http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/23/fea01.html


Gereja Kristus Tuhan
Jadi Korban Pelebaran Kali Cideng
 
Jakarta-Sekali lagi, atas nama pembangunan-kali ini titel lengkapnya 
normalisasi Kali Cideng-sebentar lagi sebuah gedung gereja tua akan tinggal 
kenangan. Warga Ibu Kota ini hanya akan melihat wujudnya dalam bentuk foto-foto 
dokumentasi saja.
Gedung Gereja Kristus Tuhan di pojok Jl Fachruddin, Tanah Abang, di tepi Kali 
Cideng sempat menjadi semacam landmark Tanah Abang. Gereja ini dibangun pada 
awal tahun 1920-an, dan sebelumnya digunakan sebagai pabrik minuman F&N. Peta 
Batavia pada 1921 mencatatnya sebagai tempat membuat batu dan bahan tanah liat. 


Kemudian rumah itu dijadikan butik oleh pengarang lagu anak, Ibu Sud, dan 
bagian atasnya dihuni oleh Mang Udel, seorang seniman yang terkenal dengan 
sinetron Losmen di zaman TVRI sedang jaya-jayanya.


Pada 1956, gedung itu dijadikan sekolah Kristen bernama Sion dan tercatat 
pemiliknya bernama Yang Wei Pin. Saat itulah, gedung itu juga dipakai sebagai 
tempat ibadah. Akhirnya, sejak tahun 1980 gedung itu resmi menjadi gedung 
Gereja Kristus Tuhan.


Pada awal 1990-an, gereja ini sempat terancam penggusuran akibat proyek 
trippledekker, rencana itu kandas seiring jatuhnya Soeharto.

 
Saat ini, gereja itu kembali berhadapan dengan sebuah rencana besar, 
normalisasi Kali Cideng berbanderol sekitar Rp 9 miliar. Kali Cideng di sisi 
gereja harus diperlebar karena dianggap sebagai biang keladi banjirnya Jl MH 
Thamrin dan sekitarnya pada Jumat, 15 Juli 2005, lalu.


Simpang-siur tentang nasib gereja itu makin jelas jika kita menilik berbagai 
komentar para pejabat daerah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Fodly 
Misbach, Rabu (20/7), mengatakan proyek normalisasi kali tidak harus 
mengorbankan gedung gereja tua itu.


Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Agung 
Widodo, Kamis (21/7), mengatakan bangunan gereja tua di pinggir Kali Cideng, 
Jembatan Serong, Tanah Abang, itu tidak masuk cagar budaya yang dilindungi. 
Artinya, bangunan itu bisa direnovasi atau dibongkar. 


Gereja tua itu telah ada jauh sebelum sebuah jalan bernama Jl. MH Thamrin, 
pertokoan Sarinah, dan berbagai gedung elite di sekitarnya hadir dan kemudian 
mengalami banjir. Gereja itu telah muncul sebelum sebuah kota bernama Jakarta 
dibangun dengan bentuk yang bopeng di sana sini.


Namun ternyata, gereja itu harus menanggung segala akibat kekacauan tata ruang 
dan tata letak kota ini. Bagaimana jika ternyata setelah gereja dibongkar 
banjir tetap melanda jalan utama itu?
Hari-hari ke depan akan memberi jawaban, apakah bangunan itu akan menjadi 
tinggal kenangan dan dikorbankan demi derap pembangunan. Kalau ternyata tetap 
banjir, dibongkar saja sekalian gedung-gedung besar itu. Lumayan, bisa buat 
serapan air hujan. 



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke