REPUBLIKA

Krisis BBM dan Gerakan Hemat Energi
Oleh Agus Sjafari 


Jumat, 15 Juli 2005
Pemandangan yang sangat menyedihkan terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini 
terkait adanya antrean panjang masyarakat untuk mendapatkan BBM (bahan bakar 
minyak). Pemandangan seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi, kecuali 
menjelang pengumuman pemerintah tentang kenaikan harga BBM. Namun untuk saat 
ini pemandangan tentang antrean BBM akan terjadi dalam waktu yang cukup lama. 
Artinya, saat ini Indonesia sedang dilanda krisis BBM yang sangat serius. 

Pertanyaan yang mengemuka, apakah krisis BBM yang terjadi merupakan sebab atau 
akibat dari sebuah kebijakan negara? Jawabannya, dua-duanya. Krisis BBM 
merupakan sebab, sebuah variabel independen (mandiri) yang memengaruhi 
aspek-aspek lainnya. Namun di sisi lain, krisis BBM juga merupakan akibat, 
sebuah variabel dependen yang dipengaruhi oleh aspek-aspek lain yang dominan. 

Krisis BBM dikatakan sebagai "sebab" karena saat ini Indonesia benar-benar 
sedang mengalami krisis produksi minyak bumi. Hal ini dibuktikan dengan terus 
merosotnya produksi minyak dalam negeri, sedangkan tingkat konsumsi bahan bakar 
baik di level rumah tangga maupun industri sangat besar. 

Krisis produksi minyak bumi diklaim oleh sebagian kalangan disebabkan oleh 
kebijakan pembangunan kita yang terlalu eksploitatif terhadap sumber daya alam, 
khususnya yang tidak dapat diperbaharui. Sebagaimana diketahui, sekitar tahun 
1970-1980-an, negara kita mengalami booming minyak bumi. Negara kita pada saat 
itu pernah menjadi negara terbesar kelima di dunia sebagai negara pengekspor 
minyak. Namun ketika masa booming tersebut kita tidak mampu memenej penggunaan 
dan distribusi minyak bumi secara baik. Di sisi lain, kita terlalu 
mempercayakan pengelolaan minyak bumi kepada investor asing yang menjadi 
pengelola proyek eksploitasi minyak bumi. Akibatnya, sebagian besar "nilai 
keuntungan" proyek eksploitasi tersebut justru diberikan kepada pihak investor 
asing sebagai bagian dari kompensasi. Sedangkan rakyat Indonesia sendiri tidak 
terlalu menikmati keuntungan tersebut. 

Di sisi lain, krisis BBM dikategorikan sebagai akibat, karena terjadinya 
dipengaruhi oleh kompleksitas permasalahan yang terjadi pada aspek-aspek lain 
yang dominan. Aspek yang paling dominan memengaruhi terjadinya krisis BBM 
terkait dengan merosotnya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar. Hal ini 
disebabkan nilai transaksi perdagangan Indonesia terhadap pasar industri di AS 
merosot tajam. 

Aspek lainnya yang turut memengaruhi terjadinya krisis BBM adalah melonjaknya 
harga minyak dunia di pasaran dunia, dari 40 ribu dollar AS per barel menjadi 
60 ribu dolar AS per barel, tanpa dapat diprediksikan sebelumnya. Secara 
ekonomi makro, kemampuan anggaran belanja negara saat ini tidak mampu untuk 
memenuhi melonjaknya harga tersebut. Artinya, pemerintah tidak sanggup untuk 
mensubsidi minyak kepada warganya. 

BBM bagi warga masyarakat kita, saat ini dapat dikategorikan sebagai kebutuhan 
yang sangat vital karena ketersediaannya akan berpengaruh terhadap pemenuhan 
hidup lainnya bagi masyarakat, seperti untuk kebutuhan rumah tangga, 
transportasi, kebutuhan industri dan sebagainya. Krisis BBM jelas sangat 
mengganggu tatanan kehidupan masyarakat. 

Tentunya fenomena krisis BBM merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi 
semua kalangan, khususnya para elitee politik dan pemerintahan, pengelola 
Pertamina dan tentunya masyarakat industri (swasta). 

Pertama, kalangan elite politik dan pemerintahan. Pihak inilah yang sebenarnya 
paling bertanggung jawab atas krisis BBM berkepenjangan yang menimpa negeri 
ini. Terdapat beberapa alasan berkaitan dengan kelemahan yang dilakukan oleh 
pihak elite politik dan pemerintahan. Khususnya terkait dengan ketidakcermatan 
mereka ketika memrediksi harga minyak di pasaran dunia. Dalam perhitungan 
RAPBN, pemerintah mematok harga 40 ribu dolar AS per barel. Sedangkan di 
pasaran internasional harganya kini sudah mencapai 60 ribu dolar AS per barel. 

Di sisi lain, pemerintahan selama ini dalam kebijakan makro ekonomi terlalu 
fokus kepada sektor keuangan dan perbankan, sedangkan sektor riil dan produksi 
menjadi terbengkalai. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin merosotnya 
produksi BBM serta tidak bergairahnya transaksi perdagangan nasional di pasar 
internasional. 

Celakanya lagi, yang paling memilukan, di antara mereka masih terlalu 
mengutamakan kepentingan "egosektoral" politiknya tanpa memperhatikan persoalan 
serius yang melanda rakyat, seperti tingginya angka kemiskinan, kasus busung 
lapar, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Euforia politik elitee khususnya 
dalam pesta demokrasi lokal (pilkada) dan maraknya konflik internal 
partai-partai semakin menenggelamkan dan menjauhkan perhatian para politisi 
yang duduk dalam pemerintahan terhadap masalah-masalah besar yang dihadapi 
rakyat. 

Kedua, pihak Pertamina selaku pengelola Bagi perusahaan Pertamina, krisis BBM 
yang terjadi selama ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan Pertamina yang 
masih rendah. Artinya, Pertamina perlu melakukan efisiensi yang tinggi dalam 
hal penggunaan biaya produksi. Di sisi lain, sudah saatnya Pertamina melakukan 
restrukturisasi organisasi untuk menjamin kinerja perusahaan yang sehat. Masih 
gemuknya struktur organisasi di perusahaan ini mengakibatkan tingginya beban 
biaya yang harus ditanggung oleh negara. 

Hal yang paling penting sebagai sebuah pelajaran berharga adalah bahwa 
Pertamina perlu memberikan kepastian penggunaan dan kecukupan kebutuhan bagi 
masyarakat selama kurun waktu tertentu, misalnya 3 bulan, 6 bulan sampai 1 
tahun ke depan. Pola seperti ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya 
social shock (kegelisahan sosial) bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan 
hidupnya. 

Ketiga, masyarakat dan sektor industri yang paling terkena dampak krisis BBM. 
Terdapat beberapa dampak yang akan ditanggung kalangan ini, antara lain 1) 
terhambatnya sektor industri akibat kurangnya pasokan bahan bakar, 2) 
terjadinya rasionalisasi tenaga kerja akibat menurunnya produksi, 3) 
terhambatnya mobilitas perdagangan karena keterbatasan bahan bakar, dan 4) 
kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. 

Karena imbas krisis BBM yang begitu besar, maka kalangan masyarakat dan 
industri perlu melakukan pengetatan serta penghematan terhadap penggunaan bahan 
bakar. Ada baiknya warga masyarakat perlu melakukan penghematan-penghematan 
energi. Sementara sektor industri perlu menahan diri untuk tidak melakukan over 
production yang hanya akan memakan penggunaan bahan bakar yang berlebihan. 
Dalam kondisi yang sangat terjepit, tidak ada jalan lain, kita semua perlu 
mendukung program penghematan energi secara nasional. *** 

Penulis peneliti di Lembaga Studi Kebijakan,
dosen Untag Jakarta.Oleh Agus Sjafari 


Jumat, 15 Juli 2005
Pemandangan yang sangat menyedihkan terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini 
terkait adanya antrean panjang masyarakat untuk mendapatkan BBM (bahan bakar 
minyak). Pemandangan seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi, kecuali 
menjelang pengumuman pemerintah tentang kenaikan harga BBM. Namun untuk saat 
ini pemandangan tentang antrean BBM akan terjadi dalam waktu yang cukup lama. 
Artinya, saat ini Indonesia sedang dilanda krisis BBM yang sangat serius. 

Pertanyaan yang mengemuka, apakah krisis BBM yang terjadi merupakan sebab atau 
akibat dari sebuah kebijakan negara? Jawabannya, dua-duanya. Krisis BBM 
merupakan sebab, sebuah variabel independen (mandiri) yang memengaruhi 
aspek-aspek lainnya. Namun di sisi lain, krisis BBM juga merupakan akibat, 
sebuah variabel dependen yang dipengaruhi oleh aspek-aspek lain yang dominan. 

Krisis BBM dikatakan sebagai "sebab" karena saat ini Indonesia benar-benar 
sedang mengalami krisis produksi minyak bumi. Hal ini dibuktikan dengan terus 
merosotnya produksi minyak dalam negeri, sedangkan tingkat konsumsi bahan bakar 
baik di level rumah tangga maupun industri sangat besar. 

Krisis produksi minyak bumi diklaim oleh sebagian kalangan disebabkan oleh 
kebijakan pembangunan kita yang terlalu eksploitatif terhadap sumber daya alam, 
khususnya yang tidak dapat diperbaharui. Sebagaimana diketahui, sekitar tahun 
1970-1980-an, negara kita mengalami booming minyak bumi. Negara kita pada saat 
itu pernah menjadi negara terbesar kelima di dunia sebagai negara pengekspor 
minyak. Namun ketika masa booming tersebut kita tidak mampu memenej penggunaan 
dan distribusi minyak bumi secara baik. Di sisi lain, kita terlalu 
mempercayakan pengelolaan minyak bumi kepada investor asing yang menjadi 
pengelola proyek eksploitasi minyak bumi. Akibatnya, sebagian besar "nilai 
keuntungan" proyek eksploitasi tersebut justru diberikan kepada pihak investor 
asing sebagai bagian dari kompensasi. Sedangkan rakyat Indonesia sendiri tidak 
terlalu menikmati keuntungan tersebut. 

Di sisi lain, krisis BBM dikategorikan sebagai akibat, karena terjadinya 
dipengaruhi oleh kompleksitas permasalahan yang terjadi pada aspek-aspek lain 
yang dominan. Aspek yang paling dominan memengaruhi terjadinya krisis BBM 
terkait dengan merosotnya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar. Hal ini 
disebabkan nilai transaksi perdagangan Indonesia terhadap pasar industri di AS 
merosot tajam. 

Aspek lainnya yang turut memengaruhi terjadinya krisis BBM adalah melonjaknya 
harga minyak dunia di pasaran dunia, dari 40 ribu dollar AS per barel menjadi 
60 ribu dolar AS per barel, tanpa dapat diprediksikan sebelumnya. Secara 
ekonomi makro, kemampuan anggaran belanja negara saat ini tidak mampu untuk 
memenuhi melonjaknya harga tersebut. Artinya, pemerintah tidak sanggup untuk 
mensubsidi minyak kepada warganya. 

BBM bagi warga masyarakat kita, saat ini dapat dikategorikan sebagai kebutuhan 
yang sangat vital karena ketersediaannya akan berpengaruh terhadap pemenuhan 
hidup lainnya bagi masyarakat, seperti untuk kebutuhan rumah tangga, 
transportasi, kebutuhan industri dan sebagainya. Krisis BBM jelas sangat 
mengganggu tatanan kehidupan masyarakat. 

Tentunya fenomena krisis BBM merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi 
semua kalangan, khususnya para elitee politik dan pemerintahan, pengelola 
Pertamina dan tentunya masyarakat industri (swasta). 

Pertama, kalangan elite politik dan pemerintahan. Pihak inilah yang sebenarnya 
paling bertanggung jawab atas krisis BBM berkepenjangan yang menimpa negeri 
ini. Terdapat beberapa alasan berkaitan dengan kelemahan yang dilakukan oleh 
pihak elite politik dan pemerintahan. Khususnya terkait dengan ketidakcermatan 
mereka ketika memrediksi harga minyak di pasaran dunia. Dalam perhitungan 
RAPBN, pemerintah mematok harga 40 ribu dolar AS per barel. Sedangkan di 
pasaran internasional harganya kini sudah mencapai 60 ribu dolar AS per barel. 

Di sisi lain, pemerintahan selama ini dalam kebijakan makro ekonomi terlalu 
fokus kepada sektor keuangan dan perbankan, sedangkan sektor riil dan produksi 
menjadi terbengkalai. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin merosotnya 
produksi BBM serta tidak bergairahnya transaksi perdagangan nasional di pasar 
internasional. 

Celakanya lagi, yang paling memilukan, di antara mereka masih terlalu 
mengutamakan kepentingan "egosektoral" politiknya tanpa memperhatikan persoalan 
serius yang melanda rakyat, seperti tingginya angka kemiskinan, kasus busung 
lapar, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Euforia politik elitee khususnya 
dalam pesta demokrasi lokal (pilkada) dan maraknya konflik internal 
partai-partai semakin menenggelamkan dan menjauhkan perhatian para politisi 
yang duduk dalam pemerintahan terhadap masalah-masalah besar yang dihadapi 
rakyat. 

Kedua, pihak Pertamina selaku pengelola Bagi perusahaan Pertamina, krisis BBM 
yang terjadi selama ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan Pertamina yang 
masih rendah. Artinya, Pertamina perlu melakukan efisiensi yang tinggi dalam 
hal penggunaan biaya produksi. Di sisi lain, sudah saatnya Pertamina melakukan 
restrukturisasi organisasi untuk menjamin kinerja perusahaan yang sehat. Masih 
gemuknya struktur organisasi di perusahaan ini mengakibatkan tingginya beban 
biaya yang harus ditanggung oleh negara. 

Hal yang paling penting sebagai sebuah pelajaran berharga adalah bahwa 
Pertamina perlu memberikan kepastian penggunaan dan kecukupan kebutuhan bagi 
masyarakat selama kurun waktu tertentu, misalnya 3 bulan, 6 bulan sampai 1 
tahun ke depan. Pola seperti ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya 
social shock (kegelisahan sosial) bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan 
hidupnya. 

Ketiga, masyarakat dan sektor industri yang paling terkena dampak krisis BBM. 
Terdapat beberapa dampak yang akan ditanggung kalangan ini, antara lain 1) 
terhambatnya sektor industri akibat kurangnya pasokan bahan bakar, 2) 
terjadinya rasionalisasi tenaga kerja akibat menurunnya produksi, 3) 
terhambatnya mobilitas perdagangan karena keterbatasan bahan bakar, dan 4) 
kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. 

Karena imbas krisis BBM yang begitu besar, maka kalangan masyarakat dan 
industri perlu melakukan pengetatan serta penghematan terhadap penggunaan bahan 
bakar. Ada baiknya warga masyarakat perlu melakukan penghematan-penghematan 
energi. Sementara sektor industri perlu menahan diri untuk tidak melakukan over 
production yang hanya akan memakan penggunaan bahan bakar yang berlebihan. 
Dalam kondisi yang sangat terjepit, tidak ada jalan lain, kita semua perlu 
mendukung program penghematan energi secara nasional. *** 

Penulis peneliti di Lembaga Studi Kebijakan,
dosen Untag Jakarta.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke