Dear All,

Sebuah artikel yang baik. Namun lepas dari itu semua satu hal yang 
perlu kita ketahui sekarang adalah perlunya toleransi intra beragama 
selain dari toleransi antar beragama.

Banyak masalah sosial terjadi sebenarnya bukan karena intrik antar 
beragama tapi justru perbedaan yang terjadi internal agama itu 
sendiri.

Soal Ahmadiyah Qadiani, yang meletuskan polemik pluralisme beraga 
yang menyudutkan MUI, sebagainya kita orang Indonesia, mempelajari 
dulu esensi Ahmadiyah tersebut. Ahmadiyah Lahore, yang merupakan 
pecahan Qadiayani, telah melakukan ijtihad untuk tidak mengikuti 
dogma2 agama buatan sekte qadiani.

Dari situ, toleransi beragama kita akan tumbuh, bukan saja antar 
beragama tapi juga internal beragama. Seharusnya kita dapat menyikapi 
tumbuhkan Ahmadiyah, Darul Arqam, JIL, FPI dan sekte2 lain dengan 
lebih bijak.


Wassalam.


Julkifli

http://tbsavira.blogspot.com

--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Dear all,
> Ini ada opini dari Adian Husiani mengenai makna pluralisme dan akar 
historisnya. Selintas hampir sama antara pluralis dengan pluralisme. 
Dulu saya juga mengganggapnya demikian. Sebelum jauh melebar 
memperbincangkan mengenai pluralisme. Maka perlu disamakan terlebih 
dulu apa itu persepsi kita mengenai makna pluralisme biar matching. 
Selamat membaca. Semoga mencerahkan.
>  
> Salam Hangat,
> Aris 
> ------------------------
> http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16
>  
> Republika
> Kamis, 04 Agustus 2005
> 
> Pluralisme Agama: MUI Terlambat! 
> 
> 
> 
> 
> Adian Husaini
> Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM
> 
> Bagi sebagian kalangan, fatwa MUI tentang Pluralisme Agama, 
Liberalisme, dan Sekularisme, tampaknya bagaikan 'bom siang bolong', 
sehingga disikapi dengan keras dan --dalam beberapa hal-- tampak 
sangat emosional. Salah satu yang banyak disoal adalah pendefinisian 
MUI tentang ketiga hal itu. Dalam tulisan ini hanya dibahas masalah 
Pluralisme Agama, apa dan bagaimana, dan perlukah MUI mengharamkannya.
> 
> MUI mendefinisikan Pluralisme Agama (PA) sebagai: ''Suatu paham 
yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya 
kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk 
agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar 
sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa 
semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.''
> 
> Definisi empiris
> Definisi PA versi MUI memang bukan definisi akademis, tetapi 
tampaknya lebih merujuk kepada definisi empiris gagasan PA yang 
selama ini dikembangkan para aktivisnya. Berikut ini berbagai 
ungkapan tentang PA, sebagaimana disampaikan para pendukung dan 
penyebarnya di Indonesia.
> 
> Dalam catatan hariannya tertanggal 16 September 1969 --yang 
dibukukan dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian 
Ahmad Wahib-- Ahmad Wahib juga mengaku sebagai seorang pluralis. 
Wahib mengaku diasuh selama dua tahun oleh Romo HC Stolk dan selama 
tiga tahun oleh Romo Willenborg. Ia mencatat: ''Aku tak tahu apakah 
Tuhan sampai hati memasukkan dua orang bapakku itu ke dalam api 
neraka. Semoga tidak.'' Ide persamaan agama dan jawabannya telah 
dibahas dengan baik, misalnya, oleh Prof Rasjidi, dalam bukunya Empat 
Kuliah Agama di Perguruan Tinggi (Bulan Bintang, Jakarta, 1985, hal. 
24-33). Dr J Verkuil pernah menulis buku berjudul Samakah Semua 
Agama? yang memuat hikayat Nathan der Weise (Nathan yang Bijaksana). 
> 
> Nathan adalah seorang Yahudi yang ditanya oleh Sultan Saladin 
tentang agama manakah yang terbaik, apakah Islam, Yahudi, atau 
Nasrani. Ujungnya, dikatakan, bahwa semua agama itu intinya sama 
saja. Hikayat Nathan itu ditulis oleh Lessing (1729-1781), seorang 
Kristen yang memercayai bahwa intisari agama Kristen adalah Tuhan, 
kebajikan, dan kehidupan kekal. Intisari itu, menurutnya, juga 
terdapat pada Islam, Yahudi, dan agama lainnya. 
> 
> Transcendent Unity of Religion
> Dalam Konferensi Parlemen Agama-Agama di Chicago tahun 1893, 
diserukan bahwa tembok pemisah antara berbagai agama di dunia ini 
sudah runtuh. Konferensi itu akhirnya menyerukan persamaan antara Kon 
Hu Chu, Budha, Islam, dan agama-agama lain. Mereka juga berkesimpulan 
bahwa berita yang disampaikan oleh nabi-nabi itu sama saja.
> 
> Gagasan penyamaan agama, oleh sebagian kalangan kemudian 
dipopulerkan dengan istilah Pluralisme Agama yang dikembangkan sampai 
ke level operasional kehidupan sosial, seperti penghalalan perkawinan 
antaragama, dan sebagainya. Gagasan ini juga secara tidak terlalu 
tepat disandarkan pada ide Trancendent Unity of Religion yang secara 
sistematis dikembangkan oleh Fritchof Schuon.
> 
> Dengan gagasan Pluralisme Agama itu, maka tidak boleh ada truth 
claim, bahwa hanya satu agama saja yang benar. Dengan gagasan ini, 
maka masing-masing agama tidak dibolehkan mengklaim memiliki 
kebenaran secara mutlak, karena masing-masing mempunyai metode, 
jalan, atau bentuk untuk mencapai Tuhan. 
> 
> Ide Trancendent Unity of Religion sendiri berpendapat, bahwa semua 
Agama, esensinya dianggap sama saja, sebab agama-agama itu didasarkan 
kepada sumber yang sama, Yang Mutlak. Bentuknya bisa berbeda karena 
manifestasi yang berbeda ketika menanggapi yang Mutlak. Tapi, semua 
agama dapat bertemu pada level esoteris, kondisi internal atau batin, 
dan berbeda dalam bentuk lahirnya (eksoteris) saja. Semua agama 
adalah jalan untuk mencapai Yang Mutlak (Fritchof Schuon, The 
Transcendent Unity of Religions, The Philosophical Publishing House, 
Wheaton, 1984). 
> 
> Ide trancendent unity of religion ini secara sistematis telah 
dikritisi oleh berbagai ilmuwan Muslim, seperti Prof Naquib al-Attas. 
Lihat uraian masalah ini secara lengkap di Majalah ISLAMIA edisi 3 
dan 4). Tanpa banyak mendapat perhatian para tokoh Muslim, diam-diam 
paham Pluralisme Agama disebarkan secara aktif ke tengah umat. Paham 
ini menyelusup jauh ke jantug-jantung lembaga pendidikan umat, 
sehingga dapat disaksikan pada respons negatif terhadap fatwa MUI 
yang diberikan sejumlah kalangan akademisi dari kalangan perguruan 
tinggi Islam.
> 
> Para penyokong paham ini mempromosikan gagasan 'Teologi Pluralis'. 
Salah satu penyebar aktif paham ini adalah Budhy Munawar Rahman, yang 
menulis satu artikel di website www.islamlib.com pada 13 Januari 
2002, berjudul ''Memudarnya Kerukunan Hidup Beragama, Agama-Agama 
Harus Berdialog.'' Berikut ini kutipan agak panjang dari artikel 
tersebut: ''Teologi pluralis melihat agama-agama lain sebanding 
dengan agama-agama sendiri, sebagai dalam rumusan: Other religions 
are equally valid ways to the same truth (John Hick); Other religions 
speak of different but equally valid truths (John B. Cobb Jr); Each 
religion expresses an important part of the truth (Raimundo 
Panikkar); atau setiap agama sebenarnya mengekspresikan adanya The 
One in the many (Seyyed Hossein Nasr). Di sini jelas teologi pluralis 
menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada 
kecenderungan opresif. 
> 
> Dalam tulisannya yang lain, Budhy, yang juga penulis buku Islam 
Pluralis, menyimpulkan,''Karenanya, yang diperlukan sekarang ini 
dalam penghayatan masalah Pluralisme antar agama yakni pandangan 
bahwa siapa pun yang beriman --tanpa harus melihat agamanya apa-- 
adalah sama di hadapan Allah. Karena Tuhan kita semua adalah Tuhan 
Yang Satu.''
> 
> Ulil Abshar Abdalla mengatakan: ''Semua agama sama. Semuanya menuju 
jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.'' (GATRA, 21 
Desember 2002). Ide Ulil tentang agama ini berimbas pada masalah 
hukum perkawinan antaragama, yang akhirnya ditegaskan kembali 
keharamannya oleh fatwa MUI. Dalam artikelnya di Kompas (18/11/2002) 
yang berjudul ''Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'', Ulil 
menyatakan: ''Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara 
perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.'' 
> 
> Sukidi, aktivis PSAP Muhammadiyah menulis di koran Jawa Pos 
(11/1/2004): ''Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many 
truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegasikan adanya 
Kebenaran Tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak 
kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa 
semua agama --entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, 
Zoroaster, maupun lainnya-- adalah benar. Dan, konsekuensinya, 
kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu 
diibaratkan, dalam nalar Pluralisme Gandhi, seperti pohon yang 
memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the One). 
Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama. 
Karena itu, mari kita memproklamasikan kembali bahwa Pluralisme Agama 
sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah. 
Dan, karena itu, mustahil pula kita melawan dan menghindari. Sebagai 
muslim, kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan 
optimistis
>  dalam menerima Pluralisme Agama sebagai hukum Tuhan.''
> 
> Sumanto Al Qurtuby, dalam bukunya Lubang Hitam Agama, 
menulis: ''Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada 
Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-
Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, 
antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu 
Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!'' 
(Sumanto Al Qurtuby, Lubang Hitam Agama, Rumah Kata, Yogyakarta, 
2005, hal. 45). Jadi itulah contoh-contoh pemikiran Pluralisme Agama 
yang dikembangkan di Indonesia. MUI sudah tepat merumuskan dengan 
ringkas fenomena pengembangan faham ini dan status hukumnya. Jadi, 
diskusinya tidak perlu melebar ke mana-mana. 
> 
> Romo Magnis pun menolak
> Frans Magnis Suseno, dalam bukunya yang berjudul Menjadi Saksi 
Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk uga menolak keras PA. Pluralisme 
agama, kata Magnis, sebagaimana diperjuangkan di kalangan Kristen 
oleh teolog-teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter (Protestan) dan 
Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak eksklusivisme 
kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang 
benar merupakan kesombongan.
> 
> Paham Pluralisme agama, menurut Frans Magnis, jelas-jelas ditolak 
oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan 
penjelasan ''Dominus Jesus.'' Penjelasan ini, selain menolak paham 
Pluralisme Agama, juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah 
satu-satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang 
bisa ke Bapa selain melalui Yesus. 
> 
> Di kalangan Katolik sendiri, ''Dominus Jesus'' menimbulkan reaksi 
keras. Frans Magnis sendiri mendukung ''Dominus Jesus'' itu, dan 
menyatakan, bahwa ''Dominus Jesus'' itu sudah perlu dan tepat waktu. 
Menurutnya, Pluralisme Agama hanya di permukaan saja kelihatan lebih 
rendah hati dan toleran daripada sikap inklusif yang tetap meyakini 
imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima 
dituntut agar masing-masing melepaskan apa yang mereka yakini.
> 
> Terhadap paham semacam itu, Frans Magnis menegaskan: ''Menurut saya 
ini tidak lucu dan tidak serius. Ini sikap menghina kalau pun 
bermaksud baik. Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi 
sama, bari kita bersedia saling menerima. Toleransi yang sebenarnya 
berarti menerima orang lain, kelompok lain, keberadaan agama lain, 
dengan baik, mengakui dan menghormati keberadaan mereka dalam 
keberlainan mereka! Toleransi justru bukan asimilasi, melainkan 
hormat penuh identitas masing-masing yang tidak sama.'' Jadi, fatwa 
MUI tentang Pluralisme Agama sudah tepat, meskipun terlambat. Wallahu 
a'lam.
> 
> 
> 
> 
> 
> "Bangkitnya manusia karena pemikirannya"
> "Kemajuan mustahil tanpa perubahan. Dan mereka yang tak bisa 
merubah pemikirannya, maka tak akan bisa merubah apa pun"
> (George Bernard Shaw 1850-1950)
> 
>               
> ---------------------------------
>  Start your day with Yahoo! - make it your home page 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hje5nvb/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123139639/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke