http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/8/15/b1.htm
Dari Warung Global Interaktif Bali Post Jangan Sunat Dana Pendidikan biar tak Mahal Pendidikan murah, walau banyak bantuan yang sudah dikucurkan untuk membantu meringankan beban dana yang dikeluarkan. Tentu hal ini menimbulkan banyak harapan dan juga pertanyaan kepada pengelola sekolah, baik kepala sekolah maupun komite sekolah. Sebuah indikasi muncul berupa ketidakpercayaan masyarakat tentang penyaluran dana bantuan pendidikan. Apakah bantuan tersebut nantinya akan langsung dapat diterima oleh yang berhak? Akankah dana pendidikan tidak disunat? Orangtua murid tentu tidak mengharapkan seperti itu. Asalkan pendidikan yang didapatkan oleh murid ini disesuaikan dengan apa yang dibayar, membayar mahal sesungguhnya bukan masalah. Tetapi terkadang kita membayar namun mutu yang kita dapatkan jauh dari harapan. Yang sering dirasakan orangtua murid, pihak sekolah hanya berorientasi pada uang, namun kurang memperhatikan kualitas. Pemerintah dan masyarakat mestinya ikut memperhatikan dan mengontrol dunia pendidikan, jangan biarkan mahal. Demikian antara lain opini kawan Global dalam acara Warung Global Radio Global FM Bali 96,5 Kinijani, Sabtu (13/8) lalu. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya. --------------------------------- Nyoman Ledang di Denpasar menyatakan bahwa indikator yang disampaikan oleh Gubernur Bali adalah salah satu yang mencerminkan bahwa kepala sekolah-kepala sekola dan Dinas Pendidikan masih belum bisa dipercaya dalam pengelolaan dana bantuan tersebut, sering nyantol di jalan sehingga tidak sampai di anak didik. Oleh karena itu, masyarakat dari seluruh lini yang berkait erat dengan pendidikan tentu harus lebih banyak menampakkan kejujuran. Jadi apa yang digulirkan oleh Gubernur merupakan satu syarat bahwa pengetatan dana pendidikan yang dikelurkan sebanyak Rp 62 milyar harus dilaksanakan, digunakan sesuai dengan kebutuhan dan sampai pada anak didik dalam proses belajar mengajar di sekolah. Demikian juga kesejahteraan guru, pembangunan gedung-gedung sekolah harus sesuai dengan anggaran yang telah ditentukan. Sementara itu, Jujur di Sanglah mengatakan bahwa semua jadi tukang sunat. Kalau kita dari pertama yang namanya duit sudah wanti-wanti berarti pengelola itu tidak percaya. Kalau sampai kita menyebut jangan disunat berarti indikasinya kita curiga kepada orang yang mendapatkan dana itu. Ini kalau kita rasakan dari bahasa yang diungkapkan. Kalau akan terjadi hal seperti itu, artinya pengelolaan-pengelolaan dana untuk masyarakat umum sudah tidak kita percayakan kepada putra-putra bangsa seperti pendidikan ini. Kalau dikaitkan dengan kesejahteraan selama kita hidup dan disertai perubahan zaman, sebesar apa pun kekayaan yang ada tidak akan tercukupkan. Sebagai orangtua murid dirinya tidak mengharapkan seperti itu asalkan pendidikan yang didapatkan oleh murid ini disesuaikan dengan apa yang kita bayar. Kadang-kadang kita membayar tetapi mutu yang kita dapatkan jauh dari harapan masyarakat. Yang sering kita rasakan, mereka hanya berorientasi pada uang. Inilah penyesalan-penyesalan sebagai orangtua. Kalau ada seperti ini, mendapatkan subsidi dari pemerintah alangkah baiknya dijadikan barang dan barang-barang itu memang dibutuhkan oleh siswa itu sendiri, karena kalau berupa uang akan dicarikan celah-celah untuk dialokasikan pada hal-hal yang tidak penting. Kak Nges di Denpasar mengungkapkan bahwa di beberapa SD dan SMP di Payangan guru dan anggota komite belum mengadakan rapat untuk membahas dana BOS. Di Kabupaten Gianyar masing-masing sekolah masih memberlakukan dana komite masing-masing, ada yang Rp 3.000, ada yang Rp 4.000 per bulan untuk anak SD, dan untuk SMP ada yang Rp 30.000 per bulan. Tetapi idealnya sekolah itu membutuhkan dana Rp 57.500, sementara dana bOS untuk SMP sebesar Rp 27.500. Mereka juga bersyukur ada dana dari pemerintah sehingga meringankan beban siswa. Di Klungkung untuk SD dan SMP gratis, sementara di salah satu SMK swasta mereka masih memberlakukan SPP. SMP Negeri di Badung khususnya Kecamatan Mengwi SMP 4 Mengwi pihak sekolah dan komite akan melakukan rapat, sementara SMP 1 Mengwi ada peningkatan dari Rp 25.000 menjadi Rp 50.000. Kak Nges mengaku sempat kaget, karena alasan sekolah menuju sekolah standar nasional, dan itu sudah disepakati oleh orangtua murid dan kita tahu rata-rata/90% orangtua murid mampu. Dia merasa dana BOS ini sangat berarti bagi anak-anak yang tidak mampu, tetapi tiap sekolah mempunyai metode masing-masing. Terkait dana-dana bantuan pendidikan ini pula diharapkan peran serta masyarakat untuk mengawasi perjalanan uang tersebut. Lintang di Gianyar menyarankan, semestinya pemerintah ikut campur, ikut memperhatikan dunia pendidikan, jangan biarkan mahal. Lintang yang guru SMA ini mengharapkan adanya peranan antara masyarakat dan pemerintah bersama-sama mengontrol dunia pendidikan. Kalau dipercayakan menjadi top leader dia akan membuat sekolah berkualitas tetapi murah, semisal sekolah yang sudah berdiri lama dengan peralatan yang sudah lengkap kenapa harus memungut uang pembangunan? Untuk apa? Mari kita lihat Jembrana, kenapa mampu dan kenapa kabupaten lain tidak mampu? Wijaya di Sanur menjelaskan bahwa kalau pendidikan itu masih tumpang tindih sebesar apa pun dana itu bisa disalahgunakan. Menurutnya, dana yang begitu besar kalau dialokasikan untuk pembebasan SPP dan buku-buku belum cukup tanpa gedung yang memadai. Sekarang bisa kita lihat, jangankan di Denpasar, di desa-desa lain saja gedungnya tidak layak, bagaimana bisa belajar dengan tenang. Ketut Nasir di Denpasar menambahkan, kalau dana bangunan sudah disediakan pemerintah sebaiknya tidak usah dipungut uang bagunan. Tetapi kalau sekolah itu rusak diharapkan agar diadakan kerja sama ke banjar-banjar untuk mendirikan gedung supaya dana tersebut transparan. Suka di Denpasar mengungkapkan pengalamannya dari tahun lalu, di mana anaknya bersekolah di sebuah SMP Negeri di Denpasar. Ada uang pembangunan dan lain-lain dicantumkan termasuk uang pengadaan komputer. Menurutnya, semestinya karena ada uang pengadaan komputer maka harus ada komputer baru, tetapi kenyataannya masih menggunakan Pentium II dari dulu. * panca [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hi1jd4i/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124056401/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education</a>!</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

