http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/03/humaniora/1947189.htm
Harus Selalu Ada Upaya Merajut Keindonesiaan Perlu Dicari Simpul Perekat Bangsa Jakarta, Kompas - Simpul-simpul yang merekatkan keindonesiaan perlu terus dicari guna menumbuhkan rasa keindonesiaan. Pembentukan Indonesia tidak terhenti setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, melainkan masih merupakan sebuah cita-cita yang terus diwariskan. Asisten Deputi Sejarah Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Susanto Zuhdi, Selasa (2/8), mengungkapkan bahwa keindonesiaan merupakan sebuah produk pemikiran dari para founding father pada awal abad ke-20. Namun, pembentukan keindonesiaan belum selesai begitu teks proklamasi dibacakan. Menurutnya, jika pembentukan keindonesiaan terhenti atau dianggap sudah selesai, jangan-jangan nanti Indonesia diibaratkan seperti kapling yang harus dibagi-bagi. Keindonesiaan merupakan sebuah cita-cita yang masih harus terus diperjuangkan dan diteruskan ke generasi selanjutnya. Dalam petikan wawancara berikut, ahli sejarah maritim dari Universitas Indonesia (UI) ini lebih dalam menjelaskan simpul-simpul perekat itu. Bagaimana mempertautkan unsur Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, etnis, budaya, dan agama yang berbeda? Sebetulnya kita sudah memiliki modal sosial dan budaya. Hanya saja perlu terus ditemukan simpul-simpul yang menunjukkan interaksi dan kebersamaan sebagai sebuah bangsa dan negara. Saya melihat setidaknya empat hal dapat digunakan untuk membangun keindonesiaan. Pertama, kemaritiman. Laut harus dipandang sebagai pemersatu dalam sebuah negara kepulauan. Ada kesamaan gagasan dari jiwa orang yang berlayar, yakni dinamis, berinteraksi, dan berdialog. Sayangnya, dunia maritim kerap terpinggirkan. Kedua, ingatan bersama akan pengalaman penjajahan yang sebetulnya masih dapat jadi semangat. Ada ingatan bersama sehubungan dengan kolonialisasi yang dirasakan di wilayah Indonesia. Ketiga, pengalaman sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, sebut saja pengalaman bersama jatuh bangun dalam membangun demokrasi. Keempat, diaspora atau penyebaran suku-suku bangsa di Indonesia yang sebetulnya dapat menjadi simbol perekat, meskipun tidak dapat disangkal terdapat letupan konflik. Untuk itu perlu digunakan pendekatan kebudayaan, yakni melihat interaksi antarkelompok masyarakat dengan budayanya masing-masing. Dalam hal teknologi misalnya, ada kemampuan suku bangsa yang bisa mengatur air, seperti Bali dengan model subak. Ternyata di daerah lain seperti di beberapa tempat di Poso berkembang model serupa. Sebetulnya ada unsur-unsur budaya yang masuk karena ada interaksi. Untuk mengangkat ini butuh waktu dan kesadaran bersama akan pentingnya perspektif budaya. Simpul-simpul perekat rasa keindonesiaan seperti apa? Tahun 2003, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pernah membukukan simpul-simpul perekat keindonesiaan melalui tempat pembuangan dan makam pejuang bangsa. Para pejuang dari dari berbagai daerah itu ternyata dalam pengasingannya di daerah lain menunjukkan tetap tidak kehilangan semangat juang. Sebut saja Tuanku Imam Bondjol yang dikenal sebagai pejuang dari Sumatera Barat. Oleh karena perlawanannya, Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengasingkannya ke Cianjur. Tetapi kepahlawanan Imam Bondjol terus tampil. Di Cianjur, Imam Bondjol menjadi guru agama dan punya banyak murid sehingga dianggap berbahaya oleh Belanda. Ia lalu dipindahkan ke Ambon, kemudian ke Minahasa. Cara lain untuk menumbuhkan rasa keindonesiaan? Pendidikan kepada generasi muda merupakan hal yang sangat penting. Misalnya dengan melalukan lawatan sejarah. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sejak tahun 2003 menyelenggarakan program lawatan sejarah bagi guru dan siswa berprestasi di seluruh Indonesia. Setiap provinsi mengirimkan wakilnya untuk mengikuti lawatan sejarah nasional. Mereka yang ikut dalam program ini sebelumnya telah melakukan lawatan sejarah di daerah masing-masing. Dalam lawatan sejarah nasional mereka mengunjungi daerah tertentu sekaligus mempresentasikan lawatan sejarah di daerah masing-masing. Tahun 2005 ini, lawatan sejarah diadakan di Makassar dan Pulau Selayar, yang menjadi salah satu sentra pelayaran di timur Indonesia. (INE) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hak712a/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123019636/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

