lha iya mas, nabi dan para sahabat generasi pertama islam
dulu sejauh yang saya baca selalu melakukan dua hal tiap
kali pergi ke tempat baru:
1. mencari/mendirikan tempat ibadah
2. mencari/mendirikan pasar

usman misalnya ketika hijrah dari mekah ke medinah,
menolak menerima separuh harta seorang anshar....
dia cuma minta ditunjukkan letak pasar agar bisa mencari
nafkah sendiri dengan keterampilan dagangnya....

perdagangan/ekonomi pasar adalah kelaziman bagi
muslim di masa itu.... pemerintah tak mencampuri urusan
perdagangan, cuma bertugas mengumpulkan zakat
(dari orang islam) dan pajak (dari non muslim) untuk
dikumpulkan dalam baitul mal....

selanjutnya duit baitul mal digunakan untuk pembangunan
infrastruktur dan menyantuni fakir miskin (tanpa
memandang agama....)

tapi tak bakal ada duit yang bisa dikumpulkan dari zakat
atau pajak kalau ekonomi (pasar) tak berjalan baik....

karena itu pemerintah tak boleh menciptakan distorsi
ekonomi, justeru harus memberantas distorsi ekonomi....
contohnya seperti dilakukan umar or usman (?) yang
menegur seorang yahudi karena menyewakan kios di
pasar dengan harga kelewat mahal....

btw, kalo sekarang ini kan ekonomi pasar tak pernah
diberdayakan.... ekonomi selalu penuh distorsi, tapi
tiap kali muncul masalah, ekonomi pasar yang
jadi kambing hitam untuk disalah-salahkan....

salam,



At 01:51 PM 7/25/05 +0700, you wrote:
>1. Lho, mas mas,
>
>Makanya kaum beragama dikenal sebagai kapitalis juga.
>Gak Kristen, gak Muslim, gak Hindu, gak Kong Hu Cu.
>
>Opomaneh, nabine mantan pedagang, mantan panglima perang.
>Anak turune yo kapitalis ekspansionis.  Wong saingane
>Persia plus Romawi, jeeee.  Jadi jangan heran kalo orang Barat
>belajar dari Arab Muslim, terus menyerap taktik ini.
>Jadilah dia Kapitalis Ekspansionis baru.
>
>Lha sekarang kok marah marah sama barat ... :P
>
>2. Sorry itu ide provokatif sejenak.  Kembali calm down
>dulu dech ....
>
>Menarik mengamati konsep para pemikir awal tentang
>pasar dan regulasinya, perputaran uang, pengaturan fiskal
>dan belanja negara, sistem moneter, trus jaman Umar bin Abdul Azis
>itu dia bikin pemerataan pendapatan dengan cara membebaskan
>pajak atas tanah (kharaj) pada orang Islam sehingga orang
>berbondong - bondong convert ke Islam untuk dapat
>dispensasi model tanah perdikan ini sehingga ketika masa pembagian
>zakat orang udah berkeccukupan (untuk level waktu itu)
>sehinggan yang bagi bagi zakat bingung, di China pernah
>di coba cara ini, setelah beberapa puluh tahun negara dedel duwel
>karena pemasukan pajak turun drastis (untung Umar bin Abdul
>Azis ini cuma memrintah 3.5 tahun saja).  Lengser (meninggal sih
>sebenarnya) di masa jaya, jadi gak perlu melihat kegagalan
>policy ekonominya.  Malah namanya jadi legenda.
>
>Kitab kitab kuning itu sampai sekarang masih ada, namun
>karena pembacaan dan konteks yang berbeda, banyak pengetahuan di
>sana yang seolah nggak applicable.  Menjawab pertanyaan,
>kenapa di Jawa pedalaman ilmu ekonomi gak berkembang. dan
>orang jadi subsisten, Lha kultur di timur tengah di msa kitab itu dibuat
>kondisinya perdagangan internasional maju dan lagi ekspansi wilayah,
>sehingga banyak yang jadi pedagang dan kelas menengah, tapi di jawa
>kebanyakan petani saja.  Trus yang ngajar kitab bukan pakar ekonomi,
>sama aja diajarin kalkulus sama tukang becak.  Gak ada transfer
>pengetahuan yang memadai untuk dipakai di masyarakat.
>
>
>salam,
>Ari Condro



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke