http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/23/n1.htm
Tim Pemburu Koruptor Temukan Aset Eddy Tansil Jakarta (Bali Post) - Hampir satu tahun terbentuk, tim pemburu koruptor belum juga mampu menangkap dan memulangkan satu pun penilep uang negara. Namun, ada sedikit kabar yang menggembirakan, tim menemukan aset kekayaan seorang koruptor. Dalam waktu dekat aset berupa tanah seluas lima hektar segera disita. ''Tanah itu milik Eddy Tansil yang merupakan terpidana kasus korupsi pembobolan Bank Bapindo. Aset itu segera disita sebagai bagian dari usaha untuk mengembalikan kerugian negara. Memang nilainya tak sepadan dengan kerugian yang diakibatkan, tetapi setidaknya kerugian negara bisa dikurangi,'' kata Ketua Tim Pemburu Koruptor Basrief Arief di Jakarta, Jumat (22/7) kemarin. Basrief yang juga merupakan Wakil Jaksa Agung ini mengatakan kalau eksekusi penyitaan atas tanah tersebut telah dilakukan, secepatnya pula tanah itu dilelang. Kini pihaknya tengah mempersiapkan berbagai keperluan administrasinya untuk menguasai tanah yang dibeli terpidana Eddy Tansil dari uang haram tersebut. Sebagaimana diketahui, terpidana Eddy Tansil merupakan adik kandung mantan bos Bank Harapan Santosa (BHS) Hendra Rahardja. Kakak-beradik itu sama-sama koruptor dan berhasil melarikan diri ke luar negeri. Sedangkan untuk kasus Eddy Tansil, PN Jakarta Pusat pada akhir 1995 silam memvonisnya dengan hukuman penjara 20 tahun penjara. Selain menjatuhinya dengan hukuman fisik, pengadilan juga memerintahkan untuk membayar denda Rp 30 juta, uang pengganti Rp 500 milyar dan membayar kerugian negara Rp 1,3 trilyun. Bersamanya juga ikut dijatuhi hukuman penjara empat pejabat Bank Bapindo. Setelah beberapa lama mendekam di LP Cipinang, bos PT Golden Key itu kabur pada 4 Mei 1996. Hingga kini, Eddy Tansil belum berhasil dibekuk. Pada bagian lain, Basrief Arief mengatakan tim pemburu koruptor juga tengah mengejar Maria Pauline Lumowa. Buronan ini merupakan otak dari pembobolan BNI senilai Rp 1,7 trilyun. Pencarian terus menggali informasi dari Yoke Yola Sigar dan Dicky Iskandar Dinata. Kedua tersangka yang diduga ikut membobol BNI itu, kini meringkuk di ruang tahanan Mabes Polri. ''Kami terus mengembangkan untuk mendapatkan keberadaan yang pasti dari buronan tersebut. Untuk memburu dan menangkap Pauline Lumowa, tim akan melakukan pembahasan dengan menggelar pertemuan di Kantor Menko Polhukam pekan depan,'' tuturnya. Mengenai kemungkinan sidang in absensia bagi Pauline Lumowa yang bersembunyi di luar negeri, Wakil Jaksa Agung ini menyatakan sangat mungkin. Pasalnya, terhadap koruptor yang tidak bisa ditangkap ada peluang untuk perkaranya diajukan tanpa dihadiri terdakwa. Tetapi pengajuan sidang itu merupakan upaya terakhir. Kalau masih bisa ditangkap, tetap terus diusahakan. ''Pengajuan perkara untuk disidangkan secara in absensia harus didukung alat bukti yang cukup. Perburuan akan terus dilakukan. Makanya, pemerintah segera membentuk tim lapangan yang ditugaskan memburu koruptor serta asetnya yang berada di dalam maupun di luar negeri,'' kata mantan Jamintel ini. (kmb3) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

