MEDIA INDONESIA Kamis, 04 Agustus 2005
Fatwa di Tengah Problem Bangsa FATWA Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Musyawarah Nasional, Kamis (28/7), pekan silam masih terus menyulut perdebatan. Seperti galibnya sebuah keputusan, ada yang pro dan kontra. Ada yang mendukung, tapi tidak sedikit yang mempertanyakan beberapa butir dari 11 poin fatwa itu. Butir-butir fatwa yang dianggap mempunyai potensi meresahkan masyarakat antara lain pengharaman terhadap liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan doa bersama antarberbagai pemeluk agama. MUI juga menegaskan kembali terhadap fatwa sebelumnya (1980), Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Kita menghormati keputusan MUI. Kita percaya produktivitas MUI--terutama Komisi Fatwa-nya--yang tinggi pastilah bukan keluar tanpa dasar. Ia merupakan jawaban dari pertanyaan dan fenomena yang terjadi di masyarakat, lewat kajian yang tidak main-main. Mereka yang berada di lembaga itu juga bukan orang sembarangan. Beberapa di antaranya ialah profesor, Doktor. Kita juga memahami fatwa itu bagian dari tanggung jawabnya sebagai ulama terhadap umatnya. Namun, di tengah umat yang beragam tingkat pemahaman keagamaannya, kita khawatir beberapa butir fatwa itu ditafsirkan sebagai kebenaran absolut. Dan, sebagai kebenaran mutlak, biasanya ada para pemeluknya yang tidak membuka ruang untuk 'kebenaran' yang lain. Pandangan seperti ini sering kali memosisikan 'pihak yang tidak benar' adalah bukan 'kita'. Ia 'musuh'. Karena itu, dilihat dari perspektif kebangsaan, beberapa tokoh berpendapat, fatwa MUI kali ini mundur. Sebab, untuk kepentingan perdamaian, kini justru tengah muncul spirit mencari kesamaan ajaran-ajaran agama daripada mencari perbedaan-perbedaannya. Telah lama pula kita yakini, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah kristalisasi dari spirit pluralisme itu. Inilah yang merekatkan kita sejak lama. Spirit inilah yang pernah mengagumkan dunia di masa silam. Kita (bangsa Indonesia) menjadi contoh penerapan toleransi beragama. Kini di tengah spirit nasionalisme yang memudar dan deraan berbagai persoalan (bangsa), butir-butir fatwa itu menjadi terasa kurang bijak. Ia kurang memiliki sensitivitas terhadap problem kebangsaan. Sebab, spirit pluralisme dan praktik doa bersama antarumat beragama, justru kebajikan umat untuk perdamaian. Bukankah ketika dunia marak dihujani teror bom, ada semacam syak wasangka di antara kita? Doa bersama adalah ikrar, kita (seluruh umat beragama) sama-sama cinta damai dan menolak kekerasan! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hdb079c/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123124588/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education</a>!</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

