http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/23/utama/1995743.htm

 
Zaman Susah, Dagang Air Mentah Pun Diutang 

Oleh: MH SAMSUL HADI



Gemerlap Jakarta menggoda ratusan ribu orang dari pelosok Tanah Air untuk 
mengadu nasib di Ibu Kota. Sebagian berbekal kemampuan, tetapi kebanyakan hanya 
bermodal tekad mengubah nasib. Kantong-kantong kemiskinan yang butuh solusi 
komprehensif pun tersebar di berbagai penjuru kota metropolitan.

Dua tahun silam, Kangat (60-an) meninggalkan kampung halamannya di Brebes, Jawa 
Tengah, menuju Jakarta. Impiannya hanya satu, mengubah nasib keluarganya agar 
lebih baik. Ia merasa pekerjaannya sebagai kuli sawah sama sekali tidak 
menjanjikan masa depan bagi anak-anaknya.

Dengan menyewa rumah tripleks Rp 1 juta per tahun di kawasan Kalibaru, 
Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, ayah dari delapan anak (dua di antaranya 
telah meninggal) itu pun memboyong keluarganya menjadi warga Jakarta.

Kangat mengaku dia hanya akan bekerja keras untuk bertahan hidup di Ibu Kota. 
Hal itu dia buktikan dengan berjualan air (untuk minum dan masak) ke 
rumah-rumah mulai dari pagi sampai sore, tujuh hari seminggu, tanpa libur.

Susah di kampung, hanya jadi kuli di sawah. Kerjanya tidak pasti, sehari hanya 
dapat Rp 13.000, katanya.

Di Jakarta, dari berjualan air, Kangat mengaku bisa mengumpulkan rata-rata Rp 
30.000-Rp 40.000 per hari.

Penghasilan itu diperoleh dari menjual lima atau enam gerobak, masing-masing 
memuat sembilan pikul jeriken air, pada pagi hari dan tiga atau empat gerobak 
di sore hari. Sepikul jeriken dijual Rp 1.000. Dengan kinerja itu, menurut 
Kangat, seharusnya dia bisa mengantongi Rp 60.000-Rp 70.000 per hari.

Itu kalau cash. Seringnya pelanggan itu ngebon. Malah ada juga yang kabur 
sebelum bayar, ujarnya. Maklum, pelanggannya juga orang miskin, yang umumnya 
kuli pelabuhan, tukang ojek, pembantu rumah tangga, dan penjual sayur.

Setelah dua tahun hijrah ke Jakarta, berubahkah nasib keluarga Kangat? Tidak 
juga, meski dia terus terang mengaku lebih enak hidup di Jakarta. Untuk 
mengontrak rumah ukuran 3 x 4 meter persegi dengan dinding tripleks dan lantai 
semen, anggota keluarga itu harus berpatungan.

Tidur berdesakan

Dari enam anaknya, hanya anak ketujuh, Jarohah (12), yang melanjutkan 
pendidikannya ke SLTP di Brebes. Empat anak lainnya hanya tamat SD, yang 
kemudian bekerja sebagai tukang setrika di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), 
kuli bengkel, dan pembantu rumah tangga. Yuli (5), anak bungsunya, belum 
bersekolah.

Tanpa bermaksud pesimistis, Kangat sadar kemiskinan agaknya masih akan membelit 
anak-anaknya. Saat malam tiba, kecuali putri sulungnya yang menikah dengan 
pedagang air, mereka tidur berdesakan.

Untuk hiburan, mereka cukup menonton TV di tetangga. Enggak sempat mikir 
(berhubungan dengan istri). Pikiran ini hanya untuk ekonomi. Kalau mikir itu, 
pikiran pecah, kata Kangat.

Kangat tidak sendirian. Di Kelurahan Rawabadak Selatan, Kecamatan Koja, Riani 
(46) bersama suaminya harus bekerja menjadi penyapu jalan untuk bertahan hidup 
di Jakarta. Dengan upah Rp 13.000 untuk jam kerja, pukul 06.00-12.00, plus Rp 
3.500 jika menambah jam kerja, pukul 13.30-17.00, pasangan suami-istri dengan 
tiga anak lulusan SMK itu mengaku harus mengutang sarapan di warung sebelah 
kontrakannya.

Kendati orang miskin di Jakarta masih punya sumber nafkah untuk bertahan hidup 
di Ibu Kota, tidak jarang mereka hidup seperti dikejar-kejar aparat. Duklan 
(31), tukang becak di Blok D-10, Goyang, Pademangan, misalnya. Sejak Gubernur 
DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan penggusuran becak, ia mengaku selalu 
diliputi kecemasan setiap melihat aparat.

Kantong-kantong warga miskin yang biasanya ada di kawasan kumuh sangat mudah 
ditemukan. Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta 2004 mencatat, di Jakarta 
ada 3.231 RT yang tergolong kumuh. Di dalamnya terdapat 159.650 keluarga 
(703.285 jiwa). Sekarang tinggal bagaimana menemukan solusi terbaik dan 
komprehensif bagi mereka?



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hvc6lkf/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124754706/A=2894352/R=0/SIG=11fdoufgv/*http://www.globalgiving.com/cb/cidi/tsun.html";>Help
 tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke