Catatan laluta:
Pada acara pertemuan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 
60, yang di organisir oleh Pengurus Perhimpunan Persaudaraan Indonesia,  telah 
diselenggarakan pada hari minggu 21 agustus 2005 di gedung "de Schakel" - 
Diemen, a.l Kami mendengarkan acara uraian Ibu Francisca Fanggidaej. Untuk itu 
saya kirimkan Ekspresi dan Refleksi dirinya dengan tema "Penilaianku terhadap 
masa kini  atas dasar pengalamanku masa lampau". 
 
La Luta Continua!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 

PENILAIAN TERHADAP MASAKINI ATAS DASAR PENGALAMANKU MASALAMPAU

 

Oleh Francisca Fanggidaej

 

Pendahuluan

 

Apa yang disebut di sini ‘p e n i l a i a n k u’ bukanlah suatu analisa politik 
seorang politikus atau seorang peninjau politik melainkan  k e n a n g a n  
seorang pejuang biasa yang sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 
tanggal 17 Agustus 1945 sampai hari ini, berusaha tidak absen dalam usaha 
meneruskan perjuangan membela dan menyelamatkan kemerdekaan itu. Walaupun pada 
usia lanjut sekarang hanya dengan memberikan ceramah, interview dan informasi, 
ataupun penterjemahan saja.

 

Berdasarkan kenang-kenangan tentang 60 tahun menyertai perjuangan itu, baik di 
tanahair maupun di pembuangan di negara orang, saya akan mencoba menyimpulkan 
pengalaman-pengalaman itu untuk kawan-kawan, sahabat-sahabat dan para hadirin 
yang saya hormati.

 

Selama ini hidup saya diwarnai oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan 
mendadak, oleh silih-berganti sukses dan kegagalan, oleh kehilangan dan 
kemenangan, oleh tawa dan airmata. Tidak mudah menceritakannya dalam beberapa 
kalimat.

 

Saya kira dalam kehidupan setiap orang ada kalanya sang nasib mengubah arahnya 
dan kita terpaksa menapaki jurusan lain dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam hidup saya hal itu sudah terjadi beberapa kali, antara lain pada 17 
Agustus 1945 dan pada 30 September 1965.

 

Masa 1945 – 1965

 

17 AGUSTUS 1945 tidak hanya mengubah arah perjalanan hidup saya, tetapi juga 
mengubah identitas serta mentalitas pribadiku. Dari seorang gadis yang tadinya 
belum lama menganggap dirinya seorang Belanda, berbicara dan berfikir dalam 
bahasa Belanda di rumah, di sekolah, dan di dalam masyarakat umumnya, 
berpendidikan dan berkebudayaan Belanda --, menjadi  seorang pejuang bangsa 
Indonesia dan tanahair Indonesia yang berapi-api semangat dan antusiasmenya 
.....

 

Kata-kata bahasa Indonesia pertama yang saya kuasai adalah: INDONESIA, BUNG 
KARNO – BUNG HATTA, MERDEKA, dan BENDERA MERAH-PUTIH ....... Pada waktu itu 
tidak saya pikirkan: apa arti itu semua? Mengapa saya bergabung dengan 
pemuda-pemuda pejuang itu? Apa yang mendorong saya berkelompok dengan para 
pemuda itu, mencari mereka, dan merasa harus juga berbuat sesuatu bersama 
dengan mereka? Jauh kemudian hari saya baru tahu, bahwa pertanyaan-pertanyaan 
itu sesungguhnya sudah mengandung makna politik, walaupun kata politik dalam 
praktek tidak saya mengerti. 

 

Namun, pelajaran politik pertama saya peroleh adalah ketika saya dipilih 
menjadi salah seorang anggota delegasi PRI (PEMUDA REPUBLIK INDONESIA) Surabaya 
 ke KONGRES PEMUDA INDONESIA I dalam alam kemerdekaan di Yogyakarta pada 
tanggal 6 – 10 November 1945. Sesudah Kongres berakhir saya tidak bisa pulang 
masuk kembali ke kota Surabaya, karena pertempuran-pertempuran antara rakyat 
dan pemuda Surabaya dengan pasukan Inggris, Jepang dan Belanda sudah meletus 
pada 10 November di jalan-jalan dan terowongan-terowongan kota Surabaya. Saya 
memutuskan untuk bergabung dengan delegasi anggota-anggota PESINDO (Pemuda 
Sosialis Indonesia). Saya mengikuti mereka keluar-masuk desa-desa dan kota-kota 
di Jawa Timur; saya mengikuti kampanye penerangan mereka  tentang arti 
kemerdekaan dan kolonialisme. Mereka, pemuda-pemuda yang sudah makan garam 
perjuangan anti-fasis/militeris Jepang dan kolonialisme Belanda, baik dalam 
masa pendudukan kolonialisme Belanda maupun fasisme Jepang. Penggunaan bahasa 
Jawa
 dalam kampanye itu tidak menghalangi saya dengan penduduk desa lainnya ikut 
disemangati dan dihangati badan, jiwa dan fikirannya!

 

Waktu terus bergulir .... Pemimpin-pemimpin Republik yang muda itu membangun 
atribut-atribut negara, seperti menyusun pemerintah (kabinet), parlemen (KOMITE 
 NASIONAL INDONESIA  PUSAT – KNIP), badan keamanan dan tentara (Badan Keamanan 
Rakyat). Usaha itu mungkin lebih banyak diwarnai semangat dan antusiasme orang 
muda (Bung Karno ketika itu baru berumur 44 tahun, Bung Hatta sedikit lebih 
tua, Bung Syahrir 30-an tahun, pemimpin- pemimpin pemuda masih di bawah 30 
tahun) ketimbang keahlian dan penguasaan masalah.  

Saya tidak banyak ingat mengenai perkembangan pembangunan atribut-atribut 
negara Republik muda itu. Misalnya sekitar hiruk-pikuk politik pembentukan 
berbagai macam kabinet dengan komposisi berbagai macam partai politik.  (Pada 
bulan November Bung Hatta mengeluarkan  Maklumat mengenai pembentukan 
partai-partai politik sesuai dengan tatanan demokrasi, yang kemudiannya 
menghasilkan berdirinya 50-an partai politik.)

Yang terpaku dalam ingatan saya sampai dengan hari tua sekarang, adalah 
bagaimana semangat, militansi dan kemahiran pemuda di kota dan desa menguasai 
suasana politik dan mewarnai pemandangan masyarakat di kota dan desa. BKPRI 
(Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, yaitu federasi organisasi-organiasi 
pemuda yang dibentuk dalam Kongres Pemuda di Yogyakarta) yang dalam tahun-tahun 
1945-1948 bermarkas di Madiun, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat dan 
pemerintahan lokal.

Salah satu kegiatan BKPRI lainnya yang penting adalah siaran Radio ‘GELORA 
PEMUDA’ di Madiun dalam bahasa Belanda dan Inggris yang ditujukan kepada 
pasukan-pasukan musuh Belanda dan Inggris dan antara lain berisi opini, 
pendapat dan komentar orang Indonesia tentang kemerdekaan dan kolonialisme.

 

Pada tanggal 21 Juli 1947,  tepat pada hari di mana Belanda melancarkan Perang 
Agresi I di Indonesia, saya berangkat ke India untuk meneruskan perjalanan ke 
Festival Pemuda Sedunia Pertama di Praha. Bersama dengan saya sebagai anggota 
Delegasi Pemuda Indonesia adalah Soeripno, Ketua Delegasi, wakil mahasiswa 
Indonesia di IUS (International Union of Students) yang ketika itu sedang 
berkunjung di Indonesia, dan Sugiono, mewakili organisasi Sarekat Mahasiswa 
Indonesia.

Di Praha, Indonesia menjadi pusat perhatian wakil-wakil generasi muda pasca 
Perang Dunia  II yang datang dari segala jurusan di dunia. Semboyan ‘STOP THE 
WAR IN INDONESIA’ dalam lima bahasa: bahasa Inggris, Prancis, Rusia, Tionghua 
dan Arab berkumandang di jalan-jalan dan lapangan-lapangan Praha.

Dari Praha saya ke London  dan menerima kawat dari BKPRI agar selesai Festival 
menuju ke Calcutta untuk mewakili BKPRI di dalam Panitia Persiapan South East 
Asian Youth & Students Conference yang akan diselenggarakan 21 Februari – 26 
Februari 1948 di Calcutta.

Angkatan muda dari India, Pakistan, Indonesia, Vietnam, Tiongkok, Malaysia 
(ketika itu masih disebut Malaya), Birma, Muangthai, Philippina, Korea datang 
berkumpul. Delegasi Indonesia diketuai oleh almarhum kawan Soepeno dengan 
anggota-anggota delegasi Otto Rondonuwu dan Amin dari angkatan muda Andalas 
(Sumatera) dan saya sendiri. 

Di Calcutta saya berjumpa pemuda-pemuda Vietnam. Salah seorang yang ketika itu 
baru berumur  18 tahun adalah direktur sebuah pabrik senjata di bawah 
tanah...... Sudah barang tentu informasi itu tidak dia gembar-gemborkan di 
dalam diskusi umum. Tahun itu adalah tahun 1948 dan Vietnam memproklamasikan 
kemerdekaannya pada tanggal 2 September 1945. Segera, pada tahun 1946, rakyat 
Vietnam menghadapi perang kemerdekaan melawan Jepang dan KMT, dan Prancis.

Saya juga berjumpa dengan delegasi-delegasi pemuda dan mahasiswa Tiongkok yang 
datang dari daerah-daerah bebas, yang rakyatnya sedang berada di ambang pintu 
pembebasan negerinya pada 1 Oktober 1949.

 

Festival Pemuda tahun 1947 dan Festival-Festival berikutnya memperlihatkan 
betapa bahagia dunia tanpa perang, tanpa lapar dan tanpa rasa takut.

Konferensi Calcutta memperlihatkan bahwa hanya dengan perjuangan dan persatuan 
rakyat yang tertindas – dan yang lebih penting lagi, terutama dengan ketetapan 
hati dan semangat pantang menyerah dan jalan terus dari generasi muda – dapat 
kita ciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bahagia. Saya ingat lagi pidato 
pemuda Vietnam yang sudah saya sebut tadi: “Cinta tanahair saja tidak cukup. 
Untuk mencapai kemenangan terakhir, bertahan dan bersikeras dalam tuntutan, 
adalah menentukan.”

 

Kembali di tanahair pada bulan April 1948 saya menghadapi pergolakan politik 
dalam perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia dengan terjadinya 
kompromi-kompromi dengan kolonialis Belanda. Kedatangan kembali pak Musso dari 
Uni Sovyet, pejuang kemerdekaan yang tangguh dari klas buruh Indonesia, 
berperan untuk memperkuat perjuangan kemerdekaan konsekuen melawan kolonialisme 
Belanda.

Namun dengan Peristiwa Madiun bulan September 1948 yang diprovokasi oleh 
imperialisme AS dan agen-agennya di Indonesia, terjadilah penangkapan dan 
pembantaian terhadap orang-orang komunis dan hampir semua kader pimpinan partai 
komunis. .....

 

Berdiri pada suatu hari tahun 1951 di pinggiran kuburan 11 kawan di Ngalihan, 
Solo, yang masih baru saja digali-buka, melihat ke bawah  di lobang yang 
menganga di mana saya mengenal kembali beberapa barang-barang kecil: dompet 
kecil dari kain berbunga  ... sikat gigi .... Saya tidak bisa menangis. Airmata 
tidak bisa mengimbangi rasa perih, marah dan berontak.  Di depan mata batin 
saya, saya melihat kawan-kawan itu berdiri tegak di tepi lobang menganga yang 
mereka gali sendiri: menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Internasionale, 
sebelum mereka ditembak mati oleh regu tembak Gubernur Militer Solo, Jendral 
Gatot Subroto pada malam 19 Desember 1948.  Di antara mereka terdapat Sukarno, 
Ketua Badan Penerangan DPP PESINDO, berumur 28 tahun, suamiku dan ayah anakku, 
Nilakandi Sri Luntowati, yang kini sudah almarhumah.

 

Masa muda saya berakhir dengan berlangsungnya Kongres PESINDO  terakhir, 
sekaligus Kongres PEMUDA RAKYAT pertama pada bulan Mei 1951. Dalam tahun itu 
juga bulan Agustus sampai Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pergolakan politik 
ditandai oleh konflik-konflik dan pertentangan-pertentangan yang semakin 
meruncing antara berbagai golongan masyarakat, kelas-kelas dan partai politik. 
Yang kalau kita menukik ke akar permasalahan, kita menemukan virus yang 
mematikan yang bersarang di dalam Republik kita, sudah sejak lahirnya, yaitu: 
imperialisme, neo-kolonialisme dan globalisasi neoliberal.  Banyak dari 
generasi saya yang hari ini berkumpul di sini, tentu masih ingat 
peristiwa-peristiwa Provokasi Madiun 1948, Razzia Agustus 1951, Peristiwa 17 
Oktober 1952, Pemberontakan PRRI-PERMESTA  1957-1958. Kita juga ingat Dekrit 
Presiden 5 Juli 1959 Kembali ke UUD 45 dengan Angkatan Darat sebagai pendukung 
dan motor gerak utama. Kita tidak lupa bagaimana melalui perjuangan Pembebasan 
Irian Barat dan
 Konfrontasi Malaysia, militer lewat konsep penguasaan teritorial dapat 
mengontrol seluruh negeri. Peter Dale Scott dalam artikelnya berkenaan dengan 
100 Tahun Bung Karno, menulis antara lain “semua itu dalam satu grand scenario 
Perang Dingin yang mengemban missi menyingkirkan PKI sampai kepada Soekarno.”

 

Masakini

 

1 Oktober 1965 sang nasib sekali lagi mengintervensi dalam hidup saya. Pada 
tanggal 18 September 1965 Delegasi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dipimpin 
oleh Umar Said dengan anggota-anggota seorang wartawan dari suratkabar SULUH 
INDONESIA (PNI) dan saya, berangkat ke Santiago de Chili, untuk menghadiri 
Kongres Internasional INTERNATIONAL ORGANISATION OF JOURNALISTS.  Terjadinya 
peristiwa 30 September tidak memungkinkan saya pulang ke tanahair.

 

Adalah berkat solidaritas wartawan, rakyat dan pemerintah Tiongkok bahwa kami 
selama duapuluh tahun memperoleh jaminan kehidupan dan perlindungan hukum. Kami 
meneruskan usaha untuk mendukung perjuangan rakyat di tanahair. Antara lain 
kami hadiri Konferensi Trikontinental (Solidaritas Rakyat-Rakyat 
Asia-Afrika-Amerika Latin) di Havana, Kuba pada akhir bulan Desember 
1965/Januari 1966. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Ibrahim Isa. Konferensi 
Trikontinental berhasil mengeluarkan suatu dokumen yang mengutuk para jendral 
yang tangannya berlumuran darah puluhan ribu rakyat Indonesia tak bersalah. 
Dokumen ini didukung rakyat dan pemerintah Kuba, Fidel Castro dan filosof barat 
terkenal Bertrand Russell.

Kegiatan kami di Havana menyebabkan paspor Ibrahim Isa dan saya oleh rezim Orde 
Baru di Jakarta dinyatakan tidak berlaku dan tidak diakui. Tapi kami dengan 
berbagai cara dan usaha meneruskan perjuangan melawan ketidak adilan dan 
penindasan di Indonesia. 

 

Setelah bermukim di Belanda, karena tetap belum dimungkinkan kembali ke 
tanahair, pendirian saya tetap, berpegang pada cita-cita yang membawa saya pada 
17Agustus 1945 berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia.

Perkembangan perlawanan rakyat Indonesia akhirnya menyebabkan turunnya Suharto. 
Masalah peristiwa 30 September 1965 dan pembantaian ratusan ribu rakyat mulai 
digugat. 

Abdurrachman Wahid (Gus Dur) adalah presiden Indonesia pertama yang memberi 
perhatian pada tragedi ini. Pada tahun 2000 Gus Dur mengirim menteri 
kehakimannya Yusril Mahendra ke Belanda dengan tugas untuk memecahkan masalah 
orang-orang Indonesia yang ‘terhalang pulang’ berkaitan dengan peristiwa G30S. 

Dalam pertemuan menteri Yusril dengan ratusan orang Indonesia yang’’terhalang 
pulang’, Yusril menjanjikan akan memeriksa dan menyesuaikan semua undang-undang 
serta peraturan yang diskriminatif sehingga membuka kemungkinan pulang bagi 
mereka ini. Tapi sampai sekarang ini tak ada perubahan apa-apa. ...

 

Meninjau jalan kehidupan saya, saya simpulkan bahwa hukum kehidupan selalu 
mengandung dua segi pokok: ada yang positif dan ada yang negatif menurut 
penilaian kita. Yang penting, sikap kita bagaimana? Baik yang positif maupun 
yang negatif mengandung tantangan. Bagaimana kita memperlakukan 
tantangan-tantangan itu? Menyerah dan mengalah? Ataukah menatapnya dengan mata 
terbuka dan dengan tekad mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih kuat dan bisa 
menimbulkan perubahan yang menguntungkan.

 

Untuk ke-sekian kali saya menutup uraian saya dengan kata-kata Bung Karno: “For 
a fighting nation there is no journey’s end”. (Bagi bangsa pejuang tiada akhir 
perjalanan). Saya ingin menambah:  “A fighting nation will face and overcome 
any challenge which crosses its way”.  (Bangsa pejuang sanggup menghadapi dan 
mengatasi tantangan apapun yang menghadangnya.)

 

Diemen, 21 Agustus 2005 

 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hretisl/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124752885/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke