http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Tajuk Rencana Mengapa Tersangka Korupsi Lolos Cekal? SERIUSKAH pemerintah memberantas korupsi? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkali-kali dalam berbagai kesempatan mengeluarkan pernyataan yang serius untuk membasmi korupsi di Indonesia. Bahkan beberapa kali dia menyebutkan ada pihak-pihak yang dengan sengaja menghalang-halangi upaya memberantas kejahatan yang telah membuat negara ini terpuruk. Kembali ke pertanyaan di atas, keseriusan itu ternyata masih dalam lingkup yang kecil pemerintah, bahkan mungkin hanya pada presiden dan beberapa orang di jajaran pemerintah yang lain. Buktinya adalah lolosnya Achmad Djunaidi ke luar negeri yang disebut-sebut untuk menjalankan ibadah umroh. Achmad Djunaidi adalah mantan Direktur Utama PT Jamsostek yang oleh Kejaksaan Agung dinyatakan sebagai tersangka kasus korupsi pada perusahaan tersebut sebesar Rp 250 miliar. Karena statusnya itu Kejaksaan Agung telah meminta instansi lain yang berwenang untuk mencegah dan menangkal (cekal) yang bersangkutan ke luar negeri pada Senin (4/7) lalu, tetapi sehari setelah itu yang bersangkutan bisa dengan tenang ke luar negeri. Meskipun kemudian yang bersangkutan ditangkap dan ditahan. TAK pelak jika akhirnya Kejaksaan Agung terlihat kesal terhadap kinerja Ditjen Imigrasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dan, buru-buru, sebagai menteri, Hamid Awaluddin mengatakan bahwa pihaknya mempersilakan Kejagung untuk memproses pejabat di departemennya yang bertanggung jawab atas lolosnya Achmad Djunaidi. Kasus seperti ini bukan yang pertama di mana tersangka kasus korupsi bisa lolos ke luar negeri dan tidak kembali, sehingga kasus itu tak bisa diselesaikan. Akhirnya negara tetap menanggung kerugian akibat kejahatan itu. Jangankan terhadap orang yang berstatus tersangka kasus korupsi, yang sudah dipidana seperti Eddy Tansil saja mash bisa lolos. Dalam kasus ini, tampaknya memang kita harus melihat bahwa koruptor-koruptor yang bersembunyi di luar negeri bukan semata-mata karena ada negara yang nyaman sebagai perlindungan para koruptor. Tetapi juga fakta bahwa ada orang-orang di Indonesia sendiri, bahkan di pemerintahan yang memberi kesempatan koruptor bersembunyi di luar. Hal ini yang membuat pemberantasan korupsi dengan cara lama tidak mudah dilakukan. Presiden sudah saatnya melihat secara proporsional persoalan korupsi yang terjadi saat ini, yang sudah merupakan komitmen utama pemerintahan yang dipimpinnya. Koruptor dan jaringan koruptor di pemerintah sendiri harus menjadi fokus utama. Korupsi terbesar ada di birokrasi, bahkan presiden pernah menyebutkan yang menghalang-halangi pemberantasan korupsi ada di birokrasi. Pemerintah yang hendak memberantas korupsi sebenarnya seperti "jeruk minum jeruk." Tanda-tanda bahwa orang tertentu, kasus tertentu seperti tidak disentuh sudah mulai terasa, karena mentalitas ini. Mengharapkan birokrasi pemerintahan membersihkan diri seperti "teriakan di padang pasir." OLEH karena itu, adanya kasus-kasus yang menghambat dan merusak proses menangkap dan mengadili koruptor, sudah cukup bagi presiden untuk mengambil tindakan yang tegas membersihkan pemerintahan dari pejabat-pejabat tidak profesional. Sebab, sangatlah menjengkelkan tersangka korupsi bisa lolos ke luar negeri dengan begitu mudah, seperti tidak ada mekanisme cekal sama sekali. Kegagalan memperbaiki disiplin dan profesional birokrasi, dengan mengganti orang atau memperbaiki moral kerja, akan menjadi awal kegagalan pemerintah ini memberantas korupsi. Bahkan kegagalan ini bisa menjadi masalah politis yang serius bagi pemerintah yang dipilih langsung oleh rakyat. Last modified: 14/7/05 [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

