MEDIA INDONESIA
Jum'at, 12 Agustus 2005

Panorama Pluralisme Mesir
M Hasibullah Satrawi, alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir, peneliti di Perhimpunan 
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).



ISLAM di Mesir berwajah Suni, berdarah Syiah, berhati Koptik, dan bertulang 
peradaban Firaun. Begitu dikatakan tokoh terkemuka Kristen Koptik, Dr Milad 
Hana, dalam sebuah bukunya berjudul Qabûlul Âkhâr (menyongsong yang lain). 
Pernyataan pemikir asal Mesir di atas menggambarkan wujud dan perjalanan 
pluralisme di Negeri Piramid ini.

Seseorang yang berkunjung ke Mesir dengan mudah bisa membuktikan kebenaran 
pernyataan di atas. Begitu turun dari pesawat, Anda akan menemukan masyarakat 
Mesir dalam ragam warnanya. Baik dalam berpakaian, warna kulit, atau tingkah 
laku. Anda juga bisa menyaksikan "peninggalan berwarna" di sana sini. Dari yang 
paling kuno hingga yang modern. Mulai peninggalan Islam, Kristen Koptik, hingga 
Mesir kuno.

Tak jauh dari Sungai Nil yang terbentang luas di tengah Kota Kairo, Anda akan 
menemukan masjid dengan model bangunan kuno. Itulah Masjid Amru bin 'Ash, 
masjid pertama di Mesir. Di seberang sungai sana, Anda akan menemukan tiga 
Piramid yang dibangun antara tahun 2778 dan 2263 SM. Ke selatan dari Kairo 
(sekitar 6 jam perjalanan darat), Anda akan menemukan Gunung Musa yang 
disucikan oleh tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam). Di lereng gunung 
ini, terdapat gereja yang menjadi tempat berlindung para pendeta dari kejaran 
orang-orang Romawi. Ke arah barat dari Kairo (sekitar 200 kilometer), Anda akan 
menemukan Kota Alexandria yang mengombinasikan model modern dengan gaya lokal. 
Apalagi dengan diresmikannya kembali Perpustakaan Alexandria (pada 18 April 
2003) yang menjadi simbol dari setiap peradaban yang pernah tumbuh di sana. Dan 
10 jam lagi dengan berkendaraan darat ke arah utara, Anda akan sampai ke Kota 
Fir'un, Luxor. Di kota ini, Anda akan menemukan peninggalan sejarah yang 
mencerminkan hakikat pluralitas dan kebersamaan masyarakat Mesir kuno. Di 
Istana Fir'un terdapat dinding-dinding tinggi menjulang yang terbuat dari batu. 
Dinding-dinding ini bertuliskan hal-hal penting bagi masyarakat Mesir kuno. 
Seperti nama-nama Tuhan, cara melakukan ritual dan kalender. Di samping juga 
tiang penyangga yang tak kalah tingginya. Di halamannya terdapat patung-patung 
hewan yang dipercayai sebagai Tuhan penjaga mereka. Dapat dipahami bila Will 
Durant, sejarawan dunia dari Amerika Latin, model pembangunan (arsitektur), 
dari dulu hingga sekarang, pertama kalinya ditemukan oleh masyarakat Mesir kuno 
(Sejarah Peradaban: II: 577).

Di hari-hari keagamaan seperti Lebaran dan kenaikan Isa Al-Masih, Anda akan 
menonton "tayangan pluralisme" yang cukup menyejukkan. Ketika umat Islam 
berlebaran, masyarakat Kristen Koptik mengucapkan selamat kepada mereka. Begitu 
juga sebaliknya. Suasana kebersamaan dan persaudaraan ini dicontohkan oleh 
pimpinan dua agama di Mesir ini. Media massa di pelbagai bentuknya melansir 
berita kunjungan Baba Syanudah (pemimpin spiritual tertinggi kalangan Kristen 
Koptik di Mesir) ke kediaman Grand Syaikh Al-Azhar. Begitu juga ketika umat 
Kristen Koptik merayakan hari keagamaan. Grand Syaikh Al-Azhar berkunjung ke 
kediaman Baba Syanudah. Semua masyarakat menyaksikan bagaimana pemimpin mereka 
saling tersenyum, saling berpelukan dan berciuman.
***

Dr Milad Hana mensinyalir ada tujuh bentuk peradaban yang mengalir dalam diri 
masyarakat Mesir. Pertama, peradaban Mesir kuno. Peradaban ini diperkirakan 
bermula pada 3.000 tahun sebelum Masehi. Lebih lanjut tokoh ini membagi 
peradaban Mesir kuno ke dalam tujuh fase sejarah. Fase pertama, masa yang 
paling kuno (3100-2778 SM). Fase kedua masa negara kuno (2778-2263 SM). 
Pembangunan piramida terjadi di masa ini. Fase ketiga masa perpindahan pertama 
(2263-2160 SM). Fase keempat masa negara pertengahan (2160-1785 SM). Fase 
kelima masa perpindahan kedua (1785-1580 SM). Fase keenam masa imperialisme 
(1580-1085 SM), Dan fase ketujuh masa peperangan (1085-341 SM).

Kedua, Peradaban Yunani-Romawi (332 SM-68 M). Ketiga, peradaban Koptik. Di masa 
ini Madrasah Alexandria yang kesohor dengan pusat keilmuan itu dibangun. 
Keempat, peradaban Islam. Sementara fondasi peradaban yang kelima, keenam, dan 
ketujuh ditinjau dari posisi geografis. Secara geografis Mesir mempunyai 
hubungan dengan Arab, Laut Tengah, dan Afrika (Al-'A'midah as-Sab'ah li 
as-Syakhshiyah al-Mishriyah, hlm 60-137).

Peninggalan peradaban-peradaban besar ini masih ada dan terawat dengan baik 
hingga sekarang. Seperti tiga piramida (Mesir kuno), Masjid 'Amru bin 'Ash 
(Islam), Perpustakaan Alexandria (Yunani-Romawi), Gereja Sinai (Koptik) dan 
lainnya. Peradaban-peradaban inilah yang telah membentuk kejiwaan orang Mesir. 
Eksistensi nilai peradaban di atas tak hanya dalam bentuk peninggalan sejarah, 
melainkan jauh tertanam dalam diri orang Mesir. Mereka terlahir dan terbentuk 
dari spirit pluralitas ini. Hingga tokoh seperti Baba Syanudah mengatakan, kami 
(bangsa Mesir) tidak hidup di negara Mesir. Mesirlah yang hidup dalam diri kami.

Ada beberapa hal yang menarik dari sejarah panjang masyarakat Mesir ini. 
Pertama, interaksi budaya dan keilmuan antarperadaban-peradaban di atas. 
Interaksi ini kemudian melahirkan kemaslahatan bagi masing-masing. Mesir 
mendapatkan konsep filsafat Yunani. Sedangkan Yunani mendapatkan ilmu falak, 
matematika, arsitektur dan lainnya.

Kedua, keberagamaan mereka. Masyarakat Mesir menafsir agama dengan 
kemaslahatan. Oleh karena itu, ketika keluarga yang ke-30 dari penguasa Mesir 
(Firaun) tak mampu melindungi masyarakat dari jajahan Persia, masyarakat pun 
menyambut baik kedatangan Yunani-Romawi setelah Alexandar al-Makduni 
mengalahkan penguasa Persia (332 SM). Begitu juga dengan kisah masuknya Islam 
ke Mesir. Pada waktu itu Islam dianggap sebagai penyelamat rakyat Mesir dari 
"Penderitaan Agung" yang bermula dari polemik keagamaan hingga melibatkan 
campur tangan penguasa (622 M).

Ketiga, pengaruh keyakinan Mesir kuno dalam agama-agama samawi. Setidaknya 
dalam tiga hal. Pertama, adanya kehidupan setelah mati. Menurut Breasted, tokoh 
dari Inggris yang mendalami tentang Mesir dalam bukunya Fajru al-Damir, 
diterjemahkan oleh Salim Hasan, masyarakat Mesir kuno yang pertama meyakini 
akan kehidupan setelah mati. Kedua, konsep kekuasaan (hâkîmiyah) Tuhan. Menurut 
Muhammad Said al-'Asymâwi, pemikir Islam dari Mesir, konsep ini pertama tumbuh 
dalam tradisi kekuasaan Mesir kuno. Mereka meyakini, penguasa adalah bayangan 
Tuhan di muka bumi. Oleh karena itu, setiap kebijakan harus mendapatkan restu 
dari penguasa ini. Pemikiran ini sempat diterapkan di Eropa pada abad 
pertengahan. Yaitu setelah Kaisar Yulius berkunjung ke Mesir (120-44 SM). Dari 
Eropa konsep ini kemudian dianut kelompok Khawarij dalam Islam setelah Eropa 
bersentuhan dengan dunia Islam di masa belakangan (Al-Islam as-Siyâsi: 50-52). 
Ketiga, konsep asketisme. Menurut Dr Milad Hana, pemikiran ini pertama kali 
lahir di Mesir. Yaitu di sekitar tahun 250-356 M. Baru pada sekitar tahun 
300-356 pemikiran ini dikembangkan dan diteorikan.

Sangat menarik, karena asketisme pada perkembangannya dianggap menjadi 'doktrin 
murni' agama-agama samawi. Terutama Islam. Dalam Islam hal ini sangat tampak 
jelas dalam tradisi tasawuf. Bahkan juga diakui Alquran (QS 19: 26).
***

Yang disampaikan Diana Eck dari Harvard University bahwa pluralisme 'upaya 
memikat dan mengikat pelbagai perbedaan untuk membangun komitmen kebersamaan' 
(www.Islamemansipatoris.com), atau Budhy Munawar-Rachman yang memaknai 
pluralisme dengan 'pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban' 
(Islam Pluralis: 39) tidak cukup meng-cover pluralisme yang berkembang di Mesir 
ini. Karena pluralisme di sana telah melahirkan nilai-nilai keadaban dan 
peradaban dunia sebagaimana telah disampaikan di atas. Tak berlebihan bila 
dikatakan, Mesir adalah 'Ibu Dunia', sebagaimana sering dikatakan dan menjadi 
kebanggaan masyarakat Mesir. Bila perkembangan pluralisme di Mesir sudah 
sedemikian rupa, kenapa di Indonesia tidak? Kita hanya membutuhkan satu hal: 
belajar!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h87smig/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123804838/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke