On 7/27/05, fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > --- In [email protected], irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > On 7/26/05, fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > --- In [email protected], irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > ".. > > > > IMO, > > > > Banyak kasus terjadi karena pasien datang tanpa dilengkapi kartu > > > > Gakin. Seharusnya pemerintah mewajibkan keluarga miskin mempunyai > > > > kartu Gakin ini walau belum perlu ke RS. > > > > > > > > Hal ini berlaku di negara2 lain. Disini kalau kita datang ke > RS/dokter > > > > tanpa membawa kartu asuransi siap2 aja jatuh miskin. Setiap penduduk > > > > wajib ikut asuransi kesehatan walau seringkali dalam setahun saya > > > > tidak menggunakan sama sekali. Tapi setiap orang siap kalau > memerlukan > > > > jasa RS/dr. > > > > .." > > > Seperti yang saya bilang, kalaupun saya belum bisa membantu langsung, > > saya tidak mau menyalahkan mereka (kalangan bawah). > > Sampai infrastrukturnya memadai. Kalau aturan, administrator sudah siap, > > ternyata mereka masih 'malas' juga untuk mengikutinya, saya rasa > > baru pantas kalau mereka 'disalahkan' dan disadarkan. > > Pak Irwan, > Kalau anda baca sekali lagi tulisan saya diatas adakah kesan saya > menyalahkan orang miskin? Saya MEMPERTANYAKAN. Artinya saya melihat > ini salah satu simpul masalah yang (mungkin) lebih mudah diuraikan > ketimbang hanya marah. Saya malah menanyakan peran pemerintah: sudah > mau memberikan layanan asuransi tetapi apakah sudah dibarengi dg > penyuluhan sampai kebawah? (Lurah, Camat, RT, Puskesmas, atau apa lagi > yg tersangkut). Saya juga mempertanyakan: kekacauannya ada dimana?
Sorry baru reply sekarang. Saya kan cuma bilang kalau kondisinya sudah siap dan mereka malas mengikutinya, baru pantas mereka 'disalahkan'. Anda malah membela diri soal menyalahkan orang miskin? :-) > Ini yang saya heran dari tanggapan anda (makanya saya bilang kok anda > marah2 ke saya padahal saya tidak menyalahkan orang miskin). > Mempertanyakan beda kan dg menyalahkan? Anda mungkin merasa sedang mempertanyakan. Tapi dari tulisan anda soal tiap orang wajib ikut asuransi dll, sementara kasusnya adalah orang yang hidup di negara yang sistem penanganan kesehatannya masih ala kadarnya dan lebih peduli pada yang berduit dll, rasanya kurang/tidak fair. Makanya saya bilang, paling tidak sampai sistemnya beres dulu dan mencakup sebanyak mungkin kalangan (subsidi silang?), tapi masih ada yang malas mengikutinya, barangkali mereka pantas disalahkan. > Kata2 "siap jatuh miskin" adalah ungkapan. Mungkin lupa bahasa > Indonesia? Maksud saya adalah besarnya biaya yg harus kita bayar kalau > kita tidak memiliki kartu asuransi. Insya Allah kita di sini ngerti koq maksud mbak/ibu. Makanya saya bilang, saat ini mereka bukan lagi kalangan yang bisa 'siap jatuh miskin'. Buktinya mereka harus pinjam uang dahulu padahal belum tentu mampu menggantinya. Apalagi kalau harus bayar biaya berobat di rumah sakit. Sampe diopname lagi.. perawatan khusus lagi.. > Untuk selanjutnya saya tidak mau menanggapi hal2 tidak penting spt > diatas lagi, buang2 waktu kita saja. Lagi, 'jurus menghakimi', penting-tidak penting.. hehehe.. > Asuransi yang dijalankan pemerintah yg ditujukan buat org miskin > biasanya biayanya dibuat seminimal mungkin, kalau di Indonesia -saya > dengar- gratis. Nah, kemana LSM yg suka teriak kalau ternyata ada > keluarga miskin yang dipalakin uang buat ngurus kartu gakin tsb? > Adakah beritanya? Saya sendiri tidak tahu banyak soal ini. Barangkali UPC (Urban Poor Consortium) ada perhatian pada hal" semacam ini, tapi kurang diliput media.. entah kenapa.. > Jangan alergi dg kata asuransi, justru itu harus dikampanyekan spy > mekanisme ini jalan. Sepakat. Saya sendiri sebenarnya sedang mencari asuransi kesehatan buat keluarga sebagai tambahan proteksi. Apalagi kebetulan masih ada coverage dari tempat kerja, meski tidak penuh (100%). > > Klo soal moral hazard memang gak gampang. Sekedar ilustrasi, waktu > ditanggung > > 100% biaya kesehatan oleh perusahaan, datang ke dokter gigi gak jadi > masalah.. > > tinggal bawa badan dan antri.. :-) > > Tapi begitu pindah perusahaan dan cuma ditanggung 80%, rasanya > lumayan juga.. > > jadi lebih hati"/mandiri menjaga kesehatan. Ini masuk moral hazard > bukan ya? :-p > > Kalau untuk hal yg tidak memerlukan perawatan dr kita senang ke dr > maka ada unsur moral hazard. Yang kedua adalah usaha insurer buat > mengurangi moral hazard dari sisi insured (outpocket payment/ cost > sharing). Disini juga umumnya insured (pasien) bayar 30% biaya. > > Anda mengerti moral hazard itu sulit diatasi. Nah masalah asuransi itu > bukan cuma moral hazard, tapi juga adverse selection, principal-agent > problem dll. Sekarang saya tanya: anda, saya dan orang2 lain bayar > pajak penghasilan. Kemudian sebagian dari uang pajak itu digunakan > buat pelayanan kesehatan (premi asuransi) orang2 miskin spt kasus Pak > Effendy tsb. Relakah kita? Pasti jawabnya Ya. > > Sekarang kalau sistemnya dijalankan tanpa asuransi, pokoknya org ngaku > miskin asal mau dirawat di kelas 3 digratisin. Datanglah preman yang > kerjanya ngeganja, jual narkoba, nodong, dalam keadaan sakit radang > paru2 dan kanker liver karena kebanyakan begadang dan minum alkohol. > Saya miskin katanya, dan karenanya berhak diobati gratis. Ternyata > sakitnya parah, memakan biaya besar dan menginap lama di RS sehingga > memenuhi satu bed. > Pertanyaan lagi: Relakah pembayar pajak (kita) uangnya dipakai buat > mengobati preman ini? Sedangkan bed tsb dan biaya tsb juga diperlukan > oleh orang spt Pak Effendy itu? > Ingat, infrastruktur kita belum memenuhi kecukupan rasio pelayanan > semua penduduk. Dalam keadaan kekurangan ini, maka mau tidak mau harus > ada prioritas. Saya sepakat soal prioritas. Tapi yang saya lihat situasi di sini kan karena memang belum ada perhatian ke arah sana. Lah wong subsidi harga bbm saja dicabut. Alasannya kan karena kurangnya anggaran negara. Bahwa perhatian pada publik dijadikan alibi (istilahnya kompensasi), imho, sudah keliru. Itu memang sudah kewajiban penyelenggara negara. Padahal banyak pihak tahu berapa banyak kebocoran lain yang harus ditutup. Selama ini kan yang muncul adalah kesan hanya berani meminta rakyat untuk hemat. Untuk lubang yang lebih besar, justru koq gak segera dibenahi. Kenapa seolah" semua dana hilang? Yang pada jago ekonomi pasti pada tahu kan. Cuma karena melibatkan pemain besar, jadi pada gak bisa ngomong.. Saya ini bukan pakar ekonomi, tapi setidaknya kita bisa rasakan betapa sulitnya hidup dengan rupiah.. yang nilainya anjlok seperti sekarang.. Dalam kacamata awam seperti saya, nilai rupiah anjlok dari dulunya $1 = Rp 1000an, sekarang menjadi Rp 10 ribuan. Artinya (secara sederhana) uang kita merosot jadi 1/10-nya. Saya masih sempat lihat pakaian dijual seribu--tiga, di pasar tradisional, sekarang 10 ribu-satu aja udah jarang. Artinya kan beban hidup sudah terlalu berat dirasakan publik. Balik lagi ke soal, untuk makan saja sudah susah, apalagi mikirin soal biaya kesehatan.. :D > salam, > > fau -- Wassalam, Irwan.K Jakarta, Indonesia ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h7f6jch/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122752071/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com ">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research Hospital</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

