Pada masa Orba kita bisa menerapkan pegged Currency. Cina bisa. Saya yakin kita juga bisa.
Yang penting lalu-lintas devisa harus dikontrol. Spekulan valas harus diberantas dengan meneliti untuk apa dia beli valas serta pengenaan pajak transaksi valas, misalnya 1% dari nilai transaksi. Jika kita tetap menerapkan floating currency, "pelaku pasar" atau spekulan valas akan "senang." Mereka akan "menggoreng" atau "mengguyur" nilai rupiah hingga turun-naik sesuai keinginan mereka agar untung. Nilai rupiah yang fluktuatif turun-naik ibarat garis detak pada osciloscope. Memberikan kehidupan bagi para spekulan valas/pelaku pasar. Pada pegged currency sebaliknya. Nilai yang statis berupa garis lurus, ibarat garis detak jantung pada osciloscope. Mati bagi bagi para spekulan. Mana yang lebih penting: Kepentingan rakyat atau kepentingan para spekulan valas/pelaku pasar? --- M Ikhsan Modjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Solusi untuk rupiah mungkin hanya dua: Cabut subsidi > BBM, atau mungkin > - sekedar mungkin, saya tidak yakin juga - kembali > ke kurs tetap > (pegged currency). > > Masalahnya mungkin apakah cadangan devisa kita, > sekarang dan in the > near future mencukupi? Ada yang mau mendiskusikan? > > Wassalam > > > > http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=182046 > > Selasa, 26 Juli 2005, > Dampak Revaluasi Yuan > > Oleh M. Ikhsan Modjo * > Setelah sekian lama mematok nilai yuan pada 8,3 per > USD, the People's > Bank of China (Bank Sentral China), pada Kamis > (21/7), merevaluasi > (meningkatkan) nilai mata uang yuan sebesar 2,1 > persen sehingga > menjadi 8,11 per USD. > > Pada saat yang sama, nilai yuan ditoleransi untuk > bergerak 0,3 persen > naik atau turun terhadap USD dan 1,5 persen terhadap > sekeranjang mata > uang internasional lain. Sebelumnya, kurs mata uang > China itu dipasak > (pegged) tetap terhadap USD. Itu berarti, terdapat > perubahan manajemen > kurs dari kurs tetap (fixed exchange rate) ke > setengah tetap (semi > fixed exchange rate). > > Ada dua alasan revaluasi tersebut. Pertama, adanya > tekanan politik > dari Amerika Serikat (AS). Sebagaimana diketahui, > pemerintah AS telah > lama menuding China membiarkan mata uangnya dinilai > terlalu rendah > (undervalued) melalui sistem kurs tetap. > > Rendahnya kurs menyebabkan lebih kompetitifnya > produk ekspor China > daripada produk domestik AS secara tidak adil dan > menggelembungnya > nilai defisit perdagangan AS, yang hingga saat ini > telah mencapai > hampir delapan persen dari tingkat produk domestik > bruto (PDB). > > Alasan kedua, yang lebih utama, revaluasi mata uang > yuan dilakukan > untuk meredam mesin perekonomian China yang sangat > panas. Sepanjang > 2005, China telah mencatat surplus neraca > perdagangan sebesar USD 39,6 > miliar. > > Nilai surplus itu, berikut investasi asing yang > masuk, menyebabkan > meningkatnya cadangan devisa negara tersebut ke > angka USD 711 miliar, > kedua terbesar di dunia setelah Jepang. > > Derasnya modal masuk (capital inflow) melalui > surplus di atas > menyebabkan perekonomian China tumbuh sangat > dramatis sebesar 9,5 > persen pada triwulan kedua 2005. Satu angka yang > sangat tinggi, bahkan > untuk ukuran negara tersebut. > > Tidak mengherankan bila harga-harga pun melonjak > drastis. Di sektor > properti terdapat peningkatan hampir 10 persen harga > rumah dan 12 > persen harga tanah pada 35 kota besar di China. > > Dengan perekonomian yang seakan berlari sprint, > otoritas di negara > tirai bambu itu mulai gelisah dan berupaya > melambatkan lari > perekonomian tersebut. Upaya melalui peningkatan > suku bunga tidak > berjalan efektif, terhambat oleh masih > tersentralisasinya struktur > keuangan dan pasar obligasi yang belum begitu > sempurna di negara itu. > Jadi, tidak mengherankan bila revaluasi menjadi satu > alternatif untuk > menghambat lari kencang perekonomian. > > Akibat bagi Indonesia > > Yang menjadi pertanyaan, apa akibat revaluasi t > ersebut bagi perekonomian Indonesia? > > Secara umum, pada jangka pendek, revaluasi nilai > yuan akan berdampak > positif terhadap perekonomian Indonesia. Komoditas > ekspor Indonesia > akan menjadi lebih murah di China sehingga > berpotensi untuk > meningkatkan nilai surplus perdagangan bilateral, > yang tahun lalu > sudah mencapai USD 8,5 miliar. > > Begitu juga secara multilateral, produk ekspor > Indonesia akan > bertambah kompetitif untuk bersaing dengan > produk-produk China di > pasar internasional. > > Para pelaku pasar, tampaknya, mengantisipasi akan > adanya peningkatan > surplus jangka pendek di atas. Hal itu terlihat > dengan menguatnya > rupiah pada perdagangan Jumat (22/7) dari Rp 9.810 > menjadi Rp 9.795 > per USD. Begitu juga, indeks harga saham gabungan > (IHSG) Bursa Efek > Jakarta meningkat sebesar 14,73 poin atau 1,27 > persen. > > Perkembangan tersebut tentu menggembirakan. > Penguatan nilai rupiah > terhadap USD akan menahan terdepresiasinya rupiah > dan laju inflasi > dalam negeri yang sudah berada di ambang cukup > mengkhawatirkan, > sebesar 4,28 persen hingga Juni. > > Namun, pada jangka menengah dan panjang, tidak ada > jaminan bahwa > rupiah akan terus menguat terhadap USD. Sebab, > perbaikan tingkat daya > saing perdagangan yang menyebabkan rupiah menguat, > baik secara > bilateral maupun multilateral, hanya bersifat > sementara. > > Dalam jangka menengah dan panjang, peningkatan daya > saing akan lebih > bergantung pada efisiensi infrastruktur perdagangan, > kualitas dan mutu > komoditas, kuatnya jaringan (network) ekspor, serta > keunggulan > teknologi domestik. > > Dalam hal ini, China berani mengambil langkah > revaluasi karena telah > terdapat jaringan perdagangan yang kuat, serta > peningkatan dramatis > teknologi domestik negeri tersebut, yang oleh Bank > Dunia diperkirakan > berkontribusi 40 persen dari nilai pertumbuhan > ekonomi domestik setiap > tahun. > > Dengan kedua faktor tersebut, revaluasi, tampaknya, > tidak akan > berdampak serius terhadap daya saing ekonomi China > dalam jangka > menengah dan panjang. > > Karena itu, optimisme berlebihan akan bertambahnya > daya saing > perdagangan Indonesia, baik secara bilateral > terhadap China maupun > multilateral, sebagai fondasi penguatan nilai rupiah > terhadap USD, > dalam jangka menengah dan panjang adalah bukan pada > tempatnya. > > Untuk mewujudkan keinginan tersebut, pemerintah > perlu bekerja > ekstrakeras untuk meningkatkan efisiensi > infrastruktur perdagangan > serta pengembangan jaringan perdagangan dan > teknologi industri > domestik. Jadi, bukan sekadar mengharapkan durian > runtuh dari > perubahan konstalasi ekonomi makro internasional. > > Terlebih, dewasa ini masih terdapat problem akut > defisit anggaran > pendapatan dan belanja negara (APBN) yang > diakibatkan pembengkakan > subsidi BBM. Diperkirakan, nilai subsidi BBM dalam > APBN 2005 akan > terus membengkak di atas Rp 125 triliun, seiring > belum turunnya harga > minyak internasional dari kisaran USD 60 per barrel. > > === message truncated === Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] __________________________________ Yahoo! Mail Stay connected, organized, and protected. Take the tour: http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

