http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/15/opini/1897054.htm

 
Wakil Rakyat atau Diri Sendiri? 

Oleh: SYAMSUDDIN HARIS



Belum usai kontroversi usul kenaikan gaji dan tunjangan, masyarakat dikejutkan 
lagi dengan rencana studi banding anggota Dewan Perwakilan Rakyat ke negara 
Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Ketika busung lapar belum tertangani dan krisis bahan bakar minyak (BBM) masih 
mendera beberapa daerah, anggota DPR �pelesir� ke luar negeri.

Di negeri ini, cerita tentang DPR tidak pernah menggembirakan. Pada era Orde 
Baru, institusi DPR tak lebih dari �stempel� tiap kebijakan Soeharto. Dalam 
sistem otoriter di mana tiap calon anggota dewan diseleksi sebelumnya oleh 
rezim penguasa, mungkin wajar jika kerja DPR era Orde Baru lebih mengabdi 
kepada Soeharto ketimbang kepada rakyat.

Tidak pantas

Namun, saat rakyat memilih langsung anggota DPR dalam pemilu yang bebas dan 
demokratis, rakyat berharap adanya perubahan orientasi kerja DPR.

Tuntutan kenaikan gaji dan tunjangan DPR adalah wajar jika dilakukan pada saat 
yang tepat, dalam jumlah yang proporsional, disertai argumentasi masuk akal.

Di tengah berbagai krisis bangsa, usulan kenaikan gaji serta tunjangan anggota 
dan pimpinan DPR jelas melukai hati rakyat. Apalagi dengan tingkat kenaikan 
hampir 100 persen, didukung argumen yang absurd.

Usulan kenaikan gaji dan tunjangan dikaitkan dengan upaya DPR meningkatkan 
kinerja anggotanya. Padahal, kinerja DPR tak akan pernah lebih baik jika 
sebagian anggota sering mangkir, lebih banyak tidur, baca koran, dan sibuk 
ber-SMS sepanjang sidang. Sebagian lainnya lebih suka tawuran-ria dan 
memaksakan kehendak ketimbang bertukar pikiran secara cerdas, jujur, dan jernih.

Karena itu, amat tidak pantas bagi DPR berbicara tentang peningkatan kinerja 
saat mereka sendiri tidak peka terhadap situasi bangsanya.

Sebagai wakil rakyat, kinerja Dewan pertama-tama terkait dengan ada-tidaknya 
komitmen dan keberpihakan mereka terhadap penderitaan rakyat. Maka, ketika 
rakyat didera kurang gizi, busung lapar, berbagai kesulitan hidup, dan krisis 
BBM, yang ditunggu bangsa dari wakilnya di DPR adalah pemikiran dan usulan 
kebijakan alternatif di luar tawaran pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. 
Bukan proposal kenaikan gaji dan studi banding yang esensinya pelesir.

Pernahkah DPR mengajukan usulan kebijakan mengatasi busung lapar, strategi dan 
jalan keluar guna mengatasi krisis energi, atau memberi contoh berhemat energi, 
dengan menggunakan kendaraan umum, misalnya?

Perburuk citra

Proposal kenaikan gaji, tunjangan, dan pelesir bukan hanya melukai hati rakyat, 
tetapi juga memperburuk citra DPR hasil Pemilu 2004. Selain itu, martabat 
institusi DPR, termasuk partai dan politisi, juga direndahkan karena 
mengabaikan asas kepatutan. Bagaimana kinerja Dewan bisa ditingkatkan jika 
anggotanya lebih memperjuangkan kepentingan diri ketimbang aspirasi dan 
kepentingan rakyat?

Kian jelas kini, kerusakan bangsa sebagian bersumber dari perilaku elite 
politik yang tak pernah peduli dan hanya memikirkan diri sendiri. Beribu janji 
dan harapan ditumpahkan saat pemilu guna menarik dukungan agar terpilih. 
Bermiliar-miliar uang dihabiskan untuk memilih wakil rakyat. Harapannya, mereka 
memegang teguh sumpah jabatan untuk menegakkan keadilan dan meningkatkan 
kesejahteraan rakyat. Namun, harapan rakyat tinggal harapan.

Kita prihatin dengan proposal kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR jika 
pemerintahan SBY menyetujuinya. Apalagi jika sinyalemen bahwa persetujuan 
pemerintah atas proposal kenaikan gaji dan tunjangan DPR itu merupakan bagian 
dari ungkapan terima kasih eksekutif atas perilaku manis Dewan selama ini.

Ironisnya, alih-alih berterima kasih kepada rakyatâ?"yang telah memilihnya, 
tetapi rela kekurangan gizi dan mengantre bensin serta minyak tanahâ?"dengan 
proposal kenaikan gaji dan studi banding, DPR justru melukai hati rakyat.

Meski anggota Dewan membaca kritik, seperti biasa, mereka tak tergugah apalagi 
mengubah perilakunya, ibarat pepatah �anjing menggonggong kafilah berlalu�. 
Kemilau takhta menutup mata hati mereka dari kebenaran dan raungan penderitaan 
rakyat. Selamat berpelesir.

SYAMSUDDIN HARIS Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke