REPUBLIKA
Sabtu, 06 Agustus 2005



MDGs, Islam, dan Kemiskinan di Indonesia 


Yusuf Wibisono
Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Komisariat UI



Pada 3-5 Agustus 2005, Indonesia menjadi tuan rumah Regional Ministerial 
Meeting on Millenium Development Goals (MDGs) untuk kawasan Asia-Pasifik. 
Tujuan pertemuan ini adalah untuk merumuskan strategi-strategi nasional dalam 
mencapai delapan tujuan MDGs pada 2015 di kawasan Asia Pasifik. Kedelapan 
tujuan MDGs itu adalah menghapus kemiskinan dan kelaparan; mencapai pendidikan 
dasar universal; mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita; 
mengurangi kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi AIDS, malaria 
dan penyakit lain; memastikan kelangsungan lingkungan; dan mengembangkan 
kerjasama global untuk pembangunan. 

Bagi Indonesia, momentum ini menjadi penting sekaligus sebuah ironi. Karena 
setelah 60 tahun merdeka, kemiskinan tidak pernah berakhir. Program pengentasan 
kemiskinan selalu tercantum dalam program pembangunan dari waktu ke waktu, 
namun kemiskinan tetap terjadi dalam skala yang luas, bahkan dengan derajat 
yang lebih tinggi. Belum lama kita diguncang oleh wabah polio, kini kita 
dikejutkan oleh wabah busung lapar. Esok, entah cerita kemiskinan apalagi yang 
akan terkuak.

Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan di Indonesia kini tersebar luas. Di tahun 2004, BPS memerkirakan 
jumlah orang miskin 36,1 juta orang atau 16,6 persen dari total penduduk. Namun 
angka ini sangat konservatif. Bank Dunia memerkirakan angka kemiskinan hanya 
7,4 persen dengan garis kemiskinan satu dolar AS sehari. Namun, jika garis 
kemiskinan dinaikkan menjadi dua dolar AS sehari, maka angka kemiskinan 
melonjak menjadi 53,4 persen atau sekitar 114,8 juta jiwa. Angka ini kurang 
lebih sama dengan jumlah seluruh penduduk Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.

Lebih jauh lagi, kemiskinan tidak hanya berwajah tunggal, namun juga 
multidimensi. Indonesia memiliki catatan buruk dalam penyediaan berbagai 
fasilitas kebutuhan dasar. Indikator-indikator pembangunan sosial lebih rendah 
dibandingkan negara-negara lainnya. Angka kematian ibu di Indonesia dua kali 
lebih tinggi dari Filipina dan lima kali lebih tinggi dari Vietnam. Hampir 
setengah penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Semua itu 
mengisyaratkan bahwa strategi penanggulangan kemiskinan yang selama ini 
diterapkan gagal.

Disisi lain, Indonesia menghadapi perubahan dan tantangan ke depan yang semakin 
berat. Di dalam negeri, terjadi arus demokratisasi dan otonomi yang deras. 
Sedangkan dari luar negeri, arus globalisasi dan perdagangan bebas semakin 
tidak tertahankan. Tanpa perencanaan yang baik, Indonesia tidak akan mampu 
mengambil peluang dan mengantisipasi ancaman bagi pengentasan kemiskinan.

Islam dan kemiskinan
Di negeri ini, Islam sering mendapat citra negatif dari kemiskinan. Islam 
sering dilekatkan dengan kondisi kemiskinan umat-nya, bahkan sering dituding 
sebagai penyebab kemiskinan. Padahal Islam sebagai sebuah risalah paripurna dan 
ideologi hidup sangat memerhatikan masalah kemiskinan. Bahkan kemiskinan 
dipandang sebagai salah satu ancaman terbesar bagi keimanan (QS 2: 268). Islam 
memandang bahwa kemiskinan sepenuhnya adalah masalah struktural karena Allah 
telah menjamin rizki setiap makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakannya 
(QS 30:40; QS 11:6) dan telah menutup peluang bagi kemiskinan kultural dengan 
memberi kewajiban mencari nafkah bagi setiap individu (QS 67:15). 

Dalam Islam, kepala keluarga memiliki memiliki kewajiban untuk memenuhi 
kebutuhan dasar anggota keluarganya. Jika tidak mampu, maka kewajiban tersebut 
jatuh ke kerabat dekat. Jika tidak mampu juga, kewajiban tersebut jatuh ke 
negara. Dengan demikian Islam mendorong negara mengentaskan kemiskinan dengan 
cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat (basic rights approach). Pendekatan 
inilah yang kini baru mulai diadopsi oleh Indonesia melalui Strategi Nasional 
Pengentasan Kemiskinan (SNPK). Islam juga memiliki berbagai prinsip-prinsip 
terkait kebijakan publik yang dapat dijadikan panduan bagi program pengentasan 
kemiskinan. Pertama, Islam melarang riba dan mendorong kegiatan sektor riil 
untuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi (pro-poor growth).

Riba adalah akar dari semua krisis finansial yang dialami perekonomian modern. 
Penerapan riba secara inheren mendorong kenaikan uang beredar dalam jangka 
panjang. Pertumbuhan uang beredar yang jauh lebih cepat dari sektor riil inilah 
yang mendorong inflasi dan penggelembungan harga aset sehingga menciptakan 
kemiskinan, meningkatkan kesenjangan, dan mengalihkan kedaulatan ekonomi ke 
tangan para pemilik modal. Karena itu di dalam Islam, modal diarahkan untuk 
kegiatan ekonomi produktif, bukan spekulatif, melalui kerjasama atau penyertaan 
modal di sektor riil. Dengan demikian, keseimbangan sektor moneter dan riil 
dapat terjaga, sehinga inflasi terkendali. Demikianlah Islam mengendalikan 
inflasi sebagai salah satu tujuan terpenting pembangunan dalam rangka menjaga 
daya beli masyarakat dan menciptakan stabilitas perekonomian.

Maka menjadi ironis ketika kita melihat BI pontang-panting memertahankan target 
inflasi karena biaya operasional moneter yang besar dan sistem perbankan ribawi 
yang tidak sehat. Suku bunga SBI yang terus merangkak naik dan tingkat LDR 
(loan to deposit rasio) perbankan konvensional yang rendah berperan besar dalam 
menciptakan tekanan inflasi dan lambatnya pemulihan ekonomi nasional. Maka 
sudah saatnya BI dan pemerintah memberi perhatian lebih besar pada penerapan 
sistem finansial Islam untuk sistem moneter yang efisien, tidak bersifat 
inflatoir, dan berpihak pada pembangunan sektor riil. Kedua, Islam mendorong 
penciptaan anggaran negara yang memihak kepada kepentingan rakyat banyak 
(pro-poor budgeting). Islam sangat mendorong tata kelola pemerintahan yang baik 
dan penggunaan anggaran negara sepenuhnya untuk kepentingan publik.

Khalifah Umar memperkenalkan penggunaan anggaran negara untuk dana bantuan 
kepada seluruh fakir miskin dan orang-orang menderita dengan membentuk sistem 
diwan pada tahun 20 H yang merupakan sistem jaminan sosial pertama di dunia. 
Maka menjadi ironis bila kita melihat pengelolaan anggaran negara saat ini yang 
penuh dengan pemborosan dan korupsi. Penghematan dan penghapusan korupsi dalam 
anggaran negara, akan memberi sumber dana yang sangat signifikan bagi 
pembiayaan program pengentasan kemiskinan. Sebagai misal, potensi penghematan 
anggaran saja diperkirakan mencapai 5-20 persen dari total belanja pemerintah. 
Pengurangan beban utang juga harus menjadi prioritas terpenting. Usaha-usaha 
debt-swap hingga penghapusan utang perlu dilakukan pemerintah secara serius.

Ketiga, Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat luas 
bagi masyarakat (pro-poor infrastructure). Islam mendorong pembangunan 
infrastruktur dalam rangka meningkatkan kapasitas dan produktivitas 
perekonomian. Sebagai misal, Khalifah Umar memerintahkan gubernur Mesir, Amr 
bin Ash, untuk mempergunakan sepertiga penerimaan Mesir untuk pembangunan 
jembatan, kanal, dan jaringan air bersih. Islam juga mendorong pembangunan 
fasilitas pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi 
jangka panjang. Nabi Muhammad SAW melakukan ''gerakan melek huruf'' pertama di 
dunia dengan meminta tebusan bagi tawanan perang dengan mengajarkan baca tulis 
kepada masyarakat. Khalifah Umar memperkenalkan kepada masyarakat Islam saat 
itu sistem administrasi dan akuntansi dari Persia dan juga teknik irigasi serta 
arsitektur dari Romawi.

Maka pembangunan infrastruktur Indonesia semestinya diarahkan pada pembangunan 
infrastruktur pedesaan dan pesisir di mana sebagian besar orang miskin berada. 
Seperti dengan pembangunan jalan desa, jaringan listrik, dan air bersih. 
Ironisnya, fokus pembangunan infrastruktur Indonesia saat ini adalah jalan tol 
trans-Jawa yang pro orang kaya-kota, boros BBM, tidak ramah lingkungan, dan 
semakin mendorong konversi lahan pertanian. Demikianlah Islam mendorong 
pengentasan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, fokus pada 
sektor riil, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hv0a6ja/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123329466/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke