Bupati Bolmong Tolak Fatwa MUI

Wilayah Bolmong yang luasnya 54 persen dari luas wilayah Sulut kerap disebut 
Indonesia Mini. Pasalnya, 400 ribu penduduknya memiliki beragam agama, suku dan 
budaya, bahkan boleh dibilang semua suku dan agama di republik ini dapat 
ditemukan di Bumi Totabuan. Karena itu, sosok pemimpin pun harus bisa diterima 
oleh semua umat.

Nah, terkait fatwa MUI tentang pengharaman doa bersama, di mana umat Muslim 
diharamkan mengikuti acara natalan atau kegiatan keagamaan lainnya dari 
non-Muslim, Bupati Bolmong Dra Hj Marlina Moha Siahaan (MMS) tentu saja 
menolak, apalagi bila fatwa dipaksakan untuk diberlakukan di Bolmong.

Adapun alasan utama MMS, bahwa dirinya adalah pemimpin seluruh rakyat Bolmong, 
bukan hanya memimpin satu agama atau golongan tertentu. Di mana dia selalu 
dituntut untuk bisa berkomunikasi langsung dengan rakyat yang dipimpinnya, 
bukan melulu diwakilkan saja. “Bupati adalah milik semua rakyat Bolmong tanpa 
pandang
bulu, agama, golongan maupun suku mana pun. Sehubungan dengan fatwa MUI 
tersebut, sepertinya belum tepat untuk diterapkan di Bolmong. Intinya, bupati 
tetap sah kalau menghadiri dan turut mengikuti acara-acara keagamaan dari 
non-Muslim,” kata MMS sebagaimana dikutip juru bicaranya Ir Yudha 
Rantung,kemarin siang (09/08).

Lagi pula, MMS memang selalu diundang oleh rakyatnya dari non-Muslim untuk 
menghadiri seremoni-seremoni keagamaan, di mana pada kesempatan itu MMS selalu 
pula didaulat untuk menyampaikan kata-kata sambutan. Sehingga bisa dibayangkan 
betapa besar kekecewaan rakyat, ketika menyadari kalau kata-kata sambutan MMS 
selaku bupati hanya diwakilkan saja kepada bawahan.

“Selama ini ibu bupati selalu menghadiri dan mengikuti acara-acara seremonial 
keagamaan dari non-Muslim, misalnya natalan. Beliau diberikan kesempatan untuk 
menyampaikan kata-kata sambutan. Kalau pun pada saat acara itu dilangsungkan 
ibadah, bukannya bupati kita langsung beranjak dari kursinya, melainkan tetap 
di tempat namun bersikap pasif selama ibadah berlangsung. Itu kan sikap positif 
MMS
untuk menghormati umat dari agama lain,” tambah Rantung lagi.

Di sisi lain, gaung penolakan terhadap fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam 
menghadiri natalan atau kegiatan keagamaan dari non-Muslim, disampaikan 
beramai-ramai oleh sejumlah tokoh Bol-mong. Mereka menilai, pada hakikatnya 
negara ini bukan negara agama, bukan milik satu agama saja, melainkan milik 
dari seluruh rakyat yang diketahui memiliki keanekaragaman agama, suku dan 
budaya.
Ketua Fraksi PAN, Drs Jemmy Lantong bersama anggotanya Rusli Tungkagi, berikut 
Ketua F-PDIP Christofel Popo Buhang bersama rekannya Herman Kembuan, serta 
Ketua F-PG Mansyur Sugeha menyampaikan hal itu dalam perbincangan serius di 
kantor
dewan kemarin siang, usai membaca headline yang terpampang di etalase harian 
ini, edisi Selasa kemarin.

“Presiden kan bukan pemimpin satu agama saja, tapi memimpin semua 
rakyatIndonesia yang memiliki agama, suku maupun budaya yang berbeda. Jadi 
kalau MUI mengeluarkan fatwa haram bagi presiden maupun seluruh umat Islam 
untuk menghadiri acara keagaman umat lain, itu sama saja dengan pemasungan 
terhadap umat Muslim sendiri dalam bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. 
Jadi saya sendiri sebagai orang Islam tidak bisa menerima fatwa itu,” sembur 
Herman Kembuan, langsung diaminkan teman-temannya. “Kita harus menyadari bahwa 
negara masih memegang asas Bhinneka Tunggal Ika, atau berbeda-beda tapi tetap 
satu.
Jadi kami sarankan sebaiknya MUI tidak terburu-buru me-ngeluarkan fatwa haram 
tersebut,” sambung Popo.

Senada dikatakan juga oleh Hi Mansyur Sugeha BSc, yang lebih memfokuskan 
penilaiannya pada kerukunan antarumat beragama dan kerukunan antarumat yang 
berbeda agama. Ketika datang lebaran, kata Ketua F-PG ini yang juga dikenal 
sebagai sesepuh rakyat Bolmong, umat non-Muslim baik dari Kristen, Hindu dan 
Budha berkenan turun merayakan dan mengucapkan selamat atas hari kemenangan umat
Islam itu, bahkan mereka juga tidak segan-segan datang bertamu ke rumah kita.

“Sebaliknya, kalau mereka juga merayakan hari besar, seperti natal, lalu apa 
salahnya kita mengucapkan selamat atau menghadiri acara perayaan mereka, 
semata-mata demi membangun kerukunan antar-satu agama dan agama lainnya di 
Bolmong,” ucapnya.(tus)

PMII Manado Tolak Fatwa MUI
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado dengan tegas 
menyatakan sikap penolakannya terhadap fatwa haram MUI yang terkait dengan  
akumulasi kontroversi keberadaan kelompok Aliran Ahmadiyah. Pasalnya, Indonesia 
adalah bangsa yang heterogen dan plural dan sangat menghargai kebebasan 
beragama.Dalam press release yang dikirim ke harian ini, Minggu (07/08) 
kemarin,Ketua Umum PMII Manado Zulkifli Golonggom SPdI dan sekretaris Amran 
Maulana
mengungkapkan, sangat diharamkan jika ada kelompok agama termasuk agama Islam 
yang menghalalkan kekerasan dalam beragama. “Negara kita bukan Negara Islam, 
dan harus diingat bahwa selain Ahmadiyah di Indonesia berkembang juga Islam 
secara local seperti Sasak di Lombok, Islam Kajang di Sulawesi Selatan, Islam 
Tua di
Tahuna dan kelompok-kelompok minoritas Islam lainnya,” ungkap keduanya.Selain 
itu, lanjutnya, PMII juga menolak Fatwa kontroversial lainnya seperti larangan 
pluralisme, sekularisme dan liberalisme karena dapat mematikan entitas Indonesia
sebagai bangsa yang beragam suku, agama dan aliran kepercayaan. “Kondisi ini 
bila berlanjut maka akan menimbulkan konflik horizontal lintas agama dan 
riak-riak social lainnya,” tegasnya.Karena itu, lanjut keduanya, PMII Manado 
dengan tegas menolak Fatwa MUI ini dan menyerukan kepada PP MUI untuk meninjau 
kembali sebelas fawa tersebut dan melakukan sosialisasi dalam bentuk dialog
seluruh kelompok agama yang berbeda-beda.“Kami juga mengharapkan agar MUI dan 
lembaga agama lainnya seharusnya lebih mengedepankan persoalan sosial 
kemasyarakatan seperti Perpres No 36 Tahun 205, UU no 7 ahun 2004 dan UU No 19 
Tahun 2004,” ujar keduanya.Dan kepada aparatur negara, lanjut 
keduanya,diharapkan agar agama sebagai alat politik kekuasaan. “Kepada 
masyarakat kota Manado dan Sulut
pada umumnya untuk tidak cepat mengambil sikap reaksioner tapi sebaliknya 
mengedepankan dialog agama yang selama ini telah terbina dengan baik,” tandas 
keduanya. (imo) -------- KH Assegaf: Agama Islam Tidak Seperti Itu

Larangan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak boleh menghadiri 
setiap upacara keagamaan yang terungkap dalam fatwa MUI ditanggapi tokoh agama 
Sulut. Menurut KH Arifin Assegaf, presiden adalah pemimpin masyarakat dari 
semua agama yang ada di Indonesia, karenanya tidak dibenarkan jika kemudian ada 
larangan seperti itu.

Kepada harian ini, Selasa (09/08) kemarin, Assegaf mengungkapkan, larangan bagi 
presiden untuk tidak menghadiri kegiatan keagamaan hanyalah paham dari kelompok 
tertentu, dan bukannya agama Islam. Pasalnya, pada prinsipnya agama Islam tidak 
pernah mengeluarkan larangan seperti itu. “Itu paham dari kelompok tertentu 
saja. Agama Islam tidak seperti itu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, presiden adalah pimpinan yang terdiri dari berbagai agama yang 
diakui di Indonesia dan mengayomi seluruh umat beragama di Indonesia. “Karena 
sebagai pemimpin bagi semua golongan agama dan bukan hanya Islam, maka wajar 
kalau SBY diharuskan menghadiri ibadah keagamaan semua agama di Indonesia dan 
bukan hanya ibadah keagamaan umat Islam. Jadi bagi saya silakan presiden 
mengikuti kegiatan ke-agamaan dari agama non-Islam,” tegasnya.

Karenanya, lanjut Assegaf, tidak ada masalah jika seorang presiden seperti SBY 
menghadiri seluruh kegiatan keagamaan dari agama non-Islam. Karena mengikuti 
ibadah bukan berarti mengakui dan kemudian pindah ke agama lain. “Perlu saya 
garis bawahi, mengikuti ibadah bukan berarti presiden atau siapa pun orang dari 
agama lain kemudian pindah agama. Siapa pun orang yang diundang mengikuti 
kegiatan agama yang tidak sesuai agamanya silakan mengikutinya, apalagi seorang
presiden yang menjadi milik semua agama yang ada. Sekali lagi agama Islam tidak 
pernah melarang seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu, Uskup Manado Mgr Yoseph Suwatan MSC dan ketika dikonfirmasi 
enggan memberikan komentarnya terhadap larangan tersebut. “Kita kira itu paham
dari golongan tertentu, jadi kita tidak mau mengomentarinya. Tapi saya kira
Presiden SBY cukup bijaksana dalam menyikapi persoalan seperti ini. Kita
serahkan masalah ini kepada presiden untuk menyikapinya,” paparnya.

Senada dengan itu juga dikemukakan Sekretaris Umum Sinode GMIM Pdt Decky
Lolowang MTh. Menurutnya, masalah ini perlu dibicarakan bersama dalam rapat
sinode baru diambil sebuah sikap resmi. “Saya belum berkomentar karena masalah
ini masih dibicarakan dalam rapat. Jadi mohon dimaklumilah,” tukasnya. Sementara
itu, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Propinsi Sulut, Ir Suryono meski
sebelumnya menyatakan enggan berkomentar namun kemudian mengungkapkan setiap
kebijakan yang menyangkut masyarakat umum harus berorientasi pada aspek
pluralitas yang menjadi ciri khas Indonesia. “Presiden adalah pemimpin untuk
seluruh masyarakat Indonesia yang berbeda golongan agama dan secara
konstitusional kemerdekaan beragama dijamin dalam Pancasila dan UU 1945. Karena
itu sangat penting di sini adalah agama yang satu mengakui keberadaan dan
aktivitas agama lain,” katanya.
Senada dengan itu juga dikemukakan Ketua Umum Sangha Walubi Sulut dan Indonesia
Timur Bhiksu, Dr Dharma Surya Mahasthavira MA MSi. Menurutnya, larangan bagi
Presiden SBY untuk tidak menghadiri kegiatan keagamaan non-Islam melanggar
prinsip pluralisme yang menjiwai bangsa Indonesia. “Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang plural, karenanya apa yang dikemukakan dalam fatwa MUI tersebut
tentunya bertolak belakang dan melanggar prinsip pluralisme. Dan karena presiden
adalah pilihan seluruh rakyat Indonesia dan dipercayakan memimpin seluruh
masyarakat Indonesia apa pun agamanya, maka sewajarnyalah Presiden SBY
menghadiri setiap perayaan dari masing-masing agama yang ada di Indonesia,”
kuncinya.(imo)

Sumber: http://www.hariankomentar.com






***********************************************************************************
 
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; 
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against 
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.

Sidharta Gautama



                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6iu9mr/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123757952/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke