itu fitnah atau bukan silahkan di artikan sendiri, yg jelas Sabili telah membuat kita mengerti/tau soal trik2 sekelompok orang/organisasi yg mau menghancurkan islam. dari pengetahuan itu..dari pengalaman ini kita bisa waspada...itu aja!!
yg bener aja dong Mas, masa Partai ngurusin yang beginian seh... salam, id --- In [email protected], Arriko Indrawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > sabili dari dulu jg begitu kok.. agak2 tendensius dan menyerang.. > serta cenderung berupa fitnah...mending diemin, di konfrontir jg percuma.. > > mestinya PKS atau MUI yg concern dan berpikir jernih dong terhadap ginian.. > > kalo dari kresten yg concern wah bisa berdarah2.. kalo dari LSM yg > concern bisa dituduh kafir.. =p > > percuma ngaku partai paling bersih kalo ngediemin yg kotor2 kayak gini =p > hehehe.. > > ================= > Date: Sun, 17 Jul 2005 10:47:05 +0200 > From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Gawat Kristenisasi Incar Akhwat > > Refleksi: Hebat juga kristenisasinya a la Sabili > > > http://www.sabili.co.id/telut-e26thXII05.htm > > Gawat Kristenisasi Incar Akhwat > Dengan mengenakan busana Muslimah, kaum pemurtad yang diduga kuat sebagai > aktivis Salibis mendatangi masjid-masjid dan tempat kumpul aktivis dakwah > yang banyak dikunjungi Muslimah. Mereka mengincar akhwat untuk dimurtadkan. > > > Jumat (24/6/2005), tengah hari. Jarum jam menunjukkan angka 10.30 WIB. Di > luar, Sang surya memancarkan cahayanya, menjalankan perintah Sang Khalik: > menyinari bumi, ciptaan Allah Yang Maha Agung. Manusia pun terlihat > lalu-lalang, mengejar rezeki dunia. Padahal waktu shalat Jumat segera tiba. > > Tiba-tiba suara telepon redaksi SABILI, berdering. Setelah mengangkat > gagang telepon, terdengar suara perempuan menjerit dan ketakutan. "Tolong > saya pak. Saat ini saya berada di luar Jakarta. Mereka menculik saya dengan > mobil," telepon Endah (nama samaran), singkat, dengan rasa takut, kepada > salah seorang kru SABILI. > > Endah adalah seorang akhwat, aktivis dakwah. Bersama teman-teman sebayanya, > selama ini gadis berusia 23 tahun itu aktif mengikuti program tahfidzul > Qur'an di Pesantren Yapith, Pondok Gede, Bekasi. Selain itu, ia juga rutin > mengikuti kajian pekanan (liqo') gerakan Tarbiyah. > > Nasib Endah sungguh ironis. Gadis yang awalnya sangat periang ini sedang > diincar gerakan kristenisasi. Endah sedang menjadi target operasi (TO) > gerakan pemurtadan yang terselubung. Dengan cara-cara tak terpuji, mereka > berusaha keras memurtadkan aktivis masjid ini. > > "Penculikan" Endah ini sudah yang kesekian kalinya. Hal itu dibenarkan Yan, > kakak Endah. Menurut Yan, tahun 2003 lalu, Endah pernah mengalami nasib > serupa. Mereka pernah membawa Endah ke sebuah rumah yang berada di daerah > Tanggerang. Di sana, mereka berusaha mencuci otak Endah dengan memberikan > doktrin-doktrin Kristen. > > Namun usaha mereka ternyata tak terlalu berhasil. Mantan siswi Ma'had Al- > Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan ini akhirnya berhasil meloloskan diri dari > sekapan mereka. Dengan alasan mau kuliah ke Ma'had Al-Hikmah, Endah pun > bisa kembali lagi ke rumah. Setelah berhasil lolos, kondisi Endah ternyata > agak berubah. Ia sering merasa sakit kepala dan kerap tak sadarkan diri. > Dalam keadaan tak sadar itu pula ia sering menyebut-nyebut Yesus, sementara > lidahnya terasa berat untuk membaca Qur'an. > > Untuk mengatasinya, Endah akhirnya melakukan terapi ruqyah (dibacakan > ayat-ayat Qur'an dan doa, sebagaimana dicontohkan Nabi saat mengusir jin > dari dalam tubuh manusia). Setelah tim ruqyah berhasil mengeluarkan > pengaruh sihir dan jin dari tubuh Endah, kondisi akhwat yang sering > mengajar ngaji anak-anak ini lebih mendingan dan bisa kembali beraktivitas > seperti sediakala. "Beberapa bulan lalu kondisinya sudah bagus, tapi > belakangan ini kambuh lagi," kata Budi. > > Kasus Endah bermula dari sebuah acara di Masjid Istiqlal, beberapa tahun > lalu. Waktu itu, Endah didekati seorang perempuan berjilbab, seperti > pakaian seorang akhwat (pakaian jubah dengan jilbab panjang). Entah mengapa > setelah berkenalan, tiba-tiba Endah terhanyut dan mau saja mendengar > omongan perempuan itu. Apalagi dalam obrolan itu, ia sering kali > menyinggung tentang gerakan Islam, mulai dari Tarbiyah, Salafi, Jamaah > Tabligh hingga Hizbut Tahrir. > > Pertemuan Endah dengan perempuan berjilbab itu ternyata berlanjut sampai > Endah kuliah di Ma'had Al Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan. Perempuan ini > acap kali menyatroni Endah ke Ma'had tersebut. Seperti juga > pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti dihipnotis, Endah tak kuasa menolak > ajakan perempuan berjilbab itu untuk berjalan-jalan. Mereka juga sering > kumpul dengan beberapa orang, bak sebuah halaqah, mengkaji Islam. > > Mulanya, materi-materi yang disampaikan dalam "halaqah" itu, tidak ada yang > bermasalah. Namun lama-kelamaan dirasakan materinya agak menyimpang. Tidak > lagi berpandangan positif terhadap Islam, malah menjelek-jelekkan harakah > (gerakan) satu dengan harakah lainnya. Bahkan sering kali memfitnah Allah, > Islam dan Rasul-Nya. > > Kasus ini pun mencapai klimaksnya saat mereka "menculik" dan menyekap Endah > di sebuah rumah di luar Jakarta. Semalaman, seorang perempuan yang > mengenakan jilbab dan mengenakan kalung salib mendoktrin Endah dengan > doktrin-doktrin Kristen. Sejak itu, Endah, yang awalnya gadis periang ini, > kini selalu dibayangi rasa takut mendalam karena menjadi incaran gerakan > kristenisasi. > > Di Bekasi, beberapa waktu lalu juga terjadi kasus serupa. Linda, seorang > akhwat berteman akrab dengan seorang perempuan Kristen yang menyebut > dirinya dengan "umi". Saat akhwat ini lengah, perempuan itu mengambil > dompetnya. Dompet akhwat ini kemudian diberikan kepada suami si perempuan > itu yang juga menyebut dirinya dengan "abi". "Abi" ini kemudian memanggil > akhwat tersebut. Namun setelah pertemuan dengan "abi", akhwat ini jadi > tidak karu-karuan. Kepalanya sering terasa sakit. Saat diperintah suaminya, > akhwat ini jadi tak menurut. Ia juga tak lagi senang membaca al- Qur'an. > Selain sering menyebut-nyebut nama "umi" dan "abi", akhwat ini juga sering > kebayang-bayang Yesus, Tuhan Kristiani. > > Kondisi akhwat itu saat ini sudah pulih kembali. Namun perjuangan > memulihkannya cukup berat. Untuk menghilangkan pengaruh jin di tubuh akhwat > itu, memakan waktu sekitar tujuh bulan. Selama itu pula keluarga Adi > Ambargono ini mendapat tekanan batin karena sering mendapat komentar tidak > sedap dari masyarakat sekitar. > > Kasus pemurtadan para akhwat ternyata tak hanya terjadi di Jakarta dan > Bekasi, tapi juga terjadi di luar Jakarta. Beberapa waktu lalu, kasus yang > mirip terjadi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Seorang akhwat, keponakan > aktivis gerakan Tarbiyah Medan diculik kelompok Kristen sampai dua kali. > > Awalnya, seorang perempuan berjilbab mendekati seorang akhwat. Merasa > targetnya sudah percaya, kemudian ia mengajak akhwat ini minta izin tidak > masuk sekolah untuk makan-makan dan jalan-jalan. Hal ini terus berlangsung > selama kurang lebih tiga bulan. Bak disambar geledek di siang bolong. > Ayahnya kaget setelah mendapat kabar bahwa anaknya sudah tiga bulan tidak > masuk sekolah dengan alasan izin ke rumah sakit. Padahal setiap hari ia > merasa tidak ada masalah karena anaknya selalu berpamitan untuk berangkat > sekolah. > > Puncaknya, Akhwat ini diculik dan dibawa kabur ke Jambi. Selama dalam > perjalanan, mereka memasukkan dan membaptis aktivis Islam ini di gereja. > Bahkan, karena berontak, mereka pernah memukul kepala akhwat ini sampai > pingsan. Beruntung ia bisa kabur. Namun setelah berhasil pulang, kondisinya > sudah tak normal. Akhwat ini sering merasa sakit kepala dan kerap tak mampu > mengendalikan diri. Akhirnya, setelah diruqyah, kondisinya mulai pulih > kembali. > Tapi kaburnya "buruan" tidak membuat para pemurtad itu patah semangat. > Beberapa waktu kemudian, saat seisi rumah tengah tertidur lelap, mereka > menaiki loteng dan menculik kembali akhwat tersebut. Orang tua akhwat ini > baru tersadar setelah menerima SMS dari penculik yang bunyinya: "Selamat > mengambil anakmu yang ada di neraka." > > Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS Sumut yang > kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung mengontak seluruh > kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar akhwat itu berada di Polres > Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan di sebuah pohon dalam kondisi > terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan akhwat tersebut menjadi persoalan > serius. Meski kasus kristenisasi ini sudah masuk ke kepolisian, namun > sejumlah ormas Islam, seperti DDII, IKADI, PKS dan organisasi Islam lainnya > terus mendesak agar Kapolda Sumut segera serius mengusut tuntas kasus ini. > > Di Bandung, Jawa Barat upaya-upaya pemurtadan para akhwat, aktivis dakwah, > juga marak. SABILI mendapat cerita langsung dari Siti Nurjanah, SS, seorang > murrobi (guru) dan aktivis Tarbiyah. Menurutnya, untuk mengincar mangsanya, > khususnya para akhwat di Bandung, para misionaris dan kaum pemurtad sering > mengenakan simbol-simbol Islam, seperti jilbab panjang dan jubah. > > Sasaran mereka adalah akhwat yang baru mengikuti kegiatan Tarbiyah. Karena > pemahaman para akhwat ini, baru sebatas belajar dan belum utuh benar > pemahaman keislamannya, sehingga besar kemungkinan masih bisa mereka > pengaruhi. Untuk memangsa sasaran, biasanya mereka mendatangi tempat-tempat > yang menjadi ajang berkumpulnya orang Islam di Bandung, seperti Masjid > Salman, Masjid Istiqomah, juga Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat. > Setelah menyusup ke tempat ramai tersebut, mereka mendekati para akhwat dan > berusaha memengaruhi akidah mereka. > > Sebut misalnya, cerita yang terjadi di Pusdai (Bandung) beberapa waktu > lalu. Saat itu ditemukan seorang perempuan yang mengenakan busana mirip > akhwat pada umumnya: berjilbab panjang dan memakai jubah. Secara tak > sengaja, saat di toilet seorang akhwat melihat perempuan berjilbab itu > memakai kalung Salib. Bahkan saat diperiksa, di dalam tas perempuan > tersebut ditemukan Alkitab. > > Kecurigaan itu makin terasa saat para akhwat melaksanakan ibadah shalat. Di > saat semua orang melakukan rukun Islam kedua itu, perempuan berjilbab tadi > tidak melakukannya. "Saya mendapat informasi ini dari aktivis dakwah kampus > yang mengikuti kegiatan Tarbiyah," tegas Siti Nurjanah. Masih di sekitar > Bandung, kasus pemurtadan kali ini terjadi di Universitas Winayamukti > (Unwim) Jatinangor, Jabar. Korbannya, lagi-lagi akhwat, mahasiswi > Universitas Padjajaran (Unpad). Beberapa waktu lalu, ia didekati seorang > pria yang mengaku diri sebagai perwira polisi. Sejak pertama kali > berkenalan, pria ini terus saja menempel akhwat itu. > > Namun belakangan diketahui pria yang mengaku dari kesatuan polisi itu > adalah seorang Nasrani. Merasa sudah saatnya, ia pun mengajak akhwat ini > menikah dan pindah agama. Setelah menikah, akhwat ini tak pernah mengikuti > kegiatan Tarbiyah lagi. Tim Forum Antisipasi Kristenisasi dan Pendangkalan > Akidah (FITRAH) juga menceritakan kasus pemurtadan yang nyaris menimpa > seorang akhwat, mahasiswi UPI Bandung. Kasusnya terjadi pada akhir tahun > 2004 lalu. Mulanya, seorang akhwat diminta memberikan les privat bahasa > kepada orang asing beragama Nasrani. > > Lama-kelamaan keluarga itu melakukan pendekatan personal. Mereka melakukan > pendekatan persuasif, seperti mengajak jalan-jalan bareng. Saat akhwat ini > mengalami masalah ekonomi, mereka membantunya. Namun ujung- ujungnya, mereka > meminta akhwat ini pindah agama. Untuk menghindari hal-hal yang tidak > diinginkan, akhirnya ia pergi dari keluarga Nasrani itu. > > Kasus pemurtadan akhwat di Sumatera Barat tak kalah hebohnya. Kasus ini > terjadi di kampus Politani Universitas Andalas, Payakumbuh beberapa waktu > lalu. Sedikitnya 23 akhwat, mahasiswi Politani, kesurupan dan > menyebut-nyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Salib. September 2003 lalu > kasus serupa juga menghantam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Payakumbuh. > Sebanyak sebelas siswi kesurupan dan menunjukkan perilaku aneh, > menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, Salib dan menyatakan suka dengan > Injil. > > Kasus demi kasus pemurtadan yang mengincar akhwat terus menguak ke > permukaan. Ibarat fenomena gunung es, yang nampak dan muncul hanyalah > sebagian kecil saja. Sementara yang belum muncul ke permukaan, disinyalir > masih banyak. Karenanya, sudah seharusnya aparat kepolisian serius > menindaklanjuti laporan yang masuk, seperti terjadi di Sumatera Utara. > > Sambil menunggu tindakan aparat, yang penting dilakukan Muslim dan > Muslimah, khususnya para dai dan daiyah, adalah agar memberikan tarbiyah > (pendidikan Islam) secara utuh, sehingga mereka yang kerap jadi sasaran, > terhindar dari jerat-jerat pemurtadan yang sedang mengincar. Tak kalah > pentingnya adalah, selalu waspada. Beragam info di atas, jadikan pelajaran > dan pengalaman, agar terhindar dari upaya-upaya busuk mereka. Jika tidak, > gawat! > > Rivai Hutapea *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

