http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/19/opi01.html
Menanti Kemerdekaan Sejati Oleh Weinata Sairin Suasana syukur dan meriah menyambut HUT ke-60 Proklamasi Kemerdekaan mewarnai seluruh bagian negeri ini, dan antusiasme masyarakat tak kuasa lagi dibendung. Masyarakat dan bangsa kita selalu menyambut peringatan ulang tahun kemerdekaan dengan seberkas harapan baru agar kehidupan di negeri ini akan berlangsung lebih baik di masa depan. Pemahaman ulang tentang makna nasionalisme, patriotisme, semangat kepahlawanan dalam mengusir penjajah akan diberi kerangka tafsir yang baru di tengah-tengah zaman yang sedang berubah. Kemerdekaan bukanlah sekadar kata, bukan hanya terminologi mati tak punya arti. Kemerdekaan tidaklah sekadar terminus-teknikus dalam kehidupan kita membangsa dan menegara. Kemerdekaan sama sekali bukanlah sebuah mantera yang mempunyai kekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita tanpa pengorbanan dan semangat pantang menyerah. Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, perjuangan, dan cita-cita bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru. Masyarakat yang di dalamnya mampu menumbuhkembangkan keadilan, hak-hak asasi manusia, kebebasan untuk mengekspresikan keberagamaan, dan kemakmuran yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Kemerdekaan sebab itu integral dengan kebersamaan, kemerataan, kesetaraan, dan solidaritas. Suatu kehidupan yang diskriminatif yang hanya memberikan tempat bagi kelompok dan golongan tertentu amat bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemerdekaan itu sendiri. Para pendiri bangsa sejak awal dengan amat tajam melihat adanya bahaya yang dapat mengancam persatuan bangsa, jika hal-hal yang bersifat diskriminatif diberi ruang dalam kehidupan bangsa kita yang majemuk. Dalam konteks itulah para pendiri bangsa bersepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional. Pengorbanan Seluruh Rakyat Kemerdekaan yang diproklamasikan 60 tahun lalu itu sejatinya adalah hasil perjuangan dan pengorbanan seluruh rakyat tanpa kecuali. Kemerdekaan itu kita rebut dari tangan penjajah dengan pengorbanan yang besar karena kemerdekaan adalah bagian dari hak-hak dasar kita baik sebagai manusia maupun sebagai bangsa. Melalui momentum Proklamasi kita sekaligus menyatakan kesatuan kita sebagai bangsa di tanah air yang satu yaitu Indonesia. Kita bersyukur atas kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan Allah kepada kita sebagai bangsa. Namun mensyukuri kemerdekaan tidak boleh hanya berhenti pada aspek seremonial, selebrasi, simbolisme, kata dan retorika, tanpa memberi makna yang substansial. Mengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah Allah maka dalam mensyukurinya kita harus secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab memandangnya dari perspektif keagamaan. Apakah sebagai umat beragama dan sebagai bangsa kita benar-benar telah menghidupi kemerdekaan itu secara bertanggung jawab? Apakah kita telah hidup sebagai orang merdeka dan tidak menyalahgunakan ke-merdekaan itu untuk kepentingan sendiri, sebagaimana pesan kitab suci? Apakah kemerdekaan sejati benar-benar telah hadir di negeri ini? Kemerdekaan barulah benar-benar merupakan kemerdekaan jika ia memberi tempat terhormat bagi rakyat. Ketika kemerdekaan itu adalah sebuah ruang yang di dalamnya diwujudkan secara konsisten pembangunan yang diarahkan bagi kepentingan rakyat, bukan pembangunan yang menyengsarakan rakyat. Kemerdekaan sejati adalah jika kebebasan untuk mengekspresikan keberagamaan dapat diwujudkan dengan baik; ketika keberbedaan keyakinan tidak diselesaikan dengan sikap anarkis dan barbar; ketika sekelompok orang atas nama kecintaan kepada agamanya menutup dan merusak rumah-rumah ibadah agama yang lain. Membangkitkan Nasionalisme Kita sesungguhnya belum merdeka. Kita masih dijajah oleh roh kedengkian, fanatisme buta, dan dendam historis di masa lalu. Sebagai bangsa kita masih dalam proses menanti kemerdekaan sejati; kita baru berada pada tahap seolah-olah merdeka; kita masih dalam posisi menghidupi kemerdekaan semu. Gereja tidak boleh membutakan diri dan membisu terhadap realitas buruk yang sedang mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa. Bersama seluruh komponen bangsa gereja mesti menyerukan kembali dengan lantang pentingnya komitmen bangsa dan negara terhadap Pancasila dan UUD 1945. Bangsa Indonesia yang majemuk ini tak boleh dibiarkan hidup dalam penjara-penjara primordialistik yang mengekang dan membelenggu di tengah-tengah arus globalisasi yang kini melanda peradaban manusia. Mereka mesti dibebaskan dari ghetto-ghetto yang selama ini merantai tubuh mereka dan menimbulkan aksi kekerasan dalam kehidupan. Udara republik ini mesti dipenuhi dengan aroma cinta kasih, persaudaraan sejati, ketulusan dalam membangun relasi; dan tidak dicemari oleh anarkisme, fanatisme sempit, pementingan golongan, roh sektarianisme, nafsu berkorupsi, yang kesemuanya melecehkan keluhuran agama. Gereja dan kekristenan di Indonesia harus mampu membangkitkan kembali semangat dan jiwa nasionalisme di kalangan warga bangsa; mendorong dan meyakinkan masyarakat bahwa Pancasila adalah dasar yang kukuh bagi sebuah Indonesia yang majemuk dalam membangun masa depan. Kemerdekaan sejati yang menghargai harkat dan martabat manusia, yang melindungi HAM, yang memberi tempat bagi kemajemukan perlu diperjuangkan terus sebelum Indonesia menjadi reruntuhan sejarah. Penulis adalah Teolog, Wakil Sekum PGI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hbu1i8m/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124459180/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com ">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research Hospital</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

