
kepulauan Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang 
pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka bawa itu tertulis 
dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara..."
 
Lengkapnya:

 
Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk 
kebanyakan orang di seluruh dunia. 

Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya 
tidak dikenal oleh orang-orang biasa. 

Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak 
salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab 
itu sangat langka dan sangat mahal harganya. 

Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa jika 
orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak 
tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka), lebih baik jika hak 
istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan. 

Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam 
bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya, pun tidak 
dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain. 

Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu 
berturut-turut dihapus. 

Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada 
hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap 
yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi 
jauh lebih mudah diperoleh. 

Kemudian timbul Reformasi Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan gereja 
itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas keadaan 
rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran Alkitab yang 
diberikan oleh orang lain; ia harus dapat mempunyai Alkitab sendiri, serta 
harus dapat mengerti isinya. 

Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab harus diterjemahkan ke 
dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan orang. Dan justru itulah 
yang berlangsung di seluruh dunia, mulai pada abad yang ke-16. 

Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan 
orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di sini: Kaum Kristen 
Nestorian mulai datang ke kepulauan Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum 
Kristen Katolik mulai datang pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang 
mereka bawa itu tertulis dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh 
putra-putri Nusantara. 

Ada juga halangan khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan membaca 
Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau itu berbicara 
dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut pergi berlayar di 
Nusantara, belum tentu ia dapat bercakap-cakap dengan orang-orang di pulau 
tempat tujuannya. 

Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau putra-putri Nusantara 
pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa perniagaan itu 
ialah bahasa Portugis; tetapi yang lebih umum lagi ialah, bahasa Melayu (yang 
sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa Indonesia). 

Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di 
negeri Portugis sendiri, melainkan di Nusantara! 

Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa dari 
Portugis ke kota Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih berumur belasan 
tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru 
Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda, mulailah dia menerjemahkan 
seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa ibunya. Kemudian, tatkala ia 
pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat menyelesaikan terjemahannya itu. Ia 
juga menerjemahkan sebagian besar dari Kitab Perjanjian Lama. 

Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari seluruh Nusantara 
oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin sedikit orang yang 
menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa perdagangan antar pulau. Dan Alkitab 
masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di 
kepalauan Indonesia. 

Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya 
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu bukannya para pendeta dan penginjil, 
melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang ke-17, seorang 
pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan oleh suku Aceh yang 
pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama ditahan di Sumatera Utara, orang 
Belanda itu sempat belajar bahasa Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 
1605 ia menerbitkan beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke 
dalam bahasa Melayu. 

Sementara itu, seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari 
Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab perlu dibaca 
oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan sekerjanya sampai 
mereka rela membayar semua ongkos penerbitan untuk proyek terjemahannya itu. 
Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius 
ke dalam bahasa Melayu. Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya 
itu dicetak. 

Dalam bahasa Melayu terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) 
berbunyi sebagai berikut: "Bappa kita, jang adda de surga: 
    Namma mou jadi bersakti. 
Radjat-mu mendatang 
kandhatimu menjadi 
    de bumi seperti de surga. 
Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila. 
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita, 
    seperti kita ber-ampun 
    akan siapa ber-sala kepada kita. 
D'jang-an hentar kita kepada tjobahan, 
    tetapi lepasken kita dari jang d'jakat." 


Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat diterjemahkan oleh A. C. Ruyl, 
pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya itu sangat 
jelek. Misalnya, ia belum mengerti perbedaan antara "kita" dengan "kami." 

Kemudian, pada pertengahan abad yang ke-17, ada seorang pendeta Belanda bernama 
Daniel Brouwerius yang mulai insaf bahwa Alkitab mmasih merupakan sebuah kitab 
yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara. Ia pindah ke kepulauan 
Indonesia dan berhasil menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam 
bahasa Melayu. 

Dalam terjemahan Daniel Brouwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, 
Doa Bapa Kami berbunyi sebagai berikut: "Bappa cami, jang adda de Surga, 
    Namma-mou jaddi bersacti. 
Radjat-mou datang. 
Candati-mou jaddi 
    bagitou de boumi bagaimana de surga. 
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami. 
Lagi ampon doossa cami, 
    bagaimana cami ampon 
    capada orang jang salla pada cami. 
Lagi jangan antarrken cami de dalam tsjobahan 
    hanja lepasken cami derri jang djahat." 


Memang Pdt. Brouwerius sudah dapat membedakan "kita" dan "kami." Namun masih 
banyak kesalahan dalam Perjanjian Baru bahasa Melayu yang diterjemahkannya. 
Apalagi, seluruh Perjanjian Lama masih tetap merupakan sebuah kitab yang 
bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara. 

Tujuh tahun setelah Kitab Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu 
diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya? Dr. 
Melchior Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga seorang dokter. 
Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa Timur ke Jakarta, dan 
tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya. 

Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah dalam bahasa Melayu. Jadi, pada 
tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu terjemahan seluruh 
Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami di seluruh Nusantara. 

Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan seluruh 
Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai mengalihbahasakan 
Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak sempat menyelesaikan tugas yang mulia 
itu: Ia meninggal pada tahun 1701, setelah mengerjakan terjemahannya sampai 
dengan Efesus 6:6. 

Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior Leydekker di 
bawah ini telah disusun kembali menurut ejaan yang disempurnakan dan menurut 
tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian lebih jelaslah persamaannya 
dengan ayat-ayat yang sama itu dalam terjemahan biasa bahasa Indonesia: "Bapa 
kami yang di sorga, 
    namaMu dipersucilah kiranya. 
KerajaanMu datanglah. 
KehendakMu jadilah, 
    seperti di dalam sorga, demikianlah di atas bumi. 
Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini. 
Dan ampunilah pada kami segala salah kami, 
    seperti lagi kami ini mengampuni 
    pada orang yang bersalah kepada kami. 
Dan janganlah membawa kami kepada percobaan, 
    hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat." 


Salah seorang rekan Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan 
tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang lengkap 
dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang 
bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa sampai terjadi demikian? 

Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan 
kependetaan di Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak laki-laki dalam 
keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki itu lahir pada tahun 
1965 dan diberi nama Francois Valentyn. Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang 
pandai, karena ia baru mencapai umur 20 tahun ketika ia diizinkan meninggalkan 
kuliah teologinya serta pergi ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya 
ia juga cepat mahir dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah 
sanggup berkhotbah dalam bahasa setempat setelah belajar hanya tiga bulan 
lamanya. 

Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan menginap di 
tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta tua membawa serta 
sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah ini dulu ditulis oleh seorang 
pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kemudian sang janda memberikan 
naskah ini kepadaku. 

Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di rumah 
pastori di Ambon. Maka Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt. Francois 
Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah terjemahan 
seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu! 

Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan 
kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di tempat 
pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu adalah seorang janda kaya. 
Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke tanah airnya pada 
tahun 1695. Naskah kuno itu pun dibawa ke Belanda. 

Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior Leydekker 
almarhum (dengan bantuan salah seorang rekannya) telah berhasil menerjemahkan 
seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu. 

Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia berkeinginan 
supaya dia saja yang dihormati (dan bukan orang-orang yang sudah meninggal) 
sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan seluruh Firman Allah dalam 
bahasa Nusantara? 

Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai penerjemah 
naskah kuno seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja ada di dalam 
tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh lebih modern, bahkan 
jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker. 

Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di Belanda maupun kepulauan 
Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Valentyn, tetapi 
ada juga orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Leydekker. Akibatnya, 
kedua terjemahan itu tidak jadi diterbitkan. Dan sekali lagi, selama 
berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam 
untuk kebanyakan putra-putri Nusantara. 

Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn" itu 
diselidiki dan dinyatakan sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula, terjemahan 
itu dinilai sangat jelek. 

Akan tetapi sementara perselisihan pendapat itu masih berlangsung, sudah lewat 
juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa terjemahan 
Leydekker tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada tahun 1723 
sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah terjemahannya itu. 
Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang baru. 

Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali 
disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan sekali lagi dalam 
huruf Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke Belanda dalam dua kapal 
yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa walau satu naskah jadi 
hilang di dasar laut, namun naskah yang satunya lagi itu masih akan tiba dengan 
selamat. Salah seorang penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk 
mengawasi proyek penerbitan yang besar itu. 

Kitab Perjanjian Baru terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu Alkitab 
lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka akhirnya juga 
Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara! 
---->Artikel ini diambil dari : 
McGavran, Grace W. 1989, 1991, 1993, 1996. Alkitab di Seluruh Dunia: 48 Kisah 
Nyata. Lembaga Literatur Baptis, Bandung. Halaman 11 - 16.  CD SABDA-Topik 
18700 

Salam
 
danardono

At 09:18 AM 7/14/05 +0200, you wrote:
>Kristus diejek dan dibunuh oleh rakyatnya sendiri, yang budayanya menjadi 
>dasar hidupNya, yang hukumnya menjadi hukumNya.
>
>Kitab suci Yahudi, yang juga menjadi Kitab suci Kristen, penuh dengan 
>perjanjian, yang Yahweh berikan untuk membahagiakan rakyat Yahudi. Janji 
>ini di-imani oleh umat Kristen berbentuk kedatangan Yesus, yang mendirikan 
>kerajaan Allah. Yang dinantikan rakyat Yahudi adalah kerajaan Daud yang 
>baru. Yerusalem yang baru, setelah dihancurkan musuh.
>
>Saya ingin tahu, apa yang terjadi, apabila Kristiani, sebagaimana juga 
>Yahudi dan Islam, tetap berkembang dan dikembangkan di tanah yang sama, 
>tanah bersama Yahudi dan Arab.  Di Yerusalem, di Bethlehem, di Yericho, di 
>Nazareth.  Bukan di Korinthus, di Roma, di Alexandria.
>
>Apabila penulis dan bapak gereja bukan orang Eropa seperti Thomas de 
>Aquino, Augustinus, dan lain lainnya. Apabila konsili di Necea terjadi di 
>tanah Israel, dan tidak di Yunani.
>
>Nabi Muhammad lahir dan berkarya setelah Yesus wafat, di tanah yang sama, 
>dimana agama agama Abraham (Ibrahim) muncul. Karena itu beliau menuliskan 
>mengenai Yesus. Dengan penuh kehormatan.  Untungnya, tidak seperti yang 
>dikatakan orang Yahudi, yang mengejek Yesus...
>
>salam
>
>Danardono
>
>============

bagaimana dengan gereja koptik di mesir atau gereja
nestorian yang banyak terdapat di suriah, irak dan iran....?

banyak sejarawan menilai gereja-gereja ini adalah gereja
yang "pribumi" dan "asli".... penganutnya adalah bangsa
semit, anak turun ishak dan ismail....

kebanyakan mereka adalah para pendoa yang tinggal
di biara-biara di padang pasir.... penyair terkenal kahlil
gibran termasuk pengikut gereja ini....

di masa lalu mereka mengejek gereja yunani sebagai gereja
melkit (dari melek, bhs ibrani = malik, bhs arab = raja),
maksudnya gereja pengikut kaisar = kaum penjajah....

konon, mereka ini yang menyambut dengan suka cita
kedatangan pasukan muslim yang masuk ke yerusalem/
al aqsa, di masa umar bin khatab.... kegembiraan itu tercermin
dalam ucapan seorang patriarch gereja nestorian: "dia tuhan
yang satu telah membangkitkan anak keturunan ismail
dari selatan untuk membebaskan kita..." kira-kira begitu yang
pernah saya baca....

salam,




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




Kita menjalani kehidupan dengan apa yang 
kita peroleh, tetapi kita menciptakan 
kehidupan dengan apa yang kita berikan. 

(Winston Churchill)

                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke