Pengantar:
Saya kirim ulang tulisan ini untuk mengkoreksi kesalahan nama "KIMWU" yang semestinya adalah IMWU. Karena kesalahan ini, melalui kontak japri, tulisan ini sempat dikatakan "penuh kesalahan", sedangkan ketika saya tagih untuk ditunjukkan secara rinci kesalahan-kesalahan lain yang dikatakan "penuh" itu,permintaan saya tidak dipenuhi. Barangkali yang terjadi hanyalah kelalaian berbahasa cermat saja atau bukti dari keadaan tidak buta aksara tapi tidak bisa membaca. Titik utama yang ingin saya angkat di sini, adalah menunjukkan bahwa di kalangan buruh migran terdapat, kegiatan sastra-seni dan saya kira ini patut didorong serta dikembangkan. Kepada para pengkritik, saya ingin bertanya: Patutkah kegiatan ini dikembangkan dan digalakkan secara sistematik? Adanya Buruh Migran Indonesia [BMI] merupakan gejala baru dalam masyarakat, dan sangat wajar jika ia mencerminkan diri dan tercermin dalam sastra-seni. Berkembangnya sastra buruh migran, baik yang ditulis oleh buruh migran itu sendiri atau pun yang menaruh perhatian terhadap BMI, kiranya akan menambah warna pada sastra Indonesia kekinian yang terus berkembang. Saya sangat menggarisbawahi pentingnya buruh migran menulis langsung tentang diri mereka sendiri sebagaimana dahulu, saya pernah ikut mendorong pengembangan kegiatan kaum tani menulis langsung tentang kehidupan diri mereka. Munculnya karya-karya sastra yang ditulis oleh buruh migran sendiri, membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan pontensial dan sekaligus menjawab pelecehan terhadap mereka. Membabu adalah salahatu bentuk kerja badan, dan kerja badan mempunyai peranan sebagaimana halnya kerja otak dalam perkembangan masyarakat. Tak ada kebudayaan dan kehidupan tanpa kerja badan dan kerja otak. Penyempitan jarak antara keduanya, diperlukan.Menghina kerja badan hanya mempertontonkan kecupetan pikiran. Lahirnya karya sastra-seni di kalangan buruh migran hanya membuktikan kecupetan pelecehan ini. Penerbit Ombak Yogyakarta di bawah pimpinan Nursam, agaknya sudah menaruh perhatian pada jenis sastra ini. Dengan semangat inilah Kronik ini saya tulis dan tentu saja terbuka terhadap segala kritik nalar berbukti. JJ.KUSNI KRONIK ANGSA LIAR: SASTRA-SENI DI KALANGAN BURUH MIGRAN INDONESIA [1]. SEJAK beberapa hari bulan Juli ini di Hong Kong, sedang diselenggarakan lokakarya penulisan di kalangan buruh-buru migran yang tinggal di kota-negara tersebut. Untuk keperluan lokakarya ini, dari Indonesia telah didatangkan dua orang wartawan/sastrawan. Dalam skala lebih besar,yaitu skala internasinonal, dari pihaknya Universitas Hong Kong, telah pula melangsungkan kegiatan pelatihan menulis. Sepanjang yang saya ketahui, buruh migran asal berbagai negeri di Hong Kong dibandingkan dengan buruh-buruh migran di tempat-tempat lain seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang apalagi di negeri-negeri Timur Tengah, jauh lebih aktif dalam berkesenian. Berkesenian mereka rasakan sebagai bagian dari keperluan mereka. Mereka memiliki grup teater dengan kegiatan periodik, beranggotakan buruh-buruh migran dari berbagai negeri, termasuk buruh migran asal Indonesia.Yang paling aktif di dalam grup teater ini adalah Mega Vristian, yang juga penyair dan pelukis asal Malang, Jawa Timur.Teater oleh buruh-buruh migran di Hong Kong selain menjadi sarana pengungkap diri, agaknya juga berfungsi sebagai alat untuk membela hak serta pengucap tuntutan dan harapan mereka. Teater dan berbagai bentuk sastra-seni lainnya, selalu menyertai kegiatan-kegiatan terorganisasi buruh-buruh migran di Hong Kong, di mana buruh migran asal Indonesia turut serta di dalamnya.Teater akhirnya, langsung tidak langsung merupakan suatu proses penyadaran dan sekolah politik-kebudayaan bagi buruh-buruh migran Hong Kong ini. Aktivitas berkesenian begini, mungkin dilakukan oleh para buruh migran Hong Kong, karena mereka mempunyai hak cuti akhir pekan yang dilindungi hukum. Cuti akhir pekan inilah kemudian yang oleh buruh-buruh migran ini sebagai peluang berkesenian -- kesempatan meningkatkan dan memanusiawikan diri.Di samping adanya perlindungan legal ini, kegiatan berkesenian mungkin berkembang oleh adanya majikan-majikan yang manusiawi, memberikan kesempatan kepada buruh-buruhnya setelah usai pekerjaan pokok melakukan hal-hal lain di luar tugasnya. Bahkan terdapat pula, para majikan yang membiarkan komputernya dipakai oleh buruhnya. Adanya majikan-majikan begini, saya kira tidak bisa dinegasi dengan membuat citra bahwa semua majikan itu jahat. Membuat citra majikan dan buruh migran sewarna, saya kira adalah cara pandang hitam-putih dan sangat simplistis, cara pandang yang tidak bakal mungkin memahami dan melukiskan kenyataan. Buruh dan majikan adalah dua sisi dari satu mata uang dengan lukisan berbeda di atasnya. Taman Victoria [Victoria Garden] akhir pekan merupakan tempat berkumpul dan sering menjadi pentas terbuka bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan buruh migran di samping yang diselenggarakan di ruang-ruang tertutup. Faktor lain yang membantu kegiatan berkesenian ini adalah terdapatnya organisasi buruh migran di Hong Kong, dan mempunyai jaringan kontak dengan Sarikat Buruh Hong Kong dan organisasi-organisasi buruh di negeri-negeri lain. Buruh-buruh migran Indonesia pun mempunyai organisasi mereka sendiri, seperti IMWU serta organisasi-organisasi buruh migran lainnya dan penerbitan-penerbitan mereka. Melalui organ-organ organisasi buruh migran ini disalurkan karya-karya sastra yang ditulis oleh para buruh migran tentang kehidupan mereka. Selain media cetak, buruh migran Indonesia ini pun mempunyai milis mereka sendiri. Dua yang paling menonjol adalah [EMAIL PROTECTED] dan sastra_tki@ yahoogroups.com Melalui media cetak dan elektronik ini, menyalurkan karya-karya buruh migran, menyuarakan ke seantero dunia permasalahan mereka, mengembangkan jaringan di kalangan mereka di berbagai negeri dan menggalang solidaritas lokal, nasional dan internasional.Pers cetak dan elektronik buruh migran jadinya berfungsi sebagai pendidik dan organisator sekaligus. Tidak kurang pentingnya dalam kegiatan berkesenian dan dalam bidang-bidang kehidupan lainnya adalah dampingan solidaritas dari para akademisi, organisasi buruh Hong Kong, dan para profesional sehingga kegiatan, termasuk dalam kehidupan sastra-seni kian tearah dan sistmatik. Penyelenggaraan workshop penulisan yang sekarang sedang berlangsung adalah sekedar salah satu contoh saja dari ujud kongkret dampingan para profesionalis di kalangan buruh migran. Paris, Juli 2005 JJ. KUSNI [Bersambung....] Lampiran: Sumber:Jawa Pos, Minggu, 10 Juli 2005, Ketika Para Buruh Menulis Sastra Minggu, 10 Juli ini, di Hongkong University, Kowloon, dua cerpenis Jawa Timur, Bonari Nabonenar dan Kuswinarto, diundang menjadi pembicara pada acara workshop penulisan bagi buruh mingran Indonesia (BMI) di Hongkong. Workshop yang diadakan komunitas sastra BMI Caf? br> de Kosta itu diikuti lebih dari 200 pekerja di Tiongkok itu. *** Belakangan ini dalam dunia sastra Indonesia muncul istilah yang tampaknya akan semakin sering disebut-sebut: sastra buruh migran (Indonesia). Fenomena itu ditandai dengan lahirnya karya-karya sastra dari "rahim" para pekerja wanita kita di luar negeri, yang diam-diam sudah lama "mengandung" benih-benih potensi yang luar biasa. Terus terang, saya sempat dikagetkan oleh kehadiran Rini Widyawati, yang tahun lalu baru pulang dari Hongkong. Selama dua tahun Rini memang bertaruh jiwa dan raga menjadi domestic helper (pembantu rumah tangga) di negara bagian Tiongkok itu. Nah, ketika pulang ke kampung halaman itulah, Rini membawa oleh-oleh sebuah catatan harian yang, oleh beberapa kalangan, dinilai sangat nyastra. Tak lama kemudian, oleh-oleh itu telah terbit menjadi buku dengan judul: Catatan Harian Seorang Pramuwisma (JP-Books, Mei 2005). Rini boleh jadi termasuk salah satu TKW kita yang istimewa. Secara akademis, dia hanya sempat mengenyam pendidikan formal di sekolah dasar. Karena setelah itu, dia harus mencari penghidupan sendiri keluar dari kemiskinan keluarganya di desa. Untungnya, begitu sampai di kota (Malang), dia bertemu dengan seorang pengarang wanita hebat:Ratna Indraswari Ibrahim. Maka, sambil membantu membereskan pekerjaan rumah, Rini mendapat "pelajaran" secara khusus bagaimana "menulis sastra" dari Mbak Ratna. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga Rini menginjak dewasa. Hingga Rini kemudian memutuskan untuk pergi menjadi TKW di Hongkong. Saya benar-benar terperanjat ketika menerima naskah Rini (saat itu saya menjadi editor di JP-Books) yang menurut saya benar-benar luar biasa. Dari pengalaman menyunting buku Rini itulah saya lalu berkenalan (atas bantuan cerpenis Lan Fang) dengan wartawati Berita Indonesia (salah satu koran berbahasa Indonesia yang beredar di Hongkong). Dia bernama Ida Permatasari yang lebih senang memakai nama Arsusi Ahmad Sama'in dalam tulisan-tulisannya (kebanyakan berupa cerpen). Perempuan asal Blitar itu yang sangat bersemangat memprovokasi perempuan buruh migran asal Indonesia di Hongkong untuk: menulis, menulis, dan menulis! Untuk mewadahi para penulis BMI itu, Ida lalu membentuk komunitas penulis BMId untuk saling asah dan asuh demi meningkatkan kualitas tulisan-tulisan mereka. Kekaguman saya makin menjadi-jadi tatkala memasuki milis-group mereka. Banyak mutiara terpendam di sana. Jika saja kita tekun dan sedikit sabar memolesnya, pastilah mutiara-mutiara itu bakal berkilauan, menyemarakkan Taman Sastra Indonesia. Bagi para aktivis BMI, menulis ibarat pedang bermata banyak. Dengan memanfaatkan waktu luang dan waktu libur untuk menulis, mereka akan terhindar dari godaan-godaan yang bisa menjerumuskan ke jurang kenistaan panjang di perantauan. Dengan menulis, para BMI juga bisa melakukan semacam terapi diri, menyalurkan "hawa buruk" berupa rasa rendah diri, frustrasi karena majikan terlalu cerewet, bahkan mungkin juga kasar, jahat, dan lain- lain, ke dalam tulisan. Apa saja bentuknya. Dengan menulis, mereka juga bisa menyuarakan aspirasi, menentang secara cerdas tindakan-tindakan pihak lain: birokrasi, majikan, dan pemerintah, yang tidak adil terhadap mereka. Dalam kata lain, dengan menulis para BMI menolak untuk sekadar dicatat sebagai salah satu sumber devisa negara. Sebab dengan menulis mereka menjadi subjek yang berkuasa penuh atas apa yang hendak mereka goreskan. Dengan menulis, para BMI yang oleh masyarakat awam dipandang golongan "hina", babu, budak; melompat ke dalam "kasta" paling tinggi yang bisa dicapai seorang manusia. Pertumbuhan dunia sastra di kalangan BMI itu diikuti oleh munculnya komunitas-komunitas sastra yang mewadahi mereka. Di Hongkong, menurut Ida, saat ini sedikitnya ada tiga komunitas BMI yang aktif di bidang penulisan. Yakni Forum Lingkar Pena (FLP), Kopernus (Komunitas Perantau Nusantara), dan Caf?de Kosta yang dikomandani Ida Permatasari. Mereka telah membuktikan diri dengan bersaing secara bebas dengan penulis-penulis lain dari berbagai kalangan. Karya-karya mereka mulai bermunculan di media-media cetak, di dalam maupun luar negeri. Selain Ida, beberapa penulis BMI juga sudah saatnya diperhitungkan namanya di jagat persilatan Sastra Indonesia. Sebut saja, misalnya, Lik Kismawati asal Surabaya, Wina Karnie dan Etik Juwita (Blitar), Tania Roos dan Mega Vristian (Malang), Hartanti (Ponorogo), Dian Litasari (Banyuwangi), Tarini Sorrita (Cirebon), Suci Hanggraini (Madiun), dan Atik Sugihati (Kediri). Karya mereka sudah bertebaran di banyak media. Sekarang, apakah Anda tidak merasakan kejutan indah oleh berita ini: Seorang pramuwisma asal Cirebon yang kini bekerja di Hongkong telah menerbitkan buku kumpulan tulisan reflektifnya berjudul Big Question, Don't Look Dawn at Domestic Helper. Tarini Sorrita, begitulah nama pena pramuwisma ini, langsung menulis dengan bahasa Inggris, dan atas bantuan temannya yang berkebangsaan Swiss, buku itu berhasil diterbitkan. Sayangnya tidak di Indonesia. Pemerintah dan instansi terkait sudah selayaknya merasa bangga dengan kiprah para BMI itu. Jangan malah memandang mereka dengan mata curiga, karena dianggap: tidak selayaknya seorang babu mempunyai keahlian sebagai penulis. *** *) Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, bersama Kuswinarto akan menjadi narasumber pada Workshop Penulisan bagi BMI-H (, 10 Juli 2005). [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

