Jangan bikin gossip, tidak ada ajaran Kristen untuk mendoktrin orang
untuk memaksa menerima ajaran Kristen, perlu ketelitian lebih lanjut
mengenai hal ini.
Berita dibawah ini bukan gambaran ajaran Kristen. 
Kristen tidak berhubungan dengan hipnotis, kesurupan dll yang aneh
disebutkan disini , karena merupakan kuasa kegelapan.

There's all bull shit. HOAX.

-----Original Message-----
From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
[ppiindia] Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
Refleksi: Hebat juga kristenisasinya a la Sabili
http://www.sabili.co.id/telut-e26thXII05.htm

Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
Dengan mengenakan busana Muslimah, kaum pemurtad yang diduga kuat
sebagai aktivis Salibis mendatangi masjid-masjid dan tempat kumpul
aktivis dakwah yang banyak dikunjungi Muslimah. Mereka mengincar akhwat
untuk dimurtadkan. 

Jumat (24/6/2005), tengah hari. Jarum jam menunjukkan angka 10.30 WIB.
Di luar, Sang surya memancarkan cahayanya, menjalankan perintah Sang
Khalik: menyinari bumi, ciptaan Allah Yang Maha Agung. Manusia pun
terlihat lalu-lalang, mengejar rezeki dunia. Padahal waktu shalat Jumat
segera tiba.

Tiba-tiba suara telepon redaksi SABILI, berdering. Setelah mengangkat
gagang telepon, terdengar suara perempuan menjerit dan ketakutan.
"Tolong saya pak. Saat ini saya berada di luar Jakarta. Mereka menculik
saya dengan mobil," telepon Endah (nama samaran), singkat, dengan rasa
takut, kepada salah seorang kru SABILI.

Endah adalah seorang akhwat, aktivis dakwah. Bersama teman-teman
sebayanya, selama ini gadis berusia 23 tahun itu aktif mengikuti program
tahfidzul Qur'an di Pesantren Yapith, Pondok Gede, Bekasi. Selain itu,
ia juga rutin mengikuti kajian pekanan (liqo') gerakan Tarbiyah.

Nasib Endah sungguh ironis. Gadis yang awalnya sangat periang ini sedang
diincar gerakan kristenisasi. Endah sedang menjadi target operasi (TO)
gerakan pemurtadan yang terselubung. Dengan cara-cara tak terpuji,
mereka berusaha keras memurtadkan aktivis masjid ini. 

"Penculikan" Endah ini sudah yang kesekian kalinya. Hal itu dibenarkan
Yan, kakak Endah. Menurut Yan, tahun 2003 lalu, Endah pernah mengalami
nasib serupa. Mereka pernah membawa Endah ke sebuah rumah yang berada di
daerah Tanggerang. Di sana, mereka berusaha mencuci otak Endah dengan
memberikan doktrin-doktrin Kristen. 

Namun usaha mereka ternyata tak terlalu berhasil. Mantan siswi Ma'had
Al- Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan ini akhirnya berhasil meloloskan
diri dari sekapan mereka. Dengan alasan mau kuliah ke Ma'had Al-Hikmah,
Endah pun bisa kembali lagi ke rumah. Setelah berhasil lolos, kondisi
Endah ternyata agak berubah. Ia sering merasa sakit kepala dan kerap tak
sadarkan diri. Dalam keadaan tak sadar itu pula ia sering
menyebut-nyebut Yesus, sementara lidahnya terasa berat untuk membaca
Qur'an. 

Untuk mengatasinya, Endah akhirnya melakukan terapi ruqyah (dibacakan
ayat-ayat Qur'an dan doa, sebagaimana dicontohkan Nabi saat mengusir jin
dari dalam tubuh manusia). Setelah tim ruqyah berhasil mengeluarkan
pengaruh sihir dan jin dari tubuh Endah, kondisi akhwat yang sering
mengajar ngaji anak-anak ini lebih mendingan dan bisa kembali
beraktivitas seperti sediakala. "Beberapa bulan lalu kondisinya sudah
bagus, tapi belakangan ini kambuh lagi," kata Budi. 

Kasus Endah bermula dari sebuah acara di Masjid Istiqlal, beberapa tahun
lalu. Waktu itu, Endah didekati seorang perempuan berjilbab, seperti
pakaian seorang akhwat (pakaian jubah dengan jilbab panjang). Entah
mengapa setelah berkenalan, tiba-tiba Endah terhanyut dan mau saja
mendengar omongan perempuan itu. Apalagi dalam obrolan itu, ia sering
kali menyinggung tentang gerakan Islam, mulai dari Tarbiyah, Salafi,
Jamaah Tabligh hingga Hizbut Tahrir. 

Pertemuan Endah dengan perempuan berjilbab itu ternyata berlanjut sampai
Endah kuliah di Ma'had Al Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan. Perempuan ini
acap kali menyatroni Endah ke Ma'had tersebut. Seperti juga
pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti dihipnotis, Endah tak kuasa
menolak ajakan perempuan berjilbab itu untuk berjalan-jalan. Mereka juga
sering kumpul dengan beberapa orang, bak sebuah halaqah, mengkaji Islam.


Mulanya, materi-materi yang disampaikan dalam "halaqah" itu, tidak ada
yang bermasalah. Namun lama-kelamaan dirasakan materinya agak
menyimpang. Tidak lagi berpandangan positif terhadap Islam, malah
menjelek-jelekkan harakah (gerakan) satu dengan harakah lainnya. Bahkan
sering kali memfitnah Allah, Islam dan Rasul-Nya. 

Kasus ini pun mencapai klimaksnya saat mereka "menculik" dan menyekap
Endah di sebuah rumah di luar Jakarta. Semalaman, seorang perempuan yang
mengenakan jilbab dan mengenakan kalung salib mendoktrin Endah dengan
doktrin-doktrin Kristen. Sejak itu, Endah, yang awalnya gadis periang
ini, kini selalu dibayangi rasa takut mendalam karena menjadi incaran
gerakan kristenisasi.

Di Bekasi, beberapa waktu lalu juga terjadi kasus serupa. Linda, seorang
akhwat berteman akrab dengan seorang perempuan Kristen yang menyebut
dirinya dengan "umi". Saat akhwat ini lengah, perempuan itu mengambil
dompetnya. Dompet akhwat ini kemudian diberikan kepada suami si
perempuan itu yang juga menyebut dirinya dengan "abi". "Abi" ini
kemudian memanggil akhwat tersebut. Namun setelah pertemuan dengan
"abi", akhwat ini jadi tidak karu-karuan. Kepalanya sering terasa sakit.
Saat diperintah suaminya, akhwat ini jadi tak menurut. Ia juga tak lagi
senang membaca al-Qur'an. Selain sering menyebut-nyebut nama "umi" dan
"abi", akhwat ini juga sering kebayang-bayang Yesus, Tuhan Kristiani. 

Kondisi akhwat itu saat ini sudah pulih kembali. Namun perjuangan
memulihkannya cukup berat. Untuk menghilangkan pengaruh jin di tubuh
akhwat itu, memakan waktu sekitar tujuh bulan. Selama itu pula keluarga
Adi Ambargono ini mendapat tekanan batin karena sering mendapat komentar
tidak sedap dari masyarakat sekitar. 

Kasus pemurtadan para akhwat ternyata tak hanya terjadi di Jakarta dan
Bekasi, tapi juga terjadi di luar Jakarta. Beberapa waktu lalu, kasus
yang mirip terjadi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Seorang akhwat,
keponakan aktivis gerakan Tarbiyah Medan diculik kelompok Kristen sampai
dua kali. 

Awalnya, seorang perempuan berjilbab mendekati seorang akhwat. Merasa
targetnya sudah percaya, kemudian ia mengajak akhwat ini minta izin
tidak masuk sekolah untuk makan-makan dan jalan-jalan. Hal ini terus
berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Bak disambar geledek di
siang bolong. Ayahnya kaget setelah mendapat kabar bahwa anaknya sudah
tiga bulan tidak masuk sekolah dengan alasan izin ke rumah sakit.
Padahal setiap hari ia merasa tidak ada masalah karena anaknya selalu
berpamitan untuk berangkat sekolah. 

Puncaknya, Akhwat ini diculik dan dibawa kabur ke Jambi. Selama dalam
perjalanan, mereka memasukkan dan membaptis aktivis Islam ini di gereja.
Bahkan, karena berontak, mereka pernah memukul kepala akhwat ini sampai
pingsan. Beruntung ia bisa kabur. Namun setelah berhasil pulang,
kondisinya sudah tak normal. Akhwat ini sering merasa sakit kepala dan
kerap tak mampu mengendalikan diri. Akhirnya, setelah diruqyah,
kondisinya mulai pulih kembali. 
Tapi kaburnya "buruan" tidak membuat para pemurtad itu patah semangat.
Beberapa waktu kemudian, saat seisi rumah tengah tertidur lelap, mereka
menaiki loteng dan menculik kembali akhwat tersebut. Orang tua akhwat
ini baru tersadar setelah menerima SMS dari penculik yang bunyinya:
"Selamat mengambil anakmu yang ada di neraka."

Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS Sumut yang
kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung mengontak
seluruh kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar akhwat itu berada
di Polres Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan di sebuah pohon dalam
kondisi terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan akhwat tersebut
menjadi persoalan serius. Meski kasus kristenisasi ini sudah masuk ke
kepolisian, namun sejumlah ormas Islam, seperti DDII, IKADI, PKS dan
organisasi Islam lainnya terus mendesak agar Kapolda Sumut segera serius
mengusut tuntas kasus ini. 

Di Bandung, Jawa Barat upaya-upaya pemurtadan para akhwat, aktivis
dakwah, juga marak. SABILI mendapat cerita langsung dari Siti Nurjanah,
SS, seorang murrobi (guru) dan aktivis Tarbiyah. Menurutnya, untuk
mengincar mangsanya, khususnya para akhwat di Bandung, para misionaris
dan kaum pemurtad sering mengenakan simbol-simbol Islam, seperti jilbab
panjang dan jubah. 

Sasaran mereka adalah akhwat yang baru mengikuti kegiatan Tarbiyah.
Karena pemahaman para akhwat ini, baru sebatas belajar dan belum utuh
benar pemahaman keislamannya, sehingga besar kemungkinan masih bisa
mereka pengaruhi. Untuk memangsa sasaran, biasanya mereka mendatangi
tempat-tempat yang menjadi ajang berkumpulnya orang Islam di Bandung,
seperti Masjid Salman, Masjid Istiqomah, juga Pusat Dakwah Islam
(Pusdai) Jawa Barat. Setelah menyusup ke tempat ramai tersebut, mereka
mendekati para akhwat dan berusaha memengaruhi akidah mereka. 

Sebut misalnya, cerita yang terjadi di Pusdai (Bandung) beberapa waktu
lalu. Saat itu ditemukan seorang perempuan yang mengenakan busana mirip
akhwat pada umumnya: berjilbab panjang dan memakai jubah. Secara tak
sengaja, saat di toilet seorang akhwat melihat perempuan berjilbab itu
memakai kalung Salib. Bahkan saat diperiksa, di dalam tas perempuan
tersebut ditemukan Alkitab. 

Kecurigaan itu makin terasa saat para akhwat melaksanakan ibadah shalat.
Di saat semua orang melakukan rukun Islam kedua itu, perempuan berjilbab
tadi tidak melakukannya. "Saya mendapat informasi ini dari aktivis
dakwah kampus yang mengikuti kegiatan Tarbiyah," tegas Siti Nurjanah.
Masih di sekitar Bandung, kasus pemurtadan kali ini terjadi di
Universitas Winayamukti (Unwim) Jatinangor, Jabar. Korbannya, lagi-lagi
akhwat, mahasiswi Universitas Padjajaran (Unpad). Beberapa waktu lalu,
ia didekati seorang pria yang mengaku diri sebagai perwira polisi. Sejak
pertama kali berkenalan, pria ini terus saja menempel akhwat itu.

Namun belakangan diketahui pria yang mengaku dari kesatuan polisi itu
adalah seorang Nasrani. Merasa sudah saatnya, ia pun mengajak akhwat ini
menikah dan pindah agama. Setelah menikah, akhwat ini tak pernah
mengikuti kegiatan Tarbiyah lagi. Tim Forum Antisipasi Kristenisasi dan
Pendangkalan Akidah (FITRAH) juga menceritakan kasus pemurtadan yang
nyaris menimpa seorang akhwat, mahasiswi UPI Bandung. Kasusnya terjadi
pada akhir tahun 2004 lalu. Mulanya, seorang akhwat diminta memberikan
les privat bahasa kepada orang asing beragama Nasrani.

Lama-kelamaan keluarga itu melakukan pendekatan personal. Mereka
melakukan pendekatan persuasif, seperti mengajak jalan-jalan bareng.
Saat akhwat ini mengalami masalah ekonomi, mereka membantunya. Namun
ujung-ujungnya, mereka meminta akhwat ini pindah agama. Untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia pergi dari
keluarga Nasrani itu. 

Kasus pemurtadan akhwat di Sumatera Barat tak kalah hebohnya. Kasus ini
terjadi di kampus Politani Universitas Andalas, Payakumbuh beberapa
waktu lalu. Sedikitnya 23 akhwat, mahasiswi Politani, kesurupan dan
menyebut-nyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Salib. September 2003 lalu
kasus serupa juga menghantam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Payakumbuh.
Sebanyak sebelas siswi kesurupan dan menunjukkan perilaku aneh,
menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, Salib dan menyatakan suka
dengan Injil. 

Kasus demi kasus pemurtadan yang mengincar akhwat terus menguak ke
permukaan. Ibarat fenomena gunung es, yang nampak dan muncul hanyalah
sebagian kecil saja. Sementara yang belum muncul ke permukaan,
disinyalir masih banyak. Karenanya, sudah seharusnya aparat kepolisian
serius menindaklanjuti laporan yang masuk, seperti terjadi di Sumatera
Utara. 

Sambil menunggu tindakan aparat, yang penting dilakukan Muslim dan
Muslimah, khususnya para dai dan daiyah, adalah agar memberikan tarbiyah
(pendidikan Islam) secara utuh, sehingga mereka yang kerap jadi sasaran,
terhindar dari jerat-jerat pemurtadan yang sedang mengincar. Tak kalah
pentingnya adalah, selalu waspada. Beragam info di atas, jadikan
pelajaran dan pengalaman, agar terhindar dari upaya-upaya busuk mereka.
Jika tidak, gawat!

Rivai Hutapea




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke