http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3223
Cermin Sistem Pendidikan yang Buruk
Oleh Infan Nugraha
Oleh admin padek 1
Rabu, 20-Juli-2005, 11:44:02
Penerimaan siswa baru (PSB) selalu membuat histeria. Para orangtua
siswa sibuk (baca: panik) memilih sekolah lanjutan bagi anaknya yang baru saja
lulus. Sekolah negeri menjadi pilihan bagi sekolah lanjutan.
Karena selain memiliki kualitas baik, biaya sekolah yang murah merupakan
salah satu alasan para orangtua murid berhasrat untuk memasukkan anaknya ke
sekolah tersebut.
PSB merupakan sarana penyaringan siswa yang baru lulus untuk memasuki
sekolah negeri pilihan. Hasil nilai UAN (NEM) menjadi parameter penentu apakah
siswa itu berhak masuk atau tidak. Ketika NEM siswa tersebut mencapai passing
grade sekolah yang dituju, maka dia berhak masuk sekolah itu. Namun jika
nilainya tidak mencapai batas passing grade, otomatis dia tidak dapat memasuki
sekolah yang dikehendaki.
Saat ini, PSB menggunakan sistem baru yang mudah, praktis, dan modern.
Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan orangtua siswa dalam mendaftarkan anak ke
sekolah yang dituju.
Dengan fasilitas online melalui internet dan layanan SMS yang disediakan
Dikmenti, para orangtua siswa setiap saat dapat memantau perkembangan terbaru
di sekolah yang menjadi pilihan. Dengan demikian, mereka tidak perlu
repot-repot mendatangi sekolah tersebut.
Namun, ternyata, sistem baru itu belum banyak dipahami para orangtua
siswa. Sebagian besar orangtua siswa mengaku kebingungan dan kesulitan dengan
sistem baru PSB tersebut. Mereka beralasan belum mendapatkan sosialisasi sistem
baru tersebut secara maksimal sehingga belum banyak mengetahui prosedur sistem
baru itu.
Sistem baru yang seharusnya memudahkan orangtua siswa menjadi sesuatu
yang kontraproduktif. Yakni, hanya menambah kebingungan serta meningkatkan
kegelisahan di kalangan orang tua siswa.
Kebingungan serta kegelisahan yang melanda para orang tua siswa
menimbulkan suatu kehisterian tersendiri. Hal itu terekspresikan pada
antrean-antrean panjang yang tak tertib di beberapa sekolah negeri. Antrean
panjang yang tak tertib tersebut seharusnya tidak terjadi jika pihak sekolah
siap menanggulangi hal yang selalu terjadi setiap tahun itu. Selain itu,
kekurangterbukaan penerimaan siswa baru mengakibatkan beberapa orang tua siswa
kecewa dan menimbulkan prasangka serta menyulut konflik. Sebagai contoh, sering
terjadi siswa diterima di sebuah sekolah setelah dilakukan deal-deal.
Padahal,seharusnya dia tidak diterima karena NEM-nya tidak mencukupi.
Deal-deal yang seharusnya tidak terjadi dan dapat dihindari demi menjamin
kualitas dunia pendidikan Indonesia pada realitanya banyak terjadi, tak hanya
di kota-kota besar, tapi telah merambah ke berbagai pelosok daerah. Hal itu
bukan semata-mata bentuk kehisterian orang tua siswa yang khawatir terhadap
anaknya sehingga merasa harus melakukan deal-deal tersebut.
Namun, buruknya sistem PSB yang menyediakan ruang untuk praktik tersebut
merupakan penyebab utama terjadi praktik-praktik semacam itu.
Hal tersebut merupakan sebuah gambaran betapa terpuruk dunia pendidikan
Indonesia. Ketidaktertiban dalam penyelenggaraan PSB dapat membuat sistem itu
menjadi tidak berfungsi dengan baik. Sebagai sarana penyaring siswa baru, pada
hakikatnya, PSB merupakan garda depan dalam menjaga keberlangsungan sistem
pendidikan Indonesia.
Ketika ketidakberesan terjadi, sistem pendidikan Indonesia akan menurun,
baik secara kualitas maupun keberlangsungan sistem itu sendiri.
Ketidakberesan PSB bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi dunia
pendidikan Indonesia. KKN, buruknya fasilitas sekolah, rendahnya kualitas guru
dan siswa, perkelahian antarsiswa, dekadensi moral, dan rendahnya minat belajar
merupakan permasalahan lain yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia.
Banyaknya permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia
merupakan gambaran buruk sistem pendidikan di Indonesia. PSB sebagai awal
langkah dalam sistem pendidikan Indonesia tidak seharusnya menimbulkan suatu
ketidakberesan sehingga memunculkan histeria serta menyeret ketidaktertiban
dalam PSB tersebut.
Jika PSB dapat berjalan baik, hal itu bukan tidak mungkin menjadi suatu
tolakan bagi perbaikan sistem pendidikan Indonesia. Saat PSB berjalan dengan
baik, kekhawatiran dan kegelisahan para orang tua murid dapat mereda dan akan
mereduksi kehisterian yang terjadi. Sebab, kehisteriaan yang terjadi pada PSB
merupakan cermin buruk sistem pendidikan Indonesia.
*Penulis adalah mahasiswa Antropologi UI Angkatan 2004.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/