http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/02/opini/1940182.htm

 
Kebebasan Tanpa Kesetaraan dan Persaudaraan 

Oleh: IVAN A HADAR



Hari-hari ini, saya teringat buku Jean Ziegler, Les Nouveaux Maitres du Monde 
(2002). Dalam bab tentang korupsi, Ziegler bercerita tentang Swedia, Finlandia, 
Norwegia, dan Denmark, di mana para pejabat tingginya berjalan kaki, naik 
sepeda, atau menggunakan kendaraan umum ke kantor.

Seorang menteri atau presiden yang berangkat kerja dengan mobil dikawal belasan 
mobil dan motor polisi dengan sirene meraung-raung diyakini sulit terpilih 
kembali. Apalagi jika harus menutup jalan-jalan vital karena alasan pribadi, 
seperti sedang mantu atau mengunjungi istri.

Rumah para pemimpin terkenal Eropa, seperti Olof Palmes (Swedia) dan Bruno 
Kresky (Austria), pun terbilang sederhana dan ditempati sepanjang paruh 
terakhir hidup mereka. Jelas, jauh berbeda dengan "istana" kebanyakan pemimpin 
negara berkembang, termasuk Indonesia. Ziegler menarik kesimpulan, makin miskin 
sebuah bangsa, sering kali semakin mewah kehidupan dan "perilaku aneh" 
segelintir elite penguasanya. Betapa tidak.

Ketika cerita busung lapar masih menyisakan keprihatinan mendalam dan seruan 
penghematan dari pemerintah, mencuat berita keinginan (mayoritas) anggota 
parlemen menaikkan penghasilan dari gaji yang sudah puluhan juta rupiah. Lalu, 
"studi banding" ke luar negeri berbiaya miliaran rupiah. Parkiran gedung 
parlemen pun sering disindir bagai show room mobil mewah.

Seakan "kebakaran jenggot" (Kompas, 14/7/2005), anggota DPR menuding eksekutif. 
Konon, beda dengan negara tetangga yang lebih kaya dan hanya membawa lima staf, 
"rombongan presiden kalau luar negeri bisa 75 orang". Alangkah borosnya.

Memperparah keadaan

Tampaknya, dari tiga slogan revolusi Perancis yang mewarnai sistem demokrasi, 
terjadi kecenderungan berikut. Ketika "kebebasan" politik merebak secara 
global, padanannya "kesetaraan" dan "persaudaraan" nyaris dilupakan. Welfare 
state yang mewajibkan negara memberi perlindungan bagi warganya dalam 
kemiskinan dan kesehatan dianggap "jalan sesat" Eropa. Pemerataan, dalam 
paradigma neo-liberal yang mendominasi praktik ekonomi global, bukan alat ampuh 
melawan kemiskinan, dianggap memperparah keadaan.

Semua itu dilandasi argumentasi yang sekilas terkesan plausible. Pertama, 
pemerataan akan mengurangi kuota investasi. Setiap rupiah yang konon 
diinvestasikan kaum kaya secara produktif, sebaliknya hanya akan "dikonsumsi" 
kaum papa.

Kedua, sebagian besar bantuan tidak akan sampai sasaran karena dikorup 
birokrasi. Ketiga, yang menjadi asumsi Bank Dunia, pemerataan akan membahayakan 
stabilitas politik dan bisa bermuara pada konflik kekerasan karena membuat 
marah "elite" (World Bank Report, Attacking Poverty, 2000:56f).

Namun, bagi Erhard Berner (Hilfe-lose Illusionen, E+Z, 2005:6), semua itu 
secara teoretis rapuh, secara empirik salah, dan bila dipraktikkan menjadi 
sesuatu yang sinis. Karena, apa salahnya orang miskin menggunakan dana bantuan 
untuk membeli makan, membayar uang sekolah, dan menebus obat? Asumsi kelompok 
elite akan marah dan mendestabilisasi pemerintahan di negara berkembang yang 
menjalankan strategi pembangunan pro-poor mungkin realistis. Namun, apakah 
layak untuk ikut membatasi kebijakan itu?

Sementara itu, asumsi orang miskin sama sekali tidak berinvestasi adalah sebuah 
ignoransi. Para pekerja kaki lima (PKL), yang rata-rata miskin, di kebanyakan 
negara berkembang adalah "pahlawan" yang menyediakan lapangan kerja terbesar. 
Juga, tanpa kampung-kampung seperti di Jakarta, kota besar tidak akan mampu 
menyediakan kebutuhan papan warganya. Kontribusi fantastis sektor informal bagi 
perkembangan ekonomi, umumnya, luput dari statistik resmi, sementara mereka 
digusur-gusur para birokrat korup.

Kesehatan dan pendidikan

Bagi pembangunan, yang lebih penting daripada "investasi produktif" adalah 
investasi bagi human capital masyarakat miskin, terutama kesehatan dan 
pendidikan anak-anak. Dulu, banyak negara melakukan itu dan kini menuai hasil, 
misalnya Malaysia dan Korea Selatan. Tanpa itu, berlaku "lingkaran setan". 
Peningkatan tenaga kerja murah akan menurunkan pendapatan yang tidak 
memungkinkan mereka untuk sehat dan pintar.

Dengan pertumbuhan ekonomi (termasuk pro-poor growth), kondisi ini tidak bisa 
diatasi. Bagi peneliti kemiskinan Michael Lipton, "kesenjangan ekstrem adalah 
penyebab utama terganjalnya pertumbuhan". Kemiskinan massal, menurutnya, bukan 
hanya akibat stagnasi ekonomi, tetapi penyebab terpenting stagnasi ekonomi itu 
sendiri (Pro-poor Growth and Pro-growth Poverty Reduction: Meaning, Evidence, 
and Policy Implications, 2000).

Bersama Eastwood, Lipton menganjurkan strategi cerdas Pro-Growth Poverty 
Reduction. Dalam kerangka ini, pengeluaran sosial untuk pendidikan dan 
kesehatan bukan biaya sia-sia, tetapi investasi produktif dan pilar kebijakan 
ekonomi. Cerita sukses di Brasilia, Vietnam, dan beberapa negara industri baru 
membenarkan analisis Lipton.

Pada tataran makro-ekonomi, Howard White (National and International 
Redistribution as Tools for Poverty Reduction, 2001) secara empiris menunjukkan 
dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lewat pemerataan. Anehnya, meski 
penelitiannya dibiayai Bank Dunia, namun dalam seluruh laporan Bank Dunia 
temuan ini tidak dimunculkan.

Yang juga jelas, untuk mampu memenuhi kewajibannya, negara miskin membutuhkan 
bantuan negara kaya, termasuk pemotongan utang. Tentu saja lewat persyaratan 
(conditionalities) demi pengurangan kemiskinan. Termasuk upaya menghambat 
korupsi. Pertanyaannya, apakah PRSP (Poverty Reduction Strategy Papers) yang 
dikampanyekan Bank Dunia merupakan "persyaratan" tepat, perlu ditunggu 
hasilnya. Yang pasti, saat kesetaraan dan persaudaraan yang berarti pemerataan 
belum menjadi paradigma, petaka dampak implementasi Program Penyesuaian 
Struktural (SAP) terulang lagi.

IVAN A HADAR Direktur Eksekutif INFID (International NGO Forum on Indonesian 
Development)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h42bj1e/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122944165/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke