http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/hukum.html
Edisi. 24/XXXIV/08 - 14 Agustus 2005
Hukum
Teka-teki Telepon untuk Munir
Pollycarpus, terdakwa pembunuh Munir, pekan ini disidang di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat. Benarkah dakwaan jaksa lemah?
POLLYCARPUS mengamati dengan cermat delapan lembar kertas yang digenggamnya.
Sejurus kemudian, wajahnya berubah, menunjukkan keheranan. "Dakwaan ini lucu,"
katanya sembari menoleh kepada pengacaranya, M. Assegaf dan Wirawan Adnan, yang
pada Rabu pekan lalu menjenguknya di ruang tahanan Markas Besar Polri. Ditahan
sejak 19 Maret, Rabu lalu Polly terlihat santai. Di tahanan, kegiatan yang
paling banyak dilakukannya adakah membaca dan berolahraga bersama sesama
tahanan.
Pollycarpus Budihari Priyanto-demikian nama lengkap pria 45 tahun ini-menilai
tuduhan terhadap dirinya, sebagaimana tertulis dalam dakwaan jaksa, terlalu
dipaksakan. "Bagaimana mungkin saya bersama-sama Yeti Susmiarti dan Oedi
Irianto dituduh merancang pembunuhan?" ujarnya seperti ditirukan Wirawan Adnan.
"Saya ini korban."
Selasa pekan ini, sidang perdana kasus pembunuhan Munir akan digelar di PN
Jakarta Pusat. Hakim Tjitut Sutiarso yang akan memimpin persidangan.
Rencananya, sidang akan dilangsungkan di ruang utama lantai 2. Polly didakwa
melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir, Ketua Dewan Pengurus Kontras dan
Direktur Eksekutif Imparsial.
Dalam dakwaannya, jaksa menyebutkan, Polly yang berprofesi sebagai pilot Garuda
sejak 1999 telah melakukan berbagai kegiatan untuk menegakkan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Lantaran "kecintaannya" pada negara inilah ia menganggap
kegiatan Munir yang kerap mengkritik pemerintah berpotensi menghalangi
terlaksananya program pemerintah.
Dengan pikiran semacam itulah, menurut jaksa, Polly merasa harus menghentikan
tingkah laku Munir. Sejak itulah ia mulai memonitor dan memata-matai kegiatan
Munir, sampai suatu ketika ia mengetahui pria berambut kecokelatan itu pada 6
September 2004 akan pergi ke Belanda.
Dua hari sebelum keberangkatan Munir, Polly menelepon ke telepon selulernya.
Begitu tahu Munir benar-benar akan berangkat, Polly pun mencari peluang agar
bisa terbang bersama mantan pengurus LBH itu. Ia yang seharusnya bertugas
sebagai extra crew pada 5-9 September ke Peking, meminta perubahan jadwal. Ia
minta jadwalnya pada 6 September dialihkan ke Singapura dengan dalih akan
memeriksa pesawat Boeing 747 Garuda yang tertimpa masalah di Bandara Changi.
Polly akhirnya bisa terbang satu pesawat dengan Munir. Saat berjalan ke pesawat
Garuda G-974 yang akan membawa mereka ke Singapura, ia menyapa Munir dan
menanyakan tempat duduk. Begitu mengetahui Munir duduk di kursi 40-G kelas
ekonomi, Polly segera menawarkannya pindah ke kelas bisnis, ke kursi 3-K. Untuk
menghilangkan kecurigaan, menurut jaksa, Polly memberitahukan kepada purser,
petugas di pesawat, soal kepindahan Munir ke kelas bisnis.
Setelah pesawat lepas landas dan pramugari menyiapkan welcome drink, Polly
mulai bertindak. Ia menuju pantry (dapur pesawat) dan memasukkan arsen ke
minuman orange juice karena mengetahui Munir tidak menenggak alkohol. Di kelas
bisnis, welcome drink yang disajikan hanya jus jeruk dan wine.
Minuman bercampur arsen inilah yang kemudian dibawa pramugari Yeti ke kelas
bisnis. Di jajaran bangku Munir, awalnya Yeti menawarkan minuman itu kepada Lie
Khie Ngian, penumpang di sebelah Munir. Lie memilih wine. Giliran Munir, ia
mengambil orange juice. Itulah minuman yang telah dicampur arsen.
Ketika pesawat transit di Bandara Changi, Singapura, Pollycarpus dan Munir
berpisah. Polly pergi ke Hotel Novotel di Singapura, sementara Munir, setelah
transit satu jam di Changi, melanjutkan penerbangan ke Belanda. Kali ini, Munir
duduk di bangku asalnya, kursi nomor 40-G, kelas ekonomi.
Saat itulah perubahan mulai terjadi pada tubuh Munir. Tiga jam setelah pesawat
take-off dari Changi, ia mulai sakit perut, lantas muntah-muntah. Tarmizi,
Seorang dokter yang ikut dalam penerbangan itu, mencoba menolong Munir dan
memindahkannya ke kelas bisnis. Namun, usahanya menolong tak membuahkan hasil.
Dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Belanda, Munir telah
tiada. Berdasarkan fakta-fakta itulah, menurut jaksa, Polly didakwa melakukan
pembunuhan berencana. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pelaku
pembunuhan semacam ini bisa dihukum mati.
Sebagaimana Polly, sang pengacara, Mohammad Assegaf, juga terheran-heran dengan
isi dakwaan jaksa. "Dakwaannya abstrak," ujar pengacara ini. Ia menunjuk
keterangan jaksa yang menyebut kliennya sejak 1999 melakukan kegiatan
menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Polly itu hanya pilot, dan
bukan orang yang punya organisasi mengatur negara ini," katanya.
Menurut Assegaf, dakwaan jaksa yang menyatakan kliennya melakukan pembunuhan
terasa sangat dipaksakan. Jika seseorang berencana melakukan pembunuhan,
menurut dia, lazimnya harus ada motif dan alasan, misalnya dendam. "Dalam
dakwaan tidak tergambar motivasi dan alasan itu," ujarnya.
Assegaf juga menilai dakwaan jaksa spekulatif. Kliennya, kata dia,
disebut-sebut menuju dapur pesawat dan memasukkan arsen ke orange juice yang
bakal disajikan kepada Munir. "Bagaimana dia tahu kalau minuman itulah yang
akan diberikan ke Munir?" ujarnya. Lagi pula, tutur Assegaf, makanan dan
minuman sebelum dibawa ke pantry pesawat pasti disegel. Dalam prarekonstruksi,
kata Assegaf, pramugara Oedi sampai harus meminjam tang untuk membuka makanan
dan minuman yang disegel. "Dakwaan jaksa banyak lemah, banyak bolongnya,"
ujarnya.
Benarkah dakwaan jaksa lemah? "Kami tak mau berkomentar. Lihat saja nanti di
persidangan," ujar Edi Saputra, salah satu anggota tim jaksa. Menurut sumber
Tempo di kejaksaan, sebenarnya jaksa punya petunjuk awal untuk menjerat
Pollycarpus. Petunjuk itu, kata sumber ini, terdakwa sempat menelepon ke ponsel
Munir dua hari sebelum ia berangkat ke Belanda.
Adapun yang menerima telepon itu adalah Suciwati, istri Munir. "Apa kepentingan
Polly menelepon Munir?" ujar sumber itu. Selain itu, petunjuk lainnya adalah
fakta Polly sebenarnya tidak sedang bertugas, tapi kemudian meminta penugasan
yang waktunya bersamaan dengan jadwal keberangkatan Munir.
Menurut Assegaf, petunjuk-petunjuk seperti itu hanyalah rangkaian cerita yang
sengaja dimasukkan jaksa ke dalam dakwaan agar terkesan logis. "Rangkaian
cerita itu diawali dengan tiga surat tugas, yang salah satunya ditandatangani
Direktur Utama Garuda Indra Setiawan," ujarnya.
Selasa ini, setidaknya 36 orang akan dihadirkan sebagai saksi; salah satunya
Suciwati. Sidang ini tampaknya akan menyedot perhatian banyak orang. Komite
Solidaritas Munir, misalnya, menyatakan akan terus memantau sidang ini. Menurut
Asmara Nababan, anggota Komite, pihaknya tidak ingin kasus dugaan pembunuhan
Munir hanya berakhir di persidangan Pollycarpus.
"Pollycarpus hanya bagian kecil dari kasus pembunuhan Munir," ujar Asmara, yang
pernah menjadi wakil ketua tim pencari fakta kasus Munir. Komite Solidaritas,
katanya, akan meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera mengumumkan
informasi temuan TPF. "Agar masyarakat tahu bahwa Pollycarpus punya dalang di
balik layar," ujarnya.
Sukma N. Loppies, Rinaldi D. Gultom
Nama dalam Kantong
DI SAAT-saat menjelang pembubarannya, tim pencari fakta (TPF) kasus Munir masih
meminta keterangan sejumlah pihak yang terkait kasus ini, di antaranya beberapa
anggota Badan Intelijen Negara (BIN). TPF yang dibentuk 23 Desember 204 resmi
bubar pada Juni lalu. Pekerjaannya kini diteruskan tim penyidik Munir pimpinan
Brigadir Jenderal Polisi Marsudhi Hanafi.
Mantan sekretaris TPF, Usman Hamid, mengaku sudah mengantongi nama aktor di
belakang layar kasus pembunuhan Munir, tapi ia menolak menyebutkan.
Keterlibatan BIN, katanya, sudah jelas ada. "Perkembangan terakhir menunjukkan
ke arah itu," ujarnya, Selasa lalu.
Keterlibatan BIN juga ditemukan para penyidik saat "mengorek" Polly. Dari
dokumen yang sempat diintip Tempo dari seorang sumber, saat memeriksa Polly,
penyidik memperlihatkan sejumlah nomor telepon. Salah satu pemilik nomor itu
(081190xxxx), adalah pejabat penting BIN. Pejabat itu ternyata beberapa kali
menelepon ke rumah Pollycarpus (021-740xxxx), yakni pada 25 Agustus, 3
September, dan 6 September 2004, yang masing-masing dua kali, dan pada 7
September 2004 sebanyak empat kali. "Apa benar? dan siapa yang menerima telepon
itu?" tanya penyidik. Pollycarpus tutup mulut. "Saya tidak tahu."
SNL, Agriceli, Mawar Kusuma (dari berbagai sumber)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h2mlqtk/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123936028/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Give
underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to
life by funding a specific classroom projectÂ
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/