MEDIA INDONESIA
Jum'at, 12 Agustus 2005


Membiarkan Berbeda
Mahmudi, peneliti Himpunan untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (HP2M) 
Jakarta


POLEMIK fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini telah menjadi kontroversi 
berkepanjangan yang menyita ruas-ruas halaman media massa, baik media cetak 
maupun elektronik di Tanah Air. Persoalannya, kelompok atau komunitas 
keberagamaan seperti MUI di satu sisi, Jemaah Ahmadiyah pada sisi yang lain dan 
Jaringan Islam Liberal (JIL) maupun komunitas-komunitas keberagamaan lainnya, 
baik yang menentang maupun mendukung fatwa MUI, tetap bersikukuh pada 
pendapatnya masing-masing. Ini terasa menyulitkan bagi kelompok moderat lainnya 
untuk mencari dan mempertemukan polemik pemikiran yang kini kontroversial itu.

Lebih dari itu, setiap komunitas yang berseteru kini terlihat merasa memiliki 
otoritas lebih untuk menentukan apakah sebuah komunitas keberagamaan lain benar 
atau salah, sesat atau tidak sesat, dan seterusnya. Dalam konteks inilah, 
komunitas keberagamaan yang ada telah terjebak dalam 'arogansi teologis' 
sehingga selalu merasa benar dan paling benar daripada komunitas lainnya. Klaim 
kebenaran (claim of truth) seperti ini, tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan 
dan ketuhanan itu sendiri. Seperti ungkapan bijak yang pernah ditegaskan 
filosof Muslim Ibnu Arabi, siapa yang mengetahui Tuhan dan tidak berpaling dari 
pengakuan itu, maka sesungguhnya ia tidak mengetahui apa-apa karena yang 
mengetahui Tuhan hanyalah Tuhan itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam pandangan saya, tidak ada satu komunitas keberagamaan 
pun di dunia ini yang lebih berhak melakukan klaim kebenaran (claim of truth). 
Kebenaran sejati hanyalah Tuhan itu sendiri, sedangkan manusia hanya mencari 
titik simpul kebenaran. Oleh karena itu, yang ditemukan manusia belum tentu 
sebuah kebenaran absolut. Dalam perspektif pemikiran ini, menyikapi perbedaan 
pandangan mengenai polemik dan kontroversial fatwa MUI, baik oleh MUI sendiri 
maupun Jemaah Ahmadiyah atau Komunitas JIL, sebaiknya kita membiarkan semua itu 
berbeda. Membiarkan berbeda adalah sikap kesatria umat beragama dan itulah 
pluralisme sejati.

Perbedaan sebagai rahmat
Bukankah perbedaan pemahaman, penafsiran, atau interpretasi tentang substansi 
pemikiran agama dan keagamaan adalah rahmat Tuhan yang mesti dinilai sebagai 
sesuatu yang wajar dan alami (natural). Dalam arti kata, dengan adanya 
perbedaan cara pandang itu, bisa tercipta suatu dinamika pemikiran sehingga 
merangsang untuk mengkaji substansi doktrin teologis agama secara lebih 
mendalam.

Dengan demikian, agama dengan berbagai instrumen ajarannya diyakini mampu 
memberi ketenteraman bagi setiap manusia yang meyakini dan mengamalkan, 
sehingga bisa menghadirkan manusia sebagai makhluk Tuhan yang penuh damai dan 
kasih sayang di muka bumi. Sedangkan pertentangan yang disertai dengan 
kekerasan sejatinya adalah dosa.

Namun demikian, pemahaman seperti ini tampak kian suram di negeri ini seiring 
dengan lahirnya komunitas keberagamaan yang acap kali mengklaim dirinya paling 
benar, sedangkan komunitas lainnya salah, harus dihukum dan diadili. Dalam 
hemat saya, perilaku sosial umat beragama seperti ini disebabkan sempitnya 
pemahaman, bahkan ketidakmampuan seseorang dalam menerjemahkan doktrin teologis 
agamanya secara fundamental, substantif, dan komprehensif. Implikasinya, 
seseorang bisa terjebak dalam kesalehan simbolik, egois, dan individualistis. 
Padahal Islam sangat menuntut terciptanya kesalehan sosial, paling tidak 
keduanya bisa berjalan seimbang. Artinya, internalisasi doktrin teologis bisa 
seirama dengan perilaku sosialnya, Islam menuntut terciptanya kehidupan damai 
dan harmonis.

Ada contoh baik dari kampus IAIN yang kini menjadi Universitas Islam Negeri 
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat. Dahulu, komunitas keberagamaan 
antara pengikut Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mempersoalkan menyimpang 
(bid'ah) tidaknya salat tarawih 11 atau 23 rakaat. Menurut informasi yang 
berkembang dalam diskursus pemikiran Islam di Ciputat, konon yang mendamaikan 
adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut Gus Dur, bertengkar dalam Islam 
hukumnya haram sedangkan salat tarawih adalah sunah. Gus Dur berpendapat, 
daripada bertengkar, sebaiknya tidak usah salat tarawih. Pemikiran inilah 
kemudian melahirkan toleransi antara kedua komunitas keberagamaan ini. Uniknya, 
kedua komunitas (NU dan Muhammadiyah) ini tetap menjalankan ibadah salat 
tarawih dalam satu masjid. Sebelas rakaat pertama dilakukan dengan imam paham 
Muhammadiyah baru diteruskan hingga dua puluh tiga rakaat dengan imam NU. 
Membiarkan berbeda seperti di kampus UIN ini masih terus berjalan hingga saat 
ini.

Pemahaman seperti ini mengisyaratkan, realitas kehidupan di dunia ini tidak ada 
yang benar-benar satu (unity), tetapi selalu terdapat dimensi perbedaan 
(diferent). Oleh karena itu, agar misi agama untuk menciptakan perdamaian 
tercapai, para pemeluk agama-agama, termasuk sekte atau aliran kepercayaan 
harus bersedia hidup berdampingan dalam komunitas yang memiliki paradigma 
pemikiran berbeda sebagai konsekuensi logis realitas sosial kehidupan yang 
berbeda (multiculturalism), manusia harus bersedia hidup bersama dalam 
keberbedaan (unity in diversity).

Memang, problem besar dunia kontemporer adalah hilangnya ruh semangat 
rekonsiliasi, membangun kebersamaan hidup dalam strata sosial yang 
multikultural dengan meminimalisasi perbedaan-perbedaan kultur, etnisitas, dan 
lain sebagainya, sehingga tercipta kesetaraan (equality) yang kondusif bagi 
berkembangnya masyarakat yang berperadaban (civil society). Seperti penjelasan 
J.P.S. Uberoi dalam Religion, Civil Society and The State (1999:104) The 
problem for the world to day is perhaps the reconciliation of difference with 
equality in civil society .

Sementara itu, menurut Hans Kung (1990:115), ...Whithout peace between 
religions there will be no peace between nations . Tanpa ada perdamaian, dan 
juga toleransi di antara para pemeluk agama-agama di dunia, maka tidaklah 
mungkin tercipta sebuah perdamaian di antara bangsa-bangsa, termasuk dalam 
konteks lokal di negeri ini. Penegasan Hans Kung ini mengandung makna bijak dan 
filosofis yang teramat dalam korelasinya dengan upaya untuk membangun peradaban 
masa depan bangsa yang lebih mengedepankan kedamaian demi tercapainya 
kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam konteks inilah, segala bentuk kekerasan 
tidak lagi memiliki ruang dan waktu.

'Cooperation among religions'

Penegasan Soedjatmoko, dalam sebuah seminar internasional bertajuk Future of 
Mankind and Cooperation among Religions pada era tahun 80-an, tepatnya, 13 
April 1987 di Tokyo, Jepang, sangat menarik untuk diapresiasi. Menurut 
Soedjatmoko, selama berabad-abad agama-agama besar telah mengajarkan pentingnya 
persatuan umat manusia. Akan tetapi dalam dunia modern kini, persepsi 
transendental dari kemanusiaan itu kian memudar. Namun demikian, melalui kerja 
sama antar-agama atau juga antar-pemeluk suatu agama, cendekiawan terkemuka ini 
yakin bahwa nilai transendental kemanusiaan itu akan kembali dapat dibangkitkan.

Meminjam penjelasan M. Syafi'i Anwar (UQ, 1993: 3), penegasan Soedjatmoko ini 
mengingatkan kita bahwa eksistensi agama-agama di dunia sesungguhnya memiliki 
makna yang sangat penting dalam menyongsong masa depan peradaban umat manusia 
yang penuh makna dan artikulatif di sepanjang sejarah kemanusiaan. Akan tetapi 
dapat pula bermakna sebuah kekhawatiran kemungkinan datangnya abad baru 
perilaku sosial umat manusia yang penuh dendam dan kebencian, perseteruan yang 
disertai kekerasan, tanpa adanya kesaksian agama-agama dengan nilai 
transendentalnya yang sangat humanis.

Sekali lagi, gagasan Soedjatmoko ini sangat menarik, bukan semata dalam tataran 
ideal-konseptual, tetapi sangat visioner seiring dengan realita struktur sosial 
masyarakat modern, dunia yang sangat plural-sekularistik. Seperti halnya dalam 
bidang ekonomi yang sangat kapitalistik, cenderung mengabaikan sisi kemanusiaan 
sebagai entitas sosial yang amat merindukan kesejahteraan dan kedamaian. Di 
sinilah makna penting artikulasi atas pemikiran itu, yakni, bagaimana 
menghadirkan kembali nilai-nilai moral kemanusiaan universal yang lebih 
humanis-religius yang memungkinkan tercapainya kehidupan damai tanpa kekerasan 
di antara umat beragama.

Dalam perspektif inilah, mesti ada pemahaman bahwa sesungguhnya agama hanyalah 
merupakan jalan atau instrumen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui amal 
kebajikan, baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal, bukan menjadi 
terminal akhir dari proses perjalanan kehidupan ini.

Perlu penulis tegaskan bahwa semakin kaku pemahaman dan penafsiran kita 
terhadap doktrin teologis agama, maka ritme peradaban manusia akan menjadi 
sangat kaku dan statis pula. Bahkan, bisa terjadi stagnasi peradaban apabila 
doktrin teologis menjadi sangat taken for granted, padahal Islam menuntut 
sebuah sikap keberagamaan yang demokratis. Dakwah atau jihad harus senantiasa 
dilakukan dengan cara damai, penuh hikmah dan kebijakan.

Setiap manusia mempunyai hak privacy, termasuk dalam beragama dan berkeyakinan. 
Seseorang tidak boleh mengganggu manusia lainnya (QS. al-Fathir:35-18). Untuk 
itu, perbedaan cara pandang atau interpretasi terhadap suatu doktrin teologis 
menuntut adanya dialog dalam menyelesaikan, bukan dengan cara anarkistis atau 
kekerasan dan intimidasi.

Ironis memang, dahulu yang acap kali mengobarkan permusuhan sengit dan tragis 
melebihi konflik dunia Barat dan Islam adalah keluarga agama-agama Ibrahim, 
yaitu antara Yahudi, Kristen dan Islam, tetapi mengapa kini justru terjadi di 
antara umat Islam itu sendiri, terutama menyangkut perbedaan cara pandang, 
tafsir atau interpretasi. Tampaknya memang kita harus belajar hidup bersama 
dalam keberbedaan sehingga mampu bersikap toleran dan membiarkan semua itu 
berbeda. Wallahu a'lam!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hti1vnt/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123805045/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke