http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/19/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

--------------------------------------------------------------------------------

Peningkatan Anggaran Pendidikan Harus Diikuti Efisiensi
 

JAKARTA- Peningkatan anggaran pendidikan harus diikuti dengan kebijakan 
pemerintah tentang efisiensi operasional pendidikan. Tanpa adanya aturan 
tentang hal ini, biaya yang dianggarkan tidak akan pernah cukup dan sekolah 
akan terus melakukan pungutan kepada siswa. Instrumen kebijakan efisiensi ini 
juga akan memperkuat transparansi operasional sekolah, serta menutup 
kemungkinan adanya pungutan-pungutan lain yang dilakukan sekolah, sehingga 
sekolah gratis bisa benar-benar terwujud. 

Hal tersebut dikemukakan Darmaningtyas dari Yayasan Sosial Indonesia untuk 
Kemanusiaan di sela-sela acara diskusi "Strategi Aksi dan Advokasi 
Komersialisasi Pendidikan" di Jakarta, Kamis (18/8). 

"Saat ini pemerintah tidak tegas dalam masalah pungutan di sekolah. Peraturan 
yang ada masih mengambang karena masih memperbolehkan sekolah mengambil 
pungutan dari orangtua untuk keperluan yang lainnya," ujarnya. 

Alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN memang masih 
dilakukan secara bertahap hingga tahun 2009 nanti, sehingga masih ada pos-pos 
pengeluaran dalam operasional sekolah yang dibebankan kepada peserta didik. 
Namun kebijakan efisiensi operasional pendidikan tetap harus dilakukan mulai 
sekarang. "Biaya operasional pendidikan di masing-masing sekolah sebenarnya 
hanya setengah dari biaya yang dianggarkan sekolah, sisanya untuk keperluan 
lain seperti study tour, acara perpisahan, akreditasi, dan sebagainya. Ini yang 
menjadi beban bagi peserta didik," ujarnya. 

Dia juga menilai pemerintah tidak tegas dalam pelarangan pungutan karena adanya 
keanekaragaman mutu sekolah. Setiap sekolah dibebaskan mengembangkan kualitas 
sekolahnya yang membutuhkan dana tambahan, tetapi dana tersebut tidak 
disediakan pemerintah dan sekolah diperkenankan memungutnya dari peserta didik. 

Dengan demikian, lanjutnya, pemerintah harus mengatur pungutan-pungutan, 
terutama di sekolah-sekolah milik pemerintah. Langkah itu dilakukan untuk 
melindungi siswa-siswa yang kondisi ekonominya kurang. "Komite Sekolah masih 
belum efektif karena lembaga yang seharusnya berfungsi sebagai badan kontrol, 
ternyata tidak menjalani tugasnya, sehingga perlu ada mekanisme kontrol yang 
lebih efektif lagi, seperti kebijakan dari pemerintah," ujarnya. 

Selain perlunya kebijakan dalam efisiensi operasional pendidikan, Darmaningtyas 
juga meminta semua pihak untuk menyoroti alokasi penggunaan dana yang sudah 
dianggarkan dalam APBN-P 2005 dan RAPBN 2006. 


Kapitalisme Pendidikan 

Sementara itu dalam diskusi, sejumlah peserta menyoroti kapitalisme pendidikan 
yang semakin berkembang luas. Para peserta meresahkan sejumlah institusi 
pendidikan yang melihat pendidikan sebagai lahan bisnis yang menggiurkan, 
padahal masih banyak rakyat Indonesia yang belum mendapatkan hak pendidikannya. 

Jayadi Damanik dari Komnas HAM menyatakan negara harus tetap bertanggung jawab 
terhadap penyelenggaraan pendidikan, seperti yang dicita-citakan dalam dasar 
negara. Menurutnya model manajemen berbasis sekolah (MBS) dan Badan Hukum Milik 
Negara (BHMN) adalah salah satu bentuk pelemparan tanggung jawab pemerintah 
dalam pendanaan penyelenggaraan pendidikan, karena pada akhirnya masyarakat 
terbebani biaya pendidikan yang seharusnya ditanggung negara. 

Selain itu, para peserta juga mencermati masalah privatisasi dan liberalisasi 
pendidikan. Kondisi tersebut mengakibatkan semakin mahalnya biaya pendidikan. 
Masuknya manajemen sekolah dari luar negeri juga memberikan efek domino kepada 
sekolah-sekolah lain untuk menaikkan biaya pendidikan. (K-11) 


Last modified: 19/8/05 

++++

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/19/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Baru 30 Persen SMP dan SMA Laksanakan UKS
JAKARTA - Sampai saat ini, baru sekitar 30 persen SMP dan SMA di Indonesia yang 
melaksanakan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Sementara di tingkat SD 
sudah mencapai 70 persen. Banyak faktor yang menyebabkan UKS belum optimal, di 
antaranya guru belum memiliki komitmen dan kepedulian untuk melaksanakan 
program tersebut, serta peran pemerintah daerah yang belum optimal. 

Demikian diutarakan Sekretaris Tim Pembina UKS Pusat dr Widaninggar dan 
Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan Sjafii Ahmad seusai bertemu para 
pemenang lomba Sekolah Sehat, Selasa (16/8) di Jakarta. 

Menurut Widaninggar, UKS merupakan program yang wajib dilaksanakan di sekolah, 
namun belum semua sekolah melaksanakan dengan baik. Pelaksanaan UKS terbentur 
pada persoalan tenaga guru yang belum dilatih untuk melaksanakan kegiatan 
tersebut. 

UKS, katanya, bukan mata pelajaran, melainkan program yang mencakup pendidikan 
kesehatan (intrakurikuler dan ekstrakurikuler), pelayanan kesehatan di sekolah, 
dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Wujud dari program itu, antara lain 
dokter kecil, kader kesehatan remaja. Sedangkan pendidikan kesehatan tercakup 
dalam mata pelajaran IPA dan Biologi. 

Menurut Sjafii, UKS merupakan program bersama antara Departemen Kesehatan, 
Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama. 
Keberadaan UKS di setiap sekolah diharapkan membuat perubahan perilaku pada 
siswa, seperti perilaku hidup bersih sehat. 


Hidup Sehat 

Diharapkan para siswa menyebarkan perilaku hidup bersih sehat kepada 
orang-orang di sekitarnya. Misalnya, siswa melaksanakan pemantauan jentik di 
rumahnya untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD). "Program UKS sudah lama, 
tetapi ada pasang-surutnya. UKS belum optimal karena faktor sarana-prasarana 
yang terbatas dan tenaga UKS masih belum terlatih. 

Jika anak sekolah mulai dari tingkat SD sampai SMA memantau jentik di rumahnya, 
maka akan ada sukarelawan pemantau jentik. Tidak perlu lagi mengangkat juru 
pemantau jentik. UKS merupakan upaya strategis kalau dilaksanakan optimal. UKS 
mempunyai daya ungkit yang tinggi," kata Sjafii. 

Lebih jauh dikatakan, saat ini pemerintah menggiatkan kembali kelembagaan 
kesehatan di tingkat primer, termasuk UKS, posyandu, puskesmas pembantu, dan 
puskesmas. UKS dibina oleh dokter puskesmas, sedangkan pelaksanaannya menjadi 
tugas para guru. 

Seorang dokter puskesmas, kata Sjafii, jangan hanya terpusat di sekitar 
puskesmas, tetapi juga harus menjalin kerja sama dengan pihak di luar 
puskesmas. Misalnya, dengan para guru untuk melaksanakan UKS. Sebenarnya, 
kelembagaan UKS memiliki tim pembina mulai dari tingkat kecamatan, 
kabupaten/kota, provinsi sampai tingkat pusat. Tetapi tidak semua tim berjalan. 

"Setiap minggu dokter puskesmas harus keliling di wilayah binaan puskesmas. 
Dokter kecil di sekolah dibina, kemudian dia busa membina teman-temannya yang 
lain. UKS harus direvitalisasi. Kegiatan puskesmas harus lebih banyak di luar 
gedung, jangan hanya kegiatan di dalam gedung," tambah Sjafii. (N-4) 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 19/8/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h0r3vge/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124458955/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke