MEDIA INDONESIA
Senin, 18 Juli 2005

Tragedi Fifi, Tragedi Kaum Miskin!


 
UNTUK kesekian kalinya siswa sekolah di Republik ini mengakhiri hidupnya secara 
tragis karena kemiskinan. Fifi Kusrini, siswi SMP Negeri 10 Bekasi yang baru 
saja naik kelas II, nekat menggantung diri Jumat (15/7) sore karena kemiskinan 
orang tuanya.

Warga Kelurahan Cikiwul, Bantar Gebang, Bekasi, itu malu karena menunggak sisa 
uang gedung, buku rapor, dan BP3 yang jumlahnya hampir Rp300.000. Namun, yang 
membuat gadis berusia 14 tahun itu memilih jalan kematian, karena ejekan 
kawan-kawannya. Fifi tidak lagi punya kekuatan mental ketika kawan-kawannya 
mengejeknya sebagai anak tukang bubur.

Jika benar ejekan itu menjadi penyebab jalan kematian Fifi, ini sungguh 
persoalan amat serius bagi kita. Serius karena pertama, anak-anak sekolah, 
sesama kawan Fifi, tidak tahu bagaimana menghargai mereka yang mencari nafkah 
secara halal. Kedua, mereka juga tidak mempunyai empati dan solidaritas sosial.

Para guru, orang tua murid, dan kita semua ikut bertanggung jawab atas cara 
pandang siswa yang sempit seperti itu. Bagaimana orang yang bekerja mencari 
nafkah secara halal justru menjadi olok-olok. Bukankah jumlah orang miskin di 
negeri ini sangat besar? Sekitar 35 juta dari 220 juta penduduk Indonesia. 
Karena itu, kita semua perlu memberi pemahaman dan keteladanan terhadap 
anak-anak kita bagaimana melakukan kebajikan-kebajikan sosial yang konkret.

Kita harus mempunyai pemahaman kemiskinan bukanlah sebuah pilihan. Bahkan, 
dalam konteks keadilan, orang-orang miskin itu adalah korban. Korban akibat 
gagal negara yang terjadi berkali-kali di negeri ini. Gagal negara terjadi 
karena para elite tidak memahami makna hakiki membangun bangsa.

Kaum miskin juga korban dari orang-orang loba yang mengeruk kekayaan 
semena-mena. Korban dari sistem ekonomi pasar (kapitalisme) yang sama sekali 
tidak memberi proteksi terhadap mereka yang tidak punya kapital dan akses.

Karena itu, kita semua, khususnya pemerintah, jangan menyikapi fenomena bunuh 
diri siswa tidak punya sebagai hal biasa. Ia sudah terjadi berkali-kali. 
Bahkan, kasus lebih banyak dialami anak-anak sekolah dasar. Kita masih ingat 
kasus Haryanto di Sanding, Garut, Jawa Barat, pada 2003 dan Eko Haryanto di 
Tegal, Jawa Tengah, pada 2004?

Kisah tragis yang menimpa Fifi dan anak-anak yang lain, sekali lagi, harus 
dilihat sebagai korban orang-orang kalah. Kasus seperti ini harus menjadi 
pelajaran serius, khususnya para elite dan kaum berpunya, untuk tidak hidup 
bermewah-mewah di tengah-tengah saudara-saudara kita yang papa.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke