http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/26/opi03.htm

Kemelut Keraton dan Budaya Jawa
Oleh lmam Sutardjo
PILKADA di Surakarta berjalan lancar dan aman, dengan terpilih dan telah 
dilantiknva pasangan lr. H. Joko Widodo - FX. Hadi Rudyatmo sebagai wali kota 
Solo dan wakilnya 28 Juli 2005. Pemimpin terpilih secara langsung tersebut 
benar-benar sangat diharapkan dapat menjadi pemimpin yang amanah, selalu 
memikirkan, membela dan memperjuangkan, serta dapat mengubah nasib rakyat kecil 
ke arah yang lebih baik dan sejahtera. 

Solo sebagai kota budaya dan mayo-ritas masyarakatnya masih mengagungkan dan 
melaksanakan nilai-nilai budi luhur, mengharapkan kepemimpinan keraton menjadi 
teladan. Terlebih hingga sekarang masih berdiri megah "Keraton Kasunanan 
Surakarta Hadiningrat", sebagai produk, sumber, dan pusat buda-ya Jawa. 

Kepemimpinan (raja) keraton Sura-karta Hadiningrat ini secara spiritual dan 
pengayom budaya dimensinya lebih tinggi daripada kepala daerah (walikota) yang 
lebih bersifat administratif, sehingga kemelut keraton yang hampir setahun ini 
hendaknya segera dapat diselesaikan seusai pelaksanaan Pilkada.

Sejarah

Perpindahan Keraton Kartosura ke Surakarta Hadiningrat dilaksanakan melalui 
proses musyawarah dan laku spiritual, karena beberapa tokoh penting yang 
mumpuni dan memiliki kecerdasan spiritual melakukan tirakat di beberapa tempat 
untuk memohon kepada Allah, agar ditunjukkan tempat yang terbaik untuk 
dijadikan pusat keraton Surakarta. 

Berdasarkan pengalaman metafisik yang dialami oleh para pengamal spiritual 
keraton tersebut, ternyata terjadi kese-pakatan dan musyawarah, bahwa tempat 
yang dipilih untuk didirikan Keraton Surakarta Hadiningrat adalah Desa Sala 
hingga sekarang ini. 

Pemilihan tempat dengan dibarengi laku tirakat ternyata amat tepat, dengan 
harapan agar tempat tersebut benar-benar penuh berkah serta kebesaran dan 
ke-tenaran keraton terus bergema dan jaya. Maka dari itu, pengalaman spiritual 
yang amat bijaksana tersebut wajib diteladani, dilestarikan dan diwariskan 
kepada ge-nerasi berikutnya agar dalam mengambil keputusan yang amat wigati 
perlu ada-nya musyawarah.

Begitu pula pengganti mendiang ISKSS Pakubuwana XII juga amat dibutuhkan adanya 
laku spiritual, musyawa-rah, kebersamaan dan kearifan di antara para 
sentanadalem, kerabat, dan segenap abdidalem atau khususnva keluarga keraton 
itu sendiri yang lebih mengetahui terhadap keberadaan keraton yang 
sesungguhnya; tidak dipandang hanya dari kulit luarnya. 

Mengingat keberadaan keraton semenjak Negara Republik ini kekuasaannya di bawah 
NKRI, maka segala pembiayaan untuk pelestarian dan pengembangan segala aset di 
dalamnya amat tergantung kepada pihak lain (pemerintah, masyarakat, donatur, 
Bank Dunia, dan sebagainya). Untuk itu keraton dengan segala jajaran dan 
potensi di dalamnya dapat menunjukkan sikap yang terpuji dan bijak kepada 
masyarakat luas, sehingga akan selalu mendapatkan simpati dan dukungan dari 
masyarakat, negara, dan dunia luar.

Mengapa di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sampai terjadi munculnya 
raja kembar; kendati yang satu tinggalnya di luar keraton, dan kedua raja serta 
segenap pendukungnya mengganggap paling berhak dan benar? 

Kondisi ini dikhawatirkan menjadikan eksistensi dan wibawa keraton sebagai 
kekuatan spiritual dalam rnendayu hayuning bawana, dan pengayom cagar budaya 
bangsa menjadi cabar dan me-mudar akibat tiadanya keteladanan kepemimpinan. 

Akibatnya yang menanggung rugi dan terkena dampaknya adalah para pendukung 
(pelestari dan pengembang) budaya Jawa; khususnya keraton sendiri, para 
abdidalem, sentanadalem, kerabat keraton, dan masyarakat pada umumnya yang 
masih setia terhadap keraton. 

Hubungan internal dan ekternal, baik antarsesama maupun dengan instansi/lembaga 
lain menjadi tidak harmonis, dan pada gilirannya upaya perbaikan, pengembangan, 
dan pembangunan keraton menjadi kurang dipikirkan, sehingga budaya Jawa yang 
notabene dikatakan adiluhung dikhawatirkan akan tinggal nama dan semakin 
dijauhi para pendukungnya. Hal ini karena keraton tidak bisa menunjukkan sikap 
dan perilaku arif dan bijaksana, rukun agawe santosa crah agawe hubrah, dan 
wani ngalah luhur wekasane (berani mengakui kekalahan meskipun tidak kalah - 
red), demi leluhuran/kejayaan bersama, kepada masyarakat, dan sikap rumangsa 
handarbeni, wajib hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani (merasa memiliki, 
wajib membela dan mengaca diri tidak asal berani - red)..

Padahal ISKS Pakubuwana IX berpesan, Kuncara ruming bangsa du-munung haneng 
luhuring budaya. (kejayaan bangsa karena keluhuran budaya - red). Indikator 
budaya Jawa yang adiluhung itu mencakup tujuh hal yaitu, menuntun budi pekerti 
yang halus, mendidik perbuatan dan tingkah laku yang santun, berbudi luhur, 
tanggap ing sasmita (dapat membaca dan peduli terhadap keadaan/situasi), lantip 
ing panggrahita (peka terhadap perbagai isyarat, dapat menciptakan keindahan, 
dan dapat menciptakan suasana ketenteraman dan kedamaian (S. Hadi Purnomo dan 
L. Winoto Adi, 1995).

Dengan adanya raja kembar tersebut suasana menjadi tidak kondunsif, saling 
curiga dan menuduh antarkubu pendukung (Hangabehi dan Tedjowulan), serta 
menimbulkan banyaknya fitnah. Orang lain/luar dan lembaga/institusi di luar 
keraton yang netral dan tidak tahu permasalahnnya pun banyak yang dicurigai, 
disalahkan, karena dianggap mendukung di antara raja kembar tersebut. 

Himbauan Masyarakat Kecil

Masyarakat pada umumnya dan Jawa khususnya, terlebih masyarakat di wilayah 
Karesidenan Surakarta (Subosukowanasraten) masih beranggapan bahwa keraton 
merupakan sumber dan pusat budaya Jawa, karena berbagai produk keraton baik 
yang berbentuk fisik maupun nonfisik; apabila dikaji dengan jeli terkandung 
nilai filosofis yang tinggi, dan ajaran hidup yang amat dalam. 

Terbukti banyaknya karya peninggalan para raja dan pujangga hingga sekarang 
masih tetap aktual apabila diterapkan dalam kehidupan global dewasa ini. Salah 
satunya naskah-naskah Jawa, bila dipelajari ternyata penuh nilai kearifan 
sosial, ajaran moral atau budi pekerti luhur, konsep-konsep keperwiraan 
(prajurit), kepemimpinan yang ideal, kesempurnnaan hidup, sangkan paraning 
dumadi, dan sebagainya.

Keraton juga masih dianggap sebagai tempat permohonan, kedamaian, ketentraman, 
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan. Hal tersebut terlihat banyaknya para 
abdidalem dari berbagai daerah yang dengan tulus ikhlas bekerja sepi ing pamrih 
rame ing gawe tanpa pamrih di dalam ketaron untuk mencari ketenangan dan 
keberkatan hidup. 

Maka dari itu keberadaan dan eksistensi keraton yang masih dipercaya dan 
dianggap luhur oleh masyarakat itu hendaknya benar-benar dijaga. Sebagai kecil 
sangat berharap dan menghimbau atau urun rembuk, untuk mengatasi kumelut raja 
kembar itu solusi terbaik adalah: satu, kedua raja dan para pendukungnya mau 
bersatu dengan saling lapang dada dan mau mengalah salah satu. Dua, kedua raja 
tersebut dinobatkan menjadi raja dan patih sesuai dengan angger-angger, 
pranatan atau paugeran kaprajan. ( aturan). Nantinya kedua pasangan tersebut 
akan saling memperkuat dan memperkokoh wibawa dan ketenaran keraton Surakarta 
Hadiningrat. 

Mengingat telah banyak contoh kesuksesan dan kejayaan negara (kerajaan) berkat 
kerjasama antara raja dan patih, misalnya Kerajaan Majapahit (Hayam Wuruk - 
Patih Gajah Mada), Kahuripan (Erlangga - Patih Narotama), Negara Astina (Prabu 
Pandu - Patih Gandamana). 

Tiga, kedudukan raja dalam menjalankan tugas tidak seumur hidup, perlu batasan 
waktu; namun pranatan (paugeran) itu semuanya bergantung kepada 
keputusan/musyawarah keluarga keraton sendiri.

Bersediakah para abdidalem, sentanadalem, kerabat keraton atau utamanya semua 
keluarga besar keraton Surakarta Hadiningrat mau guyub rukun bersatu segera 
bermusyawarah untuk mufakat mengambil solusi dan keputusan terbaik dalam 
menyelesaikan masalah adanya raja kembar. Kesemuanya itu demi nama harum, 
tegak, berkembang, dan kesinambungan budaya keraton di masa mendatang yang 
semakin hari kian banyak saingan dengan budaya global. Atau tetap saling 
bersikukuh, saling merasa benar dan lebih? (11)

- Drs Imam Sutardjo,M Hum, dalang, ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra 
dan Seni Rupa UNS. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke