Sebenarnya tak ada posisi kita yang berbeda.
 
Kalimat saya 
 
"pertanyaan yang lucu. Siapa yang bicara mengenai kemana kita akan kembali. 
Anda, saya dan semua akan kembali ke Yesus dan Allah Bapak disurga, yang akan 
mengadili kita semua.." 
 
adalah jawaban (yang sengaja agak provokatif) terhadap kalimat mas SB sbb.: 
 
"Itulah bukti adanya Tuhan, Allah SWT. Dialah tempat kita kembali, atau Anda 
punya tempat kembali yang lain yang Anda harapkan, selain bisa diterima 
disisi-Nya?.."
 
Tentu saja, saya dapat menjawab " Yes, Sir, kita semua akan kembali ke Allah 
swt" (seperti dalam kalimat mas SB), namun saya jawab ke "Yesus dan Allah 
Bapak", karena sebagai manusia Kristiani, ini adalah jawaban yang ada. 
 
Mungkin maksud kami berdua sama, mas SB dan saya, yakni pada "sang Pencipta", 
namun karena kita memakai dua expressi untuk "sang Pencipta" sesuai diksi 
masing masing, terjadilah yang anda diskusikan. 
 
As easy as that.
 
Jadi, sebenarnya, nothing to discuss here.
 
Kalimat anda 
 
"Maaf mas, Tuhan Anda bukan Tuhan saya. Boleh khan?? Boleh nggak kita berbeda 
kepercayaan, bahwa saya percaya kepada Tuhan yang 'kebetulan' bukan Tuhan yang 
Anda percaya??" 
 
menimbulkan kesan, bahwa ada ber-macam macam Tuhan ("Tuhan anda, Tuhan saya"). 
padahal, yang faktis, adalah, adanya BERBAGAI kepercayaan, bukan berbagai TUHAN.
kalau tidak, tak ada Sila pertama dalam Pancasila, yang mensyaratkan, Tuhan 
kita semua sama, dan Esa.
 
Definisi anda akan pluralisme dapat saya sepakati:
 
"Pluralisme seharusnya mengakui bahwa agama-agama itu memang ADA. Soal benar 
atau tidak, itu terserah masing-masing saja. Kalau Anda percaya Nasrani, maka 
Anda pasti percaya bahwa Yesus dan Allah Bapak di Surga itu sebagai Tuhan Anda. 
Bagi saya itu urusan Anda dan Tuhan, bukan urusan saya. Begitu bukan??

Nah, bertumpu pada ini, sebenarnya tak perlu ada kontroversi dalam masyarakat 
dalam memahami fatwas MUI. Apa yang sebenarnya berbeda sebelum dan sesudah 
fatwa MUI mengenai pluralisme?
 
Pluralisme sudah ada sejak negara ini berdiri. bahkan merupakan conditio sine 
quanon agar ada NKRI. Kini, ada re-definisi "pluralisme"?
 
Disini adalah penting, untuk mengutamakan ke-majemuk-an diatas 
ke-bersitegang-an bahwa akidah masing masing yang benar.
 
Ini yang anda juga ingin expressikan bukan?
 
Salam
 
danardono
 
(setiap laki laki boleh saja manjat pohon pinang, 
disini dinamakan "Maibaum", pohon bulan Mei).



 
 
SB: Dialah ArRahman. Jika tidak, akan dibiarkannya manusia dalam kesesatan. 
Tanpa tuntunan. Tanpa cahaya kebenaran yang disampaikan sebagai pembimbing 
ketika kita akan kembali. Itulah bukti adanya Tuhan, Allah SWT. Dialah tempat 
kita kembali, atau Anda punya tempat kembali yang lain yang Anda harapkan, 
selain bisa diterima disisi-Nya?

DH: pertanyaan yang lucu. Siapa yang bicara mengenai kemana kita akan kembali. 
Anda, saya dan semua akan kembali ke Yesus dan Allah Bapak disurga, yang akan 
mengadili kita semua.

--cut

Pohon pinangnya tinggi gak? Ehhh by the way, yang didebat kok gak ikut? Mas 
Rahadian. Beliau manjat no 1. Saya cadangan, abis anak bawang dalam thema 
ini...hanya nimbrung..


==============================================================================================

Hahaha.... Mas DH ini bercandanya 'sangat berani'. Ini salah satu bentuk 
pengakuan pada pluralisme yang seharusnya dipahami dengan sebaik-baiknya dan 
sebenar-benarnya. Perhatikan kutipan Mas DH di atas, dimana pada akhirnya Mas 
DH "mau menyimpulkan" bahwa Tuhan beliau saja yang ada di sini... hehehe.... 
Lumayaann....

Saya kutip lagi nih, perhatikan baik-baik:

DH: pertanyaan yang lucu. Siapa yang bicara mengenai kemana kita akan kembali. 
Anda, saya dan semua akan kembali ke Yesus dan Allah Bapak disurga, yang akan 
mengadili kita semua.

Hal seperti inilah Mas, yang terkadang memicu perdebatan kusir. Ketika Anda 
"menyimpulkan" bahwa KITA SEMUA akan kembali kepada Tuhan yang ANDA PERCAYA, 
maka akan banyak orang lain merasa tidak setuju dengan ANDA. Betul nggak?? 
Banyak orang yang tidak mempercayai APA yang ANDA percayai. Itulah masalahnya. 
Jadi boleh dong saya bilang, bahwa "Maaf mas, Tuhan Anda bukan Tuhan saya. 
Boleh khan?? Boleh nggak kita berbeda kepercayaan, bahwa saya percaya kepada 
Tuhan yang 'kebetulan' bukan Tuhan yang Anda percaya?? Nggak tersinggung khan?? 
Hehehe... 

Padahal, meski Mas DH mengklaim demikian, saya tidak akan pindah agama. Itu kan 
hanya klaim. Ketika Islam menyatakan UNTUKKU AGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU, maka 
menurut saya implisit ayat itu menyatakan pula bahwa Tuhan sudah menakdirkan 
akan ada banyak agama di muka bumi. Asal tidak saling menggangu, lantas kenapa? 

Pluralisme seharusnya mengakui bahwa agama-agama itu memang ADA. Soal benar 
atau tidak, itu terserah masing-masing saja. Kalau Anda percaya Nasrani, maka 
Anda pasti percaya bahwa Yesus dan Allah Bapak di Surga itu sebagai Tuhan Anda. 
Bagi saya itu urusan Anda dan Tuhan, bukan urusan saya. Begitu bukan??

Karena saya kebetulan Islam, maka saya hanya percaya pada Allah, SWT. Meskipun 
menurut agama saya, Islam lah yang paling benar, saya tidak akan berusaha 
mencederai kebenaran yang Anda percayai Mas. Percayalah. Saya sendiri tidak 
akan percaya secara membabi buta, saya juga terus mencari kebenaran itu ada 
dimana. Meskipun kebenaran itu keluar dari (maaf) dubur Ayam, maka wajib 
hukumnya kita ambil. Bukan begitu?? Sesederhana itu saja menurut saya.

Itu baru substansi namanya. Kulit sih nggak terlalu penting buat saya. 

Oh ya, Panjat Pinangnya nanti saja. Saya belum merasa negara ini sudah merdeka 
sih.... :P


"Rahadian P. Paramita" <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
SB: Dialah ArRahman. Jika tidak, akan dibiarkannya manusia dalam kesesatan. 
Tanpa tuntunan. Tanpa cahaya kebenaran yang disampaikan sebagai pembimbing 
ketika kita akan kembali. Itulah bukti adanya Tuhan, Allah SWT. Dialah tempat 
kita kembali, atau Anda punya tempat kembali yang lain yang Anda harapkan, 
selain bisa diterima disisi-Nya?

DH: pertanyaan yang lucu. Siapa yang bicara mengenai kemana kita akan kembali. 
Anda, saya dan semua akan kembali ke Yesus dan Allah Bapak disurga, yang akan 
mengadili kita semua.

--cut

Pohon pinangnya tinggi gak? Ehhh by the way, yang didebat kok gak ikut? Mas 
Rahadian. Beliau manjat no 1. Saya cadangan, abis anak bawang dalam thema 
ini...hanya nimbrung..


==============================================================================================

Hahaha.... Mas DH ini bercandanya 'sangat berani'. Ini salah satu bentuk 
pengakuan pada pluralisme yang seharusnya dipahami dengan sebaik-baiknya dan 
sebenar-benarnya. Perhatikan kutipan Mas DH di atas, dimana pada akhirnya Mas 
DH "mau menyimpulkan" bahwa Tuhan beliau saja yang ada di sini... hehehe.... 
Lumayaann....

Saya kutip lagi nih, perhatikan baik-baik:

DH: pertanyaan yang lucu. Siapa yang bicara mengenai kemana kita akan kembali. 
Anda, saya dan semua akan kembali ke Yesus dan Allah Bapak disurga, yang akan 
mengadili kita semua.

Hal seperti inilah Mas, yang terkadang memicu perdebatan kusir. Ketika Anda 
"menyimpulkan" bahwa KITA SEMUA akan kembali kepada Tuhan yang ANDA PERCAYA, 
maka akan banyak orang lain merasa tidak setuju dengan ANDA. Betul nggak?? 
Banyak orang yang tidak mempercayai APA yang ANDA percayai. Itulah masalahnya. 
Jadi boleh dong saya bilang, bahwa "Maaf mas, Tuhan Anda bukan Tuhan saya. 
Boleh khan?? Boleh nggak kita berbeda kepercayaan, bahwa saya percaya kepada 
Tuhan yang 'kebetulan' bukan Tuhan yang Anda percaya?? Nggak tersinggung khan?? 
Hehehe... 

Padahal, meski Mas DH mengklaim demikian, saya tidak akan pindah agama. Itu kan 
hanya klaim. Ketika Islam menyatakan UNTUKKU AGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU, maka 
menurut saya implisit ayat itu menyatakan pula bahwa Tuhan sudah menakdirkan 
akan ada banyak agama di muka bumi. Asal tidak saling menggangu, lantas kenapa? 

Pluralisme seharusnya mengakui bahwa agama-agama itu memang ADA. Soal benar 
atau tidak, itu terserah masing-masing saja. Kalau Anda percaya Nasrani, maka 
Anda pasti percaya bahwa Yesus dan Allah Bapak di Surga itu sebagai Tuhan Anda. 
Bagi saya itu urusan Anda dan Tuhan, bukan urusan saya. Begitu bukan??

Karena saya kebetulan Islam, maka saya hanya percaya pada Allah, SWT. Meskipun 
menurut agama saya, Islam lah yang paling benar, saya tidak akan berusaha 
mencederai kebenaran yang Anda percayai Mas. Percayalah. Saya sendiri tidak 
akan percaya secara membabi buta, saya juga terus mencari kebenaran itu ada 
dimana. Meskipun kebenaran itu keluar dari (maaf) dubur Ayam, maka wajib 
hukumnya kita ambil. Bukan begitu?? Sesederhana itu saja menurut saya.

Itu baru substansi namanya. Kulit sih nggak terlalu penting buat saya. 

Oh ya, Panjat Pinangnya nanti saja. Saya belum merasa negara ini sudah merdeka 
sih.... :P

_________________________________________
rahadian p. paramita at http://prajnas.blogspot.com

Banyak buku "besar" masuk ke kepala yang "kecil"...
PUTU WIJAYA


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




***********************************************************************************
 
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; 
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against 
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.

Sidharta Gautama



                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hnjb703/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123684548/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke