http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/index.html


SUARA PEMBARUAN DAILY 

Inpres Hemat Energi Bisa Hambat Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA - Menteri Keuangan Jusuf Anwar mengatakan penghematan energi dapat 
mengurangi pertumbuhan ekonomi tetapi hal itu harus dibuktikan seiring dengan 
waktu. 

Namun saat ini karena kondisi kelangkaan BBM di beberapa daerah dan kenaikan 
harga minyak mentah dunia membuat penghematan itu harus dilakukan agar konsumsi 
BBM yang ditargetkan dalam APBN 2005 sebesar 59,6 juta kilo liter tidak 
membengkak. 

Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan itu kepada wartawan seusai membuka 
sosialisasi pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), di Jakarta, 
Kamis (14/7). Sebelumnya Gubenur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah 
mengatakan, penghematan energi bisa berhadapan dengan pertumbuhan ekonomi. 
Sedangkan beberapa pengamat ekonomi, di antaranya Sri Adiningsih mengatakan 
penghematan energi khususnya pada sektor industri justru akan memukul balik 
pertumbuhan ekonomi. 


Konsumsi BBM 

Menanggapi hal tersebut Menkeu mengakui, kebijakan penghemat energi kemungkinan 
dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi tetapi saat ini penghematan harus 
dilakukan. 

Bagaimanapun, sambungnya, pengurangan pemakaian (konsumsi) BBM dapat menghemat 
10 persen terhadap konsumsi BBM, dan dari sisi fiskal penghematan 10 persen itu 
sangat membantu. "Itu tindakan ad interm yang harus dilakukan. Pola hidup kita 
yang boros dengan penggunaan energi juga harus diubah," katanya. 


Dia menjelaskan, bila penghematan itu dilakukan di samping bisa menurunkan 
konsumsi BBM juga dapat menghindari membengkaknya subsidi BBM dengan harga 
minyak mentah yang masih tinggi saat ini berkisar US$60 per barel bila tidak 
ada penghematan maka subsidi diperkirakan akan naik melebihi target di APBN-P 
(anggaran pendapatan dan belanja negara-perubagan), yakni Rp 76,5 triliun 
menjadi Rp120 triliun. 

Mengenai dampak penghematan subsidi terhadap pertumbuhan industri, Menkeu 
mengatakan, pemerintah cuma menghemat yang tidak perlu. "Tetapi industri yang 
perlu untuk pertumbuhan tetap jalan. Pertumbuhan tidak akan berhenti," 
tegasnya. 

Dia mengakui, sampai saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga jual 
BBM. Kendati selaku pengelola fiskal Menkeu mengaku merasa berat jika pola 
subsidi seperti saat ini tetap dilanjutkan. 

Suatu saat, sambungnya, pola subsidi harus diubah menjadi sistem yang lebih 
tepat sasaran dan subsidi yang lebih efisien. 


Bahan Baku 

Kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Inpres No 10/2005 tentang hemat energi 
dinilai kontraproduktif terhadap kebijakan lainnya, yakni upaya mempercepat 
pertumbuhan investasi. Kebijakan itu dikhawatirkan akan membatasi kapasitas 
produksi, sehingga investor akan segan menambah investasi. 

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, MS Hidayat kepada Pembaruan 
di Jakarta, Kamis (14/7) mengatakan, pihaknya telah mengundang pemerintah untuk 
menjelaskan argumentasinya. 

Pemerintah berjanji akan melakukan pembahasan lanjutan dengan dunia usaha 
dengan melibatkan sebuah BUMN bernama Ecobema yang akan mempresentasikan 
hal-hal apa yang bisa dilakukan sektor produksi melakukan penghematan tanpa 
mengurangi produktivitas. 

Dia mengakui, dari hasil survei yang dilakukan terhadap sektor manufaktur di 
Indonesia dibanding negara-negara lain seperti Thailand, industri dalam negeri 
masih cukup boros sehingga masih ada ruang untuk penghematan. Mengenai teknis 
dalam melakukan penghematan khususnya di industri tidak akan berlaku secara 
umum, tetapi hanya sektor-sektor tertentu. 

Secara terpisah, Wakil Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat 
Universitas Indonesia Chattib Basri berpendapat, pertumbuhan investasi 
khususnya penanaman modal asing (PMA), harus ditopang industri pendukung dalam 
negeri yang menyediakan bahan baku lokal, sehingga hasil produksinya lebih 
murah. Pentingnya industri pendukung karena produk-produk ekspor selama ini 
sebagian besar bahan bakunya masih diimpor, sehingga biaya produksinya lebih 
tinggi. 

Menurut Chattib, pertumbuhan investasi pada semester I 2005 sebesar 69 persen 
dibanding semester I tahun sebelumnya sudah berada pada jalur yang tepat. 

Sementara itu ekonom Wijaya Adi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 
menilai, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengenai perkembangan 
investasi pada semester I 2005, sebagai kebangkitan awal investasi. Tetapi 
hasil yang dicapai belum ideal karena untuk mendukung target pertumbuhan 
ekonomi Indonesia enam persen pada 2005 dibutuhkan investasi sekitar Rp 100 
triliun. Kalau hingga semester I sudah tercatat Rp 39,7 triliun, semestinya 
pada semester II lebih baik, sehingga bisa mendekati Rp 100 triliun hingga 
akhir tahun. 

Kontribusi investasi yang sudah mencapai 15 persen pada PDB di kuartal I, 
lanjutnya, masih harus digenjot karena idealnya memberi kontribusi 30 persen, 
sehingga konsumsi bisa lebih rendah dari 65 persen. 

Penghematan penggunaan BBM yang digalakkan pemerintah saat ini sama sekali 
tidak menghambat pertumbuhan ekonomi nasional, karena yang dikurangi hanyalah 
kenyamanan. 

Hal itu ditegaskan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Kamis pagi, di Jakarta. Wapres 
ditanya wartawan berkaitan dengan pernyataan Gubernur Bank Indonesia 
Burhanuddin Abdullah yang mengkhawatirkan kebijakan penghematan BBM menghambat 
pertumbuhan ekonomi. 

Wapres menjelaskan, yang dikurangi hanyalah kenyamanan. Kenyamanan untuk tidak 
memakai jas karena volume AC diturunkan. Selain itu untuk tidak terlalu banyak 
menggunakan mobil pribadi dan kenyamanan untuk tidak menonton televisi tengah 
malam. 

(B-15/L-10/A-20) 


Last modified: 14/7/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke