--- In [email protected], Andrew Yuen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Anda setuju subsidi terhadap BBM dicabut dengan alasan membebani
anggaran 
> negara, akan tetapi pemberlakuan pajak progresif yang mendatangkan 
> pendapatan negara dalam jumlah yang cukup signifikan dan tidak menyiksa 
> perut rakyat malah anda tentang. Dengan alasan modal akan lari keluar 
> negeri. Disini anda tampak ambigu, dan nyata-nyata menelan ludah anda 
> sendiri tentang pro-rakyat atau tidak. Buat saya, sah-sah saja
pemberlakuan 
> pajak progresif itu, biar saja modal dalam negeri keluar, toh modal
luar 
> juga akan masuk.


Pemberlakuan pajak progressif memang seakan-akan kerakyatan. Tapi
sesungguhnya adalah kebodohan. Dan ini sudah dibuktikan lama dalam
teori dan bukti empiris di banyak negara. 

Saya memang menyederhanakan karena tidak mau bicara jargon. Tapi
kaidah ini sudah cukup lama dikenal dikalangan ekonom, tapi memang
tidak di kalangan awam. Diamond-Mirless tax analysis. Marginal Pajak
progressif justru membuat 'intertemporal substitution' orang di income
level tinggi pindah dari bekerja ke tidak bekerja (leisure), atau
pindah dan bekerja di negara lain. Jadi akan ada eksodus human dan
physical capital, untuk mencari ongkos yang murah, yang di Indonesia
sudah terbukti marak. Net effectnya, pendapatan negara justru
berkurang, dan yang seakan-akan kerakytakan, sekonyong-konyongnya
menjadi konyol.

> 
> Anda tinggal di pedalaman yah? sehingga tidak pernah menggunakan 
> transportasi umum?
> Yang paling berdampak jelas itu yah transportasi publik dan apabila
sektor 
> ini naik, otomatis harga kebutuhan pokok pun naik. Bagi orang
seperti anda 
> dan saya sih kiranya tidak ada masalah dengan naiknya kebutuhan pokok 
> tersebut, ataupun naiknya BBM... toh kita masih sempat bisa buang waktu 
> nyampah wacana di internet dengan posting seperti ini.


Kebutuhan pokok pasti naik. Tapi bukankah sekarang dengan defisit
anggaran, inflasi juga sudah naik (nah loh anda yang tinggal dimana?)
Artinya sama saja toh. Defisit anggaran berarti inflasi. Ricardian
equivalent (jargon lagi). Dan selama defisit selama itu pula akan ada
inflasi. Untuk setiap tahun ke depan. Ini salah satu penyebab sampai
sekarang inflasi di Indonesia tidak bisa ditekan di bawah lima persen.

Jadi lebih baik dipotong sekali saja, dan tidak menjadi masalah
struktural tahunan. 

(lihat posting saya untuk komplitnya di
http://mimodjo.blogspot.com/2005/07/kelangkaan-bbm-apbn-dan-rupiah.html)

> Jujur saja, saya juga setuju dicabutnya "semua" subsidi disegala
sektor... 
> terutama sektor yang berkaitan dengan publik... kadang-kadang rakyat
perlu 
> dididik untuk melawan, dan syaratnya yah perlu ditekan sampai lapar
dulu..
> Terlalu lama dijajah jadi kaum lemah... lantas ditambah lagi dengan
ide-ide 
> sok segar beginian...
> 
> -ay-



> On 7/20/05, Mohamad Ikhsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> >  Assalamu `alaikum 
> > 
> > Hitung-hitung bantu pemerintah. Gratis sekalian belajar propaganda!
> > Ngak ada IMF, ngak ada World Bank, ngak ada Neo-Liberal di belakang
> > saya. Cuman muak saja dengan kebodohan yang semakin membabi buta dan
> > menjerumuskan.
> > 
> > Salam, 
> > 
> > Ikhsan Modjo
> > http://mimodjo.blogspot.com
> > 
> > 
> > (Artikel ini juga boleh dimuat dan di forward ke mana saja, on-line,
> > offline, secara cuma-cuma - saya tidak takut tidak populer :P)
> > 
> > --------------
> > 
> > Subsidi harus dihapus dan dihapus sekarang juga. Cukup sudah anggaran
> > negara terbebani dengan meningkatnya harga komoditi ini. Diakhiri saja
> > cerita sedih ketidakadilan yang seolah-olah kerakyatan ini. 
> > 
> > BBM memang adalah komoditi strategis. Tapi bukan berarti harus
> > disubsidi. Banyak komoditi lain lebih strategis tapi tidak disubsidi.
> > Air putih yang lebih vital untuk kehidupan pun tidak disubsidi. 
> > 
> > Guru dan dokter bisa berjalan kaki atau sepeda ke tempat kerja. Mereka
> > tidak perlu BBM, tapi tidak air putih. Hidup butuh air. Memasak
> > Indomie butuh air putih, makan Ubi pun tidak enak rasanya kalau tidak
> > berair. Mengapa BBM yang harus disubsidi?
> > 
> > Penyelarasan harga bukan penyesuaian pola konsumsi standar
> > internasional. Tapi penghindaran alokasi tidak tepat dan pemborosan. 
> > 
> > Harga adalah insentif. Harga adalah sinyal. Melalui insentif dan
> > sinyal berupa harga komoditi dialokasikan. Jika harga terdistorsi,
> > maka pemborosan terjadi. Komoditi dialokasikan bukan pada prioritas
> > tapi pada kesewenang-wenangan. 
> > 
> > Tidak mengherankan kalau dikatakan Indonesia termasuk empat besar
> > terboros soal BBM di dunia. Dengan subsidi penghematan hanya sebatas
> > wacana tanpa aksi. 
> > 
> > BBM bukan untuk orang miskin. Sebagian besar konsumen BBM adalah
> > menengah ke atas. Bukan orang miskin. Tidak percaya data, tidak
> > percaya angka. Coba lihat saja pameran mobil mewah di pompa-pompa
> > bensin ketika komoditi ini langka. 
> > 
> > Mereka yang memakan subsidi. Para tuan dan nyonya yang per tahunnya
> > minimal telan subsidi empat juta rupiah. Mereka makan uang hasil jerih
> > payah kita. Uang pajak hasil peras keringat, banting tulang saya, anda
> > dan semua pegawai Indonesia, bahkan yang kadang bau bensin pun tidak
> > tercium. 
> > 
> > Bagi saya adalah jelas. Pajak yang setiap bulan saya bayarkan dari
> > gaji pas-pasan dibawah upah minimum, dunia akhirat, TIDAK saya
> > relakan untuk digunakan membayar subsidi BBM. 
> > 
> > Mengapa pula BBM selalu langka ketika harga minyak dunia naik? Sebab
> > penimbunan dan penyelundupan meningkat. Distributor, penjual dan
> > konsumen yang rasional akan menimbun dan menahan komoditi ini atau
> > mengalokasikan pada pasar (gelap atau luar negeri) yang membayar lebih
> > mahal. 
> > 
> > Selama BBM masih disubsidi, selama itu pula BBM akan langka dan hilang
> > dari peredaran ketika harga minyak naik. Dan lagi-lagi rakyat yang
> > jelata yang akan menerima akibatnya. 
> > 
> > Dengan subsidi, defisit APBN membengkak. Pengeluaran negara otomatis
> > meningkat seiring fluktuasi harga internasional. Belanja meningkat
> > maka inflasi pun membengkak. Ini penyakit struktural ekonomi yang tiap
> > tahun terus melekat selama ada subsidi.
> > 
> > Sekarang juga ada depresiasi. Ini pun lagi-lagi karena subsidi. Jadi
> > lebih baik potong sekarang, dan lupakan inflasi serta depresiasi
> > struktural itu. Lebih baik menderita satu kali ketimbang berulang kali
> > akibat kebodohan yang sama. 
> > 
> > Teori dan praksis semua menunjuk pada subsidi langsung, bukan
komoditi.
> > 
> > Subsidi langsung bukan muskil. Subsidi langsung bukan mustahil.
> > Lupakah kita pada keberhasilan IDT, JPS atau PPK Bappenas? Yang sampai
> > saat inipun masih ada, hidup dan berjalan. 
> > 
> > Lebih jauh kebelakang, ke era orde baru, lupakah kita dengan
> > keberhasilan berbagai proyek inpres/ banpres yang mendapat banyak
> > pujian internasional. Ada revolusi pertanian, ada swasembada pangan,
> > ada penurunan ketimpangan, ada pemberantasan kemiskinan. Sekarang
> > semua mati dan sekarat tinggal menjadi subsidi.
> > 
> > Kita tahu caranya. Kita punya infrastrukturnya. Yang kita hanya butuh
> > kesadaran dan akal sehat. Hapus subsidi berantas kemiskinan. 
> > 
> > Rakyat butuh pangan, kesehatan dan pendidikan. Bukan subsidi BBM.
> > Subsidi hanya untuk para tuan dan nyonya kaya, yang anaknya sering
> > ngebut sembarangan di jalan dekat rumah, dan membahayakan
anak-anak kita.
> > 
> > Pajak progresif juga bukan solusi bijaksana. Sebab bukankah Mirlees,
> > sang peraih nobel ekonomi itu, sudah menulis di master piecenya pada
> > tahun 1971 bahwa pajak progresif justru menurunkan pendapatan dan
> > kaburnya modal ke luar negeri. 
> > 
> > Sudah uang habis dihamburkan untuk subsidi, penerimaan negara pun
> > menurun. Apa betul ini yang diinginkan?
> > 
> > STOP omong kerakyaratan kalau masih setuju SUBSIDI BBM. 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "Yopie Peranginangin" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> > > Clear DayPenghapusan (lagi) Subsidi Minyak
> > > 
> > > Farid Gaban | Pena Indonesia
> > > 
> > > (Note: Artikel ini boleh dimuat di mana saja, online atau offline,
> > > secara cuma-cuma]
> > > 
> > > Melalui Menteri Negara Pembangunan dan Kepala Bappenas Sri Mulyani,
> > > pemerintah mengatakan sedang menimbang penghapusan lagi subsidi
bahan
> > > bakar minyak. Salah satu argumennya adalah naiknya harga minyak di
> > > pasaran internasional, yang membuat nilai subsidi membengkak.
> > > 
> > > Sekilas nampak logis menghapus subsidi dengan dalih naiknya harga
> > > minyak di pasaran internasional. Padahal, ini argumen absurd.
> > > 
> > > Bahan bakar adalah komoditas strategis. Bahan bakar merupakan
komponen
> > > hampir setiap barang yang kita konsumsi dan setiap jasa yang kita
> > > nikmati. Layanan pendidikan atau kesehatan dasar, misalnya,
mengandung
> > > unsur guru atau dokter, yang membutuhkan makan dan transportasi
untuk
> > > berangkat kerja. Makanan harus dimasak. Pabrik mie instan pun perlu
> > > bahan bakar untuk memprosesnya, bahkan ubi pun harus dimasak.
> > > 
> > > Mendasarkan penghapusan subsidi kepada harga minyak di pasaran
> > > internasional sama saja dengan menyandarkan pola konsumsi kita pada
> > > standar internasional. Pemerintah memaksa rakyat Indonesia, yang
> > > rata-rata miskin, menjangkau harga produk dan jasa yang setara
dengan
> > > orang di Amerika atau Eropa. Dan jelas mereka takkan mampu.
> > > 
> > > Penghapusan subsidi memangkas daya beli rakyat terhadap produk dan
> > > jasa. Makin tinggi harga minyak pasaran internasional, dan makin
> > > sedikit subsidi, makin rendah daya beli masyarakat. Makin sulit
mereka
> > > memperoleh produk dan layanan, bahkan yang kualitasnya sangat rendah
> > > pun, jauh lebih rendah dari standar internasional. Dan coba
bayangkan
> > > jika harga minyak di pasaran internasional mencapai US$ 100 per
barel
> > > seperti diramalkan oleh sejumlah pakar. Haruskah rakyat miskin
> > > Indonesia membeli semua produk dan jasa yang terikat pada minyak
tanpa
> > > subsidi?
> > > 
> > > Subsidi adalah keharusan. Dan salah satu tugas pemerintah yang
hakiki
> > > memang memberi kemudahan kepada rakyatnya, yang salah satunya
> > > mengambil bentuk pemberian subsidi.
> > > 
> > > Dalam kebijakan publik kita mengenal ada dua bentuk subsidi: subsidi
> > > langsung dan subsidi tidak langsung. Subsidi bahan bakar minyak
selama
> > > ini adalah subsidi tidak langsung, pemerintah tidak membagi-bagikan
> > > minyak secara langsung kepada rakyat, tapi menopang harga minyak
agar
> > > tetap murah. Dan dengan harga minyak yang relatif murah, rakyat bisa
> > > mendapatkan produk dan layanan yang murah pula.
> > > 
> > > Subsidi tak langsung seperti itu memang ada kelemahannya, karena
bisa
> > > secara tidak proporsional dinikmati orang kaya, pemilik mobil
pribadi,
> > > pemakai barang-bawang mewah yang boros energi. Ini memang tidak
adil.
> > > 
> > > Pemerintah selama ini mencoba membuat koreksi terhadap kemungkinan
> > > ketidakadilan tadi, yakni dengan menyisihkan dana kompensasi. Dana
> > > ini, dalam teori, diberikan secara langsung: beras, beasiswa,
dan obat
> > > untuk orang miskin. Tapi, kompensasi seperti itu tidak mungkin
> > > efektif, seperti sudah dikeluhkan selama ini.
> > > 
> > > Dana kompensasi pada dasarnya merupakan bentuk subsidi langsung,
yakni
> > > langsung kepada orang miskin. Ini membutuhkan data yang akurat
tentang
> > > siapa orang miskin dan bagaimana subsidi itu bisa disalurkan kepada
> > > mereka secara "door to door". Distribusi dari pintu ke pintu adalah
> > > esensi subsidi langsung.
> > > 
> > > Ada 100 juta lebih orang miskin di Indonesia dengan standar
pendapatan
> > > di bawah US$ 2 per hari. Ada problem untuk mendistribusikan
kompensasi
> > > kepada seratus juta orang tadi. Pekerjaan raksasa yang muskil, belum
> > > lagi memperhitungkan kebocoran dan korupsi di sepanjang jalur
> > distribusi.
> > > 
> > > Namun, ada problem yang lebih serius. Pemerintah sendiri, seperti
> > > diakui Kepala Bappenas Sri Mulyani, tak punya data akurat tentang
> > > orang miskin di Indonesia. Sandard yang dipakai Biro Pusat
Statistik,
> > > berbeda dengan standar badan pemerintah lain, seperti BKKBN,
misalnya.
> > > Pemerintah sendiri bingung mana data yang mau dipakai.
> > > 
> > > Lebih dari itu, data perkiraan orang miskin didapat lewat metode
> > > random sampling, bukan lewat sensus dari pintu ke pintu. Pemerintah
> > > tak punya alamat orang miskin yang mau diberi kompensasi.
> > > 
> > > Subsidi tidak langsung, seperti subsidi bahan bakar yang diterapkan
> > > pemerintah di masa lalu, sudah benar dan tak terhindarkan. Memang
> > > harus ada mekanisme koreksi agar subsidi tidak dilahap sebagian
besar
> > > oleh orang kaya. Ada banyak mekanisme koreksi sebenarnya. Salah
> > > satunya dengan pajak progresif untuk barang mewah.
> > > 
> > > Penghapusan subsidi minyak bukanlah keputusan bijaksana, bahkan jika
> > > harga minyak di pasar internasional mencapai US$ 100 per barel,
karena
> > > dampaknya sangat luas dan mendalam bagi rakyat miskin. Mekanisme
> > > penerapan pajak progresif lebih bijaksana, karena dampaknya
cenderung
> > > hanya dirasakan orang kaya.
> > > 
> > > Dengan cara ini, pemerintah juga tak perlu berteriak-teriak
menghimbau
> > > agar rakyat menghemat energi. Dengan penerapan pajak progresif,
orang
> > > kaya yang selama ini melahap konsumsi energi lebih banyak, akan
> > > berpikir sendiri untuk berhemat. Dan jika mereka merasa terlalu kaya
> > > untuk tidak berhemat, pemerintah akan memperoleh pendapatan lebih
> > > besar dari pajak.*
> > > 
> > > Best Regards
> > > 
> > > Jopi Peranginangin
> > > 
> > > 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> >  
> > 
> >  
> >
***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia 
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://www.ppi-india.org
> > 
> >
***************************************************************************
> >
__________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> > 
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >  
> > 
> > 
> >  ------------------------------
> > YAHOO! GROUPS LINKS 
> > 
> > 
> >    - Visit your group
"ppiindia<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia>" 
> >    on the web.
> >     - To unsubscribe from this group, send an email to:
> >   
[EMAIL PROTECTED]<[EMAIL PROTECTED]>
> >     - Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
> >    Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/>. 
> > 
> > 
> >  ------------------------------
> >  
> 
> 
> 
> -- 
> =============================================================
> Perjuangan Melawan Kekuasaan adalah Perjuangan Ingatan Melawan Lupa 
> -Milan Kundera-
> =============================================================
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke