http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/8/23/b1.htm


Dari Warung Global Interaktif Bali Post


Sejahterakan Petani, jangan hanya di Tingkat Pembicaraan

SETIAP tahun Tabanan menyumbangkan hampir sepertiga dari keseluruhan produksi 
beras di Bali. Namun, kini ratusan petani menjerit karena kekeringan. Seperti 
mata air Gembrong menjadi sorotan karena sejak tahun 1988 dijual oleh PDAM. 
Petani itu tidak bodoh tetapi sering dikibuli. Petani selalu dininabobokan 
dengan janji-janji pejabat. Di Indonesia, petani diklasifikasikan kelompok 
orang miskin. Tabanan sendiri sebagai lumbung beras agar mempertahankan dengan 
keras predikatnya, jangan sampai yang keras cuma konspirasi politiknya saja. 
Pemerintah harus membuat petani bangga menjadi petani. Mensejahterakan petani 
masih dalam tingkat pembicaraan saja, tidak ada aplikasi di lapangan. Karena 
tidak ada perhatian maka petani tentu saja akan mengubah pikirannya untuk 
menjual tanah dan hasilnya diinvestasikan di bank. Solusi pemerintah harus 
menumbuhkan rasa bangga menjadi petani. Demikian yang terungkap dalam acara 
Warung Global di Radio Global FM 96,5 yang direlai Radio Singaraja FM dan Radio 
Genta Swara Sakti Bali. Berikut rangkuman selengkapnya.  

----------------------------------------------------------

Ledang Asmara di Imam Bonjol mengatakan kondisi ini terjadi akibat oknum-oknum 
pejabat dari tingkat desa sampai ke atas yang lebih mementingkan amplopnya 
daripada kepentingan umum. Selama ini pendekatan pengusaha atau investor PDAM 
justru berdekatan dengan oknum pejabat seperti ini. Petani dalam hal ini yang 
menjadi korban semakin lemah. Adanya pembagian air antara PDAM dan petani 
dengan perbandingan yang sudah disepakati itu bagus tapi dalam realisasi bisa 
berubah.

Menurut Jero Wijaya di Kintamani, ini adalah upaya pengikisan masyarakat Bali. 
Kalau ini dibiarkan ini berarti menjadikan sebuah upaya agar masyarakat Bali 
pergi ke luar Bali, seperti ke Sulawesi, Sumatera untuk bertransmigrasi. 
Anggota Dewan juga terlalu bermental manja, suka studi banding ke daerah yang 
lebih maju, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa setelah itu.

Jujur di Sanglah menambahkan, inilah akibat sebuah birokrasi yang mengalahkan 
petani. Petani itu tidak bodoh tetapi sering dikibuli. Petani selalu 
dininabobokan dengan janji-janji pejabat. Khusus Tabanan permasalahan yang ada 
di bawah cukup menyengsarakan dan ada diskriminasi. Banyak proyek yang mengacu 
pada irigasi juga diselewengkan. Kalau hal ini dibiarkan masyarakat petani akan 
menjadi objek penderita. Kontribusi DPRD dalam hal ini tidak ada sama sekali, 
mereka hanya tukang stempel dan hanya menyelamatkan diri mereka sendiri.

Aji Benong di Mengwi menyebut ini ciri-ciri petani Indonesia. Di Indonesia, 
petani diklasifikasikan orang yang miskin. Berbeda dengan petani luar negeri. 
Kalau sudah miskin petani di Indonesia itu akan miskin terus. Semoga petani 
selalu berpikir realistis. Kalau petani akhirnya menjual tanahnya karena 
pertanian tidak menguntungkan, itu realistis. Tetapi kalau dikaitkan dengan 
ajeg Bali tentu tidak benar. Selama ini kita sering mendengar banyak bupati 
yang mempunyai visi mengajegkan Bali tetapi kenyataannya tidak ada perhatiannya 
pada petani.

Menurut Ireng di Bajera, Indonesia adalah negara agraris, maka disayangkan 
kelompok petani tidak diperhatikan. Pejabat banyak yang mengumandangkan 
perhatiannya, semoga pejabat yang sudah dua kali menjabat bisa merealisasikan 
janjinya. Pembabatan hutan juga masih berlangsung semoga ini menjadi perhatian 
penuh pejabat.

Setia di Tabanan memaparkan, banyak hamparan sawah di Bajera sudah kering, di 
Penebel juga banyak sawah yang kering. Tanah jangan lagi dijual untuk perumahan 
BTN dan lain-lain. Di Tabanan banyak tanah petani sudah jadi rumah. 
Permasalahan ini harus dikembalikan pada petani, kalau ada proyek-proyek 
perumahan agar petani tidak menjual tanahnya karena itu hanya kepentingan 
sesaat saja.

Sementara itu, Suarjana di Singaraja mempertanyakan, apa sekarang yang 
dibanggakan jika menjadi petani? Dulu di Singaraja menjadi petani merupakan 
kebanggaan yang luar biasa karena petani dianggap punya tanah hektaran dan 
hasilnya luar biasa bisa mensejahterakan petani. Sekarang, karena pengaruh 
harga-harga yang tidak relevan lagi maka kebanggaan menjadi petani jadi sirna. 
Petani sekarang sudah bosan menjadi petani. PNS mendapatkan gaji ke-13, petani 
mendapatkan apa? Apakah mendapat perhatian dari pemerintah? Pemerintah harus 
membuat petani bangga menjadi petani. Mensejahterakan petani masih dalam 
tingkat pembicaraan saja, tidak ada aplikasi di lapangan. Karena tidak ada 
perhatian maka petani tentu saja akan mengubah pikirannya untuk menjual tanah 
dan hasilnya diinvestasikan di bank. Solusi pemerintah harus menumbuhkan rasa 
bangga menjadi petani.

Made Karya di Sembung Mengwi dan Dewa di Gianyar mengatakan sawah-sawah semakin 
lama semakin habis. Mereka pun bertanya, Bali ini mau dikemanakan? Nasib petani 
benar-benar seperti buah simalakama. Bantulah petani dengan bantuan pupuk dan 
pemerintah harus memposisikan petani menjadi orang penting.

Jana di Tabanan sambil menangis mengatakan, sebagai petani tulen dirinya selalu 
susah untuk mendapatkan rabuk (pupuk), rabuk-nya mahal sekali. Kalau panen 
harganya murah. Ia berharap agar subak sampai pekaseh memberikan keringanan 
dengan meminjam untuk pupuk dengan jangka tiga bulan agar petani bisa hidup. 
Koperasi di desanya juga tidak memberikan bantuan, malah mungkin ketua 
koperasinya yang mendapat untung lebih dulu. Selama ini banyak orang berbicara 
maca-macam tentang petani untuk memperjuangkan, rasanya itu percuma dan dirinya 
sangat bosan mendengarnya. Yang penting berikan pinjam rabuk-nya. Bantuan 
pemerintah pada petani itu sangat kurang, kalaupun ada, tidak sampai ke bawah.

Ariadi di Bedugul yang mengaku sebagai petani sayur-mayur menambahkan, nasib 
petani sayur-mayur masih jauh lebih baik daripada petani padi karena 
orientasinya mengarah untuk perhotelan. Ia memberikan saran sistem dan 
orientasi penanaman padi harus segera dipikirkan. Ia menilai petani padi memang 
keuntungannya sangat kecil, tetapi dibutuhkan banyak orang. Solusinya, KUD 
harus hidup dan punya komitmen dan KUD harus memasarkan hasil dari 
petani-petani padi. Padi itu adalah kebutuhan pokok masyarakat. Selama ini KUD 
hanya mengurus iuran simpan pinjam melulu dan mengurusi toko-toko melulu, 
padahal dasarnya dari KUD itu memang harus memasarkan hasil produksi pertanian. 
Petani harus dibantu pelatihan-pelatihan dan diberikan wawasan yang lebih luas 
kepada petani padi. Lebih jauh ia menilai pemuda-pemuda di Bali, karena sudah 
telanjur kerja di dunia pariwisata, kebanyakan tidak tertarik mengurusi 
pertanian. Solusi lain, lakukan diversifikasi pada petani padi. Nasib petani 
padi di Bali juga sama seperti di Pulau Jawa, Sulawesi tempat lain.

Dewa Made Dodi di Denpasar membenarkan bahwa susah untuk mencari generasi 
penerus petani karena generasi mudanya tidak mau terjun ke dunia pertanian. 
Karena bapaknya bercermin pada nasibnya sendiri yang tidak beruntung. Maka 
inilah penyebab petani juga berjuang menjadikan anaknya tidak jadi petani. Ia 
mengajak agar semua pihak melihat kenyataan ini. Tanah banyak dijual untuk hal 
lain dan yang menjadi investor justru orang lokal sendiri, terbukti ada nama 
Made, Nyoman.

Ugi di Kediri mengharapkan agar pemerintah memperhatikan kebutuhan petani 
dengan memberikan solusi terhadap permasalahan air agar tidak berlarut-larut. 
Banyak sawah petani yang sekarang kekeringan. Untuk bapak-bapak petani, dia 
mohon tidak terburu-buru menjual tanahnya. Contohnya, tanah sawah yang masih 
produktif dekat pantai Nyanyi sudah banyak yang dijual tetapi dibiarkan sampai 
kering tidak dimanfaatkan.

Agung di Denpasar menilai perhatian pemerintah pada subak sangat sedikit untuk 
mengayomi petani. Untuk itu semua kabupaten agar memperhatikan subak agar 
benar-benar diprioritaskan. Tabanan sendiri sebagai lumbung beras agar 
mempertahankan dengan keras predikatnya, jangan sampai yang keras cuma 
konspirasi politiknya saja. 

* bram


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hbus0cv/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124752225/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke