Suatu tulisan, yang membuat saya me-renung renung. Tulisan ini mengandung 
kebenaran universal lintas akidah, yang layak kita cernakan bersama.
 
Diabad pertengahan, sebuah pengadilan gereja  -yang kala itu semua katholik 
Roma- yang dijuluki dengan tangan gemetar "Inquisitor" ( nama lengkap peradilan 
ini: " inquisitio haereticae pravitatis"), melaksanakan pemeriksaan pengadilan 
secara sepihak kepada para terdakwa yang dicap "murtad", "menyalahi ajaran", ya 
heresi. 
 
Setelah membacakan tuduhan, tanpa pembelaan, fatwa bin fatwa, sang hakim 
pukulkan palu "plokkkk", nah menggelindinglah kepala sang terhukum..atau sang 
tubuh yang masih hidup dan menggelepar berubah menjadi arang, lalu menjadi abu, 
per-lahan lahan..
 
Kegelapan mengantar sejarah agama Katholik, dan sejarah benua Eropa. Kemudian 
awan gelap tersibak, timbullah pencerahan. Setelah mengalami perang berdarah 30 
tahun, negara negara Katholik versus negara negara Protestant, duduklah mereka 
disatu meja, dalam Perdamaian Westfalia (Pax Westfalica 1629), tobatlah mereka 
gebuk gebukan gara gara debat akidah, lalu berjanji saling mengakui, saling 
menghargai.
 
Nah, karangan ini juga  mengantar kita pada pemikiran, apakah yang terjadi, 
kalau MUI terus terusan bertindak mirip peradilan katholik diabad pertengahan 
itu:
 
"..Beranikah MUI mempertahankan fatwanya dalam debat publik dengan 
Ahmadiyah ataupun aliran lain yang difatwa sesat? Saya tidak yakin, 
sebab MUI belum menunjukkan suatu kemajuan sejak menggelar 'pengadilan' sepihak 
terhadap aliran Syiah beberapa tahun yang lalu. Dan sungguh, saya hanya bisa 
mengelus dada melihat lembaga yang mengklaim dirinya sebagai pembimbing serta 
teladan umat ini tidak kunjung beranjak dewasa, serta masih sanggup 
mempertontonkan (setidaknya diam terhadap) suatu kezhaliman yang sangat 
telanjang. Duh, MUI .....

Salam
 
danardono



 
 


Muh Syafei <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
Duh, MUI ....

[5.8] Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang 
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. 
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong 
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih 
dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah 
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kalau seandainya ditanya, setujukah saya dengan faham Ahmadiyah, 
tentunya saya jawab "tidak setuju!", terutama terhadap Ahmadiyah 
Qadiyani yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Begitu pula jika 
ditanya setuju atau tidaknya terhadap (aqidah/dogma) agama Kristen, 
Hindu, Budha, atau bahkan ateisme serta aliran-aliran lain dalam Islam, 
tentu saya jawab "tidak setuju!'", karena buktinya saya masih menganut 
agama Islam sesuai yang saya fahami. Secara manusiawi, ketidak setujuan 
saya sedikit banyak tentu menimbulkan rasa tidak suka. Ketimbang 
Ahmadiyah yang maju dan berkembang, saya lebih suka faham yang saya anut 
yang berkembang. Ketimbang agama Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya, 
tentu saya lebih senang melihat Islam yang berkembang pesat melebihi 
agama-agama lainnya.

Saya punya hak penuh untuk setuju/tidak setuju maupun suka/tidak suka 
terhadap segala sesuatu, termasuk suatu agama dan aliran agama. Dan saya 
akan protes keras serta melakukan perlawanan sedaya upaya, jika dipaksa 
harus setuju/tidak setuju atau suka/tidak suka terhadap sesuatu. Ini 
pikiran saya, ini pendapat saya, dan ini keyakinan saya! Tak satu orang 
pun berhak ikut campur, dalam pengertian sengaja menghambat atau memaksa 
ke suatu arah tertentu.

Inilah salah satu hak paling azasi bagi tiap manusia. Suatu hak yang 
tidak pada tempatnya dirampas oleh siapapun dengan dalih apapun. Hak 
seperti ini sekaligus mengandung konsekuensi suatu kewajiban, yakni 
kewajiban untuk menghormati hak-hak orang lain yang sama dan serupa. 
Dengan hanya mau menuntut hak, tanpa mau menunaikan kewajiban untuk 
menjaga hak orang lain, sungguh merupakan suatu sikap egois dan zhalim.

Dalam kasus penyerangan dan pengrusakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia 
(JAI), sikap pengecaman terhadap tindakan tersebut lebih sering 
dipelintir sebagai pembelaan terhadap faham Ahmadiyah, pembelaan 
terhadap aliran -yang dianggap- sesat. Substansi pembelaan yang berupa 
pembelaan terhadap hak meyakini dan menjalankan agama/kepercayaan sesuai 
keyakinan masing-masing, seperti sengaja dikaburkan.

Dalam sistem demokratis, secara normatif, MUI atau siapapun berhak untuk 
mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah (atau aliran) lain sesat, karena ini 
merupakan hak berpendapat yang juga dimiliki MUI. Namun, di sisi lain 
Ahmadiyah, atau siapapun yang divonis sesat oleh MUI, juga punya hak 
untuk membela diri dan menyatakan pendapat tanpa boleh dihalang-halangi 
oleh siapapun. Jika, MUI setelah mengeluarkan fatwa kemudian 'merayu' 
otoritas negara untuk mendukung ataupun mengimplementasikan fatwanya, 
sungguh ini suatu sikap pengecut yang tidak pantas disandang oleh orang 
yang bergelar -atau menggelari dirinya- ulama.

Beranikah MUI mempertahankan fatwanya dalam debat publik dengan 
Ahmadiyah ataupun aliran lain yang difatwa sesat? Saya tidak yakin, 
sebab MUI belum menunjukkan suatu kemajuan sejak menggelar 'pengadilan' 
sepihak terhadap aliran Syiah beberapa tahun yang lalu. Dan sungguh, 
saya hanya bisa mengelus dada melihat lembaga yang mengklaim dirinya 
sebagai pembimbing serta teladan umat ini tidak kunjung beranjak dewasa, 
serta masih sanggup mempertontonkan (setidaknya diam terhadap) suatu 
kezhaliman yang sangat telanjang. Duh, MUI .....




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




***********************************************************************************
 
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; 
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against 
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.

Sidharta Gautama



                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hb7fjv2/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122976767/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke