http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/20/opini/1963148.htm

 
Mencoba Menafsir Pluralisme 

Oleh: HARYATMOKO



Kekerasan dan rendahnya toleransi amat mewarnai sejarah hubungan agama-agama. 
Sejarah seperti itu meredupkan wajah agama yang menyuratkan kedamaian, 
kedalaman hidup, solidaritas, cinta, dan harapan teguh. Pokok pangkalnya adalah 
karena sulit menerima perbedaan.

Hal yang esensial ialah bagaimana seorang penganut suatu agama menerima dan 
menghormati agama lain sekaligus memegang teguh otentisitas kebenaran agamanya 
sendiri. Bila mampu menjawab tantangan ini orang akan menghadapi perbedaan 
agama dengan bijaksana sehingga bisa hidup bersama dalam suasana damai dan 
produktif.

Semua penganut agama ditandai oleh lingkungan, tradisi, dan warisan. Namun, 
orang memeluk suatu agama bukan hanya karena lingkungannya. Motivasinya 
didasari rasionalitas dalam yang mencerminkan kekhasan suatu agama.

Keyakinan akan kekhasan itu meneguhkan identitasnya sehingga kehadiran agama 
lain tidak mengancam eksistensinya. Kekhasan mengandaikan penerimaan pluralisme 
karena singularitas menampilkan diri secara lebih jelas dalam perjumpaan dengan 
agama-agama lain. Khas, yang berarti hanya satu-satunya dari tipe-tipe yang 
ada, tidak sama dengan lebih unggul. Suatu kesalahan berpikir mencampuradukkan 
kebenaran dengan argumen superioritas.

Keterbatasan manusia

Penerimaan pluralitas agama- agama tidak lepas dari keterbatasan manusia 
memahami kemahasempurnaan Tuhan. Perbedaan justru menunjukkan betapa kaya 
kepenuhan Tuhan. "Tuhan terlalu kaya dan sangat tak terbatas sehingga tradisi 
suatu agama, yang tentu saja memiliki keterbatasan, tidak akan menimba secara 
tuntas kesempurnaan dan kepenuhan Tuhan" (E Schillebeeckx, 1992:225).

Kepenuhan Tuhan menjadi lebih baik terungkap melalui pluralitas agama daripada 
hanya oleh satu agama. Jadi pluralisme lebih merupakan bentuk pengakuan akan 
keterbatasan manusia dalam menangkap kepenuhan Tuhan. Keterbatasan ini tak 
mengurangi otentisitas kebenaran suatu agama dalam perannya sebagai jalan 
keselamatan pemeluknya.

Bagi pemeluk, agamanya tak tergantikan karena ikatan panggilan yang menyejarah. 
Keterjalinan dalam ikatan panggilan itu (latar belakang, sudut pandang, 
khazanah konsep) membentuk cakrawala kehidupan yang otentik. Terjebak 
relativisme?

Jika konsep relativisme dipahami sebagai menerima kontingensi sejarah manusia 
tanpa mereduksi otentisitas kebenaran suatu agama, relativitas mencerminkan 
kondisi sejarawi manusia. Menerima kontingensi berarti membenarkan kondisi 
manusia yang sejarawi, lebih dari sekadar masalah relativisme dan absolutisme. 
Kondisi sejarawi manusia dipilih Tuhan untuk mewahyukan diri-Nya. Pewahyuan 
kebenaran dalam sejarah dikomunikasikan melalui kategori sejarawi manusia. 
Tanpa kategori ini, manusia tidak mampu memahami pewahyuan itu. Pemahaman ini 
kemudian dilembagakan.

Agama sejauh sebagai lembaga atau sistem kepercayaan, praktik, dan nilai adalah 
juga fenomena empiris (sosio-sejarawi). Maka agama menyisakan keberatan bila 
dimutlakkan. Dalam setiap agama, terjadi proses institusionalisasi konsep dari 
orientasi personal ke sebuah ideal, lalu abstraksi (WC Smith, 1962:131) dan 
dari konsepsi ideal ke konsepsi logis kebenaran. Dalam proses penafsiran itu, 
terselip berbagai kepentingan. Pewahyuan Tuhan memang mutlak, namun kemampuan 
manusia menangkap pewahyuan itu terbatas. Terbatas juga kemampuan menangkap 
misteri agama lain.

Pernyataan Levinas menjadi relevan: "Hubungan tidak menetralisasi yang lain, 
namun menjaga otentisitas yang lain. Yang lain, sebagai sama sekali lain, bukan 
suatu obyek yang menjadi milik kita atau bercampur dengan "aku" untuk menjadi 
"kita". Sebaliknya, yang lain menarik diri ke dalam misterinya" (1982:59).

Momen moral

Kutipan ini menolak gagasan beragamnya agama sebagai melengkapi satu sama lain. 
Gagasan pelengkapan mengandaikan adanya prakeberadaan yang penuh. Lalu 
seakan-akan keterpecahan dalam bentuk beragamnya agama akan disatukan kembali. 
Padahal, prakeberadaan agama yang penuh tidak pernah ada dalam gagasan agama 
apa pun.

Perbedaan antaragama tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan istilah saling 
melengkapi. Tak bisa diingkari ada rumusan iman yang bertentangan dengan 
teologi agama lain. Penyelesaian masalah yang timbul dari perbedaan dengan 
memaksakan kategorinya sendiri pada agama lain adalah bentuk aneksasi. Dialog 
lalu menjadi relevan.

Dialog bukan menyangkal rumusan iman agama lain. Dialog akan membantu memahami 
kekhasan masing-masing agama dan memotivasi pencarian Tuhan melampaui 
konseptualisasi formal agamanya sendiri. Memperhitungkan acuan seperti itu 
menjadi bentuk penerimaan bahwa agama lain adalah kesadaran penuh di luar 
diriku yang membangkitkan rasa hormat. Dengan begitu, perjumpaan dengan agama 
lain menjadi momen moral.

HARYATMOKO Dosen Pascasarjana Filsafat UI dan Universitas Sanata Dharma 
Yogyakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hpnj35e/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124496874/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke