http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/23/opini/1995174.htm

 
Memudakan Kembali Indonesia 

Oleh: YUDI LATIF

Performa Indonesia setelah 60 tahun merdeka dilukiskan secara tragis oleh 
karikatur Kompas (20/8/2005): tua-renta, membungkuk, tuna daya, di bawah 
impitan krisis dan kanker ganas korupsi. Singkat kata, Indonesia kehilangan 
daya mudanya.

Indonesia tanpa daya muda adalah Indonesia yang menyangkal jati dirinya. Nyaris 
tak terbayangkan, bagaimana Indonesia bisa merdeka tanpa dipelopori pergerakan 
kaum muda. Menulis di majalah Bintang Hindia, No 14 (1905: 159), Abdul Rivai 
memperkenalkan istilah kaum muda yang didefinisikan sebagai seluruh rakyat 
Hindia (muda atau tua) tidak lagi bersedia mengikuti aturan kuno. Sebaliknya, 
mereka berkehendak untuk memuliakan harga diri melalui pengetahuan dan ilmu.

Sejak itu, istilah kaum muda digunakan secara luas dalam liputan media dan 
wacana publik kalangan bangsawan pikiran konstruksi kebangsawanan baru yang 
didasarkan pada prestasi keilmuan ketimbang keturunan. Istilah kaum muda 
dijadikan kode eksistensial sebuah entitas kolektif yang berbagi titik 
kebersamaan dalam ambisi untuk memperbarui masyarakat Hindia melalui jalur 
kemajuan.

Sikap kejiwaan

Lebih dari sekadar kriteria usia, kaum muda merefleksikan sikap-kejiwaan. Suatu 
kebaruan cara pandang yang memutus hubungan dengan tradisi kejahiliahan masa 
lalu, dengan keberanian memperjuangkan visi perubahan yang menjanjikan 
pencerahan masa depan. Namun, tak terhindarkan, mereka yang berani mengemban 
visi perubahan lebih mungkin tumbuh dari mereka yang tidak terlalu digayuti 
beban masa lalu. Meminjam pandangan Hatta, Generasi baru kaum terdidik, dengan 
kemampuannya untuk membebaskan diri dari hipnosa kolonial, lebih mungkin 
mengambil inisiatif untuk membangkitkan kekuatan rakyat dan menyediakan basis 
teoretis bagi aksi-aksi kolektif.

Maka, tidak mengherankan, orang-orang muda ada di balik tonggak-tonggak 
terpenting kebangunan bangsa. Guru-guru belia mulai mengampanyekan gerakan 
kemajuan lewat pers vernakular dan perkumpulan Mufakat Guru pada akhir abad 
ke-19; anak-anak STOVIA memelopori gerakan kultural Budi Utomo pada 1908; 
pemuda-pemuda jebolan berbagai sekolah modern termasuk Samanhudi yang lulusan 
sekolah ongko loro (tweede Klasse School) mengembangkan Sarekat Islam sejak 
1912 sebagai pergerakan politik proto-nasionalisme; para mahasiswa 
mengembangkan perhimpunan Indonesia, kelompok-kelompok studi pergerakan serta 
partai-partai politik nasionalis sejak 1920-an; pemuda-pelajar menggalang 
Sumpah Pemuda sebagai kode pembentukan blok nasional pada 1928; bahkan revolusi 
kemerdekaan 1940-an dilukiskan Ben Anderson sebagai revolusi pemuda.

Kenanglah Tan Malaka! Ia telah menjadi pemimpin Partai Komunis pada usia 24 
tahun. Kenanglah Soekarno, ia mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia 
pada usia 26 tahun. Kenanglah Sjahrir, ia memimpin Pendidikan Nasional 
Indonesia pada usia 22 tahun. Kenanglah Mohammad Roem, ia telah menjadi ketua 
Lajnah Tandfiziyah Barisan Penyadar PSII pada usia 29 tahun. Bandingkan dengan 
usia para pemimpin politik Indonesia saat ini.

Mengapa pada usia belia, para founding father telah memegang kendali 
kepemimpinan politik. Kejarangan orang berpendidikan tinggi di masa itu, yang 
memahami gramatika gerakan politik modern, menjadi salah satu alasan yang 
menempatkan mereka dalam posisi terhormat.

Mesin politik

Namun, itu bukan satu-satunya alasan. Di tengah represi kolonial, para 
pendukung politik etis masih mendorong dan merayakan tumbuhnya ekspresi 
kemajuan di kalangan angkatan baru kaum terdidik.

Sebaliknya, apa yang terjadi selama 32 tahun rezim represif Orde Baru. 
Tokoh-tokoh muda progresif ditendang dari dunia pendidikan, dikucilkan dari 
dunia politik. Patrimonialisme kepemimpinan Orde Baru menjadikan mesin-mesin 
politik lebih mengakomodasi onderdil-onderdil tua yang selalu pas melayani 
setelan kuasa dalam segala cuaca. Kehidupan politik berjalan tanpa partisipasi 
dan rejuvenasi. Pemampatan alih generasi terjadi dengan mengestafetkan 
kebusukan tradisi kuasa dalam lapisan-lapisan generasional.

Lebih dari 30 tahun kepemimpinan politik Indonesia mengalami pemampatan dalam 
alih generasi. Maka, Orde Reformasi hanya menghadirkan para pemimpin tua dengan 
watak peterpan yang tak kunjung dewasa.

Yang merisaukan di sini adalah peringatan Abdul Karim Soroush, Yang paling 
buruk dari warisan rezim-rezim tiranik bukan seberapa banyak kejahatan dan uang 
yang mereka korup, tetapi pada mentalitas kejahatan dan korupsi yang mereka 
wariskan.

Ada isyarat, semakin dalam pembudayaan suatu generasi dalam tradisi korupsi, 
kian kuat mentalitas korup yang diwarisi. Tak heran, sejumlah riset 
menunjukkan, tingkat korupsi justru cenderung meningkat pada fase transisi 
menuju demokrasi ketika aktor-aktor politik baru berusia tua mengambil alih 
kekuasaan.

Setelah 60 tahun merdeka, Indonesia sebagai proyek historis kaum muda harus 
menghadapi kenyataan tua-renta, kehilangan elan vital daya muda. Indonesia 
tanpa jiwa muda (kebaruan-kemajuan) dan kepemimpinan pemuda adalah Indonesia 
yang menyangkali jati dirinya. Saatnya yang muda kembali memimpin!

Yudi Latif Wakil Rektor Universitas Paramadina, Direktur Eksekutif Reform 
Institute


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h4t3ocv/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124755026/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com";>Make
 a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke