FS:
1. dengan dimulai kata kerja "membangun", kalimat itu bisa diartikan secara
luas dan tidak spesifik. sulit diambil kesimpulannya. sebab, "membangun
masyarakat" dua kata bentukan terdiri dari kata kerja (predikat) dan benda
(objek). kata bentukan itu tidak bisa berdiri sendiri dan masih absurd. tidak
punya arti yang jelas karena tidak memiliki pelaku (subjek) sesuai dengan tata
bahasa subjek-predikat-objek (spo). siapa yang membangun masyarakat? siapa yang
melakukan pekerjaan itu?. pemerintah? tokoh agama? pelaku bisnis? atau
pelacur?....mungkin bisa dijawab: ya siapa saja, gitu..!. nah itu jawaban yang
tidak bertanggungjawab dan membingungkan..! kalo mo bicara agak spesifik maka
persoalan tidak runyam seperti kalimat di atas.
DH: Keliru. Membangun masyarakat atau building a society, dapat dijadikan suatu
subyek kalimat. Dalam bahasa Jerman: das Bilden einer Gesellschaft. Tak ada
masalah, dan mudah dimengerti. Siapa yang melakukan? Anggauta masyarakat itu
sendiri, mulai dari unsur pimpinan sampai setiap warga. Tak ada yang runyam
dalam hal ini.
------------------
2. FS: bpk yth... membawa percontohan negara swiss yang berpenduduk 3 juta
orang. itu mah jumlah penduduk satu kelurahan di indo. bpk tidak mo
membandingkan mangga dengan nanas. sekarang anda sendiri membandingkan negara
besar (in term of population seperti indo, mesir, bangla maupun pakistan) yang
boleh disebut "unmanagable countries" dengan sekotak negara seperti swiss.
ya....tidak sebanding dong, yang bener aje mas....!
DH: Thema yang dibahas disini, adalah interaksi antara akidah dan
tatakemasyarakatan. Tanpa melihat pada ukuran negara. Bicara dampak akidah, tak
kita batasi kelurahan atau negara besar. Kita mungkin saja ambil Canada,
Australia, USA dan Indonesia. Apa masalahnya? Negara kecilpun, kalau memang
carut marut, ya carut marut.
Unmanageable countries? Jadi akidah yang berisi peranturan yang ah begitu indah
dan rinci juga tak menolong?
--------------------------------
3. FS: bpk bilang: "Ini semua adalah masalah mental, rohani, yang tak ada
hubungannya dengan kekayaan materie"
apa bener?
itu salah mas..! padahal, hubungan mental, rohani dengan kekayaan materi
ternyata sangat erat atau paling tidak saling menunjang. masyarakat yang
tertata tidak melulu berbasis mental, sebagaimana yang anda sebut itu. itu
omongan nonsense. sulit hidup di dunia ini tanpa materi. tolong tuh dikoreksi
pendapat yang menyesatkan ini.
DH: Kalau anda baca statement saya dengan seksama dan titik tolak dari mbak
Lina, anda akan mengerti, apa yang dimaksudkan. Mbak Lina menanyakan "apakah
hubungannya akidah dengan materi"? Nah, disini saya tunjukkan, bahwa masyarakat
yang tertata bukan saja mengandung aspek materi. Karya membangun masyarakat,
society building, juga berkaitan dengan menata norma kemasyarakatan.
"masyarakat yang tertata tidak melulu berbasis mental", siapa yang mengatakan?
Bukankah anda? dan bukan saya? membalik kalimat, ini methode yang anda pakai?
"sulit hidup di dunia ini tanpa materi"? siapa yang mengatakan sebaliknya?
saya? dibagian kalimat mana?
-----------------------------------------
FS:
swiss adalah salah satu negara yang punya standar living cost tertinggi dunia,
di samping jepang kali ye? maka, lagi-lagi masalah materi jadi prioritas..!
tentu di swiss, orang tidak lagi mempersoalkan materi..tapi di
bangladesh...materi jadi masalah. orang seringkali melanggar karena kepepet
alias terpaksa. (ini tidak termasuk korupsi-red).
DH: Aha! jadi yang korupsi di Bangla Desh atau Indonesia adalah orang miskin?
Nggak keliru? Orang orang BULOG korupsi berat, atau Pertamina, kepepet? kalau
anggauta DPR dinaikkan gajinya, lalu bersih? Ha ha ha ha, ini badutan akhir
minggu yang ceria!
--------------------------------
FS:
fasilitas transportasi yang memadai bagi masyarakat, menurut bpk bukan bagian
dari kekayaan? habis dari mana? pastor, pendeta, biksu atau ulama yang
menyediakannya? pakai otak dong..!
DH: Aha, jadi dalam masyarakat yang miskin, manusia wajib ludah dijalan? Ha ha
ha lalu otak dipakai disini? ha ha ha
-----------------------------------
FS:
ini juga terlalu umum tidak jelas, sulit dibahas. apa itu artinya batin? apa
itu definisi akidah? terpancari? ini kata arti apa? akidah itu sebagai objek
atau subjeknya?
DH: Bathin atau bathiniah, adalah sisi lain dari badaniah, materiil. Gitu aja
kok tanya? Akidah? Tak tahu artinya? Ini bahasa apa ya? bahasa Jerman?
Terpancari akidah, adalah mudah dimengerti. Hukum DM. Apa yang susah
dimengerti??Mungkin terman teman dapat membantu menerangkan?
---------------------------------------
FS:
wah repot neh... kalo agama udah ikut campur urusan sosial (baca: ruang
publik). makanya pertanyaan nomor satu di atas harus dijawab dulu..."membangun
masyarakat", siapa subjeknya? jangan main asal tuding begitu dong...! umat
beragama tertentu mana? peraturan rinci yang apa? rancu lagi neh...! bpk mohon
ya kalo ngomong yang tegas dong... sehingga tidak mengandung kerancuan..!
DH: Ho ho ho! Lha fatwa MUI bukan soal agama yang mencampuri urusan sosial?
Bukankah ini terjadi se-hari hari? Bingung?
Umat beragama yang mana? Ini mudah dipahami! Kembali ke kontext mBak Lina,
dimana dikatakan, akidah Islam sangat lengkap dan rinci. Lha mengapa ini kita
tak pakai untuk memahami karya membangun masyarakat? Peraturan rinci yang mana?
Lho tanya mBak Lina dong, peraturan agama yang mana yang paling rinci!
Kurang tegas? Apanya yang kurang tegas? jelas gitu kok?
----------------------------
FS:
orang semua tahu bahwa ini masalah penegakan hukum..!
DH: Lalu? Siapa yang tak tahu? Anda sendiri? kok bingung?
---------------------------
FS:
upaya memanusiakan manusia tidak mesti atau perlu disyarati penerapan
"peraturan rinci" yang baik dan ketat dari sebuah umat beragama. agama urusan
pribadi, bukan urusan negara apalagi pemerintah.
DH: agama urusan pribadi? Wauuu! bravo! inilah yang kami, para penganjur system
pemisahan antara agama dan negara, anjurkan. Bravo! Akhirnya anda paham. Jadi,
anda setuju, MUI tak perlu merepotkan pemerintah dengan permintaan ini itu
(misalnya membubatkan ini itu), kan soal pribadi?
Terimakasih atas dukungan anda.
Juga, gitu aje. Gampang kan?
Danardono
free share <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
maaf ya pak danar interupsi lagi neh...!
gatal juga neh tangan mo ikut respon, kalo baca bpk punya omong...tapi yang
pasti ini bukan masalah kibul-mengibul kan?
"Membangun masyarakat adalah karya besar yang mencakup semua aspek, tidak saja
materie, namun juga rohani. Masyarakat yang tertata, adalah masyarakat yang
mempunyai mental tertata: disiplin, patuh hukum, solidaritas sosial, kritis
terhadap penguasa, dan banyak lagi lainnya. Ini adalah ciri ciri masyarakat
masyarakat yang sudah tertata. Ini semua adalah masalah mental, rohani, yang
tak ada hubungannya dengan kekayaan materie. Warga Swiss yang patuh adalah dari
yang milyarder sampai yang rakyat biasa.
kalimat di atas kelihatannya logis dan enak dibaca tetapi kalo ditimbang dengan
tata bahasa indonesia yang benar, maka akan jelas nampak kerancuannya.
1. dengan dimulai kata kerja "membangun", kalimat itu bisa diartikan secara
luas dan tidak spesifik. sulit diambil kesimpulannya. sebab, "membangun
masyarakat" dua kata bentukan terdiri dari kata kerja (predikat) dan benda
(objek). kata bentukan itu tidak bisa berdiri sendiri dan masih absurd. tidak
punya arti yang jelas karena tidak memiliki pelaku (subjek) sesuai dengan tata
bahasa subjek-predikat-objek (spo). siapa yang membangun masyarakat? siapa yang
melakukan pekerjaan itu?. pemerintah? tokoh agama? pelaku bisnis? atau
pelacur?....mungkin bisa dijawab: ya siapa saja, gitu..!. nah itu jawaban yang
tidak bertanggungjawab dan membingungkan..! kalo mo bicara agak spesifik maka
persoalan tidak runyam seperti kalimat di atas.
2. bpk yth... membawa percontohan negara swiss yang berpenduduk 3 juta orang.
itu mah jumlah penduduk satu kelurahan di indo. bpk tidak mo membandingkan
mangga dengan nanas. sekarang anda sendiri membandingkan negara besar (in term
of population seperti indo, mesir, bangla maupun pakistan) yang boleh disebut
"unmanagable countries" dengan sekotak negara seperti swiss. ya....tidak
sebanding dong, yang bener aje mas....!
3. bpk bilang: "Ini semua adalah masalah mental, rohani, yang tak ada
hubungannya dengan kekayaan materie"
apa bener?
itu salah mas..! padahal, hubungan mental, rohani dengan kekayaan materi
ternyata sangat erat atau paling tidak saling menunjang. masyarakat yang
tertata tidak melulu berbasis mental, sebagaimana yang anda sebut itu. itu
omongan nonsense. sulit hidup di dunia ini tanpa materi. tolong tuh dikoreksi
pendapat yang menyesatkan ini.
Warga Swiss yang patuh adalah dari yang milyarder sampai yang rakyat biasa.
swiss adalah salah satu negara yang punya standar living cost tertinggi dunia,
di samping jepang kali ye? maka, lagi-lagi masalah materi jadi prioritas..!
tentu di swiss, orang tidak lagi mempersoalkan materi..tapi di
bangladesh...materi jadi masalah. orang seringkali melanggar karena kepepet
alias terpaksa. (ini tidak termasuk korupsi-red).
Tidak meludah dijalan, tak membuang sampah atau puntung rokok, disiplin dalam
antrean bus, tram ataupun underground, bukanlah buah kekayaan.
fasilitas transportasi yang memadai bagi masyarakat, menurut bpk bukan bagian
dari kekayaan? habis dari mana? pastor, pendeta, biksu atau ulama yang
menyediakannya? pakai otak dong..!
Semua yang keluar dari bathin kita, adalah sisi yang terpancari oleh akidah.
ini juga terlalu umum tidak jelas, sulit dibahas. apa itu artinya batin? apa
itu definisi akidah? terpancari? ini kata arti apa? akidah itu sebagai objek
atau subjeknya?
Kalau warga atau umat agama tertentu yang memiliki peraturan rinci secara baik
dan ketat, maka tak mungkinlah timbul masyarakat yang carut marut, seperti
Indonesia, ataupun banyak lagi yang lain: Mesir, Tunisia, Marokko, Bangla Desh,
Pakistan.
wah repot neh... kalo agama udah ikut campur urusan sosial (baca: ruang
publik). makanya pertanyaan nomor satu di atas harus dijawab dulu..."membangun
masyarakat", siapa subjeknya? jangan main asal tuding begitu dong...! umat
beragama tertentu mana? peraturan rinci yang apa? rancu lagi neh...! bpk mohon
ya kalo ngomong yang tegas dong... sehingga tidak mengandung kerancuan..!
Jadi, tak mungkin, tak mencari dampak kehidupan akidah dalam kehidupan se-hari
hari. Kalau tak ada dampaknya samasekali, maka adalah yang something wrong
disini.
some wrong di sana..!
Sebuah peringkat peraturan negara, misalnya, sebaik apapun, tak akan banyak
manfaatnya bagi manusia selama, tak ada aturan yang dipatuhi. Kita tak mungkin,
disatu pihak, membuang muka atas ke-carutmarutan berkat tak ditaatinya sang
peraturan, dan sekaligus menyanyikan lagu lagu pujian bagi sang peraturan, yang
ah begitu lengkap dan indah.
orang semua tahu bahwa ini masalah penegakan hukum..!
Manusia barulah bernilai dimata sesama,selama ia mampu memanusiakan manusia.
jadi, letaknya pada sang manusia.
upaya memanusiakan manusia tidak mesti atau perlu disyarati penerapan
"peraturan rinci" yang baik dan ketat dari sebuah umat beragama. agama urusan
pribadi, bukan urusan negara apalagi pemerintah.
udah ach...gitu aje, trims.
FS
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
Indonesian languages Indonesian language learn Cultural diversity Indonesian
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
***********************************************************************************
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west;
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.
Sidharta Gautama
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6jhpob/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124548583/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/