http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/18/ekonomi/1901899.htm
Pasar...! Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta terus menanjak. Setidaknya stabil dengan kecenderungan meningkat. Tidak seperti di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Padahal, gerak dua segmen pasar finansial ini seharusnya sejalan karena faktor fundamentalnya sama, yakni perekonomian Indonesia. Itulah yang mengherankan banyak orang sebab pemerintah selalu menyatakan perekonomian kita tumbuh. Logikanya, jika perekonomian Indonesia membaik, seharusnya nilai tukar rupiah menguat. Ada pendapat lain. Kata mereka, justru pertumbuhan ekonomi yang membaik itulah yang membuat rupiah gonjang-ganjing. Lho, bagaimana ini? Karena ekonomi tumbuh, banyak keperluan barang. Sialnya, untuk memproduksi barang tadi, kita terlebih dahulu harus mengimpor bahan bakunya karena belum mampu memproduksi. Lebih menyedihkan lagi, banyak barang yang mesti diimpor walaupun bahan baku maupun bahan dasarnya sesungguhnya sudah tersedia di dalam negeri. Mau contoh? Garam ternyata kita harus impor karena produksi dalam negeri tidak cukup. Padahal, lahan tambak untuk membuat garam begitu luas. Air laut sebagai bahan baku untuk membuat garam tinggal dialirkan dari laut. Gratis pula. Terlalu banyak hal aneh di negeri ini. Katanya, tongkat, kayu, dan batu bisa jadi tanaman di negeri subur makmur ini. Tetapi, kita kok malah mengimpor beras, kedelai, kacang, gula. Kita yang menghasilkan biji kakao, malah impor coklat. Belum lagi impor macam-macam, sampai mobil mewah yang laku keras dalam pameran otomotif di Jakarta. Kaus kaki impor (entah legal atau ilegal) banyak dijual di pinggir jalan dengan harga Rp 10.000 untuk tiga pasang. Peniti dan jarum jahit juga impor buatan China. Aduh, sudahlah. Tambah panjang daftar barang impor jika kita urai satu per satu dan akan semakin membuat kita menertawakan diri sendiri. Yang terakhir dan masih heboh ialah impor minyak mentah dan bahan bakar minyak. Karena keperluan terus bertambah, maka kita memerlukan impor semakin banyak. Ditambah lagi harga yang terus melonjak di pasar internasional, maka kebutuhan Pertamina akan dollar Amerika Serikat makin melonjak. Padahal, kita juga tercatat sebagai pengekspor minyak. Itulah antara lain faktor yang membuat dollar AS, sebagai mata uang yang dipakai dalam melakukan transaksi internasional, semakin meningkat. Jadi, bahasa ngeles-nya, bukan rupiah yang melemah, tetapi nilai tukar dollar yang menguat. Hukum pasar menyatakan, sesuatu yang dicari orang dan langka, semakin tinggi nilainya. Tetapi, tengok pasar tenaga kerja. Mengapa pembantu rumah tangga yang kian dibutuhkan, dan mencarinya kian susah, tak pernah melonjak gajinya ya...! Itu juga, saya kira, keanehan di pasar negeri ini. (Andi Suruji) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

