Refleksi: Kalau terus diperintah oleh tukang copet dan garong terang saja tetap 
miskin!


http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=208376&kat_id=23

Sabtu, 06 Agustus 2005  12:44:00


Rakyat Indonesia tidak Pantas Miskin
Laporan: ant/mim


Kendari-RoL--Bagi Negara Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang 
besar semestinya tidak pantas membuat rakyatnya miskin, kalau potensi kekayaan 
alam itu bisa dikelola dengan baik untuk kemaslahatan umat.

Tapi kenyataan itu agaknya sulit terwujud karena potensi sumber daya alam yang 
dikelola selama ini belum bisa membuat rakyat sejahtera karena kebijakan 
pemerintah yang salah semakin membuat rakyat miskin," kata aktivitas Muslim 
Indonesia, Dr Egi Sujana pada acara diskusi tidak resmi di Kendari, Jumat 
malam.Diskusi informal yang berlangsung di kediaman Wakil Ketua DPD RI,  Dr La 
Ode Ida juga hadir anggota DPRD Sultra, Hermanto, SH, Mhum dan Hasid Pedansa, 
beberapa tokoh intelektual dan sejumlah aktifis lembaga swadaya masyarakat 
(LSM) lokal.

Egi yang juga pengacara PT Antam Pomala Tbk ini mengatakan, kemiskinan yang 
terjadi di Indonesia merupakan kemiskinan terstruktural sebagai akibat dari 
kebijakan pemerintah yang keliru, baik di tingkat pusat sampai daerah."Banyak 
kebijakan yang dibuat pemimpin bangsa dan daerah di negeri ini tidak berpihak 
kepada rakyat, akibatnya rakyat miskin secara struktural. Dengan produk 
undang-undang yang dibuat para pemimpin kita justru semakin membebankan banyak 
rakyat," ujarnya.

Akibatnya, katanya, rakyat Indonesia tidak bisa mengolah dan menikmati sumber 
daya alam di negerinya sendiri karena dibatasi oleh berbagai produk peraturan 
perundang-undangan yang berlaku, sehingga yang terjadi adalah tingkat 
pengangguran di Indonesia semakin banyak."Negara kita kaya dengan potensi 
minyak bumi, tambang emas, hutan, laut, tetapi semua itu belum memberikan 
kesejahteraan bagi rakyat Indonesia karena adanya kebijakan yang memang tidak 
berpihak kepada rakyat, bahkan rakyat kita hanya sebagai penonton di negeri 
sendiri penyaksikan SDA kita diolah oleh negara asing," ujarnya.

Ia memberi contoh penambangan emas oleh PT Freeport dengan kebijakan pemerintah 
yang memberikan kemudahan investor dari Amerika Serikat itu mengolah tambang 
emas di Papua, tetapi negara Indonesia hanya mendapatkan pembagian hasil 10 
persen saja. "Ini kebijakan pemerintah yang salah, mestinya Indonesia harus 
mendapatkan bagi hasil 90 persen dan dengan dana itu bisa dimanfaatkan untuk 
peningkataan kesejahteraan rakyat," ujarnya.

Egi yang juga penggagas pembentukan Badan Penanggulangan Pengangguran ini juga 
menyoroti kebijakan pemerintah di bidang perburuhan yang cenderung pada koridor 
politik dan keamanan."Akibat kebijakan itu, sehingga kaum buruh yang melakukan 
demonstrasi menuntut kesejahteraannya, selalu harus berhadapan dengan petugas 
keamanan," ujarnya.  Di negara-negara maju, kebijakan di bidang perburuhan 
selalu berlandaskan pada koridor ekonomi, sehingga kaum buruh di sana tingkat 
kesejahteraan mereka sangat memadai.

Untuk mengatasi terjadinya kemiskinan struktural di Indoensia, kata Egi, sudah 
saatnya perlu dilakukan reformasi pada kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak 
kepada banyak rakyat. "Hal ini bisa terlaksana, kalau ada komitmen yang kuat 
dari elit-elit yang didukung oleh rakyat untuk melakukan gerakan perubahan ke 
arah kebijakan yang bermuara pada kepentingan rakyat," ujarnya.

Egi juga mengatakan, Departemen Tenaga Kerja yang ada saat ini perlu 
direformasi dengan menggabungkan usaha kecil menengah (UKM), sehingga Depnaker 
sekarang tidak saja "bertugas" mencatat jumlah pengangguran, tetapi juga 
langsung melakukan aksi dengan menanggulangi tenaga kerja pengangguran itu.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya sedang menggagas terbentuknya Badan 
Penanggulangan Pengangguran sebagai salah satu lembaga yang bertugas menangani 
masalah ketenagakerjaan, khususnya pengangguran dengan menfasilitasi untuk 
memberdayakannya sebagai aset sumberdaya bangsa."Kami berharap Badan 
penanggulangan pengangguran ini bisa terbentuk dan bernaung di bawah Keppres, 
begitu pula di daerah bisa dibentuk dan memiliki kekuatan untuk mengatur 
masalah ketenagakerjaan, sehingga tingkat pengangguran di negeri ini bisa 
secara bertahap diatasi," ujarnya.








[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hht73e3/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123330212/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke